(2 votes)
(2 votes)
Read 1163 times | Diposting pada

Pohon Caringin dan Peri Teladas

 

Di antara awan bergulung-gulung di kaki langit, ada puncak pohon caringin menyembul. Lalu, kudengar kau mempertanyakan cuaca yang tak lagi seperti pola-pola yang pernah diperkirakan.

"Tidakkah akhir-akhir ini awan terbang terlalu rendah?" tanyamu.

"Atau, pohon-pohon yang telah tumbuh terlalu tinggi?" tanyaku balik.

"Hujan datang dan pergi dengan cara yang semakin seenaknya."

"Begitu pun kamu."

Lalu kamu diam, meneruskan berbisik, "Aku tak bermaksud begitu."

***

Entah kapan pohon caringin itu ditanam. Mungkin nenek moyang kami yang menanamnya jauh sebelum aku lahir. Sejak aku sadar aku hidup, pohon caringin itu sudah ada sepanjang ingatanku. Ukurannya sudah sebesar itu, tiga kali tinggi rumah dari lantai ke pucuk atap. Daunnya rimbun dan akar yang menjulur dari batang-batangnya semakin rapat hingga aku mengira bahwa pohon itu tumbuh semakin besar. Tapi nenekku berkata bahwa ukurannya tetap sama.

Aku meragukan kemampuan nenekku mengukur benda-benda. Pernah, dia menanyakan di mana gelas kalengnya, tempat dia selalu menyeduh kopi.

"Apakah kau melihat gelasku? Sebesar ember, kau bisa berenang di dalamnya."

Aku tak ingat ada gelas sebesar ember di rumah ini dan aku sudah membatalkan segala pemikiran bahwa aku bisa berenang dalam sebuah ember. Terakhir aku mencoba berenang dalam ember, ember itu pecah dan aku dimarahi.

"Kau sudah terlalu besar untuk masuk ke dalam ember!" teriak nenek sambil meratapi ember kesayangan yang robek di dua sisinya.

"Aku mau berenang," ujarku pelan.

"Ember tak bisa dipakai berenang, anak bodoh! Ini bukan teladas."

"Jadi, aku boleh berenang di teladas?"

"Tidak! Jangan pernah ke sana!"

Ia tampak panik. Aku bingung dengan apa mau nenekku. Sering, ia mengatakan satu hal dan memaksudkan hal lainnya. Setiap kali aku menanyakan apakah aku bisa berenang di teladas, ia selalu bercerita tentang ayahku yang pernah hilang di sana. Lalu ia mulai mengulang-ulang cerita lama sambil menyeduh kopi dalam gelas yang katanya sebesar ember. Aku mulai meragukan kebenaran cerita itu.

"Ayahmu waktu kecil nakal sekali, ia tak mau mendengar nasehatku untuk tak bermain di teladas. Tapi, ia ke sana juga tanpa ijin. Peri menculiknya dan mengembalikannya lima hari kemudian."

"Apakah ayah diculik lagi oleh peri? Mengapa ia tak pernah pulang?"

"Itu lain lagi. " Setelah itu ia pura-pura sibuk. Aku tahu, nenek hanya tidak mau menjawab pertanyaanku tentang ayah betapa pun kerasnya aku mencoba. Ia akan pura-pura tidak mendengar. Lalu menjawab, "Nanti, kalau kau sudah lebih besar, akan nenek ceritakan."

Tubuhku sudah bertambah tinggi dua senti. Aku mengukurnya di kusen pintu. Untuk tiap pertambahan tinggi, kutandai dengan coretan kapur yang kucuri dari sekolah. Nenek tetap tidak mau bercerita. Ia bilang dua senti tidak cukup. Aku sudah tumbuh tiga coretan di kusen, sudah bisa memanjat setinggi pohon caringin, tapi nenek tidak juga bercerita. Mungkin, tulang-tulangku harus terjulur melewati tinggi pohon caringin, baru ia akan bercerita. Aku menyimpulkan bahwa nenek memang tak pernah punya niat menceritakannya. Sejak itu aku enggan bertanya.

Aku lebih suka duduk di puncak pohon caringin, memandang teladas dari sini. Dahannya sangat tinggi meski awan belum bisa mencapainya, bisa dipakai sebagai menara untuk mengawasi hingga ujung-ujung desa. Gerobak milik penjual perabotan yang dihela sapi malang sering muncul dari gapura batas desa, tertatih-tatih menuju pasar dengan suara lonceng bertalu-talu di lehernya. Kerap juga pucuk-pucuk caping petani terlihat, mereka membawa rumpunan umbi singkong atau tandan pisang dari kebun. Teladas kesepian, tergeletak di ujung lain. Tidak pernah ada warga yang sengaja datang ke teladas kecuali untuk mencuci kaki setelah bekerja di kebun. Itu pun dilakukan dengan terburu-buru. Mungkin mereka takut diculik peri. Dari atas pohon caringin aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan tentang bagaimana ayah menghilang dan apakah sekali lagi ia kembali hilang disana, selamanya.

"Seperti apakah peri itu, Nek?" aku tidak lagi bertanya tentang ayah.

***

"Peri itu cantik tapi hatinya jahat. Ia menculik laki-laki yang belum matang jiwanya."

Lalu aku ingat pohon caringin yang buahnya kecil-kecil berwarna jingga sampai merah saat matang. Burung-burung kerap memperebutkannya. Di malam hari, kelelawar berkelebatan seperti setan, menyambar buah-buah itu lalu membawanya entah kemana. Aku senang mengintip, mencoba menangkap sekadar bayangan-bayangan kelelawar, namun tak pernah berhasil, cuma ada goyang daun-daun memantulkan cahaya lampu dari teras. Kemudian aku ketakutan dan bersembunyi di balik sarung setelah dengan tergesa-gesa menutup tingkap jendela. Terdengar suara buah-buah matang dijatuhkan kelelawar. Apakah ayah juga jatuh?

Teman sekolahku pernah jatuh ke dalam teladas yang dilingkupi batu licin-licin, nyaris saja terbawa arus. Aku dan teman-temanku cuma bisa berteriak-teriak ketakutan di pinggiran. Untunglah, dia diselamatkan oleh petani yang kebetulan hendak mencuci kaki. Telinganya diseret pulang oleh ayahnya sambil menangis. Sayang, buatnya itu bukan pelajaran. Esoknya ia kembali sok jagoan. Ia bilang kalau sempat bertemu peri teladas dan menghajar peri itu hingga tunggang langgang dan itulah yang membuatnya selamat. Sekarang, aku lebih suka dia diculik peri.

"Kalau saja aku tidak pandai berkelahi, aku pasti sudah hilang diculiknya, seperti ayahmu yang baru lima hari kemudian kembali," ujarnya menepuk dada untuk mengatakan bahwa ia lebih baik dari ayahku.

Aku tidak percaya dia bisa lolos dari cengkeraman peri teladas. Jika benar dia bertemu peri, mulut besarnya pasti sudah diseret sampai ke dasar sungai. Tapi, teman-temanku percaya ia bertemu peri teladas dan tahu seperti apa wujudnya.

"Menyeramkan sekali. Matanya merah seperti buah caringin angker dan taringnya panjang-panjang melengkung seperti bambu tiang bendera," ia berkata sambil melirikku.

"Apalagi?" teman-temanku termakan oleh bualannya.

"Kukunya tajam seperti pahat kayu dan mukanya..." ia berhenti, menarik napas.

"Kenapa mukanya?!"

"Mukanya tanah sawah waktu kemarau. Kulitnya legam kerbau, namun rambutnya seputih sapi."

Seluruh temanku ternganga dan dia meneruskan cerita pertarungannya dengan peri teladas sementara aku semakin tak percaya pada cerita-ceritanya.

Di saat semua diam, aku berkata, "Nenekku bilang, peri teladas itu cantik, tak menyeramkan. Kau berbohong saja."

Wajah teman angkuhku itu segera berubah karena ketahuan berdusta. Mulutnya terbata-bata, tapi ucapannya mengejutkanku, "Nenekmu yang tukang bohong. Ayahmu pergi bersama penari ledhek."

Nenekku selalu bilang agar aku menjauhi pasar malam karena di sana ada penari ledhek, bukan perempuan baik-baik. Perempuan baik itu seperti apa? Apakah seperti nenek yang memasak tiap hari di dapur sambil menembang dan menyeruput kopi dari gelas kaleng sebesar ember? Aku tak mau kawin dengan perempuan seperti nenek karena dia baunya aneh. Tapi, nenek adalah satu-satunya perempuan yang kukenal dekat. Ibuku juga bukan perempuan baik-baik karena dia pergi juga.

"Penari ledhek itu seperti peri teladas, suka menculik orang."

Aku memikirkannya sambil menatapi pohon caringin dari balik tingkap jendela terbuka, angin menggoyangkan bayang-bayang. Kututup jendela terburu-buru saat bayangan hitam berkelebat tak tampak seperti kelelawar melainkan kain hitam lebar dan berkibar. Aku bersembunyi di balik sarung ketika tingkap jendela diketuk dari luar. Aku ketakutan, namun kubuka juga tingkap jendela.

Tidak ada siapa-siapa kecuali suara ramai gamelan di kejauhan, sedang ada pasar malam di lapangan kantor desa. Sepulang mengaji, anak-anak kerap menyelinap ke sana, meski orangtua mereka melarang. Aku belum pernah kesana, tapi aku ingat ucapan nenek. Beberapa temanku mengatakan aku pengecut, aku jadi makin penasaran.

Ah, pasti nenek sudah tidur. Jadi, dengan nekat aku melompat keluar jendela sambil membawa sarung, menuju lapangan kantor desa. Semoga tidak ada orang dewasa yang mengenaliku, jika tidak, besok nenek akan memarahiku karena mereka pasti mengadukanku.

Kutinggalkan pohon caringin yang dihuni hantu kain hitam. Lapangan kantor desa ramai, penuh orang dan bukan-orang. Ada tenda-tenda besar yang diterangi obor-obor. Penjual tuak dan kacang rebus ada dimana-mana, juga permainan bola tangkas, lempar gelang dan dadu koplok. Orang-orang dewasa berteriak ramai ketika gagal melempar atau menebak angka, lalu kehilangan uang hasil penjualan singkong, pisang atau sayur-mayur. Mereka mengomel-omel dan aku berjalan melewati mereka.

Di tengah-tenda, ada bagian yang lebih ramai. Penari ledhek menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil mengibas selendang dan memainkan kerling mata. Laki-laki mengelilingi mereka dengan liur menetes-netes. Aku jadi ingat anjing buas yang dibawa orang kota, mereka datang ke desa ini untuk berburu babi.

Tak kulihat seorang temanku di sini. Mereka berbohong tentang berani datang kemari. Malam sudah jadi dini hari dan tubuh laki-laki dewasa telah bertumbangan karena mabuk. Sebagian diangkut pulang oleh teman-teman mereka. Entah bagaimana caranya penari-penari ledhek itu tetap sadar padahal mereka juga minum banyak-banyak. Laki-laki dewasa mencekoki dengan tuak, tapi penari ledhek takpernah mabuk.

Jika nenek tahu aku di sini, aku pasti dimarahi. Untunglah, nenek selalu tidur nyenyak dan takkan bangun sebelum kokok ayam yang ketujuh.

Penjual tuak, kacang rebus dan para penjaga lapak permainan mulai pulang ketika kulihat seorang penari ledhek menatapku yang sedang memandangi orang-orang beberes. "Siapa kau, anak kecil? Apa yang kaulakukan di sini?"

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Di mana ayahmu?"

"Ayahku sudah pergi, diculik penari ledhek yang seperti peri teladas."

"Siapa ayahmu?"

Kusebutkan namanya.

Penari itu menerawang. "Dia pandai sekali bercinta. Sayang, aku tak mungkin terus bersamanya. Tapi ia memang keras kepala."

"Apa itu bercinta?"

"Biar kutunjukkan."

Penari ledhek itu menggenggam tanganku, mengajakku berjalan menuju teladas yang gelap. Entah berapa lama aku berjalan. Aku takut, tapi kakiku terus mengikutinya. Suara gemuruh teladas terdengar makin keras.

Penari ledhek itu membuka bajunya. Aku menarik napas, payudaranya berbeda dengan milik nenek yang seperti pepaya busuk bergelantungan. Miliknya padat dan sintal. Pelan, hanya dengan kain melilit pinggangnya, ia berjalan masuk dalam teladas, lalu duduk bersandar di bibir sungai. Di dalam air ia membuka kainnya yang basah dan menyerahkannya padaku.

"Gosoklah punggungku," ia memerintah, segera kuturuti dengan degup jantung bersahut-sahut. Punggungnya begitu halus.

Dengan tercekat, aku bertanya, "Inikah bercinta?"

"Apakah ayahmu tak pernah mengajari?"

Aku menggeleng, pasti ia tak melihatnya.

"Seharusnya, ia mengajarimu sebelum pergi."

Ia berbalik lalu memegang kedua ketiakku seperti akan menggendong. Aku didudukkan di pangkuannya. Ini pertama kali kelaminku masuk ke dalam kelamin perempuan. Terdengar kokok ayam. Sebelum kokok ketujuh, aku berlari pulang, naik ke puncak pohon caringin lalu mengobrol di antara awan dengan perempuan yang tinggal di sana.

"Tidak ada peri teladas."

Suara itu terngiang di telingaku.

 

 

--

Pohon Caringin: beringin, ficus benjamina

Teladas: sejenis air terjun kecil

Last modified on: 24 Februari 2017

    Baca Juga

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Sebentar-sebentar, Kau Beralih pada Freud


    Kalau benar Rei teman sekelasku, maka tahun ini usianya kurang lebih 28 tahun. Aku tidak tahu apa yang membedakan 28 dari usia-usia lainnya, tetapi aku pernah memiliki kekhawatiran di umur…

     

  • Nubuat


    Anakku yang kukasihi, di dalam tidurku semalam aku telah melihat malapetaka yang akan datang menimpa kita semua. Dunia akan diliputi ratap tangis dan kelaparan. Kita akan hidup dalam penderitaan. Langit…

     

  • Vladimir Hussein


    “Haram jadah,” si lelaki gendut mengomel dan meninju bangku perhentian bus. Vladimir tetap memandangi foto-foto di surat kabar, tidak mengacuhkan keterangan beritanya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tak suka menunggu bus.…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni