(17 votes)
(17 votes)
Read 1223 times | Diposting pada

Kolom Komentar

Kolom Komentar remotivi.or.id

 

Semenjak kejadian yang membahagiakan dirinya lewat reaksi setoronin, endorfin dan dopamin di sekujur wadaknya, hidup Pentol sebelumnya tidak pernah serumit ini. Kala itu, di sebuah hotel bintang tiga, Pentol menemukan arti kebahagiaan sesungguhnya dari kekasihnya. Dan setelahnya adalah kerumitan sekaligus. Jika Pentol adalah Homo Sapiens yang hidup di zaman purba, maka label pemburu-pengumpul patut disematkan padanya sampai saat ini. Ia adalah seorang penikmat duniawi dan mampu menyembunyikan semuanya, kecuali di hadapan Tuhannya.

Setelah mengetahui di kamar nomor berapa, dan melakukan segala proses administrasi di lobi hotel dengan resepsionis, ia langsung menggaet kunci dengan tangan kanan, dan menggenggam tangan kekasihnya, Narti dengan tangan kiri. Maka melajulah ia dengan lift menuju lantai 5. Kunci berbentuk kartu ia tempelkan di gagang pintu, kemudian mereka masuk ke dalam kamar. Narti langsung masuk kamar mandi untuk bersih-bersih, sementara Pentol menekan kenop kamera di ponselnya, lalu ia letakkan di samping televisi. Ketika Pentol bersiap untuk memulai dari leher dan telinga, Narti langsung melengos dan bangkit dari ranjang. Ia melihat ponsel Pentol menganga di bawah televisi. Ia langsung menggaet ponsel milik Pentol tersebut.

“Kamu mau bunuh aku? Kamu tahu yang dirugikan dari semua ini siapa nantinya? Bedebah kamu!” Mendapati berondongan makian, Pentol dengan lugas dan tenang menjawab berbagai pembelaan, permohonan maaf dan rayuan.
“Aku hanya nggak mau kehilangan momen penting dalam hidupku. Seribu milidetik pun nggak akan aku sia-siakan. Kalau aku bisa merekam semua adegan ini dalam hippocampus dengan detil dan bisa ditonton lagi seperti video, maka aku nggak akan ngelakuin ini. Maafin aku.” Pentol mengambil ponselnya yang berdiri di sisi televisi. Ia menonaktifkan ponselnya dan memberi tahu ke Narti bahwa semua baik-baik saja. Pentol kembali pada arena, lalu menjura dan meminta maaf.

Tak berselang lama, Narti pun tersenyum mafhum. Maka setelah itu, adegan selanjutnya adalah konstelasi magma dan lahar di sebidang galaksi bernama ranjang. Dengan durasi sekitar 2 jam—termasuk permulaan awal permainan, pergumulan itu pun usai dan menghasilkan kebahagiaan kimiawi dari saling silang serotonin, endorfin dan dopamin. Kemudian Pentol mengambil kamera mininya yang berdimensi 2 x 2 sentimeter, saat Narti masuk kamar mandi untuk bilas. Hal tersebut tak diketahui Narti, karena ketika pertama kali Narti masuk ke kamar 507, ia langsung menuju kamar mandi. Ia meletakkan kamera mininya di meja rias dan diselipkan di sela-sela tas.

***

Sebebrapa bulan berselang, hari senin sore, Pentol siap pulang dari kantornya untuk kembali bekerja di tempat lain. Setelah berkutat dengan naskah-naskah hasil suntingannya di laptop, ia bersiap untuk bertemu dengan murid-muridnya di salah satu sekolah swasta. Pertunjukan teater Anak-anak yang Mandi di Gumpalan Awan hasil karyanya telah terpilih untuk dipentaskan di acara perpisahan sekolah. Menu latihan hari ini adalah bedah naskah dan karakter. Dari mulai premis, motivasi, konflik, resolusi dan semua elemen pembangun cerita dipereteli. Awal yang bagus, ujarnya dalam hati. Latihan selesai dan perut Pentol mulai lapar. Ia pamit dan menuju warung mi ayam terdekat.

Sebuah notifikasi berbunyi dari ponsel Pentol. “Heh, kamu tau? Aku udah sebulan lebih nggak datang bulan. Gila ya kamu! Cepat ke rumah!” Pentol membaca pesan itu ketika mi yang telah dikunyahnya masih mengantri di esofagus. Ia tersedak ketika membacanya.

“Mas ini minum dulu.” penjual mi ayam meletakkan air mineral di meja. Setelah mengunyah mi yang menjulur sampai habis, baru Pentol meminum airnya. Baru tiga kali suap, Pentol bersiap-siap untuk membayar. Ia buru-buru ke rumah Narti. Kamera mini yang berada di sisi depan tas selempangnya keluar tanpa diketahui Pentol.
“Berapa mas?”
“Sepuluh ribu aja.”

Dengan gesit Pentol langsung menyalakan mesin motornya. Ia memacu gasnya dengan lekas, bersamaan dengan itu dua orang lelaki datang dan memesan mi ayam.

Di sepanjang jalan, pikiran dan imajinasi Pentol mengawang ke mana-mana. Ia mengernyitkan dahi dan bibirnya komat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Raut mukanya asam dan sorot matanya tampak kosong. Seolah-olah kemacetan, deru mesin dan bising klakson tidak terdengar di membran timpaninya. Ia tidak habis pikir kalau kejadian ini akan terjadi. Padahal ia sudah memastikan semua baik-baik saja. Tidak ada yang bocor, meski tanpa mengenakan karet pelindung. Ia keluarkan di permukaan tubuh, bukan di dalam. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Ditambah macet Ibukota yang kian semrawut, otaknya kian lindap membeku memikirkan bahwa nanti ia akan menyewa kos-kosan untuk bertahan hidup bersama calon istri yang tidak direncanakan ini, dan beranak-pinak. Hal yang sebenarnya ia benci. Menikah bukan berarti harus menambah beban bumi dengan menyumbangkan makhluk hidup. Ia lebih memilih menyumbangkan gagasan lewat buku dan pertunjukan teaternya daripada lewat Homo Sapiens yang bawel dan rumitnya minta ampun.

Pentol menggeser standar motornya, memarkirkan motor dengan serampangan dan langsung masuk ke apotek di pinggir jalan. Dalam pikirannya, apakah pegawai di sini nanti akan ingin tahu dan memberondongi pertanyaan seperti ini: “Beli berapa setrip mas? Sekalian banyak aja, biar nggak bolak-balik. Apalagi sebagai calon suami, harus siap siaga kalo istrinya hamil.” Sambil melihat-lihat etalase yang penuh dengan berbagai obat yang tidak diketahui jenisnya, ia langsung memesan satu setrip uji kehamilan. Dan imajinasinya tentang pegawai yang berkomentar banyak tidak jadi terjadi. Ia menghela napas dan membayar sesuai pesanan, kemudian melanjutkan perjalanan.

Sesampai di rumah Narti, Pentol mengeluarkan barang yang dimaksud dan memberikan pada Narti. Pentol mengubek-ubek tas selempangnya. Ia menyisir di berbagai pelosok. Nihil. Ia panik. Kamera mini saksi dari adegan-adegan luhurnya raib.

“Kamu nggak mampir dulu? Temenin aku. Aku takut.”
Mendengar pertanyaan itu, Pentol gagap dan langsung pamit. Ia beralasan ada kerjaan yang harus dikerjakan di rumah. Naskah kumpulan cerita temanku masih tahap penyuntingan dan tenggatnya mepet, bebernya. Pentol pun melengos pergi. Narti memandang dengan nanar dan masygul.

***

“Mas lihat kamera kecil punya saya?” Pentol menunjuk meja tempat makannya tadi.
“Wah, saya nggak lihat mas.”
“Kira-kira bapak tau nggak orang yang duduk di sini tadi siapa?
“Wah, mas. Ada banyak pelanggan di warung mi ayam ini. Saya lupa. Bukannya saya mau sombong, tapi saya orangnya bersyukur mas karena kan kita sebagai manusia harus ber—”
“Oke terima kasih Pak.” Pentol memotong.

Tiba-tiba ponsel Pentol berbunyi. Ia mendengar lolongan panjang dari ujung suara. Suara yang ia kenal betul. Narti. Kekalutannya makin menjadi ketika Narti mengatakan bahwa dirinya positif hamil. Dengan cekatan ia kebut motornya dan pulang ke rumah.

Pentol masuk kamar. Ia mengetik kata aborsi di kolom mesin pencari. Berbagai nasihat dan kecaman hadir di setiap kolom komentar situs. Baik secara saintifik maupun spiritual. Ia bergidik. Dunianya seketika hancur. Reputasi yang ia bangun lewat prestasi semasa mahasiswa dan mimpi-mimpinya selepas sarjana terhambat. Pikirannya berkabut. Apakah ia memutuskan harus menggugurkan kandungan kekasihnya atau ia harus mengikuti ajaran agama dan norma yang berlaku: menikah. Tubuhnya seperti ketiban Brontosaurus dan spesies sejenis. Dengan mata sembap dan tubuh yang lemas, dengan berat hati ia pun memutuskan menikah muda.

Keluarga Pentol langsung kaget mendengar pengakuan anaknya. Ia tak habis pikir bahwa anaknya yang selama ini terlihat kalem ternyata melakukan hal yang sangat mengecewakan. Pentol hanya bisa menunduk dan sudah pasrah dengan gempuran makian dan nasihat dari kedua orang tuanya. Ibu Pentol bermuram durja sementara bapaknya meskipun murka langsung memberikan solusi.

Seminggu setelah pernyataan mengagetkan dari Pentol, semuanya perlahan-lahan terkendali. Akhirnya Pentol dan Narti menikah. Pernikahan berlangsung sederhana saja. Tanpa resepsi. Tanpa pesta. Pentol dan Narti menghabiskan 4 juta untuk hari istimewanya tersebut. Sejuta untuk lamaran. 300 ribu untuk cincin pernikahan. 617 ribu untuk mahar pernikahan (nominal yang disesuaikan dengan hari jadi Pentol dan Narti: 6 Januari 2017). 0 rupiah untuk akad di KUA. Sejuta untuk seserahan. Lalu sisanya untuk makan bersama dengan keluarga dan orang terdekat di sebuah rumah makan.

Ia langsung mengunggah foto di media sosialnya. Beberapa warganet langsung bereaksi. Ada yang kaget ada yang heran. Namun Pentol dengan ketenangannya berupaya bijak dengan memasang taklikat di fotonya: cermin dan perkawinan, sama-sama memperbanyak jumlah manusia. (Borges). Komentar-komentar semacam: selamat, sakinah, mawadah, berkah, madah, doa dan puja-puji datang di foto yang telah diunggahnya. Namun, ada pula teman lainnya yang iseng berkomentar: “tiada kabar, tiada berita kau telah memutuskan masa petualanganmu.” Komentar itu diselingi tawa dan emotikon yang mengejek. Kemudian juga ada komentar singkat dari salah satu mantannya. Emotikan senyum tertambat di kolom komentarnya. Pentol hanya tersenyum membaca komentar-komentar itu. Tidak semua manusia harus bahagia olehku, ungkapnya dalam hati. Setidaknya ia masih sedikit tenang: citranya masih terjaga, meski ada nada sumbang masih bersuara.

***

Mahligai pernikahan Pentol dan Narti telah memasuki usia enam bulan. Pentol dan Narti berhasil menghasilkan karya barunya: beranak-pinak dan membuat terra kian sesak. Layaknya sebuah bagian dari rutinitas pranatal, maka pergilah ia mengantar istrinya ke rumah sakit untuk melakuan pemeriksaan kandungan dan melakukan pemindaian ultrasonografi. Setelah mendapatkan hasil foto dari kinerja ultrasonografi, Pentol memfotonya lewat ponselnya. Pentol bertanya kepada warganet dengan menuliskan taklikat di foto: Tebak, laki-laki atau perempuan? Kira-kira nama yang cocok apa ya? ada komentar?

“Maaf Tol, kok seperti ada gambar iblis ya?”
“Loh kok seperti ada gambar dinosaurus?”
“Cara memperbesar penis dengan aman dan cepat. Buruan cek akun kami!”
“Bukan. Saya pikir lebih mirip siluman keong.”
“Apa jangan-jangan saat proses pembuatannya tidak sah? Ini pasti azab dari Tuhan!”
“Astaga. Ini tanda-tanda akhir zaman.”
“Jasa meningkatkan pengikut hingga ribuan. Minat? Yuk!”
“Cek akun kami kakak. Beli sepatu satu dapat gratis satu. Beli kanan juga dapat kiri. Ayo kapan lagi! Keburu kehabisan!”
“Seperti ada wajah serigala di kepala janinnya. Tanda-tanda apa ini? Kedatangan dajal?”

Pentol kaget bukan main. Ia heran mengapa komentarnya kebanyakan bernada miring. Ia cermati foto hasil pemindaian ultrasonografi itu sekali lagi. Di ruang tunggu rumah sakit ia tampak gusar. Namun ada juga teman lainnya yang mengingatkan dan membuatnya sedikit menghela napas.

“Itu hanya fenomena psikologis terkait gambar. Pareidolia namanya.” Pentol sediki lega dengan komentar salah satu teman masa kecilnya, Paino. Tak lama berselang, notifikasi baru kembali hinggap di akunnya. Kali ini bukan dari kolom komentar, melainkan dari sebuah video yang menandai akun Pentol. Tertulis di taklikat video: Kota_X_Membara.mp4. Mau pranala? Silakan jaringan pribadi!

Ia toleh kanan dan kiri, tidak ada orang yang duduk dekat dengannya. Ia buka ponselnya dan matanya langsung membalak melihat unggahan tersebut. Ia memastikan kembali bahwa di video tersebut benar dirinya dengan Narti yang sekarang menjadi istrinya. Ia dekap ponselnya di dadanya agar tidak ada orang yang melihat layar. Seketika suara ponselnya berdering. Ibunya menelpon.

“Pentol, kamu di mana sekarang? Cepat ke rumah! Dada bapakmu sekonyong-konyong nyeri, harus dibawa ke rumah sakit sekarang!” Ibu Pentol panik. Pentol bingung, mana yang harus didahulukan: mengantar orang tuanya ke rumah sakit terdekat, menunggu Narti di rumah sakit, menutup kolom komentar yang semakin membanjiri foto calon jabang bayinya atau mencari penyebar videonya dengan Narti yang membuatnya makin kelimpungan.

Last modified on: 27 Desember 2017

    Baca Juga

  • Ritual Pemakaman


    Pagi telah lama bersiaga ketika kutuntaskan urusan antara lidah dan kerongkongan dengan lepuh panas teh aroma melati. Pagi yang wajar, kecuali fakta bahwa pagi ini adalah langkah-langkah awal yang dilayangkan…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Inti Cerita yang Buruk


    Setiap harinya Justin Horgenschlag —seorang asisten juru cetak berupah tiga puluh dolar per pekan— melihat kurang lebih enam puluh wanita yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka, dalam rentang waktu empat…

     

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni