(6 votes)
(6 votes)
Read 1029 times | Diposting pada

Nubuat

 

Anakku yang kukasihi, di dalam tidurku semalam aku telah melihat malapetaka yang akan datang menimpa kita semua. Dunia akan diliputi ratap tangis dan kelaparan. Kita akan hidup dalam penderitaan. Langit akan bergeming seolah tak terjadi apa-apa. Tak ada malaikat-malaikat yang turun meniupkan sangkakala. Tak ada Kedatangan Kedua.

Di awal penglihatanku itu, kau dan aku sedang berjalan-jalan di deretan pertokoan pusat kota. Suasana hiruk-pikuk, tetapi belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa akan terjadi sesuatu yang gawat. Pepohonan di sepanjang trotoar sedang meranggas. Ada tiga orang prajurit yang bertugas mengecek kartu identitas di pos perbatasan. Seperti biasa kita berhenti di depan toko elektronik Clarke & Bester untuk menonton tayangan peluncuran roket—dan seperti biasa pula, kau amat terpikat dengan tayangan itu. Selagi kau menonton dengan khusyuk, terdengarlah suara bising yang menyerupai bunyi terompet, mendekat dari kejauhan. Persis ketika aku menengadahkan kepala ke langit, sebuah pesawat keperakan terbang rendah di atas gedung-gedung, meraungkan sirine. Suara bising itu serta-merta membuat semua orang memekik dan kalang kabut. Aku buru-buru menarik tanganmu meski tak tahu mesti ke mana. Orang-orang di sekitar kita berlari tak tentu arah. Kita kebingungan mencari siapa yang bisa kita ikuti. Di antara mereka ada yang berteriak, “Lari ke bungker! Lari ke bungker!” Akan tetapi, tak ada yang memberi tahu di mana letak bungker terdekat. Saat aku melihat ke arah pos perbatasan, ketiga prajurit yang sebelumnya duduk di situ telah hilang.

Kita belum sampai ke mana pun ketika seberkas cahaya putih melesat di langit—itu bukan cahaya pesawat keperakan yang berlalu sebelumnya. Aku cepat-cepat mendekapmu. Tubuh kita terpental bersamaan dengan munculnya suara gemuruh. Aku terpental ke tengah jalan raya, terguling, dan hampir menabrak roda taksi yang untungnya sedang berhenti. Lengan kiriku terluka akibat tergesek di aspal—di dalam penglihatanku itu aku tidak dapat merasakan sakitnya luka itu. Kau terguling agak jauh dariku. Sikut dan lututmu pun terluka. Kau berupaya menahan tangismu. Di sekitar kita orang-orang terkapar dan merintih. Sebagian dari mereka sudah lanjut usia sehingga tak dapat berdiri kembali dengan segera. Aku mencoba membantu beberapa orangtua itu, tetapi belum selesai aku menolong semuanya, gemuruh mendadak terdengar lagi. Kita berdua langsung lari tergopoh-gopoh.

Kaca-kaca gedung di sepanjang jalan pecah dan berjatuhan ke trotoar. Jalan raya menjadi retak seolah-olah ada raksasa yang selama ini terkubur di bawahnya dan hendak bangkit untuk memorakporandakan kota. Mobil-mobil menjeritkan alarm. Gedung-gedung runtuh bagaikan tanah yang longsor. Sebuah zepelin tertimpa salah satu dari puing-puing gedung itu hingga jatuh menghantam lampu lalu lintas. Dalam sekejap saja kota telah dilingkupi kabut debu. Banyak orang yang berlarian di tengah jalan terkubur dalam reruntuhan.

Sementara itu, di atas puncak-puncak gedung tampak sebuah cincin api raksasa yang mengembang, membentang belasan kilometer. Asap putih berkepul-kepul di tengah-tengah cincin itu. Gumpalan asap dan cincin api itu menyatu dan menjelma bola api. Kita berlari menjauh dari ledakan itu. Kita berlari seolah cepat sekali sampai-sampai pemandangan di sekeliling kita menjadi buyar. Langkah-langkah kita terhenti di depan reruntuhan sebuah gedung yang terbakar. Dari celah-celah reruntuhan gedung itu muncul orang-orang dengan kulit yang terkelupas dan berdarah-darah. Seorang perempuan berwajah hangus berpakaian compang-camping merangkak di tanah dengan salah satu kakinya yang remuk. Seorang bocah laki-laki berjalan terbungkuk-bungkuk sambil menangis—aku minta maaf jika bagian ini terlalu mengerikan untukmu: dada bocah itu menganga memperlihatkan tulang-tulang rusuknya yang patah dan paru-parunya yang kembang-kempis. Kita menghampiri orang-orang itu, tentu saja dengan penuh rasa takut dan ngilu. Kau langsung menangis tatkala mendapati mereka merangkak menembus tubuhmu. Mereka pecah, buyar menjadi titik-titik cahaya keperakan dan hilang meninggalkan jejak berupa asap putih. Mereka sudah mati, katamu berulang kali dalam isak.

Di antara suara tangismu itu aku merasa seperti mendengar seruan parau dari banyak orang: “Pertobatan! Pertobatan! Pertobatan!” Awalnya kukira kata-kata itu diserukan oleh mereka yang terluka parah itu. Namun, setelah kudengar dengan lebih saksama, suara-suara itu justru muncul dari dalam kepalaku sendiri. Suara-suara itu bergaung terus sampai setetes hujan mendarat di ujung hidungku, melenyapkan api yang semestinya masih melumat gedung-gedung di hadapanku.

Seperti dalam penglihatan-penglihatanku yang sebelumnya, waktu dan ruang mendadak berganti dalam sekejap mata. Kita berpindah ke sebuah kota asing. Di sekitar kita lampu-lampu jalan dan gedung-gedung rebah layaknya pohon-pohon tumbang. Hujan turun pelan dalam butiran-butiran besar. Saat itu luka di lenganku sudah kering. Kita sedang mengantre untuk mendapatkan makanan. Aku memegang secarik kupon, kau juga. Dua orang prajurit bersenjata berjalan bolak-balik mengawasi barisan kita. Di depan kita seorang ibu muda menggendong bayinya yang sedang menangis. Si ibu berupaya mendiamkan bayinya itu dengan menyanyikan lagu tidur. Dengan tapak tangannya si ibu melindungi wajah si bayi dari tetesan hujan. Tanpa sadar si ibu menjatuhkan kuponnya dan kau cepat-cepat mengambilkannya.

Ketika si ibu itu tiba di ujung depan barisan, salah seorang dari dua prajurit yang bertugas menukar kupon dengan makanan kotak berkata padanya, “Kami tidak punya makanan bayi!”

Si ibu lalu bertanya kepada mereka, memohon, “Kalau begitu bagaimana anak saya bisa makan?”

Prajurit itu menjawab, “Beri dia susumu!”

Si ibu berkata lagi, “ASI saya tidak keluar!”

Prajurit itu malah menggenggam lengan si ibu dan menariknya ke luar barisan. Si ibu tidak memohon lebih lama karena ia tahu hal itu tidak akan ada hasilnya. Ia diam sejenak, lantas berjalan di belakang kita menuju tempat pengungsian. Tempat itu adalah sebuah kemah besar yang sangat padat dengan manusia. Kita masing-masing hanya mendapat jatah selembar tikar plastik yang sudah dinomori dan hanya muat untuk ditiduri satu orang dewasa. Hujan yang kemudian melebat membuat kita tidak bisa makan di luar. Padahal, keadaan di dalam kemah begitu riuh dan sesak.

Kau tiba-tiba berlari meninggalkanku saat kau mendapati si ibu muda tadi di antara kerumunan orang yang sedang duduk makan. Kau membawakan paha ayam goreng dari kotak makananmu dan menawarkannya pada ibu itu. Dari jauh aku melihat ia tersenyum dan menggeleng padamu. Dan ketika kau kembali padaku, dengan cemberut kau mengatakan bahwa bayi itu belum boleh makan ayam goreng.

Seusai makan siang, kita berdua keluar dari kemah. Kita mengitari blok-blok kota yang tak kita kenal itu, melintasi rumah-rumah yang telah hancur, dan berharap ada angin segar yang berlalu selepas hujan. Banyak orang juga melakukan hal yang sama dengan kita, termasuk para prajurit.

Aku bertanya pada salah seorang prajurit yang melintas di depan kita, “Apa yang sebenarnya terjadi selama ini?”

Prajurit itu menggeleng dan menjawab, “Dunia sedang kacau-balau!” Setelah mengatakan hal itu, ia malah mengoceh soal adik laki-lakinya yang meninggal karena kanker dan ia merasa sedih karena tak dapat menghadiri penguburan adiknya itu. Prajurit itu menangis tersedu-sedu dan pergi meninggalkan kita tanpa mohon diri terlebih dahulu. Langkahnya yang gontai membuat ia tampak serupa kertas yang telah renyuk dan terseret angin.

Kita kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan prajurit itu dan berhenti ketika mendengar suara-suara tangis dari tepi jalan. Seorang lelaki kurus ceking tanpa busana datang merangkak kepada kita dan meratap, “Saya … lapar … saya … lapar.” Lelaki itu menengadahkan kedua tapak tangannya yang kisut menyerupai gombal, mengarahkannya kepadamu, lalu kepadaku. Kita sama-sama menggeleng pelan sambil terus lekat menatap lelaki itu. Ia tak juga menurunkan tangannya. Kedua matanya yang kemerahan tersaput air. Sedikit demi sedikit ia memejam. Parasnya menggelap. Bibirnya memucat. Lelaki itu tumbang dan terkulai di tanah. Ia terurai menjadi pasir. Yang tersisa darinya hanyalah tulang-tulangnya. Seakan telah biasa melihat hal semacam itu, kita meninggalkannya tanpa sekali pun menoleh kembali. Di sepanjang jalan yang kita lewati itu memang banyak terserak tulang-tulang yang serupa. Kau menyepak sebuah tengkorak yang bergelinding ke depan kakimu. Gigi-gigi tengkorak itu rontok tatkala menghantam dinding. Kau tidak tampak menyesali perbuatanmu.

Langit terlihat redup dan kusam. Matahari selang sebentar tertutup gumpalan awan pekat. Uap putih tercipta tiap kali kita membuang napas. Sesekali kau menggigil dan mendekapku dari samping. Kita hanya mengenakan jaket bertudung yang sudah kumal dan compang-camping.

Ketika kita tiba kembali lagi di kemah pengungsian, tak ada seorang pun di sana, hanya tersisa beberapa tikar yang sudah rusak dan ditumbuhi jamur-jamur putih. Aku pun segera menyadari bahwa waktu telah melompat begitu jauh sejak kita meninggalkan kemah. Kau menjadi kurus secara drastis. Pipimu cekung dan kantung matamu menghitam. Entah apa yang kita makan setelah kemah pengungsian itu berakhir.

Kita lantas duduk di dalam kemah sembari menengadah ke arah terpal yang sobek. Kau mengusap-usap perutmu. Lapar, katamu. Tapi kita tak punya persediaan apa-apa. Kita tak tahu harus mencari ke mana.

Kita tak beranjak ke mana pun sampai malam tiba, sampai kita merasa tak sedang berada di mana pun sebab segalanya telah menjadi hitam sempurna—tak ada cahaya bulan ataupun bintang. Aku mendadak takut jika kau lenyap dalam kegelapan itu. Aku pun merangkulmu. Lalu kau meraih tanganku yang kugayutkan di lehermu dan kau mengajakku pergi. Awalnya aku tak mengerti maksudmu. Kau tak lekas mengatakan apa-apa dan terus saja menarik tanganku. Aku pun bangkit dan mengikuti tuntunanmu. Sesudah itu barulah kau bilang, “Aku mendengar sesuatu.”

Aku sempat tidak memercayai perkataanmu. Aku tak dapat mendengar apa-apa di dalam kegelapan itu. Sampai pada akhirnya aku melihat titik-titik cahaya keperakan di sekeliling kita yang muncul sejenak lalu pergi meninggalkan jejak berupa asap putih. Titik-titik cahaya itu menyerupai kembang api di ujung tongkat kecil. Mereka itulah yang kau dengar. Mereka mengeluarkan suara seperti siulan-siulan singkat yang lengkingnya justru membuat sunyi makin terasa.

Semakin banyak, semakin terang, dan semakin riuh. Kau sengaja berlari ke tempat titik-titik cahaya itu banyak mengumpul. Kau sengaja membuat dirimu terlihat seolah-olah mengenakan gaun cahaya. Kau tergelak. Kita sama-sama tergelak. Dunia tak lagi gelap gulita. Namun tak ada apa-apa lagi. Hanya kekosongan. Ketika kegelapan tersingkap sejenak oleh terang pun yang tampak hanya ruang putih tak berujung.

Kendati begitu, kita terus melangkah dalam terang titik-titik cahaya itu. Perlahan-lahan tubuh dan pakaian kita pun luruh menjadi titik-titik cahaya. Kita berganti wujud. Menjadi roh? Menjadi arwah? Aku tak tahu pasti. Yang kurasa pasti ialah bahwa kau selalu ada bersamaku meski kita sudah tidak lagi bisa berbicara. Kita melayang-layang. Sekali waktu kita melebur menjadi segumpalan cahaya. Di kali lain kita membelah menjadi titik-titik kecil. Keberadaan kita menjadi tidak mutlak. Dan kita masih juga tak tahu mesti ke mana. Tak ada lagi arah di tempat yang terakhir ini. Mungkin kita hanya perlu menunggu sampai tubuh kita dibentuk lagi di dalam suatu rahim, lalu lahir kembali entah di dunia mana, entah menjadi makhluk apa, dan entah menjadi berapa banyak.

Kita terus saja melayang-layang sampai habis semua gelap.

Ketika aku terjaga, angin sedang bertiup kencang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku. Langit masih hitam. Sekujur tubuhku berkeringat, padahal aku lupa menyalakan penghangat ruangan. Kedua lengan dan kakiku terasa kaku dan tegang. Kepalaku masih berdenyut-denyut ketika aku menuliskan semua ini.

Aku tidak tahu kapan semua yang kusampaikan ini akan tergenapi. Kurasa tak akan lama lagi. Kita hanya perlu berjaga-jaga.

Pagi ini dari jendela aku melihat daun-daun ek merah rontok ke trotoar. Musim gugur sudah berlangsung beberapa pekan.

Last modified on: 29 Mei 2017

    Baca Juga

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

  • Sebastian Bejo yang Fenomenal


    “Malam itu, Dodit hanya membutuhkan guling, bukan agama ataupun wanita.” Begitulah ending dari cerita setebal dua ratus lima puluh halaman karya Sebastian Bejo yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh orang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni