(4 votes)
(4 votes)
Read 2508 times | Diposting pada

Perempuan dalam Pelukan

Three Olive Martini oleh Torrie Smiley Three Olive Martini oleh Torrie Smiley

 

Tak ada yang istimewa dari hidupmu, semua rutinitas kau jalani datar-datar saja. Kau senang memotret dan hobi itu kini menjadi pekerjaanmu. Tetapi yang kau impikan adalah menjadi fotografer untuk momen-momen bersejarah seperti Mei 1998, bukan fotografer di majalah gaya hidup seperti saat ini. Kau terima tawaran freelance di majalah gaya hidup karena kau butuh portfolio. Kau jalani dua bulan di sana dengan biasa-biasa saja, hingga perempuan itu hadir dalam hidupmu.

Suatu malam setelah semua karyawan lantai empat pulang, kau mendapatinya sedang menangis. Awalnya kau mendengar suara isak tangis. Cerita-cerita seram yang kau dengar tentang gedung kantor yang sudah berusia puluhan tahun ini membuat bulu kudukmu berdiri. Tapi kau memberanikan diri untuk mengecek sumber suara. Ternyata sang Redaktur.

Antara ingin menolong dan ingin segera pulang, akhirnya kau memutuskan kembali ke mejamu. Suara tangis itu masih terdengar. Kau memutuskan untuk menunggu perempuan itu selesai menangis. Kau akan menemaninya meski ia tak ingin ditemani. Sembari menunggu, kau mengedit beberapa foto yang rencananya kau edit besok.

Tiba-tiba perempuan itu muncul di hadapanmu.

“Hai,” sapanya, sembari tersenyum. “Kamu, fotografer baru, ya?”

Meski matanya sembab, perempuan itu tetap saja cantik. Pipinya penuh, matanya sipit, hidungnya tidak terlalu mancung, kulitnya kuning cerah. Kau menduga usianya 30an.

“Iya,” jawabmu pelan. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Masih banyak pekerjaan?”

“Sedikit lagi.”

“Bagaimana kalau kita ngopi di kedai kopi dekat sini setelah kamu selesai?”

“Bisa dilanjutkan besok, sih. Ayo deh.”

Kau segera mengenakan sweater bututmu dan berjalan di belakang perempuan itu. Namun arah kakinya tidak menuju kedai kopi. Ia menuju mobilnya. Kau menurut saja saat ia memintamu duduk di depan mendampinginya yang akan menyetir mobil. Intro lagu Endless Sacrifice langsung menyapa telinga. Kau tak menyangka perempuan sefeminin itu akan memutar lagu milik band secadas Dream Theater.

“Saya suka lagu ini. Saya LDR sama pacar saya dan lagu ini sangat mewakili apa yang saya rasakan,” perempuan itu menjelaskan tanpa harus kau bertanya. Kau dan dia lantas menikmati Endless Sacrifice dalam diam.

“Lagu apa yang kamu suka?” tanya perempuan itu setelah lagu berganti.

“Sedang suka Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.”

“Lagu siapa itu?”

“Payung Teduh.”

“Ada di ponsel kamu? Putar di sini. Bisa langsung dari ponsel.”

Kau agak gagap teknologi untuk memutar musik langsung dari ponsel ke pemutar musik di mobil. Perempuan itu sampai meminggirkan mobilnya untuk membantumu, lalu terdengarlah intro lagu. Ia mengangguk-angguk sembari tersenyum.

Tak terasa gelap pun jatuh

Di ujung malam, menuju pagi yang dingin

Hanya ada sedikit bintang malam ini

Mungkin karena kau, sedang cantik-cantiknya

“Liriknya gombal sekali, ha ha,” ia mengejek tetapi menikmati lagu itu. Ia memutarnya berulang kali sampai kau dan dia tiba di sebuah bar di kawasan Cikini.

“Kita nongkrong di sini saja, ya? Tidak ada yang menunggumu, kan, di rumah?”

“Tidak ada,” jawabmu.

Lalu kau dan perempuan itu turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju salah satu meja. Hari itu hari Jumat. Ia berkata menjelang akhir pekan bar ini pasti penuh. Dan benar saja. Kau dan dia mendapat meja terakhir yang tersisa malam itu.

Kau yang terbiasa meminum bir kalengan lantas memesan bir murahan itu, sedangkan ia memesan Lychee Martini. “Kamu lebih baik memesan Dry Martini,” ujarnya.

Apa pun minumannya, kau tak peduli lagi. Kau sedang tidak membutuhkan minuman beralkohol sebetulnya malam itu. Namun untuk menghargai perempuan itu, kau terima ia memesankan Dry Martini.

Sembari menunggu minuman datang, perempuan itu mengeluarkan sebungkus rokok kretek mentol. Kau pun mengeluarkan rokok kretek filter milikmu. Kau dan dia menikmati rokok dalam obrolan ringan seputar meme-meme lucu yang sedang banyak beredar di media sosial, lalu beralih ke status-status Facebook teman-temanmu yang membosankan karena isinya seputar Pilkada Jakarta saja.

“Sudah berapa lama gabung di majalah? Sepertinya saya baru lihat kamu,” tanya perempuan itu setelah dua gelas Martini diantarkan pelayan.

“Baru dua bulan. Saya freelance.”

“Oh …” serunya. “Sejak jadi Redaktur, tugas saya hanya mengedit tulisan. Jadi saya tidak pernah lagi bekerja dengan fotografer. Kamu lulusan mana?”

“Saya cuma lulusan SMA.”

Really? Bagaimana ceritanya bisa diterima di majalah?”

“Panjang ceritanya. Saya suka fotografi sejak kecil. Saya punya kamera peninggalan kakek saya, kamera analog. Saya belajar foto secara autodidak dan bergabung dalam komunitas fotografi. Dari komunitas itu ada teman yang menyarankan saya ikut kelas pagi yang dibuka fotografer Anton Ismael. Di sanalah saya kenalan dengan reporter majalah kita yang juga ingin belajar motret. Suatu hari ia harus motret narasumber dadakan dan tidak ada fotografer internal yang berada di kantor. Dia menelepon saya minta bantuan. Saya iyakan saja. Sejak itu saya sering membantu majalah, dipinjamkan kamera digital oleh kantor.”

“Kamu kenapa tidak kuliah?”

“Tidak ada biaya untuk kuliah.”

“Sayang sekali. Orang tuamu masih ada, kan?”

“Saya hanya punya ibu. Ia bekerja di Singapura.”

“TKW bukannya gajinya besar? Seharusnya kamu bisa kuliah.”

“Adik saya yang kuliah. Saya memilih tidak minta uang sama ibu lagi karena ingin mandiri. Biar adik saja yang menjadi tanggungan ibu.”

“Mulia sekali. Saya pun demikian. Lulus SMA saya mencari beasiswa agar tidak lagi membebani orangtua. Tapi saya tidak semulia kamu. Ayah saya tidak setuju saya mengambil kuliah jurusan psikologi. Jadi karena saya ingin mengejar impian saya sendiri, saya meninggalkan rumah.”

“Jurusan psikologi kok jadi wartawan?” tanyamu penasaran.

“Kecemplung. Awalnya karena aktif di pers mahasiswa waktu kuliah. Lalu magangnya di kantor kita. Eh malah ditawari untuk jadi karyawan. Tahun lalu saya sudah lulus S2. Jadi saya mulai belajar untuk mempraktikkan ilmu saya di LSM dulu, sukarela. Saya sedang menabung untuk punya tempat praktik sendiri.”

“Jadi, kamu tak ada waktu untuk pulang ke rumah?”

“Saya memutuskan tidak pulang," kata perempuan itu. "Saya mulai berhenti berkomunikasi dengan orangtua. Saya mencari uang dengan bekerja apa saja. Menerjemahkan buku, sempat gabung MLM juga, lalu akhirnya jualan makanan sehat untuk teman-teman kampus yang berkembang jadi bisnis online, sampai sekarang. Bisnis itu sekarang dikelola adik saya.”

“Ayah saya pergi meninggalkan keluarga kami karena perempuan lain. Ibu terpaksa menjadi TKW demi menghidupi saya dan adik, juga membiayai pengobatan nenek yang mulai sakit-sakitan. Saya selalu cemas dengan keadaan ibu. Apakah beliau bahagia di sana? Bagaimana tidurnya? Bagaimana makanannya? Apakah majikannya baik?” kau bercerita meski perempuan itu tak bertanya.

“Kamu masih komunikasi sama ibumu?”

“Untungnya masih. Ibu selalu WhatsApp dari Singapura.”

“Syukurlah.” Perempuan itu menyalakan sebatang rokok lagi. Kau mengikutinya lalu meneguk Dry Martini yang dipesankannya untukmu. Obrolan sementara berlanjut ke soal lain. Kau dan dia ternyata sama-sama suka baca buku. Kau sering beli buku bekas di Blok M dan pembicaraan panjang seputar buku membuat perempuan itu merasa nyaman dan memesan dua gelas Martini lagi untukmu dan untuknya.

“Kalau boleh tahu, mengapa Mba menangis tadi?” akhirnya kau berani menanyakan hal itu.

“Kamu melihatku menangis?”

Kau hanya mengangguk. Mungkin karena sudah terpengaruh alkohol, ia mau menceritakan apa yang terjadi. Namanya Irena Arthalita. Seorang anak pensiunan Jendral di Jawa Timur yang dididik secara otoriter oleh ayahnya. Sejak kecil Iren memiliki aturan yang ketat di rumah. Semua kegiatannya sudah dijadwal. Ia juga selalu diantar dan diawasi seorang ajudan, ke manapun pergi. Doktrin yang selalu ditanamkan pada Iren adalah ia harus disiapkan untuk menjadi istri seorang pejabat dari kalangan militer. Iren harus memenuhi standar yang ditetapkan sang ayah agar bisa dipinang oleh lelaki yang disukai ayahnya. Ia tak punya hak untuk memilih pendidikannya, atau hal sesederhana busana apa yang ia kenakan. Semua harus diatur oleh sang ayah. Berkat bantuan ibunya, Iren berhasil meninggalkan rumah dan kuliah di Jakarta, mengajar impiannya untuk menjadi psikolog. Iren beberapa kali berhubungan dengan lelaki tetapi selalu gagal. Itu yang membuat ayahnya kembali menekan Iren untuk pulang ke rumah dan menikahi lelaki pilihan ayahnya.

“Ayah merasa menang karena saya terus gagal dalam menjalin hubungan. Ia menyalahkan saya bahwa saya pembangkang, sehingga para lelaki meninggalkan saya. Ayah bilang saya sulit diatur makanya lelaki pergi dan tak sudi menikahi saya. Ia tidak pernah tahu apa yang terjadi, betapa sulitnya saya mewujudkan mimpi, bertahan hidup sendiri di Jakarta dan berusaha menjalin hubungan yang serius. Ayah malah terus menyalahkan saya dan mengatakan semua karena ulah saya sendiri yang meninggalkan rumah dan tak menuruti kata-katanya. Seharian ini ayah terus menelepon dan memerintahkan saya pulang. Ia tahu saya baru putus dengan pacar saya yang melanjutkan sekolah ke Inggris. Saya sedang berusaha menyelamatkan hubungan saya hari ini tetapi komunikasi kami sulit sekali. Ditambah teror ayah, saya tidak kuat lagi ...”

Iren merasa pusing dan ia meminta kau mengantarnya ke apartemen. Kau yang merasa masih sadar mengiyakan karena khawatir padanya. Kau meletakkan tangan kanannya di bahu dan lehermu lalu kau membawanya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari bar. Iren memberi alamat apartemennya lalu tertidur.

#

Matahari menyinari jendela apartemen dan sinarnya memancar di sela-sela gorden. Iren bangun lebih dulu dan membangunkanmu dengan sentuhan lembut di pipi. “Selamat pagi,” ujarnya di telingamu, nyaris berbisik.

Kau membuka mata perlahan lalu terkejut melihat Iren di depan matamu. Kau langsung duduk dan berusaha mengumpulkan kesadaran.

“Maaf … Maaf, saya …” kau tergagap, merasa bersalah karena tidur di apartemen Iren tanpa izin. Kau kemudian ingat menidurkannya di kasur dan kau tidur di sofa.

“Tak perlu minta maaf. Justru saya harus berterima kasih karena kamu mau mengantar saya pulang dan menjaga saya semalaman.”

“Maaf, saya tadinya mau pulang.”

“Ssshhh…” Iren meletakkan telunjuknya di bibirmu.

Ia lalu mendekatkan bibirnya ke bibirmu. Kau bisa mencium aroma alkohol dari napasnya. Namun kau membiarkan bibirnya menyentuh bibirmu. Kau dan Iren sama-sama menggunakan lidah meski ciuman itu hanya terjadi tiga detik.

Kau tak menyangka ciuman yang hanya tiga detik itu memberikan aliran listrik maha dahsyat ke tubuhmu. Kau dan Iren saling menatap lalu saling memalingkan wajah. Iren kembali masuk ke kamar dan kau membatu di sofa. Iren bahkan tak tahu siapa namamu.

Sampai sekian menit tak ada suara dari Iren maupun darimu. Sampai akhirnya kau memutuskan untuk pamit pulang, suara Iren tetap tak terdengar.

“Saya butuh kamu,” akhirnya Iren bersuara, saat kau hendak membuka pintu. Iren keluar dari kamar dan mendekatimu.

“Mba Iren hanya perlu istirahat. Ambil cuti dan berliburlah. Jernihkan pikiran mba,” akhirnya malah itu yang kau katakan.

“Kamu tidak menyukaiku?” tanya Iren.

Ditanya begitu, kau malah semakin bingung. Segala yang ada pada Iren adalah segala yang pernah kau impikan untuk menjadi pendampingmu. Tapi ini terlalu cepat.

“Saya terlalu agresif?” Iren bertanya lagi.

Kau menghela napas berat. Betapa kau ingin mengatakan kepadanya bahwa tak ada yang salah sama sekali dalam diri Iren. Ia terlalu sempurna. Terlalu sempurna untuk kau miliki.

“Kenapa saya?” akhirnya kau bertanya.

“Karena kau satu-satunya lelaki yang menjagaku saat aku mabuk.”

Memangnya ada berapa lelaki yang pernah mabuk bersamanya? pikirmu.

“Ayah benar, saya memang manusia gagal. Saya bahkan tidak tahu siapa namamu, tetapi saya merasa jatuh cinta padamu, lelaki yang lebih muda,” Iren mulai menangis.

Kau memutuskan untuk memeluk Iren karena ingin ia berhenti bicara. “Jangan bicara lagi, saya mohon.”

Iren balas memelukmu dan menuruti kata-katamu. Kau berjanji pada dirimu sendiri akan menjaga perempuan dalam pelukanmu itu seumur hidupmu. Ia adalah segalanya bagimu. Hal-hal lain hanyalah hal-hal lain. Kau tak perlu bertanya mengapa semesta mempertemukan kau dengannya. Kau tak perlu bertanya mengapa ciuman tiga detik dapat membuat seseorang jatuh cinta sejatuhnya. Persetan dengan status sosial dan perbedaan usia. Kau bertekad kelak akan menjadi ayah yang tak sebangsat ayahmu dan ayahnya. Hidupmu kini punya tujuan. Dan itu adalah untuk membahagiakan perempuan yang sedang dalam pelukan.

Last modified on: 21 Februari 2017

    Baca Juga

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

  • Sebastian Bejo yang Fenomenal


    “Malam itu, Dodit hanya membutuhkan guling, bukan agama ataupun wanita.” Begitulah ending dari cerita setebal dua ratus lima puluh halaman karya Sebastian Bejo yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh orang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni