(13 votes)
(13 votes)
Read 596 times | Diposting pada

Pengurus Pemakaman

Ballad of a Dead Dog Ballad of a Dead Dog f4.bcbits.com

 

Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat hati-hati sehingga tidak ada bunyi derakan yang menganggu. Saya memegang Muffin dengan tangan kiri dan memegang pegangan tangga dengan tangan kanan, seperti yang selalu Ayah katakan kepada saya. Berjalan menuju kotak perlengkapan milik saya terletak dibelakang pintu. Saya menaruh Muffin di atas kotak tersebut dan kemudian membawanya bersama keluar.

***

Ada gambar Muffin dan saya di rumah sakit ketika saya baru saja lahir. Ia terlihat lebih besar dari saya. Ia memakai pita berwarna merah muda pada lehernya dan memiliki bulu-bulu yang sangat bersih dan halus. Mama membeli Muffin untuk saya sebelum saya lahir. Saya bertanya, mengapa ia dipanggil Muffin, Ia berkata itu nama yang ada di kalungnya. Saya begitu menyanyangi Muffin. Saya bertanya apakah ibu juga menyanyangi Muffin seperti saya, ibu menjawab ia juga menyanyangi Muffins, tetapi ia lebih menyanyangi saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa Ibu harus adil, karena jika ibu lebih menyanyangi saya maka Muffin akan sedih. Jadi, Ia berkata bahwa ia akan menyanyangi kami dengan adil, sehingga Muffin dan saya akan merasa sangat senang.

***

Muffin dan saya sama-sama menggunakan mantel ketika kami pergi keluar saat musim dingin. Ibu membelikan saya dan Muffins mantel dengan warna yang sama sehingga kami akan terlihat sama. Saya mengatakan kepada Bapak Gregory di Sekolah Minggu bahwa saya ingin menjadi seorang pengurus pemakaman ketika saya dewasa nanti. Ia tertawa dan berkata “Apa?” dan saya mengulangnya lagi, “Seorang pengurus pemakaman”.

***

Saya membawa kotak peralatan milik saya ke ujung taman di mana hanya terdapat beberapa rerumputan yang tumbuh di sana. Pada pukul enam pagi, segala sesuatu yang ada di taman menjadi abu-abu, seperti sebuah foto lama. Saya menggunakan tangan saya untuk membuat sebuah lubang di tanah. Saya tau sekali bagaimana dinginnya tanah saat musim dingin. Saya berjongkok dan itu membuat bagian bawah piyama menjadi sedikit basah.

Saya mengambil peti mati Muffin terlebih dahulu. Kemudian, Saya melukis di atas label Nike yang masih terlihat sedikit. Kemudian, saya  membukanya dan meletakkan tutupnya di rumput. Selanjutnya, saya mengambil kain hitam, yang sebenarnya adalah sarung bantal, yang dari tampilannya terlihat seperti sutra dan saya taruh sutra itu di dasar peti mati, lalu memasukkan bantal Muffin. Selanjutnya adalah saputangan yang saya buat di kelas seni dengan inisial saya, C.B., ditulis dengan tulisan keriting, diisi dengan bola kapas dan kemudian dijahit bersama. Saya meletakkannya di ujung peti mati dan kemudian merebahkan Muffin dengan kepalanya di atas bantal.

***

Bapak Gregory bertanya kepada saya, mengapa saya ingin menjadi seorang pengurus pemakaman. Saya menjelaskan kepadanya bahwa itu sangatlah penting untuk membuat kematian seseorang menjadi begitu layak, karena waktu kematian begitu terasa cepat dibandingkan hidup.

Saat Muffin berada di dalam peti mati, saya merapihkan mantelnya dan menyikat bulu-bulu halusnya menjadi rapi. Saya membungkukkan kepala dan berdoa seperti yang dilakukan oleh Bapak Gregory. Kemudian, saya menutup peti mati itu dan meletakkannya di dalam dasar tanah, lalu saya menutupnya kembali dengan tanah dan meratakannya. Saya kemudian duduk dan menunggu dalam diam di keheningan taman yang berwarna abu-abu saat pagi. Perlahan, burung-burung berterbangan dan membuat kebisingan, lalu secercah cahaya berwarna oranye-merah muda muncul perlahan di antara pohon-pohon. Awan-awan berwarna biru gelap seperti warna jeans yang saya kenakan, tetapi perlahan mereka berubah warna menjadi berwarna biru pucat. Ibu berkata, jika sebelum matahari terbit, dunia adalah milik kita dan ketika matahari telah terbit, maka kita harus membagi hari kita dengan orang-orang lain. Jadi, saat matahari terbit, dan hari dimulai, saya kembali menggali peti mati Muffin dan menaruh segalanya kembali seperti sediakala.

***

Saya tidak mendandani Muffin seperti Ibu saat prosesi pemakaman berlangsung, karena ia akan terlihat seperti beruang. Ketika ibu dikuburkan, mereka membaringkan ibu di peti yang sangat indah. Ayah berkata bahwa Ibu mengenakan dress panjang berwarna hitam dan lipstik merah pekat, dan seluruh rambutnya dibuat bergelombang di dalam peti. Ayah juga berkata, ibu berbaring di atas sutra dengan sebuah bantal yang nyaman. Saya bertanya kepada ayah, siapa yang memberikan ibu dress hitam dan gincu, kemudian ayah menunjuk ke arah lelaki tua yang memegang roti sandwich. Orang itu menghampiri kami.

“Siapa namamu?” Tanyanya.

“Christopher.”

“Baik, Christopher. Ketika kita sangat menyanyangi seseorang, kita menginginkan mereka untuk memiliki kehidupan yang baik, bukankah begitu? Jadi, kita pun ingin mereka memiliki kematian yang layak. Dalam opini saya, sebuah kematian yang layak adalah sesuatu hal penting seperti sebuah kehidupan yang baik. Jika itu tidaklah menjadi hal penting bagi kita —jika tidak lebih penting— mungkin karena kita sudah mati jauh lebih lama dari kita hidup."

Saya merasa khawatir saat itu, karena saya tahu bahwa gincu favorit Ibu berwarna merah muda dan saya pikir dia tidak memiliki kematian yang layak dan menyenangkan dengan gincu berwarna merah pekatnya.

Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan karena saya merasa sangat buruk, jadi, saya hanya mengatakan, “saya harap ibu ada disini.”

“Dia ada disini,” kata Tuan Cartwright. “Apa yang ibumu suka lakukan?”

“Ia suka minum teh dan menonton acara TV,” kata saya. “Dan mandi dengan lilin harum yang sangat unik, lalu bermain Candy Crush pada Ipad miliknya dan mencoba untuk mendapat skor tertinggi dari saya. Ia juga suka bangun sangat pagi dan membangunkan kami semua dan pergi keluar untuk melihat matahari terbit dari balik jendela. Ia juga selalu mengizinkan saya minum sedikit teh miliknya meskipun rasanya tidak enak, karena tidak ada sedikitpun gula yang dimasukkannya.”

“Baiklah, itulah tempat di mana kau akan bertemu dengan ibumu,” jawab Tuan Cartwright. “Bangun lebih awal dan melihat matahari terbit. Dia akan disana denganmu, walaupun kamu tidak dapat melihatnya.”

Saya menyukai jawaban Tuan Cartwright, jadi saya mengatakan kepadanya bahwa Ibu tidak menyukai gincu berwarna merah dan saya bertanya apakah itu akan menjadi suatu kematian yang tidak membahagiakannya. Saya sangat khawatir ia akan tertawa tetapi dugaan saya salah. Tuan Cartwright hanya tersenyum. 

“Tidak Christopher. Warna lipstik bukanlah hal penting. Yang terpenting adalah ritual.”

“Ritual apa?”

“Saya akan menjelaskannya kelak, tentu jika Ayahmu menyetujuinya”

***

Ketika saya selesai meletakkan semuanya kembali ke dalam kotak peralatan. Saya berdiri dan melihat ke arah sebidang tanah lainnya. Langit sangat cerah sekarang dan taman terlihat sangat berwarna, dan saya dapat melihat rerumputan yang basah. Saya pergi ke dalam dan meletakkan kotak peralatan milik saya ke balik pintu dan mencuci tangan sebelum sarapan dimulai. Saya memliki sebuah sikat kecil untuk membantu saya menghilangkan bekas kotoran yang menempel di dalam kuku.

“Bagaimana dengan matahari terbitnya?” tanya Ayah.

“oranye merah muda,” jawab saya.

“Kamu harus mulai bangun lebih pagi,” kata Ayah. “Matahari akan terbit lebih cepat dari biasanya,” tambahnya.

***

Sebelum matahari terbit, dunia milik saya dan Ibu. Tetapi ketika matahari telah naik. Saya harus berbagi dunia dengan yang lainnya. Saya menaruh Muffin kembali ke tempat tidur dan memberikan dia sebuah pelukan perpisahan. Kemudian, saya menyikat gigi dan pergi ke sekolah.
 
_____

Sarah Martin adalah seorang guru Bahasa Inggris, Ia tinggal di Melbourne, Australia.

Naskah ini diterjemahkan dari New York Times Competition Short Story Challenge 2017 dengan judul asli The Undertaker pada 08 Januari 2018

Last modified on: 14 Januari 2018

    Baca Juga

  • Ritual Pemakaman


    Pagi telah lama bersiaga ketika kutuntaskan urusan antara lidah dan kerongkongan dengan lepuh panas teh aroma melati. Pagi yang wajar, kecuali fakta bahwa pagi ini adalah langkah-langkah awal yang dilayangkan…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Inti Cerita yang Buruk


    Setiap harinya Justin Horgenschlag —seorang asisten juru cetak berupah tiga puluh dolar per pekan— melihat kurang lebih enam puluh wanita yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka, dalam rentang waktu empat…

     

  • Kolom Komentar


    Semenjak kejadian yang membahagiakan dirinya lewat reaksi setoronin, endorfin dan dopamin di sekujur wadaknya, hidup Pentol sebelumnya tidak pernah serumit ini. Kala itu, di sebuah hotel bintang tiga, Pentol menemukan…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni