(7 votes)
(7 votes)
Read 792 times | Diposting pada

Inti Cerita yang Buruk

Inti Cerita yang Buruk Dwi Ma'ruf Alvansuri

 

Setiap harinya Justin Horgenschlag —seorang asisten juru cetak berupah tiga puluh dolar per pekan— melihat kurang lebih enam puluh wanita yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka, dalam rentang waktu empat tahun menetap di New York, Horgenschlag sudah melihat sekitar 75.120 macam wanita. Dari jumlah 75.120, 25.000 di antaranya berusia di bawah tiga puluhan dan selebihnya berusia di atas lima belas tahun. Dari 25.000 hanya 5000 dengan berat badan sekitar antara seratus lima dan seratus dua puluh lima pon. Dari 5000 hanya 1000 wanita yang sedap dipandang. Hanya 500 yang agak menarik perhatian; hanya 100 wanita yang cukup memukau; hanya 25 wanita yang menggugahnya sehingga lama-kelamaan, ia bersiul pelan. Dan cuma satu yang bikin Horgenschlag jatuh cinta pada pandangan pertama.

Nah, ada dua jenis wanita pemikat. Wanita pemikat dalam artian benar-benar memikat dan wanita pemikat dalam artian sama sekali tidak memikat.

Wanita itu bernama Shirley Lester. Usianya dua puluh tahun (selisih sebelas tahun lebih muda dari Horgenschlag), dengan postur lima-empat-kaki (yang posisi kepalanya segaris dengan mata Horgenschlag), dengan berat tubuh 117 pon (ramping dan semampai untuk digandeng). Shirley adalah stenografer, hidup bersama dan menemani ibunya, Agnes Lester, penggemar si tua Nelson Eddy. Terkait penampilan Shirley, orang-orang sering berujar: “Kecantikan Shirley bagai sebuah lukisan.”

Hingga pada suatu pagi di dalam Bis Third Avenue, Horgenschlag kedapatan berdiri di sebelah Shirley Lester dan situasi tersebut membuatnya mati kutu. Semua disebabkan mulut Shirley yang mangap-mangap tidak jelas. Shirley rupanya tengah membaca iklan kosmetik pada dinding bis; dan sesaat ketika Shirley membaca, Shirley tampak rileks saja menggoyang-goyangkan rahang bawahnya. Dan pada momen itulah mulut Shirley menganga, kedua bibirnya merekah, Shirley ini boleh jadi satu gejala yang paling fatal dari seluruh penduduk di Manhattan. Horgenschlag melihatnya ibarat seorang yang secara positif menghalau-seluruh monster raksasa bernama kesepian yang dicari-cari jiwanya selama ini semenjak ia tiba di New York. Oh, derita itu! Penderitaan karena berdiri di sebelah Shirley Lester dan tidak dapat bertingkah apa-apa untuk sebatas membungkuk lalu mengecup bibir Shirley yang merekah. Derita yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata!

*

Begitulah asal mula cerita yang kukarang untuk majalah Collier’s. Aku hendak mengarang cerita tentang seorang pria jatuh cinta-bertemu-wanita. Apa lagi yang lebih aduhai ketimbang cerita tersebut, pikirku. Dunia ini butuh cerita pria-bertemu-wanita. Bahkan untuk mengarang satu saja, sialan, seorang pengarang harus tahu duduk perkara apa saja yang membuat si tokoh pria bertemu dengan si tokoh wanita. Aku tidak sudi meladeni yang satu ini. Sama sekali tidak dan yang benar saja. Aku tidak bisa membuat Horgenschlag dan Shirley menjalani hidup bersama yang adem ayem. Dan berikut ini adalah alasan-alasannya:

Tentu hal yang mustahil bagi Horgenschlag membungkukkan badannya lalu berkata dengan sepenuh jiwa:

“Maaf mengganggu. Aku sangat mencintaimu. Aku tergila-gila padamu. Aku sadar hal ini. Akan kucintai dirimu seumur hidupku. Aku seorang asisten juru cetak dan upahku tiga puluh dolar per pekan. Ya Tahun, betapa aku mencintaimu. Kamu sibuk nanti malam?”

Horgenschlag mungkin seorang pria culun, walau tak teramat culun. Ia boleh jadi anak kemarin sore, tapi tidak layak untuk zaman sekarang. Kau tidak kepingin pembaca Collier’s melahap cerita tolol ini kan. Itulah seremeh-remehnya karangan, bagaimana pun juga.

Aku tidak bisa, tentu saja, secara tiba-tiba memberi minyak rambut kepada Horgenschlag, ditambah cerutu tua William Powel dan topi usang Fred Astaire.

“Tolong jangan salah paham dulu, Nona. Aku ini seorang ilustrator di sebuah majalah. Lihat kartu namaku. Aku tergugah membuat sketsa wajahmu lebih dari apa yang pernah kugarap seumur hidupku. Mungkin ada semacam untung bersama yang kita peroleh. Boleh kuhubungimu nanti malam, atau dalam waktu dekat? (begitu sumir, diselingi gelak rayuan.) Aku harap kata-kataku tak membuatmu tersinggung. (Diulanginya gelak yang sama.) Aku begini orangnya, sungguh.”

Oh, kawan. Penyampaian kalimat-kalimat menyebalkan itu disertai senyuman yang membosankan, mesra, tapi acuh tak acuh. Andaikan Horgenschlag mengatakan semuanya. Shirley, sudah pasti, tetaplah seorang penggemar si tua Nelson Eddy, dan anggota aktif di Perpustakaan Umur Keystone.

Barangkali kau sudah mulai tergugah dengan apa yang aku tulis selanjutnya.

Benar, Horgenschlag mengatakan semuanya dengan embel-embel:

“Maaf, benarkah dirimu Wilma Pritchard?”

Lalu Shirley menjawab sekenanya, sembari melongok ke satu pojok dari sisi lain bis:

“Bukan.”

“Lucu sekali,” lantur Horgenschlag, “Aku nyaris menyumpahimu jika kau ternyata Wilma Pritchard. Uh, kau memang tidak pernah bolak-balik dari Seattle?”

“Tidak.” ——Lebih kaku dari sebelumnya.

“Seattle adalah kampung halamanku.”

Suasana pun jadi senyap.

“Kota kecil yang luar biasa, Seattle. Maksudku benar-benar kota kecil yang luar biasa. Aku baru menetap di sini—maksudku di New York—selama empat tahun. Sekarang aku seorang asisten juru cetak. Namaku Justin Horgenschlag.

“Aku sama sekali tidak tertarik.”

Oh, Horgenschlag tidak bisa ke mana-mana dengan tanggapan semacam itu. Tidak pula tampilan, kepribadian, atau pakaian necis yang dikenakannya menggugah perhatian Shirley di tengah situasi tersebut. Ia bahkan tidak punya celah sedikit pun. Dan, seperti kusebutkan sebelumnya, mengarang cerita yang mantap tentang pria-bertemu-wanita alangkah bijaknya menghadirkan si tokoh pria dan si tokoh wanita.

Mungkin Horgenschlag bakal pingsan, dan menggapai-gapai bantuan untuk menolongnya: bantuan itu tidak lain adalah pergelangan kaki Shirley. Ia bisa saja merobek stokingnya dengan cara itu, sehingga loloslah dari tubuhnya kemudian lari terbirit-birit. Orang-orang akan menyekap Horgenschlag di sebuah ruangan gara-gara keonaran yang diperbuatnya, dan ia akan bersimpuh, meringis: “Aku baik-baik saja, terima kasih,” selanjutnya “Oh, terus terang! Ampunilah aku, Nona. Sudah kusobek stokingmu. Biar kutebus kesalahanku padamu. Saat ini aku kekurangan uang, tapi tunjukkan padaku alamatmu.”

Shirley tidak akan memberitahu alamat rumahnya. Ia hanya akan merasa dipermalukan dan kesulitan berkata-kata. “Tidak apa-apa kok,” itulah yang sanggup diucapkannya, sambil berharap Horgenschlag sepatutnya tidak pernah dilahirkan. Dan selain itu, pikirannya pun menjadi tidak logis. Horgenschlag, si anak Seattle, mestinya tidak pernah bermimpi mengcengkeram pergelangan kaki Shirley. Tidak di dalam Bis Third Avenue ini.

Namun hal yang paling logis adalah kemungkinan bahwa Horgenschlag boleh jadi patah arang. Masih ada segelintir manusia yang jatuh cinta begitu putus asa. Mungkin Horgenschlag salah satunya. Ia bisa saja menjambret tas tangan milik Shirley lalu terkocar-kacir lewat pintu keluar. Shirley akan berteriak. Penumpang lain mendengar teriakannya, dan kembali diingatkan tentang peristiwa Alamo atau satu lain hal. Di tengah usaha kaburnya, Horgenschlag, katakanlah, ia tertangkap basah. Bis yang melaju pun berhenti. Seorang petugas patroli bernama Wilson, yang sudah lama tidak melakukan penyergapan, melaporkan kejadian. Apa yang terjadi? Petugas, pria ini berupaya menjambret dompetku.   

Horgenschlag digelandang ke meja pengadilan. Shirley, sudah pasti, hadir di persidangan. Keduanya mengajukan kesaksian; dengan cara demikian Horgenschlag jadi tahu di mana tempat tinggal Shirley.

Hakim Perkins, yang tidak pernah rehat di dalam hidupnya, sekadar untuk menyeruput secakir teh di rumah, menjatuhkan vonis satu tahun penjara kepada Horgenschlag. Shirley menggigit bibirnya, tapi Horgenschlag telanjur digiring.

Di dalam sel tahanan, Horgenschlag menuliskan beberapa pucuk surat kepada Shirley Lester:

Nona Lester yang baik:

Aku tidak sungguh-sungguh berniat menjambret dompetmu. Aku mengambilnya karena aku mencintaimu. Kau tahu sendiri aku hanya ingin berkenalan denganmu. Maukah kau tulis surat balasan untukku jika kau sempat? Tempat ini membuatku kesepian dan aku sangat mencintaimu dan mungkin kau bersedia datang membesukku sesekali jika kau sempat.

Kawanmu,
Justin Horgenschlag.”

Shirley mengumbar surat tersebut ke teman-temannya. Mereka bilang, “Ah, ini romantis, Shirley.” Di satu sisi, Shirley mengiyakan romantis tersebut. Barangkali ia akan tergerak untuk menanggapinya. “Ya, tanggapilah. Berikan sekali kesempatan untuknya. Kau sendiri tidak akan kehilangan apa-apa juga, kan?” Lantas, Shirley pun menjawab surat Horgenschlag.

Tuan Horgenschlag yang baik:

Telah kuterima surat darimu dan aku benar-benar meminta maaf atas segala yang terjadi. Sayangnya, hanya sedikit yang bisa kita lakukan saat ini, meskipun begitu aku merasa kurang nyaman mengingat-ingat kembali peristiwa tersebut. Bagaimana pun, masa kurunganmu tidak lama dan kau akan segera bebas dari tahanan. Kuharap yang terbaik untukmu.

Sepenuh hati,
Shirley Lester.”

 


Nona Lester yang baik:

Kau tak akan pernah menyangka betapa aku merasa bahagia dibuatmu saat kuterima surat yang kautulis. Mestinya kau tak perlu merasa kurang nyaman. Semua ini disebabkan ulahku yang teramat sinting sehingga bertindak tidak sepantasnya kepadamu. Di penjara ini kami selalu menonton film sepekan sekali dan hal tersebut tidak buruk. Umurku 31 tahun dan asalku dari Seattle. Aku sudah tinggal di New York selama 4 tahun dan kota luar biasa ini membuatmu sesekali merasa bosan. Kaulah wanita tercantik bahkan melampaui yang pernah kutemi di Seattle. Aku harap kau bisa ke sini hari Sabtu siang pada jam kunjungan pukul 2 atau 4 dan aku akan membayar tiket keretamu.

Kawanmu,
Justin Horgenschlag.”

Shirley pasti memperlihatkan surat tersebut, seperti biasa, ke semua teman-temannya. Namun ia tidak akan menulis jawaban yang satu ini. Setiap temannya menganggap Horgenschlag adalah pria culun. Dan itulah faktanya. Shirley toh sudah menjawab surat pertama. Seandainya ia menjawab surat yang aneh kali ini sesuatu mungkin akan berkelanjutan selama beberapa bulan ke depan dan seterusnya. Ia sudah berbuat semampunya demi pria itu. Pria yang aduhai namanya, Horgenschlag.

Sementara itu, di dalam sel tahanan Horgenschlag melalui masa terberatnya, meskipun ia menonton film satu pekan sekali. Rekan-sel-tahanannya adalah Snipe Morgan dan Slicer Burke, dua pria yang dipindahkan dari sel belakang, menganggap wajah Horgenschlag mirip seorang anak bujang asal Chicago yang pernah berkelahi dengan mereka. Keduanya yakin kalau Ratface Ferrero dan Justin Horgenschlag adalah orang yang sama dan tidak ada bedanya.

“Tapi, aku bukan Ratface Ferrero,” tepis Horgenschlag.

“Jangan bahas itu di hadapanku,” bentak Slicer, sambil menggebrak seonggok ransum milik Horgenschlag hingga tergeletak di lantai.

“Hajar saja kepalanya,” dorong Snipe.

“Aku katakan kepadamu bahwa aku berada di sini karena aku nyolong dompet seorang perempuan di Bis Third Avenue,” timpal Horgenschlag. “Bahkan sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh berniat mencurinya. Aku jatuh cinta padanya, dan itulah satu-satunya cara yang bisa kuperbuat supaya bisa berkenalan dengannya.”

“Jangan bahas itu di hadapanku,” ulang Slicer.

“Hajar saja kepalanya,” tanggap Snipe.

Tibalah suatu hari di mana tujuh belas narapidana berusaha melarikan diri. Pada jam istirahat untuk berleha-leha di lapangan terbuka, Slicer Burke membujuk keponakan perempuan sipir penjara, Lisbeth Sue, yang berusia delapan tahun, ke dalam rangkulan tangannya. Lengannya yang berukuran delapan-kali-dua belas pun menopang pinggang si bocah dan menaruh ke pundaknya agar sipir bisa melihatnya.

“Hei, sipir!” teriak Slicer. “Bukakan mereka gerbang atau kulempar anak ini!”

“Aku tidak takut, Paman Bert!” sergah Lisbeth Sue.

“Turunkan anak itu, Slicer!” suruh Kepala Sipir, disusul segala titahnya yang melempem.

Namun Slicer tahu ia meladeni sipir yang bisa memenuhi kemauannya. Tujuh belas narapidana dan seorang bocah kecil berambut pisang berjalan menuju pintu gerbang. Enam belas orang dan si bocah pirang tersebut melangkah keluar dengan selamat. Seorang penjaga di ketinggian menara pemantau menangkap peluang emas untuk membidik kepala Slicer, supaya kerumunan pelarian menjadi terpencar. Tapi tembakannya yang meleset, dan justru berhasil menyasar seorang pria boncel yang berjalan kagok di belakang Slicer, seketika itu menewaskannya.

Tebak siapakah pria tersebut?

Dan, begitulah, draf yang kubuat untuk karangan cerita pria-bertemu-wanita di Collier’s, sebuah cerita penuh kasih sayang, kisah cinta yang senantiasa dikenang, yang terhalang oleh kematian tokoh pahlawanku.

Maka, Horgenschlag tidak akan pernah terhitung sebagai anggota dari tujuh belas narapidana putus asa hanya saja kalau ia tidak sebegitu depresi dan dilanda kepanikan dipicu pengabaian Shirley yang urung membalas surat keduanya. Namun kenyataan berkata bahwa Shirley memang tidak membalas surat kedua tersebut. Ia tidak akan pernah membalasnya seratus tahun kemudian. Aku tidak bisa mengubah kenyataan.

Dan alangkah memalukan. Betapa malang Horgenschlag yang dipenjarakan, tidak mampu menulis kelanjutan suratnya kepada Shirley Lester:

Nona Shirley Lester yang baik:

“Aku harap kata-kataku tidak akan membuatmu jengkel atau malu. Aku tulis surat ini, Nona Lester, sebab aku ingin kauanggap aku bukan pencuri pada umumnya. Akulah yang menjambret tasmu, kumau kau menyadari, bahwa aku jatuh cinta kepadamu sesaat aku melihatmu di dalam bis. Aku berpikir tidak ada jalan lain berkenalan denganmu kecuali bertindak gegabah—secara bodoh, lebih tepatnya. Namun kautahu, seseorang bisa gila di kala ia dirundung asmara.

Aku jatuh hati kepada gerak bibirmu yang merekah terbuka secara perlahan. Kau adalah jawaban dari segenap yang kumiliki. Aku belum pernah sebegitu gembira sejak hidup di New York empat tahun belakangan, artinya aku tak pernah bahagia. Setidaknya, itu yang dapat kuterangkan perihal diriku selayaknya satu dari ribuan pria muda yang ada di New York. 

“Aku datang ke New York dari Seattle. Akumau jadi kaya raya dan jadi tenar dan berpakaian rapi dan memiliki sopan santun. Tapi empat tahun berlalu aku mengerti bahwa aku tidak akan kaya raya atau tenar atau berpakaian rapi atau memiliki sopan santun. Aku sewajarnya bekerja sebagai asisten juru cetak, dan beginilah diriku. Suatu waktu juru cetak ketiban sakit, maka akulah yang mengambil alih posisinya. Betapa kisruh segala yang kuperbuat, Nona Lester. Tak ada satu pun orang yang mematuhi perintahku. Para juru ketik malah terkekeh ketika aku menyuruh mereka bekerja. Tapi aku tidak menyalahkan mereka. Aku payah dalam melontarkan perintah. Aku kira aku adalah satu dari jutaan manusia yang tidak ditakdirkan untuk memerintah. Tapi aku tidak lagi memusingkan hal tersebut. Anak kandung atasanku yang berusia sekitar dua puluh-tiga-tahun baru meneken kontrak kerjanya. Usianya menginjak dua puluh-tiga tahun, sedangkan aku tiga puluh-satu dan telah bekerja di tempat itu selama empat tahun. Aku sadar ia akan menjabat selaku kepala juru cetak suatu hari nanti, dan tetap saja aku akan jadi asistennya. Tapi aku tidak lagi memedulikan kenyataan ini.

“Mencintaimu adalah keutamaan, Nona Lester. Banyak orang menilai cinta adalah hubungan seksual lalu pernikahan lalu ciuman pukul enam pagi lalu beranak-pinak, dan barangkali benar adanya, Nona Lester. Tapi sadarkah kau apa yang kupikirkan? Aku berpikir bahwa cinta adalah sebuah sentuhan sekali pun tanpa bersentuhan.

“Aku mengira hal terpenting bagi seorang wanita yang dalam pandangan orang lain tentangnya adalah menjadi istri bagi seorang pria yang punya sekiranya kaya, tampan, jenaka, atau terkenal. Aku sama sekali tidak beken. Aku bahkan tidak dibenci. Aku cuma—aku cuma—seorang Justin Horgenschlag. Aku tidak pernah bikin orang lain terhibur, sedih, marah, atau pun merasa jijik. Aku kira orang-orang menghargaiku sebagai pria baik-baik, hanya itu.

“Sewaktu masih bocah, tak seorang pun menyebut wajahku terkesan rupawan atau pintar atau menarik-perhatian. Sekali pujian tentangku mereka bilang aku punya dua kaki yang tegap.

“Aku tidak berharap kau membalas suratku ini, Nona Lester. Yang aku inginkan adalah jawaban yang melebihi apa pun di dunia ini, tapi sungguh aku tidak berharap balasan darimu. Aku semata-mata ingin kautahu kebenaran dari semua ini. Jika cintaku padamu menggiringku pada kesengsaraan baru dan tiada ampun, aku yang berhak disalahkan.

“Mungkin suatu hari nanti kau akan tersadar dan memaafkan pemujamu yang pandir ini.

Justin Horgenschlag."

Tidak pula akan ada lagi sepucuk surat yang bertuliskan:

Tuan Horgenschlag yang baik:

“Kuterima suratmu dan aku menyukainya. Aku jadi merasa bersalah dan tidak keruan lantaran demikianlah segala peristiwa terjadi. Kalau saja kau berterus terang padaku, alih-alih berupaya mengambil dompetku! Tapi kini, aku merasa bersalah kepadamu.

“Kutulis surat ini untukmu, saat jam makan siang di kantor. Aku ingin sendirian hari ini pada jam makan siang. Kubayangkan jika aku bergabung makan siang dengan teman-teman wanitaku di Automat dan mereka mengoceh terus ketika mengunyah makanan, aku bisa tiba-tiba meraung sejadi-jadinya.

“Aku tidak peduli kalau pun kau tidak sukses, atau kau tidak tampan, atau kaya, atau terkenal, atau memiliki sopan santun. Di masa lalu aku pernah memikirkan hal tersebut. Pada masa ketika bersekolah di tingkat menengah dan aku selalu jatuh cinta kepada Pria-pria Modis. Donal Nicolson, seorang pemuda yang menembus hujan dan hapal keseluruhan soneta Shakespeare dari belakang ke depan. Bob Lacey, laki-laki ganteng yang sanggup melempar bola basket dari tengah lapangan, sehingga skor yang ditorehankannya mengubah kedudukan, sedangkan pertandingan hampir berakhir. Harry Miller, pemalu yang punya sorot mata aduhai, kecoklatan.

“Tapi semua masa hidupku yang gila itu sudah tamat.

“Orang-orang di kantormu yang terkekeh saat kauperintah adalah merka yang kucoret namanya dari riwayat hidupku. Aku benci mereka meskipun aku belum pernah membenci siapa pun.

“Kau yang mengamatiku saat wajahku bermekap. Tanpa itu, percaya padaku. Aku tidak muluk-muluk soal kecantikan. Kumohon surati aku saat kau dibolehkan menerima penjenguk. Aku ingin kau pandangi wajahku untuk kedua kalinya. Kupastikan dirimu tidak akan mendapatiku sebagai seseorang yang bermuka dua.

“Kumohon beritahu aku kapan aku bisa mengunjungimu.

Sepenuh hati,
Shirley Lester.”

Akan tetapi, Justin Horgenschlag tidak akan pernah bisa berkenalan dengan Shirley Lester. Shirley turun di Fifty-Sixth Street, sedangkan Horgenschlag turun di Thirty-Second Street. Malam itu Shirley pergi menonton ke bioskop dengan ditemani Howard Lawrence, seorang pria pujaan hatinya. Howard berpikir bahwa wanita yang bersamanya cocok dikelabuinya, dan sejauh itulah yang terjadi seterusnya. Ada pun Justin Horgenschlag pada malam itu bersitahan di rumah dan menyimak sandiwara Opera Sabun Lux lewat radio. Dia memikirkan Shirley semalam suntuk, sepanjang keesokan harinya, dan beberapa kali dalam sebulan. Sampai kemudian ia berkenalan dengan Doris Hillman, seorang wanita yang mulanya ketakutan tidak akan punya suami. Dan di momen sebelum Justin Horgenschlag mengetahui hal tersebut, Doris Hillman dan segala tetek bengeknya menyingkirkan Shirley Lester dalam benaknya. Lantas tidak ada yang tersisa, baik sosok Shirley Lester maupun pikiran tentangnya.

Dan itulah mengapa aku tidak pernah mengarang cerita pria-bertemu-wanita untuk Collier’s. Dalam cerita pria-bertemu-wanita si tokoh pria harus selalu bertemu si tokoh wanita.[]

____

J.D. Salinger (1919–2010) adalah penulis Amerika yang terkenal, Karyanya yang fenomenal adalah The Catcher in the Rye.


Cerita pendek ini pertama kali terbit dengan judul asli The Heart of Broken Story di majalah Esquire pada September, 1941. Diterjemahkan dari bahasa aslinya oleh Hamzah Muhammad pada Februari 2018.

Last modified on: 11 Februari 2018

    Baca Juga

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

  • Kolom Komentar


    Semenjak kejadian yang membahagiakan dirinya lewat reaksi setoronin, endorfin dan dopamin di sekujur wadaknya, hidup Pentol sebelumnya tidak pernah serumit ini. Kala itu, di sebuah hotel bintang tiga, Pentol menemukan…

     

  • Anak Iblis


    Saat itu musim panas sedang berlangsung ketika kami libur sekolah. Aku berumur sebelas tahun dan dua temanku, Hass dan Morgan, masing-masing berumur duabelas tahun. Kami duduk di atas rumput sambil…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni