(3 votes)
(3 votes)
Read 2624 times | Diposting pada

Lelaki Tak Pulang

Lelaki Tak Pulang Invisible Hole Revealed by the Shadow of the Artist, karya Keith Arnatt

 

Sudah tiga hari, Suherman tak pulang ke rumah. Istrinya Rosalimah dan kedua anaknya bukan lagi sekadar gelisah. Mereka bahkan telah mempersiapkan ritual kampung yang dikhususkan untuk orang hilang yang tak pulang ke rumah. Semacam ibadah bahwa sang orang sudah mati. Bahwa sang orang lenyap entah kapan dan di mana dan tanpa sebab yang jelas dan harus direlakan kepergiannya. Meski juga sebenarnya pengakuan bahwa sebuah musibah tak normal sedang menimpa pihak keluarga.

Orang-orang kampung sudah berusaha mencari sekuat upaya siang dan malam tapi sonder mendapatkan hasil apa-apa. Dan tentu saja kehilangan Suherman jadi berita besar dan heboh di kampung itu. Ratap tangis Rosalimah dan kedua anaknya membuncah ketika para lelaki menunjukkan kerut dahi sepulang pencarian. Pertanda tak ada kabar baik yang bisa dibawa pulang.

Yang ada hanyalah bau rimba raya hutan mahaluas. Dan memang mencari orang hilang di tengah hutan belantara seperti itu hanya menegaskan kesia-siaan. Binatang buas, pohon-pohon besar, juga semak belukar adalah beberapa hal yang bisa jadi penghalang. Bisa membikin jalan jadi sesat atau lebih ngeri daripada itu, nyawa jadi lesat dalam sekejap. Belum lagi mitos-mitos yang mengatakan bahwa hutan adalah tempat paguyuban hantu-hantu liar. Barangkali Suherman mati disantap salah satu binatang buas atau jadi budak hantu-hantu itu. Orang-orang mulai menebar asumsi.

Namun istrinya tak peduli pada ceracauan semacam itu. Suherman telah hilang dan tak pulang. Itu saja yang terlintas di benaknya. Tangisannya selama tiga hari berturut-turut adalah bukti ekspresi tak terbantahkan akan kehilangan orang yang paling dicintai. Rosalimah ingat bahwa keduanya saling menyayangi satu sama lain. Mereka hidup berkecukupan dan tampak bahagia dengan dua orang buah hati yang cantik jelita. Suaminya itu adalah orang yang sangat setia dan bertanggungjawab mengurus keluarga kecilnya. Apalagi Suherman sendiri merupakan seorang kepala desa. Tentu saja menjadi kepala desa adalah sebuah profesi terpandang. Ia disegani dan ditakuti.

Oleh sebab itu peristiwa hilangnya Suherman menjadi sebuah misteri. Tak ada cacat celah yang dibuatnya selama ini. Tak ada salah kata atau pun salah tindak yang dilakukannya di tengah kehidupan kampung. Orang-orang mulai berpikir keras mengapa lelaki paruh baya itu bisa raib begitu saja.

Namun seturut-tuturan istrinya, sore itu, Suherman pamit ke ladang mereka yang terletak di sekitar hutan belantara dekat kampung. Ia berangkat dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong andalannya. Sebuah baju partai merah muda yang didapatnya saat musim kampanye kali lalu. Sore itu, lelaki bertubuh ceking itu tak menunjukkan gejala apa-apa. Raut wajahnya tenang seperti biasanya.

Satu hal yang pasti: akhir-akhir ini, kegiatan melawati ladang harta warisan kedua orang tuanya itu menjadi kesibukan sampingan Suherman. Barangkali sudah jadi aktivitas tiap sore selepas pulang kantor. Tapi, ladang yang letaknya persis di ujung timur hutan belukar itu tak pernah digarap sama sekali. Suherman hanya datang ke sana lantas duduk-duduk bersantai ria sambil menyiangi beberapa jenis rumput liar, dan setelah itu menghisap habis batangan kreteknya yang tersisa ketika dalam perjalanan. Padahal ladang itu lumayan luas untuk dijadikan area bercocok tanam. Ukurannya sekira 7x10 meter.

Ketika pulang ke rumah, Suherman selalu memasang wajah ceriah. Seolah-olah ada kebanggaan bahwa ia baru saja bekerja keras mengolah tanah dan cadas. Rosalimah pun sempat dibuat bingung akan tingkah semacam itu. Tapi ia menganggapnya barang biasa. Toh, barangkali pergi ke ladang adalah semacam penghargaan terhadap almarhum kedua orangtua Suherman. Juga jadi bentuk hiburan lain bagi suaminya itu. Selain pelayanan di atas ranjang tentunya.

Jadi, tak ada satu pun dalil mencurigakan yang bisa dijadikan bahan analisis mengenai hilangnya lelaki tersebut. Mungkin argumentasi paling sahih ialah Suherman mati jadi lauk pauk para binatang buas penghuni rimba raya atau jadi barang mainan hantu hutan yang bisa saja ada atau pun tak ada. Dengan demikian, merelakan kehilangan merupakan keharusan. Atau mungkin merupakan pilihan masuk akal yang mesti diterima oleh siapa saja. Termasuk istri dan kedua anaknya.

Akan tetapi, jelang ritual kepasrahan untuk orang hilang itu dibuat, sesuatu yang aneh terjadi begitu saja. Tanpa diduga-duga. Seorang perempuan tampak duduk menangis sendirian di pojok kamar korban. Tak menyangka atas apa yang baru saja terjadi. Padahal, para tetua adat telah berkumpul. Pun orang-orang kampung telah datang berduyun-duyun. Sebagai bentuk solidaritas. Sebagai bentuk turut berbela sungkawa. Bagi sang perempuan yang adalah istri korban, tangisan itu bukanlah petilan dari lakon banyol jelang pelaksanaan ritual. Itu adalah kisah nyata yang datang tiba-tiba dan membikin geger isi kepalanya. Yang bisa hadirkan pertanyaan lanjutan juga jadi bahan perbincangan serius ke depannya.

Rosalimah tanpa sengaja menemukan sepucuk surat di laci kerja suaminya. Isinya begini, “Sedikit lagi kita akan jadi kaya raya. Aku pergi untuk berunding dengan orang yang akan mengusahakan ladang kita. Tiga hari lagi, aku akan pulang. Membawa para penggarap emas”. Tapi, tiga hari telah lewat, dan Suherman belum pulang-pulang. Malam itu juga, Rosalimah ingin dengan segera membatalkan ritual. Dan di ladang suaminya, berbatang-batang emas masih terkubur dengan rapi.


Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni