(6 votes)
(6 votes)
Read 713 times | Diposting pada

Perempuan dalam Griya Laras

Udiarti
Oleh:
Udiarti
 Prosa

 

Aku selalu menghirup dalam-dalam aroma itu sebelum kuhilangkan yang sudah menumpuk berjam-jam di atas benda lembut berjambul benang-benang ini. Setiap tiga jam sekali cairan ini diproduksi oleh orang-orang yang datang dan pergi. Kedatangan mereka kusambut lirih dengan senyuman tanggung, tidak lebar tidak juga sempit. Mereka datang dengan malu-malu, menutup setengah wajahnya dengan masker penutup muka. Selalu kuberikan wajah tenang agar mereka tak sungkan seolah aku selalu paham dan memandang wajar bahwa udara dingin Tawangmangu membuat tubuh kalian butuh selimut. 

“Bisa?”

“Bisa mas.” 

Hanya dialog itu yang mengawali pertemuan kami sembari menengok kanan kiri adakah orang-orang lain yang melihat ke arah mereka. Kusediakan wajah yang membuat mereka yakin bahwa rahasianya aman di kehidupanku. Usai kepercayaan mereka dilimpahkan penuh padaku, aku akan menyuruh mereka masuk dengan nada yang ramah. 

“Mau minum apa?”

Kadang-kadang mereka memesan kopi pahit, kadang teh tawar, kadang teh manis, atau air putih dan sangat jarang yang memesan es teh meskipun juga ada satu atau dua. Aku tak menyediakan termos air panas untuk mereka, aku hanya membuatkan masing-masing satu gelas dan bonus air putih kemasan. Aku percaya mereka tidak ingin berlama-lama untuk minum-minum kopi atau semacamnya, kupikir yang lebih mereka butuhkan adalah air putih. Mereka akan menghabiskan banyak napas dan juga keringat yang membuat mereka lebih gampang kehausan. 

Yang datang padaku bermacam-macam. Tapi lebih seringnya pasangan laki-laki dan perempuan. Ada yang muda, tua, hingga remaja. Semua kusambut dengan sama. Mereka kebanyakan naik sepeda motor. Parkiran di tempatku lebih tersembunyi dari tempat-tempat yang lain. Mungkin itu sebabnya orang-orang lebih menyukai tempat ini ketimbang tempat-tempat yang di seberang jalan. Kadang pula aku merasa kasihan dengan mereka yang datang dengan bibir yang gemetar. Para remaja lah yang lebih sering datang dengan bibir gemetar itu. Aku bersyukur tak pernah menjadi gemetar seperti mereka. Tapi aku menyukai apa yang mereka produksi di atas tempat-tempat tidur yang ku sajikan. 

Aku menamai 'Griya Laras' pada depan halaman rumahku. Sebenarnya ini bukan rumahku, tapi tempat kerjaku. Orang kaya dari wilayah lain membangun rumah dengan kamar-kamar yang banyak beserta kamar mandi di bagian dalamnya. Lantas aku yang berwajah ramah ini diminta untuk mengurus segala operasi yang di kerjakan di bangunan ini. Aku mengelola tiga bangunan sekaligus dengan dua orang temanku. Rumah kami sesungguhnya jauh lebih mungil dari bangunan kamar-kamar ini. 

Aku bekerja hampir 24 jam tanpa tutup. Malam hari justru lebih ramai. Tapi kadang polisi berputar-putar di daerah kami pada hari-hari malam yang ramai, menjaring para tamu-tamuku yang hendak memproduksi cairan kesukaanku. Aku sebal jika polisi-polisi itu mulai datang dan mengetuk kamar-kamar yang ada di tempat kerjaku. Kupikir polisi-polisi tak pernah bernasib muda dan nakal, meskipun kebanyakan teman-temanku yang nakal di masa SMA dulu justru terlahir menjadi polisi. Mereka mengetuk dan menanyai apakah orang yang di dalam suami istri? Kupikir bukanlah urusannya untuk menanya-nanyai hal macam itu. Itu urusan pribadi yang harusnya disingkirkan dari daftar pekerjaan para polisi. 

Mereka yang datang meminjam kamar pastilah orang-orang yang saling menjalin kasih sayang. Aku suka jika manusia masih saling berkasih-kasihan dan bersayang-sayangan. Mereka mengikuti nalurinya sebagai manusia yang utuh. Tapi kadang-kadang lingkungan tak mengerti perasaan yang mereka pendam. Bagiku yang terpenting adalah selalu menengok bekas keluh mereka yang masih tertinggal dalam kamar yang kubersihkan. 

Bercak putih. Kadang juga terdapat sedikit noda darah terhambur pada seprai-seprai kamar. Jika sudah ada bercak semacam itu, aku akan segera menggantinya dengan yang baru. Tapi sebelum kulucuti semua dari kasur busa yang empuk dan terasa mewah ini, aku akan melakukan ritualku sendiri. Kupandangi bercak itu sambil tersenyum-senyum lembut. Kupastikan tak ada rekan kerjaku yang masih sliweran di luar kamar. Perlahan kurasakan hal yang sama dengan mereka yang baru lima belas menit meninggalkan kamar ini. Sesuatu meluncur perlahan dari selangkangan. Aku menyambutnya. 

Jika kulihat darah berbercik, maka sebuah peralihan kehidupan telah terjadi. Betina telah memasrahkan sarangnya untuk dijelajahi. Bayangan yang indah dari kamar itu, sebuah wajah mengeryitkan dahi dan mata terpejam, di atasnya ada wajah laki-laki dengan senyum menikmati. Bayangan itu melintas-lintas hingga klimaks. Aku merekam detail ekspresi-ekspresi itu. Detail yang cuma kubayangkan sendiri, namun selalu terasa nyata dan menyenangkan. Tak ada satu pun rekan kerjaku yang mengetahui kebiasaan indahku ini. Aku merahasiakannya bukan karena aku takut dianggap perempuan tidak baik, tapi aku lebih takut dianggap sebagai perempuan yang kesepian dan butuh pelampiasan kasih sayang. 

“Nong? Hari ini ada berapa yang datang?” kata si pemilik bangunan yang baru pulang dari bepergian ke luar kota.

“Lebih dari sepuluh pasangan Pak.” 

“Lumayan juga ya. Tak kusangka, bisnis macam ini jauh lebih mudah dijalani rupanya. Jangan lupa, kamar-kamar ini tak hanya untuk sepasang kekasih saja tapi juga untuk keluarga-keluarga luar kota yang mau menginap di sini.” 

Pesan itu seperti sedikit menyindirku karena kerap kali menolak kedatangan rombongan keluarga untuk menyewa Griya Laras entah semalam atau lebih. Sebenarnya keuntungan jauh lebih banyak jika disewa sebuah keluarga, apalagi jika keluarga kaya raya. Aku bisa seenaknya memasang tarif harga hingga dua kali lipat. Orang-orang kota tidak akan curiga karena mereka terbiasa membayar kamar-kamar yang lebih mahal. Kau tahu bukan, jika Tawangmangu menyediakan segala hal: alam, ketenangan, dan kesejukan. Harga dua kali lipat sesungguhnya tak sebanding dengan apa yang Tawangmangu suguhkan. Berbeda dengan percintaan sepasang kekasih yang menyewa kamar-kamar ini. Mereka barangkali bercinta di bawah ketakutan, di bawah kewaspadaan, mereka butuh bantuan ruang rahasia untuk menuntaskan perasaan alamiah karunia Tuhan. Sementara, aku berada di sini untuk membantu hasrat alami mereka. 

Aku akui, perasaanku memang aneh dan ganjil. Aku menciumi sperma yang mengering bagai perempuan tak tersentuh laki-laki. Tak tersentuh karena memang tak mau ada yang menyentuh. Tapi menciumi rontokan kenikmatan mereka bagai kekuatan bagiku. Aku merasa lebih hidup. Merasa lebih terhormati sebagai manusia. Tapi kau pasti akan memasukan sosokku sebagai manusia berkelainan jiwa. Tak mengapa, tak ada yang perlu disalahkan. 

“Nong?” salah seorang temanku menyapa. 

“Ada apa?”

“Aku ingin menyudahi pekerjaan ini.” kata Nem, perempuan setengah baya beranak lima yang turut kerja di Griya Laras ini. 

“Ada apa? Gajimu kurang? Aku bisa bagikan kau uang lembur yang lebih.” 

“Tidak Nong. Aku hanya merasa jika aku terlalu tua untuk pekerjaan ini.”

“Kau merasa begitu Nem?” 

“Ya.” Kami bercakap pada dapur khusus yang disediakan untuk pengelola Griya Laras. Dapur dengan meja besar berlantai dempulan semen. 

“Bukankah justru orang-orang paruh baya macam kita ini yang harusnya mengelola vila-vila dan kamar-kamar?”

“Maksudmu Nong?” Nem tak mengerti apa yang kukatakan. Setidaknya aku lulusan SMA yang mengerti bahasa. Nem hanya lulusan SD yang sedikit buta huruf. Kini usianya menginjak 53 tahun.  

“Nem, tidak ada anak muda yang mau mengelola tempat macam ini. Bagi mereka tempat ini buruk. Kau akan memberi makan apa pada lima anak-anakmu jika tak bekerja?” 

“Mereka yang datang juga masih muda-muda. Aku akan membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Nanti biar anak-anakku yang membantu.”

Nem benar. Jika para orang-orang muda menganggap tempat ini buruk, lantas mereka juga datang kesini untuk apa? Tapi dari yang kutahu, alam ini selalu seimbang. Jika yang muda memakai tempat ini untuk bercumbu, maka kami yang tua menyediakan dan merawat tempat ini. Kupikir ini impas. Tapi barangkali Nem memang sudah tidak kuat tenaganya untuk bekerja menyuci selimut, seprai, hingga mengepel kamar-kamar di Griya Laras.

“Sesungguhnya aku merasa berdosa kerja di tempat ini Nong.” Nem pun berucap lagi. Pandangannya kini sendu.

“Kau berpikir ini tempat maksiat? Dan kita penyebar maksiat?” 

“Ya.”

Aku tak bisa membantah. Mungkin dia benar. Tapi aku pun tak setuju. Maka kubiarkan Nem meninggalkan Griya Laras kelak. Dan kami hanya tinggal berdua. Namun tak lama seorang lagi datang. Lebih rajin katimbang Nem, usianya juga lebih muda, ia masih 40an tahun. 

Ini hari minggu, hari yang lebih ramai dari hari-hari yang lain. Kulihat sepasang kekasih dengan sepeda motor menghampiri halaman Griya Laras. Dengan senyuman kusambut mereka. Mereka menanyakan kamar. Masih ada satu. Kutanya mereka akan minum apa. Dua gelas teh manis panas dan dua botol air putih mineral. Kuketuk pintu mereka kemudian. Si pemuda membuka pintu. Kudapati dari celah pintu yang terbuka sedikit dada ranum telah gelisah di atas selimut merah muda. Aku menahan senyumku dalam hati. Aku akan mendapatkan cairan cinta yang damai dari mereka, pikirku. 

Tiga jam telah berlalu, beberapa tamu meninggalkan Griya Laras dengan anyir keringat yang masih menggantung. Yang terakhir, sepasang kekasih yang sempat kudapati buah dadanya, menyerahkan enam puluh ribu rupiah untuk tiga jam percintaan mereka dan lantas pamit pergi. Entah mengapa wajah gadis berdada ranum itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang dadanya barangkali ketika muda juga sebulat dan sekencang itu. Kulitnya yang sawo matang makin membuatku teringat pada wajah yang lain. 

Mereka meninggalkan Griya Laras. Kubersihkan kamar bekas gadis sawo matang itu. Melihat kamar yang kembali rapi membuatku terharu sendiri. Biasanya kamar akan ditinggalkan begitu saja oleh penyewanya. Anehnya aku justru merasakan getaran yang lain, aku justru iba melihat gadis gelisah itu. Apa yang mereka lakukan di dalam sini? Hanya berkasih-kasihkah, atau juga nafsu turut memburu? Tak kulihat bekas sperma kering atau setengah kering pada kasur dan selimut. Ditumpahkan di buah dadanya kah cairan yang kutunggu-tunggu harumnya itu? Atau mereka sengaja menggunakan kondom agar cairan tak membaur kemana-mana? Agar area tetap bersih, barangkali begitu. Kemungkinan lain adalah cairan itu menyelam kedalam rahim dan menghangatkan si gadis. Aku kecewa tak bisa mendapatkan aroma cairan itu.

Satu minggu aku merasa demam di rumah setelah dua bulan lalu melayani kamar-kamar yang sungguh ramai di bulan-bulan libur sekolah. Banyak anak-anak remaja menyewa kamar-kamar Griya Laras. Aku kualahan hingga akhirnya tumbang. Di rumah tak ada yang merawatku, aku tinggal sendiri jika kau ingin tahu. Tak ada yang memberikanku cairan cinta di rumah yang sepi ini. Aku sempat menikah, tapi kekasihku direnggut demam berdarah. Aku takut pula jika demamku sama dengan suamiku dulu. Tapi kata dokter di puskesmas terdekat aku hanya kelelahan dan demam biasa. 

Aku pun rindu Nem, jika aku masuk angin atau kelelahan, Nem lah yang memijit dan mengerok punggungku dengan remason. Ia bagai Ibu bagiku. Pantas saja anaknya lima, dia sangat lihai dalam mencurahkan kasih sayang pada anak-anaknya. Dalam sakit itu aku pun mencoba mencari-cari Nem. Kudatangi rumahnya, rumahnya ada di bukit yang lain, agak jauh dari rumahku. 

Rumahnya cukup kecil untuk ditinggali tujuh orang. Nem, suaminya yang petani, dan lima anaknya yang masing-masing masih sekolah. Dua SD, dua SMP dan satu SMA. Anak mereka perempuan semua. Kulihat depan pintu kayunya yang terbuka justru ramai beberapa orang. Dalam sakitku yang makin menggigil aku sangat khawatir dengan Nem. Ada apa ini? Aku pun telah berada di depan pintunya. Kulihat Nem berada di tengah-tengah lingkaran warga. Kupikir hanya beberapa orang, ternyata barangkali satu RT. 

Aku makin pucat mendapati Nem yang terbaring sembari pelan-pelan menangis. Kenapa Nem ini? Kenapa ia begitu sendu dan sedih serta menangis? Wanita setengah baya ini diredam tangisannya oleh suami. Aku jadi rindu suamiku. Aku mendekat pada salah satu warga dan menyalaminya. Ibu-ibu pula, seumuran Nem.

“Ada apa ini bu?”

“Anaknya Nem, ketemu mati di kamar mandi pagi ini.”

Anak? Lantas mana jenazah anak itu? Anak Nem yang mana yang keburu mati di pagi tadi? Kusadari anak-anak Nem masih begitu muda semua. Aku terbatuk sebentar, lantas seorang warga memberiku minuman, air mineral gelasan plastik yang kadang-kadang juga kujual. Nem benar, ia membuka warung kecil-kecilan di depan rumahnya, tapi dagangan-dagangan itu masih rapi di dalam rumah. Badanku makin demam. 

“Anak Nem yang kelas berapa?” tanyaku. 

“Sing nomer siji.” Jawab warga yang memberiku minum. Anak nomer satu. Setahuku, anak pertama Nem masih SMA kelas dua jika tidak salah, tapi aku belum pernah melihat wajahnya. 

“Boleh saya lihat?” 

“Ada di kamar.” Aku diantar masuk ke kamar yang juga tak kalah ramai. Kata warga anak itu mati dengan seutas tali di kamar mandi. Ia biasa mandi berlama-lama, tapi pagi ini lama yang berbeda. Lama yang lebih khusyuk dari segala lama. Kulihat jenazah yang baru mau dikafani itu. Aku makin menggigil lebih gila karena wajahnya benar-benar kukenali. Wajah dua bulan lalu yang tak sengaja kulihat buah dadanya. Kali ini buah dadanya kulihat lagi, sebelum dibungkus kain putih. 

Kenapa ia menggantung diri? Sebuah surat pendek yang terjatuh di lantai kamar mandi yang saat itu masih kering menjelaskan semuanya. Menjelaskan pula kenapa cairan yang selalu kutunggu dari tamu-tamuku tak kudapatkan dari pasangan dengan gadis sawo matang. 

“Mak, aku meteng,” Surat itu berbicara. Anak pertama Nem yang masih SMA barangkali bingung karena kedapatan oleh dirinya sendiri jika ia hamil. Hamil yang datang lebih awal tanpa pernikahan. Hatinya hancur dan tak berani mengatakan. Hasrat itu tumbuh jadi benih janin dua bulan. Tanpa pikir panjang dan tak mau memperpanjang, anak pertama Nem menyandarkan hidupnya pada seutas tali jemuran di kamar mandi. 

Aku buyar. Aku pun memendam rahasia bahwa anak Nem pernah membayar enam puluh ribu rupiah untuk Griya Laras untuk menuntaskan hasrat mudanya. Untuk berkasih-kasihan hingga akhirnya mati bunuh diri. Aku kemudian mengerti kenapa Nem ingin menyudahi pekerjaan yang memang benar tempat maksiat. Aku sedih, merasa hampa. Aku merasa tak akan hidup lagi dari sperma-sperma yang luluh kering pada kasur-kasur Griya Laras. 

Last modified on: 4 Juni 2018

    Baca Juga

  • Perempuan dalam Pelukan


    Tak ada yang istimewa dari hidupmu, semua rutinitas kau jalani datar-datar saja. Kau senang memotret dan hobi itu kini menjadi pekerjaanmu. Tetapi yang kau impikan adalah menjadi fotografer untuk momen-momen…

     

  • SITI: Menemui Tanpa Menghakimi


    Siti panjang umur. Setelah pertama kali tayang untuk khalayak Indonesia di JAFF 2014, napas Siti kian panjang berkat pemutaran ke pemutaran. Hingga bulan Maret 2016, masih ada ruang-ruang yang memutarkan…

     

  • Daftar Cara Membunuh Skena dengan Ormas


    “We build the wall to keep us free.” Why We Build The Wall, Anais Mitchell. Kawan-kawan kita sedang sangat kreatif beberapa hari belakangan ini, karena beberapa dari mereka berhasil memasukkan…

     

  • Internet dan LGBT: Sebuah Transisi Peradaban


    Abad 21, merupakan salah satu transisi peradaban tersulit yang sedang dihadapi manusia, selain dipengaruhi oleh meledaknya internet yang membuat beberapa generasi terbata-bata menggunakannya, abad ini juga dibumbui dengan wacana LGBT.…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni