(12 votes)
(12 votes)
Read 2390 times | Diposting pada

Perempuan

 

Murtini melenguh lagi. Peluhnya membanjir. Matanya mengejap. Nikmat.

”Perempuan pun bisa melawan, yang paling lemah sekalipun,” katanya dalam hati. Dirangkulnya kepala lelaki yang nafasnya terasa panas memburu itu. Dibenamkannya dalam-dalam pada dadanya.

”Menyusulah,” kata Murtini lagi dalam hati.

Tanpa perlu komando, lelaki di atas tubuhnya itu sudah menyusu rakus pada dadanya.

”Ya, begitu,” bisik Murtini, nyaris tak terdengar.

Dalam gelap, perempuan itu tertawa tanpa suara. Hatinya gembira. Lelaki yang berada di atas tubuhnya itu kemudian menegakkan badan. Hanya pinggulnya saja yang sibuk berpacu, berlomba cepat dengan nafasnya. Semakin cepat. Bertambah cepat. Tak lama, terdengar suara mengerang tertahan. Lelaki itu pun jatuh terkulai di samping Murtini.

Suara mendengkur terdengar tak lama kemudian.

“Ya, baguslah jika kau tertidur,” Murtini mulai berkata sinis dalam hati. Ia mengelus perutnya. Mengelus lagi penuh sayang.

“Satu-satunya yang kusuka darimu adalah ketika kau mendengkur seperti babi. Aku tak perlu menimpali ocehanmu, tak perlu pula memaksakan senyum demi menyenangkanmu. Hmmm... kalau saja kau tak suka mendaratkan kaki di perutku atau tinju di wajahku saat kau marah, sudah kusumpahi kau banyak-banyak di mukamu, atau kupasang wajah cemberut tak  berkesudahan sampai hatiku puas. Tapi kau...”

Murtini menolehkan kepala pada lelaki yang mendengkur di sampingnya. Dalam gelap, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh telanjang lelaki itu. Dada dan perut yang sekeras batu; tangan besar dengan kepalan yang sanggup memecah pembuluh darah di matanya hingga melebam-biru; serta kaki-kaki yang kokoh dan panjang yang mampu melesakkan nyeri hebat di perutnya hingga ke ulu.    

Lalu apa daya dirinya dengan tungkai-tungkai dan otot yang kurus-lemah? Tanya Murtini tanpa suara. Dirabainya kedua pundaknya lalu turun hingga jari-jari tangannya bertemu. Ia mengutuk tangan-tangan yang tak mampu mengelakkan pukulan lelaki itu ketika suatu malam ia bertanya mengapa pada tubuh lelaki itu terdapat banyak bekas cakaran dan ciuman. Ia juga mengutuk dirinya yang menciut ketakutan di sudut ruangan ketika lelaki itu marah besar sebab ia melihat-lihat ponsel yang berisi foto mesra lelaki itu dengan banyak perempuan. Dalam hati, ia pun mengomel tak berkesudahan karena tak mampu menggugat saat lelaki itu tak pulang ke rumah dan meninggalkannya bersama Suri, anak perempuan satu-satunya yang lahir dari benih lelaki itu, selama berhari-hari tanpa kabar.

Buru-buru Murtini menutup mulutnya yang mulai gemetar. Sebab, hampir saja tangisnya pecah ketika ia mengenang banyak lagi ketidakberdayaannya dalam menghadapi lelaki itu. Tapi, ketika teringat sesuatu, senyum di bibirnya kembali mengembang. Kalau saja ia tak ingat keberadaan lelaki yang mendengkur di sampingnya itu, ia pasti sudah tertawa lantang.

”Ya! Bukankah perempuan masih bisa melawan? Meski ia lemah sekalipun... meski ia tak berdaya sekalipun?” bisiknya.

Mata Murtini pun seketika berbinar. Kembali ia mengelus perutnya. Mengelusnya lagi penuh sayang. Mengelusnya lagi penuh harapan.

”Esok...” katanya dalam hati. ”Bisa saja seorang anak akan lahir lagi dari perut ini. Tapi...” Murtini diam sejenak. ”Tidak, jangan perempuan!” ia menggeleng pelan. ”Sebab jika perempuan, bisa saja ia lemah seperti ibunya, lalu kelak, jika ia bersuamikan seperti lelaki babi yang mendengkur di sampingku itu, ia hanya akan mampu memberikan perlawanan seperti ibunya melawan lelaki itu: perlawanan bisu! Hmmm... Baiklah. Kalau begitu, anak ini haruslah lelaki. Tapi...”

Murtini kembali diam, ragu.

”Jika ia lelaki, bisa saja kelak ia menjadi babi. Dan aku akan berdosa karena melahirkan babi-babi lain, yang saat tak senang hati akan meninju dan menendang perempuan yang menjadi istrinya. Ketika sedang bergairah, tanpa malu ia akan menggauli istrinya lalu mendengkur pulas semaunya. Seekor babi tak akan mampu bersyukur pada perempuan yang telah mengurusnya seperti seorang ibu mengurus anaknya, melayaninya lebih dari pelacur dan pembantu demi memenuhi segala kebutuhannya. Seekor babi juga tak akan mengerti cara berterima kasih pada perempuan yang telah memberinya seorang anak yang sehat dan cantik sebagai keturunannya. Oh, tidak! Jangan... jangan sampai anak ini laki-laki...”

Lupa, Murtini menggeleng kuat-kuat. Lupa pula, ia mencengkeram sprei dan menariknya keras-keras. Lelaki yang tertidur di sebelahnya tersentak. Murtini mengigit bibirnya. Menahan nafas. Membeku. Ia sangat takut lelaki itu terbangun lalu marah lantaran merasa tidurnya terganggu oleh sesuatu.

Tak lama, lelaki itu kembali tenang. Dengkurnya, yang terdengar bagai  dengkur babi di telinga Murtini, kembali terdengar. Susul menyusul, bersahutan. Murtini pun lega. Berkali-kali ia menyesali kecerobohannya.

”Baiklah,” akhirnya Murtini  memutuskan. ”Tak penting anak ini lelaki atau perempuan,” katanya dalam kepala. ”Apapun ia nantinya, aku akan merasa puas. Tahukah mengapa? Sebab anak ini adalah bukti perlawananku. Ia lahir bukan dari benih lelaki itu. Ia lahir dari persenggamaanku dengan lelaki lain dalam pikiranku. Lelaki yang sangat berbeda dari lelaki itu. Seperti malam ini dan beberapa malam sebelumnya, aku menghidupkan seorang lelaki yang tak kuketahui siapa ia. Tapi ia seorang berhati lembut dan penyayang. Ia tahu cara berterima kasih kepada perempuan. Tak sekalipun ia berlaku  kejam. Setiap kali lelaki babi itu menyentuhku, ia akan datang. Dalam gelap dan mata memejam, kami bercinta hingga kepayahan. Ketika akhirnya ia terkulai puas, ia akan membelai rambutku dan membisikkan kata-kata sayang. Aku pun akan merapatkan tubuhku pada tubuhnya. Lalu diam-diam, akan kukagumi setiap otot-ototnya, yang dipakainya untuk melindungiku dari kekejaman lelaki babi itu, juga tangan besarnya yang kerap digunakan untuk mengusap airmataku. Ya, itulah yang terjadi pada malam-malam lelaki babi itu menyentuhku. Dan lucunya, lelaki babi itu tak akan pernah tahu. Ini akan menjadi rahasia kami: aku dan lelaki yang hidup dalam pikiranku.”

Murtini masih menyunggingkan senyum ketika ia kemudian menutup matanya. Kantuk mulai dirasakan menyerang dan sepenuh hatinya telah diliputi senang. Sebelum jatuh tertidur, tanpa sadar bibirnya berkata, ”Sungguh jangan kau remehkan perempuan, sayang. Malam ini, aku telah melawanmu.”

Last modified on: 5 Juni 2016

    Baca Juga

  • Bagaimana Cara Tetanggamu Menceritakan Sesuatu Tentangmu


    Kau tahu bahwa setiap orang pasti membenci sesuatu. Tidak ada orang yang mencintai segala hal. Jika temanmu selalu terlihat bahagia dalam hidupnya, sering melempar senyum, bukan berarti ia bukan pembenci.…

     

  • Pesan Nenek Pendoa


    Semua orang di daerah Jakarta Utara memuji kemampuan Walikota baru. Menurut mereka, berkat kerja keras beliau memimpin daerah pinggir laut tersebut, Jakarta Utara sudah tidak mengalami banjir –yang bisa setinggi…

     

  • Seorang Pria yang Kehilangan Buku


    Saya pernah kepengin menulis cerita mengenai seseorang yang terlalu mencintai buku. Dia membaca buku dengan mendengarkan buku-buku itu bicara. Aku tidak tahu; tapi sepertinya ia memang begitu. Dia mampu mendengarkan…

     

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni