(9 votes)
(9 votes)
Read 2719 times | Diposting pada

Museum Barang Hilang

 

Sekarang Hari Selasa, pukul tujuh pagi. Tuan Melur duduk di balik meja kerjanya yang berhadapan langsung dengan jendela. Seperti yang sudah-sudah, hari ini jadwalnya membaca buku. Dia tak ingin diganggu siapa pun kecuali aku—untuk mengantar kopi. Tapi, di dalam dia tidak sendiri, ada Leo, seekor anjing St. Bernard berumur dua tahun yang menemaninya. Anjing malas yang sedang tidur di bawah kursi.

Di luar sana, langit cerah tanpa cacat. Meski matahari sudah tinggi, namun dedaunan masih basah oleh embun. Sejauh matanya memandang, Tuan Melur hanya mendapati lanskap kultur tamannya yang teduh. Suasana yang membuatnya betah berlama-lama berada di kamar besar itu. Dia mengambil buku dari ujung mejanya dengan gerakan pelan, membuka dan mulai menjelajah halaman demi halaman. The Art Museum.

Angannya menggelandang menuju Paris, antara sungai Seine dan Rue de Rivoli. Rindunya menggantung. Istri dan putrinya ada di kota itu. Sudah enam bulan ia tidak berkunjung sejak Langit—putri semata wayangnya—berulang tahun. Tiba-tiba ia ingat, Langit ingin dibuatkan piramida Louvre sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-15.

“Buatkan piramida yang seperti ini, Ayah. Di taman, dekat ruang baca Ayah!”.

Tapi, Tuan Melur terlampau sibuk. Dia selalu lupa dan mengingatnya lagi ketika membuka buku tebal itu.

Selang berapa lama, Leo terbangun. Anjing malas itu menghampiri tuannya, mengendus tangan Tuan Melur yang berada di sisi kursi. Tanpa mengalihkan perhatian, Tuan Melur mengelus kepala Leo sambil berujar, “ Selamat pagi, Nak!”. Lalu anjing itu menuju ke pojokan. Tidur.

Pukul sembilan kuketuk pintu kamar. Hendak kuantar kopi, serta kusampaikan sebuah pesan dari museum. Tuan Melur menyuruhku masuk. Kuletakkan gelas kopi di mejanya. Tapi, sebelum pesan kusampaikan, dia menanyaiku lebih dulu.

“Ada telpon untukku?” tanya Tuan Melur sambil menutup bukunya.

“Dari museum, Tuan,” jawabku. Kuambil gelas kotor dan asbak yang berisi beberapa puntung rokok dari mejanya. “Ada keributan kecil. Seorang perempuan datang dan ingin bertemu Anda.”

Keningnya mengkerut. Diteguknya kopi buatanku. “Aku akan ke sana. Suruh Rustam siapkan mobil!”

Aku mengangguk lalu undur.

***

Baiklah, akan kuceritakan pada kalian. Tentang Tuan Melur.

Dia adalah pria berusia 40 tahun. Berperangai baik. Tutur katanya begitu lembut sampai kau tak tega menolak perintahnya. Secara fisik, Tuan Melur punya wajah persegi, rambutnya lurus dan badannya tegap. Orang-orang mungkin mengira dia seorang polisi. Tapi tidak, dia bukan polisi. Dia seorang arsitek. Aku sudah bekerja bertahun-tahun di sini. Sejak Tuan Melur masih bayi. Sebelum orangtuanya berpisah dan ayahnya membawa dua adiknya menetap di Islandia. Dia seusia putriku yang meninggal karena depteri saat orangtuanya bercerai. Aku masih ingat betul kejadian itu. Melur tak bisa menutupi kesedihannya. Hampir tiap hari dia menangis di gudang. Bersamaku. Kami sama-sama kehilangan orang-orang yang kami kasihi.

Beberapa tahun kemudian Melur tak pernah menangis lagi. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat pandai. Dia tidak pernah mengenyam sekolah formal. Ibunya mengajari Melur banyak hal di rumah. Seorang guru privat datang setiap hari untuk mengajari ia menggambar, matematika dan bahasa Prancis. Kadang-kadang guru musik juga datang untuk mengajarinya main drum. Yang ini seminggu dua kali. Begitulah, hidupnya sangat menyenangkan. Ibunya memberikan kompensasi atas sebuah kehilangan. Tapi, sebetulnya itu tidak mengobati apa pun. Sampai suatu hari aku menyadari sesuatu yang ganjil terjadi.

Sejak kecil, Tuan Melur punya hobi aneh. Mengumpulkan barang-barang milik orang lain yang hilang. Apa saja. Namun tidak sembarangan yang ia pungut. Benda-benda yang ia kumpulkan selalu punya ciri khusus. Dia pernah menemukan selembar uang kertas lawas dengan cap bibir warna ungu di salah satu sisinya.  Ada lagi, Tuan Melur pernah menemukan jam saku yang berbentuk cakar ayam. Lalu sebuah radio kayu mungil yang antenanya bengkok menyerupai huruf ‘S’. Dan masih banyak yang lain.

Benda-benda yang ia temukan itu dibungkus rapi dalam plastik dan diberi label bertuliskan; nama benda, waktu ditemukan dan tempat ditemukan. Tuan Melur tak pernah menjual atau memakai barang-barang itu. Suatu hari, dia pernah menemukan sebuah cincin kawin berlian yang dikelilingi ukiran. Tak lama kemudian, radio-radio di kota ini menyiarkan tentang hilangnya cincin itu. Melur mengembalikannya dengan serta merta. Lantas dia diberi sejumlah uang oleh pemiliknya. Namun Melur menolak.

Lambat laun, gudang penuh sesak oleh benda-benda temuan Melur. Ibunya memberi saran agar ia membuat sebuah rumah penyimpanan tersendiri. Semacam ruangan yang dilengkapi dengan lemari-lemari penyimpan yang terbuat dari kaca. Melur yang sedang mengambil studi arsitek waktu itu bergegas merancang sebuah bangunan. Bangunan itu dinamai Museum Barang Hilang. Enam bulan, setelah museum itu berdiri ibunya meninggal.

“Selamat siang, Tuan!” sapa seorang satpam ketika Tuan Melur keluar dari mobil. Dia hanya mengangguk kemudian bergegas masuk. Leo membuntut di belakangnya.

Museum yang sudah berdiri selama 20 tahun itu sedang ramai lantaran bulan ini musim liburan. Banyak mahasiswa dari luar daerah datang berkunjung. Selain menonton, beberapa dari mereka ingin bertemu Tuan Melur untuk melakukan wawancara singkat. Biasanya Tuan Melur melayani wawancara dengan berjalan mengelilingi museumnya, menunjukkan barang-barang unik yang ia punyai pada pengunjung. Mereka tentu saja senang dilayani seperti itu.

Tapi, hari ini Tuan Melur dikejutkan oleh seorang gadis yang berdiri di dekat salah satu lemari kaca miliknya. “Selamat siang,” sapa Tuan Melur ramah.

Gadis itu menoleh. Keduanya sama-sama terkejut. Tuan Melur seperti mengenali paras itu tapi entah kenapa memorinya menolak diajak berkerjasama.

“Saya Melur, pemilik museum ini. Mari ikut saya, kita bisa bicara di sana,” Tuan Melur menunjuk sebuah pintu. Gadis itu mengangguk kemudian mengikuti langkah Tuan Melur.

Tuan Melur mempersilahkan gadis itu duduk di sofa merah. Ini bukan pertama kalinya. Orang datang ke museum, meminta kembali barangnya yang telah hilang.

“Jadi bagaimana, ada yang bisa saya bantu?” Tuan Melur bertanya dengan tenang.

“Benarkah Anda menemukan kalung berbandul kunci itu di bar?” perempuan itu membuka suara. Tuan Melur mengangguk.

“Enam tahun yang lalu. Saya temukan di dalam asbak, di antara puntung rokok.”

“Benarkah?”

Tuan Melur mengangguk. Gadis itu tampak sedih. Ia tiba-tiba merogoh sesuatu lewat krah bajunya. Sebuah kalung yang sama. Tuan Melur tersenyum. “Apa itu pasangannya?”

“Kami putus sebelum dia meninggal,” ujar perempuan itu.

“Oh.”

Tuan Melur bersimpati namun tidak segera mengambil keputusan untuk menyerahkan pasangan kunci yang kini menjadi salah satu properti museumnya. Barang-barang yang ia pajang di sana punya batas kepemilikan. Lima tahun setelah ia temukan dan tak pernah ada klaim. Lebih dari itu, pemilik hanya bisa memandanginya dari balik kaca. Tanpa menyentuh.

“Boleh saya minta kunci itu?” gadis itu memohon.

“Tapi museum ini punya aturan. Semua benda yang ada di museum ini membawa kisahnya sendiri-sendiri. Mereka punya sebuah rahasia dan saya berusaha untuk merawat mereka sebaik-baiknya. Seberapa penting barang itu untuk Anda?”

“Saya akan membelinya, berapa pun harganya,” ujar gadis itu memaksa.

“Ini bukan persoalan kompensasi, Nona. Anda keliru.”

Negosiasi itu tak juga membuahkan hasil yang melegakan kedua belah pihak. Tuan Melur bersikeras tidak ingin menyerahkan benda itu. Sedangkan gadis berwajah sendu itu terus mendesak.

Keesokan harinya, saat Tuan Melur sedang mengawasi kuli bangunan yang hendak membangun miniatur piramida Louvre, gadis itu datang. Leo langsung menggonggong saat gadis itu menginjak taman dan Tuan Melur menyuruhnya diam. Leo mengendus-endus sepatu perempuan itu. Anjing selalu awas dengan kedatangan orang baru. Mereka selalu curiga.

“Ada apa, Nona?” tanya Tuan Melur sambil menggiring tamunya ke ruang tamu.

“Kumohon, Tuan.. Bisakah kalung itu kubawa pulang? Benda itu berharha sekali buatku. itu kalung warisan dari ibuku yang diberikan padaku. Dan aku hanya boleh memberikan kalung itu pada orang yang aku cintai.”

“Kalau kalung itu kuberikan pada Anda, pemilik benda-benda yang ada museum akan mengambil semua miliknya, Nona..” Tuan Melur tak menggubris cerita gadis itu.

“Anda bisa merahasiakan tentang ini,”

“Tidak bisa. Orang-orang akan bertanya tentang kalung itu,”

***

Sebulan kemudian. Kulihat Tuan Melur melamun di dekat jendela ruang bacanya. Ini pasti gara-gara semalam. Seorang pria tua datang ke rumah, mengantar sebuah kalung berbandul kunci berbentuk daun waru, milik putrinya—gadis yang tempo hari datang ke rumah ini.

“Putri saya meninggal seminggu lalu. Dia menitipkan ini pada Anda, Tuan Melur. Dia ingin kalung ini bersanding dengan pasangannya.”

Tuan Melur spontan kaget.

“Dia sudah lama sakit. Penyakit yang sama dengan yang diderita ibunya,” tutur pria tua itu tabah.

Ada sesal. Namun ada rasa lega yang begitu aneh dalam benak Tuan Melur. Dia menerima kalung itu dengan bimbang. Kalung itu bukan barang hilang. Dia tidak pernah menemukannya. Bagaimana bisa dia memasangnya di museum?

Seperti biasa, aku datang untuk mengantar kopi. Ini hari Selasa. Kali ini aku hanya mengantar kopi. Tak ada telpon sepanjang pagi.

“Kenapa, Tuan?” tanyaku.

“Tidak, aku hanya sedang bingung,”

“Kalung itu?”

Dia mengangguk lalu menunjukkan kalung itu padaku. Kalung yang sangat bagus, terbuat dari perak dan bentuknya memang unik. Kukira ini didesain khusus untuk pasangan.

“Kalung ini tidak pernah hilang, Sum..”

“Tapi, benda ini jodoh Anda, Tuan. Dia datang pada Anda dengan sendirinya, datang untuk dijodohkan dengan pasangannya. Tidakkah Anda ingin mengabulkan permintaan orang yang sudah meninggal?”

Tuan Melur pun duduk termangu di kursinya. Masih dipegangnya kalung itu saat aku keluar dari kamarnya yang dingin.

Museum Barang Hilang tutup. Tuan Melur meminta pekerjanya membongkar lemari kaca dan membuat tahta baru yang lebih lebar agar kalung itu bisa bersanding. Ia juga menulis cerita baru untuk keduanya.

Nama I: Kunci Waru bernama Melur
Ditemukan: 9 November 2006
Lokasi ditemukan: Groovy Bar

Nama II: Kunci Waru bernama Larasati
(tidak) ditemukan: 6 Maret 2012
Lokasi ditemukan: Ruang Baca Rumah Tuan Melur

Jari Tuan Melur berhenti di atas huruf ‘r’. Tiba-tiba ia ingat Larasati, kekasihnya di masa muda yang menghilang. Wajah itu, entah kenapa sangat cantik.


Last modified on: 11 November 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni