(2 votes)
(2 votes)
Read 1629 times | Diposting pada
terjemahan cerpen "A Tiger Fighter Is Hard to Find" karya Ha Jin

Lelaki Penakluk Harimau

 

Kami bersukacita setelah dikirimi sepucuk surat dari kantor Gubernur. Isinya memuji serial TV garapan kami Wu Song Penakluk Harimau. Gubernur terkesan oleh lakonnya, seorang pendekar yang bertarung melawan harimau seorang diri dan memukulinya hingga harimau itu mampus. Surat itu menyatakan: “Kita harus menciptakan lebih banyak lakon pahlawan semacam ini sebagai teladan bagi massa revolutioner yang mengikutinya. Kalian, para penulis dan seniman, adalah insinyur bagi jiwa manusia. Kalian menggenggam tugas mulia, yaitu untuk memperkuat hati rakyat dan menyuntikkan semangat untuk tak takut terhadap langit atau pun bumi.” Namun, paragraf terakhir di surat tersebut menggaris bawahi kelemahan dalam episode kunci, menyatakan bahwa harimaunya terlihat bohong-bohongan dan tak menghadirkan tantangan yang bisa dipercaya bagi sang lakon. Gubernur bertanya, apakah kami bisa memperbaiki bagian ini, sehingga pemerintah provinsi kita bisa mengirimkan serial itu ke Beijing sebelum akhir tahun.

Pada malam itu kami mengadakan rapat dan memutuskan untuk mengulang pengambilan gambar adegan tarung-macan. Semua orang bersemangat, karena jika serial ini jadi dikirimkan ke ibukota, artinya kami akan ikut kompetisi nasional. Kami putuskan memilih Wang Huping memerankan lakon kembali, karena gubernur terkesan oleh penampilannya di versi pertama. Lebih dari sekadar gembira, ia mengiyakannya. Sekarang masalahnya adalah harimaunya. Pertama, hewan sungguhan mahal harganya. Kedua, bagaimana kami akan syuting adegan dengan hewan seberbahaya itu?

Bermodalkan surat dari gubernur, kami memperoleh dana bantuan dari Pemerintah Kotapraja tanpa kesulitan. Empat orang diutus ke Provinsi Jilin untuk membawa seekor harimau yang baru-baru ini tertangkap di Pegunungan Putih Abadi. Menurut UU, kami tak diizinkan memiliki hewan yang dilindungi, tetapi kami punya izin yang menyatakan bahwa kami memerlukannya untuk kebun binatang kota kami. Seminggu kemudian, keempat orang itu kembali dengan membawa seekor harimau Siberia yang anggun.

Kami semua menonton si harimau, yang dikurung dalam sebuah kerangkeng di halaman belakang gedung kantor kami. Seekor jantan, bobotnya lebih dari 136 kilogram. Matanya yang cokelat terang berkilauan dengan dinginnya, lidahnya yang merah tua tampak basah oleh darah. Bulunya tebal sekali, keemasan dan mengilat! Loreng hitamnya meriap manakala ia mengibas-ibaskan kepalanya atau saat ia meregangkan leher. Aku takjub oleh betapa kecil ukuran telinganya, tak lebih besar dari telinga seekor anjing. Namun, baunya amit-amit, seperti bau air kencing.

Kami disuruh memberinya makan 4,5 kilogram daging domba per harinya. Mahal sekali, tetapi jika kami ingin dia tetap sehat, tak ada pilihan lain.

Wang Huping tampak sedikit terkesima oleh harimau itu. Siapa yang tidak? Namun, Huping pria hebat: tinggi, berotot, berbahu bidang, dengan matanya yang seperti melamun dan akan berseri-seri manakala ia tersenyum. Aku bisa bilang, dia pemuda paling tampan di kota kami Muji, seperti yang ditunjukkan oleh nama julukannya, Pangeran. Seorang gadis berkata kepadaku, setiap kali berada di dekat-dekat dia, matanya akan berkaca-kaca. Gadis lain mengatakan bahwa setiap berbincang dengannya, ia deg-degan dan mukanya seperti digelitik. Entah benar entah tidak cerita-cerita itu.

Beberapa hari sebelum syuting, Sutradara Yu, yang juga seorang dosen di sekolah film di Shanghai, memberikan buku tipis kepada Huping untuk dibaca-baca. Judulnya The Old Man and the Sea, karya seorang pengarang Amerika, yang namanya luput dari ingatanku.

Sutradara berkata kepada Huping, “Seorang lelaki tak dilahirkan untuk dipecundangi, tidak oleh hiu atau pun harimau.”

“Aku paham,” kata Huping.

Itulah yang paling kusukai darinya. Ketampanannya tak biasa, tidak seperti sarung bantal berbunga-bunga tanpa isian pampat di dalamnya; dia memelajari buku-buku serius dan dia berpendidikan bagus, berbeda dari kebanyakan kami, yang tahunya hanya baca buku berilustrasi dan komik. Jika ia tak menyukai sebuah novel, dia akan berkata, “Wah, ini sih bukan karya sastra.” Terlebih lagi, dia jago kung fu, terutama jurus belalang. Pada suatu malam di musim dingin kemarin, ia sedang pulang berjalan kaki ke asramanya ketika empat preman mengadangnya dan memalak minta isi dompetnya. Malahan dia yang menggebuki mereka. Ia merobohkan mereka dengan tangan kosong dan kemudian menyeret ketuanya ke markas milisia terdekat. Berkat peristiwa itu, dia diliput koran-koran. Sesudahnya, dia terpilih sebagai aktor terpuji.

Pada pagi hari dimulainya syuting cuacanya agak berangin dan mendung. Dua truk Pembebasan membawa kami empat kilometer ke luar kota, di tepi hutan ek. Kami menurunkan kerangkeng, memasangkan kamera ke tripod, dan menyiapkan adegan dengan menempatkan batu besar di sana sini dan mencabuti rumput-rumput tinggi supaya tanah datarnya makin kelihatan. Beberapa orang mengerumuni Huping dan membantunya mengenakan kostum dan riasan. Di dekat kandang berdiri dua orang, masing-masing menyandang senapan bius.

Sutradara Yu hilir mudik di belakang kamera. Adegan semacam ini tak bisa diulang; kami harus melakukannya dengan benar pada take pertama.

Petugas medis mengeluarkan satu kendi kokoh berisi anggur Nyala Putih dan menuangkan semangkuk penuh. Tanpa kata-kata, Huping mengangkat semangkuk minuman keras itu dengan kedua tangannya dan meminumnya tuntas dalam satu tegukan panjang. Orang-orang menyaksikannya dengan hening. Parasnya tampak berkilauan diterpa sinar mentari. Seekor nyamuk hitam hinggap di rahangnya, tetapi dia tak mau repot-repot untuk menepuknya.

Ketika semuanya telah siap, satu orang menyuntikkan peluru bius ke bokong harimau. Sambil mengacung-acungkan telunjuknya ke muka Huping, Sutradara Yu berkata dengan suara melengking, “Cobalah masuk ke karakter. Ingatlah, sekali kau masuk adegan, kau bukan lagi Wang Huping. Kau seorang pendekar, seorang penakluk harimau sejati, seorang pembunuh.”

“Akan kuingat,” kata Huping, saling meninjukan kedua kepalan tangannya. Dia mengenakan bot kulit tinggi dan sebuah gada pendek tersampir di punggungnya.

Pandangan tajam sutradara Yu mengitari kerumunan, dan bertanya dengan suara lantang, apakah semuanya sudah siap. Beberapa orang mengangguk.

Action!” teriaknya.

Pintu kandang diangkat. Harimau itu keluar dengan sigapnya, dengan ganas mengibas-ibaskan tubuhnya. Mulutnya terbuka lebar, dan empat gigi taringnya tampak mengilat. Ia mulai berjalan mengitar-ngitar dan mengendusi tanah, sementara Huping, dengan langkahnya yang mantap, mulai mendekatinya. Hewan itu mengaum dan melonjak-lonjak, tetapi pendekar kami meloloskan gada dari punggungnya dan maju tanpa ragu. Saat jaraknya tiga meter dari harimau itu, si hewan buas melompat ke arahnya sambil menggeram, tetapi dengan sepenuh tenaganya Huping menghantamkan gadanya ke kepala harimau. Keprukan itu sedikit melimbungkan harimau, tetapi dia cepat pulih dan kembali menerjangnya. Huping melompat ke samping dan memukul pinggul harimau. Hantaman ini membuat si hewan itu terguling-guling beberapa meter. Huping mengikuti geraknya, menetak punggung dan kepalanya. Harimau itu berbalik dengan pandangan mengancam. Lalu keduanya terlibat dalam pertarungan sesungguhnya.

Gada itu retak di bagian tengahnya dan sebagian belahannya terpelanting. Huping menjatuhkan bagian yang tersisa, seperti yang dilakukan Wu Song dalam kisah itu. Harimau itu dengan cekatan maju, menerkam kaki Huping, merobek celananya, kemudian melompat ke atas, menyasar tenggorokannya. Pendekar kita meninju bagian samping hewan itu, tetapi serangannya itu menggoyahkan keseimbangan Huping – badannya limbung dan nyaris jatuh terduduk.

“Lanjutkan pertarungannya!” Sutradara Yu meneriakinya.

Aku berdiri di bawah pohon elm, memeluk erat tubuh sendiri.

“Lebih dekat, lebih dekat!” sang sutradara memerintahkan kamerawan.

Huping menendang bagian samping tubuh harimau. Hewan itu berguling-guling dan melonjak menerkamnya lagi. Huping menghindari serangan dan memukul leher harimau. Sekarang biusnya mulai bekerja; harimau agak terhuyung dan terduduk di atas pangkal pahanya. Ia mendadak bangkit, tetapi dalam beberapa langkah tubuh harimau ambruk. Lakon kita melompat ke atas punggungnya, memukul kepalanya dengan seluruh kekuatannya. Si harimau, tampak mati, tak lagi beraksi terhadap pukulan itu, hanya ekornya sesekali mengibas-ibas. Tetap saja, Huping mengangkat dan membentur-benturkan kepalanya yang besar, mulut dan giginya gigi-giginya jadi belepotan dengan tanah.

Cut!” teriak Sutradara Yu, dan menghampiri Huping bersama dua orang yang tengah membantunya bangkit dari hewan yang pingsan itu. Sang sutradara berkata, “Kurasa perhitungan waktu kita tak bagus. Si harimau sudah keburu teler.”

“Aku membunuhnya! Akulah penakluk harimau nomor satu!” Huping berteriak. Dengan tangan terkepal di panggulnya, suaranya parau, ia mulai terbahak sambil menjejak-jejak tanah.

Orang-orang berlarian ke arahnya dan berusaha menenangkannya. Namun, dia tak berhenti ketawa. “Kubunuh dia! Kubunuh dia!” pekiknya, matanya membeliak.

Petugas medis menuangkan air ke mangkuk dan mencampur obat penenang. Dia memaksa Huping minum obat itu.

“Anggur yang bagus, anggur bagus!” kata Huping setelah minum air putih itu. Ia menyeka bibir dengan punggung tangannya.

Kemudian, kami sampai terheran-heran, ia tiba-tiba bernyanyi selayaknya pendekar dalam pertunjukan opera di era revolusi:

Semangatku berderap maju ke gugusan Bima Sakti,

Dengan tekad dan keberanianku

Aku harus mengenyahkan semua kecoa dari Bumi.

Seorang wanita muda tergelak. Dua orang mencengkeram lengan Huping dan menyeretnya pergi sambil ia terus mengoceh, ia mau mencerabut jantung, hati dan paru-paru harimau itu. Mereka mendudukkannya di belakang truk.

“Dia mabuk-berat,” kata Sekretaris Feng. “Pekerjaan berat – aku tidak menyalahkan dia.”

Harimau itu diangkut kembali ke kandangnya. Sutradara Yu tidak senang adegan itu berantakan. Menurut kisah klasiknya, yang sudah dipahami dengan baik oleh pemirsa, lakon seharusnya untuk sementara waktu menunggangi harimau, merobohkannya, dan menghantam kepalanya seratusan kali hingga si harimau tewas. Adegan yang kami rekam meluputkan pergulatan finalnya, maka, kami harus kembali mengulanginya.

Namun, kondisi Huping tak memungkin dirinya menuntaskan kerja. Hingga hari itu berakhir, ia tak berhenti ketawa-ketawa atau terkikik-kikik tak jelas. Setiap kali dilihatnya orang datang ia akan berteriak, “Hei, aku telah membunuh harimau!” Kami mencemaskannya, jadi, kami memanggil becak dan mengirimnya ke rumah sakit untuk diperiksa.

--

Diagnosanya adalah skizofrenia ringan, dan dokternya bersikeras bahwa Huping harus diopname.

Apa yang harus kami lakukan dengan adegan perkelahian itu? Mencari aktor penakluk harimau lain? Tak begitu mudah soalnya. Di mana lagi kami bisa temukan lelaki setampan dan segagah Pangeran kami? Kami membuka-buka tumpukan majalah TV dan film dengan harapan menemukan yang mirip dengannya, tetapi kebanyakan aktor muda yang kami lihat melulu bocah-bocah berparas pucat; sedikit yang berperawakan dan memancarkan semangat seperti seorang pendekar.

Entah bagaimana caranya Departemen Propaganda prefektur mendengar ketertarikan gubernur terhadap serial TV kami. Wakil direkturnya menelepon, mengatakan bahwa kami harus merampungkan revisi sesegera mungkin. Saat itu sudah pertengahan September, dan pohon-pohon sudah berguguran daunnya. Es dan salju akan segera mengubah warna lanskap dan akan mustahil menduplikasi seting adegan.

Dikarenakan nyaris tak mungkin menemukan pengganti Huping, beberapa orang menyarankan memakainya kembali. Beberapa dari kami menentang gagasan ini; yang mendukung tampaknya tak peduli risiko nyawa manusia. Diam-diam, beberapa dari kami – pekerja rendahan, para asisten, para aktor – mengeluhkan novel klasik yang memuat episode pertarungan melawan harimau itu. Kenapa sih pengarangnya menuliskan adegan sesukar itu? Mustahil ada orang yang bisa menunggangi macan dan kemudian menghajarnya sampai mati dengan tangan kosong. Kisah itu sepenuhnya bikin-bikinan yang menyesatkan pembaca selama ratusan tahun. Gampang saja bagi si penulis menggambarkannya di lembaran kertas, tetapi dalam kenyataannya, bagaimana bisa menciptakan pendekar semacam itu?

Dikarenakam cemas berlebihan, Sutradara Yu sampai kena herpes di matanya – gumpalan bintik-bintik kemerahan pecah mengitari pelupuk matanya. Ia memakai kacamata hitam setiap kali keluar gedung kantor. Ia berkata kepada kami, “Kita harus selesaikan adegan ini! Ini sebuah kesempatan sekali dalam seumur hidup!”

Pada suatu malam ia bahkan bermimpi tengah bergulat sendiri dengan harimau itu, dan sikutan sikunya membuat dada istrinya lebam.

Kami pun ikut cemas. Perusahaan kami tak mampu memberi makan harimau itu untuk jangka waktu lama; selain itu, kami tak punya tempat bernaung untuk si harimau menghadapi musim dingin yang menjelang.

Minggu berikutnya, Sekretaris Feng mengadakan rapat staf. Kami mendiskusikan masalah itu panjang-lebar. Perlahan-lahan menjadi jelas, jika gagal menemukan pengganti, kami mungkin akan memakai Huping lagi. Pendukung gagasan ini berargumen dengan logis dan meyakinkan kami penentangnya bahwa inilah satu-satunya jalan untuk merampungkan pekerjaan.

Di akhir rapat, Sutaradara Yu menekankan bahwa kali ini segalanya sudah didesain dan diperhitungkan dengan akurat. Peluru bius harus diisi dengan dosis lebih sedikit supaya si harimau tetap bisa berdiri lebih lama untuk bisa ditunggangi lebih lama oleh lakon kami. Kami pun harus lebih berhati-hati agar hewan buas itu tak melukainya.

Kami lega manakala para atasan mengajak bicara Huping perihal rencana itu, ia tetap berhasrat melanjutkan pertarungan dengan harimau itu. Katanya, ia akan memuaskan harapan mereka dan merasa sudah baikan sekarang, siap kerja. “Aku penakluk harimau,” ia mengumumkan. Suaranya agak serak, dan matanya berkilat-kilat.

“Iya, benar,” Sekretaris Feng mengiakan. “Semua pejabat provinsi mengawasimu, Huping. Usahakan kau berhasil kali ini.”

“Pasti.”

Jadi, kami angkut kembali harimau itu dengan truk keesokan paginya. Cuacanya ternyata serupa dengan kali sebelumnya: agak mendung, matahari sesekali mengintip dari balik awan. Aku memastikan pohon elm dan titik yang sama seperti dalam adegan pertarungan sebelumnya. Huping duduk di atas batu besar dengan gada pendek melintang di balik punggung telanjangnya sementara petugas medis memijat pundaknya. Sesudah peluru bius ditembakkan ke paha harimau, Huping bangkit berdiri dan menghabiskan semangkuk semangkuk Nyala Putih dalam dua kali tegukan.

Sutradara Yu menghampiri untuk memberinya arahan, berkata, “Jangan gila lagi. Saat kuteriak, ‘Tunggangi harimau!’ kau naik ke punggungnya, tunggangi barang sebentar, kemudian robohkan dia. Sampai ia sudah tak gerak-gerak lagi, pukuli terus kepalanya.”

“Baiklah.” Huping mengangguk, tatapannya terpaku ke hewan yang terkerangkeng itu.

Di kejauhan, di punggung bukit, beberapa ekor sapi sedang merumput, angin barat kadang-kadang mengembuskan suara mereka ke arah kami.

Harimau itu dibiarkan keluar. Melonjak-lonjak dengan bersemangat. Ia buka mulutnya, mengancam. Matanya mulai melirik ke sapi-sapi di kejauhan.

Roll kamera!” teriak Sutradara Yu.

Saat Huping mendekatinya, harimau itu menggeram dan melaju ke arahnya. Pendekar kami tampak terpana. Langkahnya terhenti dan mengangkat gada, si binatang buas hanya menyambar-nyambarkan cakarnya dan mengais-aiskan pundaknya. Dengan teriakan menyayyat hati, Huping menjatuhkan senjatanya dan berlari ke arah kami. Harimau menguntitnya, tetapi dia telah dikerangkeng berminggu-minggu, sehingga larinya tak bisa cepat. Kami tunggang langgang ke segala arah, dan bahkan kru kamera meninggalkan begitu saja peralatan mereka. Huping meloncat, merangkul dahan pohon, dan memanjat. Hewan itu melompat dan mengoyak sepatu bot kiri Huping, dan segera saja segumpal darah muncul di kaus kaki putihnya.

“Selamatkan aku!” serunya, sambil terus memanjat lebih tinggi. Hewan buas itu mengitari pohon, terus menggeram dan mengaum.

“Tembak lagi!” teriak Sutradara Yu.

Peluru bius lain mengenai pundak harimau. Segera saja ia terhuyung-huyung, melangkah zig-zag di bawah pohon elm.

Kami menonton dengan ngeri selagi Huping berseru-seru minta tolong. Situasinya sungguh mengibakan.

Harimau itu tumbang. Sutradara Yu murka dan tak henti-henti mengatai Huping dengan macam-macam kutukan. Dua lelaki dengan perlahan menggotong kerangkeng ke dekat hewan yang bergeming itu.

“Tolol!” maki Sutradara Yu.

Petugas medis melambai-lambaikan tangannya ke arah Huping. “Sekarang turunlah, kuperiksa kakimu.”

“Tidak mau.”

“Harimaunya sudah semaput,” seorang wanita berkata kepadanya.

“Tolong aku!” teriaknya.

“Dia sudah tak bisa melukaimu lagi.”

“Sudah, tembak saja dia!”

Tak peduli seberapa gigih kami menenangkannya, dia tetap tak mau turun. Di atas sana dia berjongkok, merengek seperti bocah. Bagian selangkangan celananya basah.

Kami tak bisa menungguinya kelamaan. Jadi, Sekretaris Feng, dengan muka muram dan cemberut, berkata kepada pembawa senjata, “Tembak saja dia dengan peluru bius, tetapi jangan kebanyakan dosis.”

Dari jarak satu setengah meter sebuah peluru bius ditembakkan ke bokong kanan Huping.

“Aw!” pekiknya.

Beberapa lelaki berkumpul di bawah pohon elm untuk menadahnya, tetapi dia tak jatuh-jatuh juga. Saat biusnya mulai bekerja, ia memeluk batang pohon dan mulai merosot perlahan. Sejurus kemudian mereka mencengkeram tangan dan kakinya dan menggotongnya.

Salah satu dari mereka berkata, “Badannya panas sekali. Pasti dia kena demam.”

“Idih! Baunya!” kata yang lain.

--

Sekarang lakonnya tak ada, kami bisa apa? Akhirnya, disimpulkan bahwa harimau itu terlalu ganas untuk ditaklukkan dengan tangan kosong. Seseorang menyarankan agar hewan itu dikebiri supaya kekuatannya jadi lebih mirip manusia. Kami mempertimbangkannya dan bahkan sudah mengajak bicara tukang kebiri babi, tetapi dia tak mempercayai obat bius dan tak mau mengerjakannya kecuali si harimau diikat. Entah dari mana tahunya, Toko Obat Pilihan mengetahui situasi kami dan mengirim seorang tabib tua untuk membeli biji pelir si harimau, yang dibilang olehnya sebagai ramuan untuk impotensi dan ejakulasi dini. Dalam kata-katanya, “Memberimu kekuatan dan semangat harimau.”

Namun, kami menyadari pokok masalahnya ada pada pelakon kami, bukan si harimau, sehingga kami menentang pengebirian hewan itu. Tanpa orang yang sepadan dengan perawakan Huping, kami tak akan berhasil, meskipun menghadapi hewan yang jinak. Kemudian seseorang muncul dengan ide mencari kostum kulit harimau untuk dipakai aktor. Dengan kata lain, mengambil gambar bagian terakhir dengan hewan palsu. Gagasan ini tampak mudah, tetapi aku meragukannya. Sebagai penata adegan, yang tugasnya memastikan semua detail cocok dengan syuting sebelumnya, kupikir tak mungkin memperoleh kulit yang sama persis dengan kulit harimau asli. Setelah kusampaikan kekhawatiranku, orang-orang terdiam lama sekali.

Akhirnya Sutradara Yu berkata, “Mengapa kita tidak membunuh harimau itu dan memakai kulitnya?”

“Mungkin bisa kita coba,” si Tua Min bersepakat, yang juga memainkan peran dalam serial itu, sebagai pejabat jahat.

Sekretaris Feng tak yakin apakah Huping masih bisa merankan lakonnya. Sutradara Yu meyakinkannya dengan berkata, “Itu tak masalah. Memangnya dia masih seorang lelaki jika tak bisa bertarung melawan harimau mati?”

Orang-orang terbahak.

Lalu kami menyadari bahwa harimau jenis itu termasuk hewan yang dilindungi dan kami bisa bermasalah hukum jika membunuhnya. Sutradara Yu menenangkan kami agar tak cemas. Ia akan mengajak bicara temannya di Pemerintahan Kotapraja.

Si Tua Min bersedia memakai kulit harimau itu dan beradegan kelahi dengan Huping. Dia bagus memerankan adegan bakuhantam.

Dua hari kemudian, kami mendapatkan surat izin. Jadi, kami meminta seorang milisia membunuhnya pakai senapan semiotomatis. Ia diingatkan agar tak merusak kepala hewan itu, jadi, dia mengarah dadanya. Ia tembakkan enam peluru ke harimau itu, tetapi ia menolak mati dengan gampang – ia duduk termangu di atas pangkal pahanya, terengah-engah, lidahnya terkulai di sudut mulutnya sementara darah mengucur deras ke sepanjang kaki depannya. Matanya setengah terpejam, seolah mengantuk. Bahkan, saat ia akhinya roboh, orang-orang masih menunggunya beberapa lama sebelum membuka kerangkengnya.

Untuk memastikan tak ada yang terlibat dalam pasar gelap, kami menjual seluruh bagian dalam bangkai harimau itu ke Perusahaan Farmasi plat merah Panah Merah seharga 4.800 yuan, lebih sedikit dari yang kami keluarkan saat membelinya hidup-hidup. Namun, pada malam yang sama kami ditelepon manajer pabrik itu, yang komplain bahwa salah satu kaki belakang harimau itu raib. Kami meyakinkannya bahwa saat bangkai itu meninggalkan perusahaan kami, kondisinya utuh. Kelihatannya di tengah jalan seseorang memotong kaki itu untuk mendapatkan sepotong tulang harimau, yang merupakan harta karun dalam pengobatan Tiongkok, sering digunakan untuk menguatkan fisik, meredakan nyeri rematik, dan menenangkan debar jantung yang disebabkan rasa cemas. Pabrik itu menolak membayar utuh kecuali kami mengirimkan kaki yang hilang. Namun, di mana kami akan mencarinya? Kegigihan Sekretaris Feng saat tawar-menawar berakhir sia-sia, dan mereka memangkas limaratus yuan dari harga awal.

--

Saatnya membujuk sang lakon. Begitu kami kabari ia akan berhadapan dengan harimau palsu, Huping bersukacita, gatal untuk segera berangkat. Dia masih mengumumkan, “Aku penakluk harimau. Akan kukalahkan dia!”

Dikarenakan syutingnya bisa diulang-ulang mulai saat ini, tidak begitu banyak yang disiapkan. Kami bertolak ke hutan menggunakan satu truk saja. Si Tua Min duduk di kursi depan berdampingan dengan aktris muda yang alergi debu dan mengenakan masker anti-debu besar. Di tengah perjalanan, Huping menyeringai kepada kami, mengertakkan giginya, dan mendesis lewat hidung. Matanya memancarkan cahaya menusuk. Membuatku takut, dan kuhindari serobok pandang dengannya.

Saat kami tiba dan turun dari kendaraan, dia mulai memelototi si Tua Min. Air mukanya menunjukkan dendam kesumat. Membuatku amat tak enak hati, karena dulunya dia seorang pria baik hati, ramah dan santun. Itu alasan lainnya mengapa para gadis menyebutnya Pangeran.

Si Tua Min berubah pikiran dan menolak memerankan harimau. Sutradara Yu dan Sekretaris Feng berusaha membujuknya, tetapi ia tetap menolaknya sambil berkata, “Dipikirnya dia pembunuh harimau betulan dan bisa melampiaskannya kepadaku. Tidak, aku tak akan memberinya kesempatan.”

“Tolonglah, dia tak akan menyakitimu,” pinta Sutradara Yu.

“Lihatlah pandangan matanya – bikin aku merinding. Tidak, aku tak mau berurusan dengannya.”

Putus asa, Sekretaris Feng berteriak kepada kami, “Siapa yang mau memerankan harimau?”

Tak ada tanggapan, hanya seekor belalang mengepakkan sayapnya di udara. Kemudian terdengar ledakan dari pegunungan yang jauh, di mana batu granit sedang ditambang.

Sutradara Yu menambahkan, “Ayolah, akan menyenangkan, sebuah pengalaman berharga.” Tak melihat seorang pun maju, dia melanjutkan, “Akan kutraktir siapa pun pemerannya makan malam delapan-hidangan.”

“Di kedai mana?” tanya pemuda supir truk, Dou Kecil.

“Restoran Taman Empat Lautan.”

“Sungguhkah?”

“Tentu saja – aku bersumpah.”

“Aku jajal deh kalau begitu. Lagian, aku belum pernah main film.”

“Kau tahu kisah Wu Song Penakluk Harimau, kan?”

“Ya.”

“Bayangkan saja dirimu sebagai harimau yang dihajar oleh lakonnya. Merangkak dan berguling-gulinglah, goyang-goyangkan kepalamu hingga kukatakan, ‘Mati.’ Kemudian kau roboh dan mulai mati pelan-pelan.”

“Baiklah, akan kucoba.”

Huping sudah siap dengan kostumnya, tetapi kali ini tidak menenteng gada.

Mereka memakaikan kulit harimau ke tubuh mungil si supir dan mengikatnya dengan tali meliliti perutnya. Sutradara Yu berkata kepadanya, “Jangan takut. Cobalah untuk berikap alamiah. Dia akan bergulat denganmu menggunakan tangan kosong. Kulit harimau ini tebal sekali, jadi, tak ada yang mampu melukaimu.”

“Tak masalah.” Si supir meludah, lalu mengenakan kepala harimau.

Sutradara mengangkat tangan, menjepitkan rokok yang belum tersulut di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Action!” perintahnya.

Harimau itu merangkak ke rerumputan, mondar-mandir dengan tenang. Bokongnya bergoyang pelan. Huping melompat ke atas punggungnya dan mulai menungganginya sambil berteriak, “Bunuh!” Sambil mencengkam gambaknya dengan tangan kiri, dia memukuli kepala harimau itu keras-keras menggunakan kepalan tangan kanannya.

“Oh, Ibu!” harimau itu mendengking. “Dia mau membunuhku!”

Huping tetap menggebukinya hingga si harimau sempoyongan, lalu roboh. Saat kami hendak melerai, Sutradara Yu melarang kami bergerak. Si Tua Min tertawa keras sekali, sampai terbungkuk-bungkuk sambil memegangi gelambir perutnya dengan kedua tangannya. “Astaga! Ya ampun!” katanya berulang-ulang.

Sementara itu, Huping menampar muka si harimau dan juga meludahinya. Si hewan memekik, “Ampuni aku! Ampuni aku, Kakek!”

“Dia menyakiti bocah itu,” kata Sekretaris Feng.

“Tak apa-apa,” Sutradara Yu menyakinkannya, lalu berbalik menghadap ke kru. “Kamera tetap rolling.”

Aku berkata, “Jika Dou Kecil sampai cacat, ganti ruginya akan mahal.”

“Jangan bikin sial!” sang sutradara menyergahku. Aku jadi bungkam.

Akhirnya, Huping berhasil mendiamkan harimau itu, tetapi kemudian mulai menendangi seperti kesetanan pangggul, kepala, leher, dan muka si harimau. Sepatu botnya menimbulkan bunyi gedebuk teredam sambil dia memaki-maki, “Kubunuh harimau kertas ini! Aku akan menghabisinya!”

Betapa ngerinya kami semua! Supir itu tak mengeluarkan suara apa pun. Huping melangkah ke samping dan, sambil memungut batu sebesar melon, dan menggumamkan, “Biar kuremukkan harimau palsu ini.”

Kami menghambur ke arahnya dan menangkapnya.

“Hentikan!” petugas medis berteriak kepada lakon kami. “Kau sudah bikin Dou Kecil babak-belur!”

Huping tak mendengarkan dan tetap berusaha menggapai si harimau. Butuh lima orang untuk mengekangnya, merampas batu dari genggamannya, dan menyeretnya menjauh. Dia berseru, “Aku telah membunuh harimau lainnya! Akulah penakluk harimau sejati!”

“Diam!” kata Sutradara Yu. “Kau tak becus menangani seekor harimau betulan, makanya kami memberimu orang untuk memerankannya.”

Buru-buru, kami mencopot kulit harimau itu dari tubuh supir, yang tak sadarkan diri. Bibirnya robek; mulut dan matanya berdarah-darah.

Si Tua Min, yang masih belum bisa berhenti terkekeh, menuangkan semangkuk air dingin ke wajah Dou Kecil. Beberapa saat kemudian Dou Kecil siuman, mengerang, “Tolong. Selamatkan aku.”

Petugas medis mulai memerbannya, bersikeras kami harus mengirimnya ke rumah sakit tanpa ditunda-tunda. Namun, siapa yang bisa mengendarai truk? Seketaris Feng menggosok-gosokkan tangannya dan berkata, “Sialan, kacau sekali!”

Seorang pemuda diutus mencari telepon guna menghubungi perusahaan agar mengirimkan supir lainnya. Pada saat itu, luka-luka Dou Kecil berhenti mengeluarkan darah, dan dia mampu menjawab beberapa pertanyaan, tetapi dia tak henti-hentinya mengerang. Si Tua Min mengibas-ibaskan ranting dedaunan di depan wajah Dou Kecil untuk mengusiri nyamuk. Kecapaian dan bosan, Huping sendirian di kursi depan truk, tiduran. Kecuali dua atasan kami, yang mengobrol di semak-semak, kami semua duduk-duduk di rerumputan, sambil minum soda dan merokok.

Tidak sampai satu jam kemudian supir lain datang bersepeda. Saat melihat kedatangannya sebagian dari kami meneriakkan, “Panjang Umur Ketua Mao!” meskipun sang pemimpin besar sudah wafat lima tahun sebelumnya.

Pada saat kami tiba di rumah sakit, kami segera memasukkan Dou Kecil ke ruang UGD. Selagi dokter menjahit luka-lukanya, petugas medis dan aku mengawal Huping kembali ke bangsal mental. Di tengah jalan, Huping berkata dengan berurai air mata, “Sumpah, aku tidak tahu Dou Kecil ada di dalam harimaunya.”

--

Setelah susah payah mengeditnya, bagian harimau palsu cocok dengan keseluruhan adegan, kurang-lebih begitulah. Banyak pejabat teras prefektur kami yang menonton bagian baru itu memuji-mujinya, meskipun kameranya bergoyang-goyang seperti dipegang orang mabuk. Beberapa stasiun TV di Timurlaut mulai menyiarkan serial itu. Kami dikabari bahwa serial itu akan segera di tayangkan di Beijing, dan kami dengan harap-harap cemas berdoa memenangkan pialanya. Sutradara Yu berjanji akan menyelenggarakan pesta makanan laut apabila serial kami masuk final, dan meminta Pmerintah Kotapraja menaikkan gaji apabila memperoleh penghargaan.

Baik si supir atau pun Huping masih di rumah sakit. Aku ditugasi mengunjungi mereka saban minggu mewakili perusahaan. Dokter berkata bahwa Dou Kecil, yang mengalami gegar otak, akan segera pulih, tetapi kondisi Huping tak begitu baik. Rumah sakit itu berencana memindahkannya ke RS Jiwa saat ada ranjang kosong tersedia di sana.

Kemarin, sesudah makan siang, aku menemui kedua pasien dengan menenteng sekantung apel Giok Merah. Kutemui si supir di ruang hiburan di bangsalnya, duduk sendirian menekuri papan catur. Dia tampak sehat, meskipun bekas lukanya di bibir atasnya, di mana ada jahitan, masih tampak menyakitkannya, khususnya saat dia buka mulut.

“Apa kabarmu hari ini, Dou Kecil?” tanyaku.

“Sehat. Terima kasih sudah menjengukku.” Suaranya mendam, seolah suara milik orang lain.

“Kepalamu masih pusing?”

“Terkadang masih berdenging seperti sarang lebah. Jidatku sakit kala malam.”

“Dokter bilang kau akan segera keluar rumah sakit.”

“Semoga aku masih bisa menyupiri truk lagi.”

Kata-katanya membuatku terenyuh, karena supir lain telah mengambil pegawai magang lain yang sepertinya akan segera menggantikan Dou Kecil. Jadi, kuberikan semua apel kepadanya, meskipun tadinya kumaksudkan ia memperoleh setengahnya. Ia seorang bujangan tanpa keluarga di kota ini, sementara Huping punya dua kakak perempuan yang tinggal di kota ini.

Kutemui Huping di kamarnya. Secara fisik dia sehat tetapi tanpa pesona kepangeranannya. Ia baru kembali dari latihan kung fu dan agak tersengal. Dia menyeka wajahnya dengan handuk putih hotel yang sudah kumal. Punggung tangannya berbercak-bercak bekas luka kecil, keropeng, dan goresan lebar, yang pasti hasil dari memukuli samsak. Aku bercerita kepadanya bahwa kami menerima lebih dari tiga ratus surat yang ditujukan untuknya. Tak kuungkapkan bahwa lebih dari sembilan puluh presentasenya dari para wanita muda dan gadis-gadis, beberapa di antaranya menyertakan permen, cokelat, kismis, buku, pena, buku harian cantik, dan bahkan foto diri mereka. Bagaimana mungkin pria lain yang tengah tertimpa kemalangan bisa makin menawan publik seperti halnya dia?

Huping menyeringai seperti orang tolol. “Jadi, orang-orang masih mengangapku seorang penakluk harimau?”

“Ya, benar,” kataku sambil memalingkan kepala. Di balik jendela bersekat-ganda, tampak halaman sedemikian terang dan putihnya. Sekelompok anak-anak sedang membuat patung salju, leher mereka dililiti syal oranye. Mulut mereka mengembuskan udara hangat, dan sorak-sorai mereka seperti cuitan burung gereja. Mantel mereka tidak dikancingkan. Mereka terlihat bahagia.

Huping membelai-belai dagunya dan menyeringai lagi. “Yeah,” katanya, “Aku seorang pembunuh harimau.”

 

***

 

Ha Jin, penyair dan penulis novel dan cerpen Tionghoa-Amerika kontemporer bernama asli Jin Xuefei. Nama pena Ha diambilnya dari nama kota favoritnya, Harbin. Selama Revolusi Kebudayaan ia masuk Tentara Pembebasan Rakyat. Ia kuliah bahasa Inggris di Universitas Heilongjiang dan mendapat gelar master sastra Anglo-Amerika di Universitas Shandong. Ia memprotes kekerasan pemerintah Tiongkok terhadap demonstrasi Tiananmen 1989, dan memutuskan pindah ke AS dan menulis dalam bahasa Inggris “untuk menjaga integritas berkaryanya”. Beberapa cerpennya muncul dalam banyak bunga rampai The Best American Short Stories. Peraih banyak penghargaan sastra, di antaranya National Book Award, PEN, dan Flannery O’Connor Award. Novelnya War Trash, pada 2004, masuk lima besar Pulitzer Prize.

Lelaki Penakluk Harimau diterjemahkan dari A Tiger Fighter Is Hard to Find yang terdapat pada buku kumcer The Bridgeroom (Pantheon Books, 2000). Seting cerita ini adalah kota fiktif Muji yang sering jadi latar kisah-kisah karangannya.

Last modified on: 4 Februari 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni