(3 votes)
(3 votes)
Read 463 times | Diposting pada

Pesan Nenek Pendoa

Pesan Nenek Pendoa www.dominicanajournal.org

 

Semua orang di daerah Jakarta Utara memuji kemampuan Walikota baru. Menurut mereka, berkat kerja keras beliau memimpin daerah pinggir laut tersebut, Jakarta Utara sudah tidak mengalami banjir –yang bisa setinggi dua meter tiap tahunnya. Perselisihan dan kekacauan yang terjadi setiap harinya kini makin berkurang. Walikota baru dipuji setinggi langit, bahkan menjadi bahan pemberitaan media. Tidak Cuma itu, banyak juga media asing yang meliput hasil kerja beliau. Pengamat kota bahkan mengatakan bahwa sosok Walikota baru itu merupakan sosok langka yang hanya muncul dalam jangka waktu seribu tahun sekali. Banyak prestasi yang dihasilkan dengan waktu yang singkat. Penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Namun, hanya Joni Nyengir yang mengetahui bahwa semua prestasi yang didapat bukan hasil kerja keras walikota baru tersebut.

Jakarta Utara lima tahun lalu adalah sebuah daerah kumuh. Masyarakatnya begitu cuek dengan lingkungan. Cuaca panas pada musim kemaraunya bahkan mampu membuatmu hanya memerlukan waktu dua jam saja untuk membuat kering baju yang baru dicuci. Macet terjadi setiap hari disebabkan oleh Truk Trailer yang mengangkut petikemas menuju pelabuhan Tanjung Priok. Tidak hanya itu, bahkan banyak korban mati tergiling Truk hampir setiap hari. Banyak pengamen, pengemis, pedagang kaki lima, preman, penjambret, tukang hipnotis, bandar narkoba, polisi nakal, tentara nakal, dan juga tempat prostitusi (di Jakarta Utara ada sebuah ladang prostitusi yang terletak di sebelah kereta api, namanya Pela-Pela. Jika kalian bertandang kesana, akan ada sensasi seperti gempa bumi saat kereta lewat.) Tidak terbayang tingginya angka kemiskinan dan kriminalitas disana. Penjara di Polsek dan Polres pun penuh dengan tahanan. Polisi dibuat kewalahan mengantar tahanan ke Lapas Cipinang setiap dua jam sekali.

Pelantikan Walikota baru terjadi empat tahun yang lalu. Tidak ada program baru yang dibuatnya. Dia hanya melanjutkan program lama yang dibuat empat puluh tahun lalu, saat film Warung Kopi yang dibintangi oleh Dono, Kasino, Indro dan Nunu sedang tenar-tenarnya. Tidak ada yang istimewa pada walikota baru. Dia muncul sebagai nama baru di dunia perpolitikan karena walikota sebelumnya sudah dua periode menjabat. Semua orang pun tak kaget dia terpilih sebagai walikota baru, apalagi dia adalah sepupu dari walikota lama. Malihat hal ini, Joni Nyengir pun yakin, jangankan ia, si walikota baru itu juga pasti kaget dengan Jakarta Utara yang bisa maju sepesat ini saat kepemimpinannya.

Joni Nyengir adalah seorang pekerja di bagian staff khusus di kantor walikota Jakarta Utara. Sudah sepuluh tahun dia bekerja disana. Menurutnya menjadi walikota itu sama saja dengan pengangguran, karena tidak ada yang dikerjakan. Hanya menandatangani berkas, dan jarang berada di kantor walikota. Kehadirannya pun bisa dihitung jari, itu pun hanya dua jam duduk lalu pulang dan tidak ada program besar yang dilaksanakan. Hanya ada program-program biasa seperti perbaikan jalan, penertiban pedagang kaki lima serta pembangunan RPTRA disetiap kecamatan. Semenjak menjadi pemberitaan media, dia menjadi sering berada dikantor, ia juga serta sering memantau perkembangan perbaikan jalan dan RPTRA. Oleh karena itu, Joni Nyengir menganggap perubahan tidak dilakukan oleh walikota baru. Perhatian Joni Nyengir justru tertuju kepada seorang nenek pendoa. Seorang warga baru yang kebetulan menjadi tetangganya.

Nenek pendoa itu sudah tinggal sejak tiga tahun yang lalu. Rumah yang ditempatinya pun cukup besar untuk seorang nenek dan ditempati seorang diri. Nenek pendoa itu tinggal sendiri karena suaminya telah meninggal limabelas tahun lalu karena infeksi saluran pernapasan. Kedua anaknya tinggal di luar daerah karena tak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai Pegawai Desa. Hanya saat hari libur anak dan cucunya mengunjungi nenek Pendoa.

Nenek tersebut dipanggil nenek pendoa karena kebiasaanya yang selalu berdoa kapanpun, dimanapun dan untuk siapapun. Di awal kedatangannya –sewaktu Joni pan para warga lain selesai membantu mengangkat barang pindahan– Joni Nyengir dan warga lain disuruh berkumpul untuk berdoa lalu setelah itu makan bersama sebagai ucapan terimakasih sekaligus syukuran tempat tinggal baru. Nenek pendoa sangat ramah kepada tetangga, dia juga selalu memberi makan orang yang berkunjung ke rumahnya dan selalu berdoa untuk orang tersebut. Nenek pendoa juga sangat suka masak. Dia selalu masak banyak setiap hari dan selalu habis. Habis bukan untuk dikonsumsi sendiri, namun dia selalu membagikan kepada tetangga, jembel dan pemulung yang lewat di depan rumahnya.  Nenek Pendoa juga tidak keberatan bila makan bersama-sama dengan mereka. Saat sebelum makan, nenek pendoa selalu memimpin doa makan begitu juga saat selesai makan. Alasannya sederhana, supaya mereka dapat mensyukuri berkat yang telah mereka terima. Meskipun durasi doa yang dipimpin oleh nenek pendoa sangat lama bila dibandingkan dengan durasi makan, mereka sangat senang bila diajak makan oleh nenek pendoa. Semakin hari semakin banyak jembel dan pemulung yang mampir ke rumah nenek pendoa untuk makan. Porsi yang dimasak oleh nenek pendoa juga selalu sama setiap hari, dan selalu cukup untuk memberi makan para kaum papa pinggir ibukota yang semakin hari semakin banyak berkunjung.

Tidak ada sekalipun wajahnya terlihat sedih ataupun marah seperti nenek-nenek pada umumnya. Pernah suatu ketika Joni Nyengir menanyakan hal tersebut kepada nenek pendoa saat berkunjung ke rumahnya. Lalu nenek pendoa mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat awet muda. Sejurus Joni Nyengir teringat oleh pesan yang disampaikan oleh almarhum mamanya sebelum meninggal. Beliau berkata bahwa nama Joni Nyengir itu bukan sekedar nama gurauan yang diberikan oleh kedua orangtuanya, namun nama itu adalah sebuah pesan supaya Joni Nyengir  tangguh menjalani hidup, sesulit apapun hidup yang Joni alami, harus dihadapi dengan senyum, walaupun senyum tersebut hanya sekadar nyengir-nyengir. Joni Nyengir pun terasa dipertemukan kembali dengan almarhum ibunya yang sudah lama tiada dalam sosok seorang nenek pendoa itu.

Usut punya usut, Nenek Pendoa mulai berdoa sejak dia belajar di sekolah rakyat –waktu jaman penjajahan dahulu. Saat itu dia menyaksikan kekejian bangsa asing menyiksa penduduk yang memberontak. Setiap hari dia berdoa agar penduduk yang disiksa diberikan ampunan. Waktu itu doanya tidak terkabul. Banyak yang mati disiksa. Namun dia tidak berhenti berdoa. Sampai suatu ketika bapak nenek pendoa tersebut mati disiksa penjajah. Nenek Pendoa geram, lalu berdoa kepada Tuhan supaya para penjajah diampuni dan segera keluar dari daerahnya. Pada hari itu juga, semua penjajah langsung lari tunggang-langgang menyingkir dari daerah tersebut karena terserang sakit perut yang dasyat. Penjajah yang tidak mau buang air besar jika tidak di toilet itu akhirnya balik ke pos mereka. Dan mereka tidak mau datang ke daerah tersebut, karena mereka berpikir daerah itu telah dilindungi oleh makhluk halus. Semenjak itu Nenek Pendoa mulai rajin berdoa.

Tak jarang Nenek Pendoa mengikuti ibadah-ibadah yang diadakan oleh warga sekitar. Setiap ada ibadah, selalu ada Nenek Pendoa. Biarpun kebaktian, pengajian, misa kudus, atau Rosario, Nenek Pendoa selalu ada. Pernah suatu ketika nenek pendoa ditanya oleh seorang ibu-ibu pada saat pengajian, mengapa nenek pendoa dapat mengikuti semua bentuk ibadah. Nenek Pendoa menjawab dengan tersenyum, bahwa walau cara ibadah kita berbeda-beda, namun tujuan kita tetap sama, yakni sebagai simbol rasa syukur kepadaNya. Lalu nenek pendoa menceritakan mengapa dia bisa mengikuti semua bentuk ibadah. Nenek pendoa juga sudah terbiasa mengikuti ibadah masing-masing agama sejak dia remaja dahulu. Saat remaja, nenek pendoa hidup berpindah-pindah dari desa satu ke desa lain karena pekerjaannya adalah mendidik anak yang telah lulus dari Sekolah Rakyat agar bisa mengajar layaknya guru. Tenaga pendidik saat itu sangat minim. Saat itu juga sedang dilaksanakan program pemerintah untuk membasmi buta huruf, maka dari itu nenek pendoa ditugaskan untuk mengajar calon guru hingga ke pelosok.  Saat itu setiap desa hanya mempunyai satu tempat ibadah, karena biasanya dalam satu desa hanya ada satu agama yang dianut. Saat nenek pendoa tiba di desa yang penduduknya beragama Islam, maka dia akan sholat dan mengaji. Nenek pendoa bisa sholat bahkan membaca aksara Arab dan melantunkannya. Bila dia tinggal di desa yang penduduknya beragama Kristen atau Katolik, maka dia akan mengikuti ibadah setiap hari Minggu, membaca Alkitab dan datang kebaktian. Begitu juga dengan ajaran Hindu, Buddha, bahkan ketika ada daerah yang masih menganut animisme dan dinamisme, beliau akan mengikuti setiap tata ibadahnya, belajar membaca kitabnya, dan mengikuti ritusnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menganut sebuah agama atau menyebarkannya. Karena menurutnya semua agama itu sama, sesuatu yang selalu menyebarkan cinta dan kasih. Tidak pernah terpikirkan oleh beliau untuk mencari kelemahan dan kelebihan sebuah agama. Karena yang terpenting bukan agamanya, namun cara bersyukurnya.

Semua warga sangat menyukai nenek pendoa, begitu juga sebaliknya. Nenek pendoa selalu berdoa untuk keluarganya, untuk lingkungan sekitar, untuk orang sakit didaerahnya, untuk para pemimpin, hingga untuk orang yang berbuat jahat kepadanya. Berkat doanya, berangsur-angsur angka kriminalitas di daerah Jakarta Utara berkurang. Jarang terdengar perkelahian, penjambretan, pencurian, penipuan, pemerkosaan dan tindakan tidak terpuji lainnya. Nenek Pendoa akan sangat takzim jika sedang berdoa dalam keadaan darurat. Pernah sewaktu tiga bulan setelah kepindahannya, datang musim penghujan. Saat itu malam hari dan hujan deras turun selama tiga hari berturut-turut. Keadaan di sekitar rumah sudah dalam kepungan air setinggi mata kaki. Saat itu Joni Nyengir khawatir dengan keadaan Nenek Pendoa, segera Joni Nyengir mengetuk pintu beberapa kali dan nenek Pendoa tidak menjawab. Joni Nyengir masuk karena pintu tidak dikunci dan mendapati nenek pendoa sedang duduk dan berdoa meskipun kakinya sudah terendam air. Karena khawatir dan tidak mau mengganggu kegiatan berdoa maka Joni lebih memilih menunggu, hal itu ia lakukan karena pernah mendengar cerita dari orangtuanya bahwa setiap orang yang mengganggu ketenangan saat berdoa, orang itu akan ditempatkan di neraka paling bawah. Joni Nyengir mahfum dan tidak mau masuk neraka, jadi ia lebih memillh menunggu. Satu jam Joni Nyengir menunggu dan selesailah nenek pendoa. Saat nenek pendoa mulai membuka mata, saat itu pula hujan yang deras berhenti. Joni Nyengir menyuruh nenek pendoa untuk mengungsi karena banjir akan semakin meninggi. Namun Nenek Pendoa hanya tersenyum dan menyuruh Joni Nyengir tenang, karena banjir akan segera surut. Dan benar saja, banjir langsung surut limabelas menit kemudian. Bahkan hingga beberapa tahun ke depan tidak ada banjir di daerahnya. Semenjak itu Joni Nyengir percaya dengan kekuatan doa. Mulai hari itu, Joni Nyengir juga belajar untuk rajin berdoa.

Sampai saat ini, Joni Nyengir selalu teringat pesan yang disampaikan nenek pendoa melalui sikapnya, untuk selalu berdoa, berbagi dan jangan marah ataupun sedih dalam keadaan apapun. Pesan tersebut akan selalu diingat sebagaimana dia mengingat pesan dari mamanya.

Minggu lalu, Jony Nyengir dikejutkan kabar bahwa Nenek Pendoa meninggal. Saat itu Joni Nyengir sedang mengambil cuti kantor untuk liburan ke luar kota bersama keluarganya. Dalam perjalanan pulang liburannya, Joni Nyengir ditelpon oleh pak RT dan mengatakan bahwa Nenek Pendoa telah meninggal dunia karena terjatuh dikamar mandi. Nenek Pendoa ditemukan terkapar di kamar mandi oleh seorang pemulung yang biasa ia beri makan. Karena Sang Nenek tidak muncul dari pagi hari hingga sore menjelang, pemulung tersebut nekat masuk untuk mengetahui kondisi sang Nenek Pendoa. Pemulung itu masuk karena pintu memang tidak terkunci, lalu pemulung menemukan Nenek Pendoa telah tergeletak di depan pintu kamar mandi. Saat itu, nenek pendoa ditemukan  dalam keadaan kepala berlumur darah dan tidak bernapas. Setelah itu pemulung menghubungi Pak RT dilanjutkan Pak RT menghubungi keluarga nenek pendoa dan Joni Nyengir.

Joni Nyengir seakan tidak percaya akan kejadian ini, dia memaklumi keadaan nenek pendoa yang sudah sangat tua, tapi dia belum membalas sama sekali kebaikan dan pelajaran yang sudah diberikan oleh Nenek Pendoa. Sepanjang jalan Joni Nyengir menangis. Ia tetap menangis walaupun istrinya sudah menenangkannya. Tidak pernah dia menangis seperti ini selain saat kematian mamanya. Tak hentinya dia menangis sampai dia tiba dikediaman Nenek Pendoa.

Joni Nyengir merasa heran saat memasuki rumah duka. Tidak ditemukan suasana duka dseperti biasanya. Saat itu yang datang pun sangatlah banyak, karena warga sekitar mengenal baik Nenek Pendoa, tapi tidak ada satupun yang bersedih. Mereka semua terlihat riang, apalagi terdapat alunan musik pop masa kini yang mengalun di teras rumah Nenek Pendoa dan ada juga yang menari mengikuti alunan musik. Joni Nyengir keheranan. Saat memasuki pintu masuk rumah duka, Joni Nyengir diberi peringatan untuk tidak boleh masuk dalam keadaan sedih oleh pihak keluarga. Suasana hati harus bahagia bila mau menengok jasad Nenek Pendoa. Joni Nyengir pun kaget, seketika wajahnya pun memerah seraya ingin membentak keluarga nenek pendoa. Dia berpikir mana mungkin dia bisa bahagia melihat nenek pendoa yang telah wafat, itu sama saja bahagia atas kematiannya. Melihat gerak-gerik dan raut wajah yang tidak terima dari Joni Nyengir, anak Nenek Pendoa pun membisikinya, bahwa Nenek pendoa pernah menulis surat wasiat yang isinya agar setiap orang yang melihat jasadnya ketika dia mati harus dalam keadaan bahagia, Jika orang tersebut menangis orang itu tidak diperbolehkan melihat jasadnya. Mendengar itu Joni Nyengir terdiam. Lalu pulang kerumah dan tidak kembali ke rumah duka sampai nenek pendoa dimakamkan.

Dua hari Joni Nyengir merenungi kepergian Nenek Pendoa. Dia sudah dipertemukan kembali dengan ibunya selama tiga tahun dalam sosok nenek pendoa dan kini dia telah tiada. Dalam permenungannya tersebut seketika dia teringat akan sosok walikota baru. Dia bertanya sendiri, akankah walikota baru ini akan terpilih lagi dan dipuji setinggi langit bila nenek pendoa yang doanya bisa mengubah kondisi Jakarta Utara ini telah tiada.

 

Last modified on: 14 Oktober 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni