(3 votes)
(3 votes)
Read 5782 times | Diposting pada

Mengantar

Mengantar Image courtesy of Vlado

 

dunia dengan dua sisi Kau tatap Ia dari pikir-Mu / kadang nyata kadang maya mendua pada Satu / dan pada-Nya Kita bergenggaman / Kita berjalan berputar / pada Ia yang menyata Satu / pada bumi yang melingkar mentari / lihat perjalanan Kita kini / adakah Kita mengiyakan tiada / mengenggankan nyata / seperti halnya Ia menjadi bumi dan mentari / Ia menjadi tanah dan langit / menjadi Aku dan Kamu / nyatakah pada-Mu senyata pada-Ku / bahwa Kita Satu / bahwa Kita adalah Ia seperti Ia adalah Kita / seperti Aku adalah Kamu / nyatakah pada-Mu Kita adalah Satu bahkan pada maya / bahkan pada tiada / karena Kita: / menyatu Alam Semesta.

ARWAHNYA secara perlahan meniti langkah pada gelap dunia niskala1 yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Sebagai arwah dalam wujud yang halus, dia tertabrak oleh segala benda; tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia ditabrak segala, bahkan oleh gas yang berpencaran.

Semasa hidup dia tak pernah tahu di mana tempat hunian jiwanya bilamana dia mati. Kini dia juga tak tahu ke mana dia akan menuju bilamana arwahnya hidup abadi. Saat itu, bersamanya, banyak jiwa juga berjalan pada gelap, pada kesunyataan, pada ketiadaan pemahaman, pada gelombang paralel dunia. Namun, dia menyadari, mereka tak saling melihat. Mereka berjalan tanpa mata, tanpa alat indera, tanpa atribut pada jasad yang pernah mereka huni.

Dia tak ingat dia lepas dari tubuh siapa. Baginya, dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat, dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus, dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun, akhirnya dia lepas.

Pada kesadarannya—dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

“IBU tak mungkin mati!” Seorang gadis berteriak di depan kamar rumah sakit. “Apa yang bisa aku lakukan tanpa ibu? Ibu jangan mati, hanya Ibu satu-satunya yang Alin punya!”

Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang pada setiap kamar keluar untuk menonton gadis itu menangis.

Kamar di hadapan si gadis telah telanjur kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tak ada lagi tiang infus.

Alin terus menangis, menelungkupkan kepala di lutut. Orang-orang hanya dapat memberi simpati dengan menonton dan merasa iba. “Ibu janji untuk hidup selamanya. Kenapa Ibu pergi?” teriak Alin.

“Kakak, kenapa menangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain, hari itu mendekatinya. Ia satu-satunya yang bertanya.

“Ibunya baru saja meninggal. Ayo, jangan diganggu, ikut Papa ke dalam.” Ayahnya lantas menarik bocah tersebut. Ia sorotkan pada gadis itu tatapan mengasihani.

“Ibu …” ujar Alin sesenggukan.

Setelahnya, dia hanya mampu terdiam tanpa sepatah kata. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa ibunya yang telah meninggal.

Tanpa kesadaran penuh, dia lantas berjalan menyusuri lorong. Kekosongan dalam dirinya menuntun Alin. Dia menerobos kerumunan, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan.

Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Di mana orang-orang yang dia kenal telah berkumpul. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat Alin hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah-olah masih ada bekas jejak malaikat kematian menempel di seluruh tubuh Alin, orang-orang itu tak berusaha mendekat selangkah pun.

Alin berusaha menghampiri kerumunan, semakin dekat, untuk dipeluk, atau sekadar ditenangkan. Untuk dipanggil jiwanya, agar dia berhenti mencari-cari jiwa ibunya yang baru saja mati.

“Memang sudah jalannya.”

Dia ingin loncat keluar dari mimpinya jikalau itu mimpi. Alin dipeluk, tetapi dia tak merasakan sebuah pelukan.

“Beliau meninggal sejam lalu.”

Satu jam yang lalu; tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.

“Kenapa?”

“Kanker. Sebelum meninggal, beliau sesak napas…”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.

Orang di depannya memeluk Alin semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahu, “Alin masih punya kami di sini.”

SEGEROMBOLAN penjaga jenazah bermain kartu dengan ramai sorak-sorai, kerabat Alin sibuk menawarkan minuman dan makanan kepada yang singgah. Beberapa orang lagi masih dengan tekun membungkus peti jenazah dengan kain kasa sembari menempelkan hiasan-hiasan keemasan pada peti mati.

Alin tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Telah genap tiga hari dia membagi cerita di sana. Setiap siang, dia membawa makanan dan minuman yang pernah menjadi kesukaan ibunya; dia letakkan semua itu di sisi jenazah. Dupa panjang terus menyala. Ketika padam, dupa itu selalu akan diganti dengan yang lain, dan akan terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.

“Alin, jangan tidur di sini. Bau formalin tak baik untuk kesehatan.”

Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya menjadi tidak peka lagi akan bau, acap dia mengusap mata lantaran rasa perih.

Keesokan hari, jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Terbayang oleh Alin, dahulu jenazah itu pernah hidup bersama Alin, pernah hadir di acara permandian jenazah orang lain. Jenazah itu juga pernah bilang, dia mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.

Menahan tangis, Alin ikut memandikan. Ritus yang panjang: termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan belasan kain aneka warna hingga menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Selama itu orang-orang hanya menonton. Seolah-olah dalam skenario kehidupan Alin kala itu, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tidak ada lagi teman untuk beradu peran setelah ibunya berpulang.

SIANG itu, upacara Ngaben dilangsungkan. Jiwa jenazah ibunya telah berpindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Alin menyungsung wujud itu di kepala. Ibu-ibu lainnya membawa wujud-wujud bhatara dan bhatari sebagai simbolisme. Alin merasa kehilangan makna atas apa pun yang dia lakukan. Entahkah upacara itu diwujudkan sebagai simbol pengantar yang telah meninggal, entah hanya sebagai iring-iringan agar kelihatan indah.

Sebelum menuju tempat kremasi, Alin melakukan ritual khusus untuk memutus keterikatan dengan ibunya. Dia tak pernah diberi tahu apa yang akan terjadi setelah dia melakukan ritus itu. Bahwa kemudian dia akhirnya tahu dia melakukan ritus itu agar dia tak akan pernah dapat bersinggungan kembali dengan dunia niskala di mana kini ibunya tinggal. Ritual tersebut mewajibkannya melemparkan tali dan logam cina, serta beras kuning dan beras putih, kemudian diaduk dengan kunyit dan rempah-rempah, melemparkannya ke langit, membenturkan semua unsur itu ke telapak tangan, menjatuhkannya ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan antara Alin dengan ibunya telah musnah.

Alin lantas memimpin iring-iringan pada posisi paling depan, wadah jenazah diangkat. Orang-orang berjalan di belakang sambil memegangi kain putih panjang di atas kepala. Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis tak ketinggalan untuk pula mengabadikan momen tersebut dengan kamera-video.

DI tempat kremasi, wadah yang mengangkat jenazah ibunya diletakkan. Ketika jenazah dipindahkan, Alin disibukkan dengan panggilan orang-orang di sekitarnya.

Semua ritual khusus dilakukan oleh Pedanda2. Jenazah dibaringkan ke dalam kotak yang terbuat dari pelapah pisang, selang gas melalui celah bawah pelapah. Tirta suci3 diguyurkan, orang-orang mulai melempar bunga, daun, beragam banten4, uang logam, dan kain kasa ke atas sang jasad. Alin hanya melempar sebuah buku gambar.

Di dalam buku gambar itu, ada gambar rumahnya. Di rumah itu, ada kenangan-kenangan, di mana ibunya pernah memuji gambar-gambarnya dan membantu Alin mewarnai. Alin diam-diam hanya bisa berharap supaya nanti di dunia niskala, ibunya akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. Kalaupun ternyata dunia niskala tidak seperti bayangannya, dia berharap ibunya akan mendapatkan tempat yang layak.

“Hanya itu saja yang mau diberikan?”

Alin mengangguk. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.

Api dinyalakan dan mulai membakar. Alin berusaha membeku di dekat tempat pembakaran, tetapi dia terus ditarik untuk menjauh. Maka lantas dari kejauhan, dia melafalkan mantra, melagukan doa sekeras-kerasnya. Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga dalam waktu satu jam, yang tersisa hanya tinggal remah tulang dan tengkorak.

Bahkan di saat ritual belum tertuntaskan, beberapa orang telah beranjak pulang. Sedikit orang masih membantu Alin mengumpulkan dan menyaring abu dan tulang, juga melakukan persembahyangan terakhir. Abu dan tulang-tulang lantas dipulangkan ke laut.

DI laut, dari mata Alin, semuanya hilang. Baginya, segalanya telah menyatu kembali dengan alam. Unsur-unsur pada tulang, unsur-unsur pada abu: semuanya menyatu dengan unsur-unsur pada air, unsur-unsur di udara.

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Pikir Alin, mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Itu pun bila reinkarnasi memang benar ada. Mereka akan bertemu ketika unsur-unsur mereka yang telah menyatu dengan alam mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.

Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.

Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entahkah ada misteri besar yang dapat dipecahkan oleh kepala. [*]

2009/Desember 2011

 

Catatan Belakang:

1 Dunia tempat tinggal arwah, makhluk gaib.

2 Orang suci dari Kaum Brahmana yang bertugas dalam upacara-upacara keagamaan.

3 Air suci yang didapatkan setelah diasapi sembari memanjatkan doa.

4 Atau canang/banten, bunga-bunga atau jenis sajian lain yang ditaruh pada satu wadah persegi.

Last modified on: 10 Mei 2014

    Baca Juga

  • Mata-mata Parramatta: Catatan Tulis Residency Bagian II (Parramatta)


    Mata-mata di Parramatta tidak melulu berwarna biru. Ketika duduk di dalam kereta, atau bus, atau ketika saya berjalan kaki menyusuri toko-toko, kafe, stasiun, taman, dan jembatan, saya akan melihat bahwa…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Inti Cerita yang Buruk


    Setiap harinya Justin Horgenschlag —seorang asisten juru cetak berupah tiga puluh dolar per pekan— melihat kurang lebih enam puluh wanita yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka, dalam rentang waktu empat…

     

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni