(2 votes)
(2 votes)
Read 636 times | Diposting pada

Hikayat Singkat Si Pencuri Keris Keramat

 

What is there in our nature that is forever urging us on towards pain and misery?”

-        Mary Shelley, The Last Man

 

 

Jakarta, 2045. 00.30 WIB.

 

Sudah hampir setengah jam Si Pemuda duduk tegak di sofa kulitnya. Di meja bundar kecil bergaya oriental di sebelah sofa itu tergeletak secangkir kopi hitam tubruk pekat dengan asap yang masih mengepul. Kepulan asap kopi itu menari, meliuk, membumbung dan saling membelit dengan kepulan asap dari puntung rokok yang terjepit di kedua jari Si Pemuda, seolah mengiringi dentingan lembut permainan piano elektronik Ardian Mifune dan suara merdu Kanaya Kurosawa, duo musisi funk-elektronik kelahiran Indonesia-Jepang yang sedang digandrungi anak-anak muda.

Sesekali mata tajam Si Pemuda menghunus tirai jendela, menyibaknya sedikit untuk memantau pergerakan helikopter-helikopter polisi yang berterbangan tak ada habisnya di angkasa. Cahaya sirine dan lampu sorot dari capung-capung baja itu berulang kali menyinari kamar apartemen Si Pemuda yang terletak di lantai 23.  Puluhan Mosquitrone dan Flytrone, drone pengintai berbentuk nyamuk dan lalat dari perusahaan Go-Hunt juga dikerahkan untuk membantu. Dengungan mereka yang bising menambah marak suasana langit malam yang biasanya tenang. Ratusan pamflet bergambar potret dirinya dan harga buruannya telah disebarkan ke seluruh penjuru kota. Pelantang suara dari mobil-mobil patroli polisi yang berseliweran di jalan-jalan pun tak ketinggalan menyerukan nama Si Pemuda, lengkap dengan harga buruan dan dugaan kejahatan yang telah dilakukannya.

Si Pemuda menghela napas, mengambil puntung rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu berjalan gontai menuju rak piringan hitamnya. Sekilas Si Pemuda melihat beberapa piringan hitam pemberian Sjahrir, sahabat lamanya. Si Pemuda mengusap sampul-sampul piringan hitam yang telah berdebu itu. Dia tersenyum kecut. Dari dulu Si Pemuda memang tidak terlalu menyukai musik-musik klasik seperti Sjahrir. Tapi karena Si Pemuda sangat menghormatinya, dia terus menyimpan piringan-piringan yang hampir tak pernah diputar tersebut.

 “Maafkan aku tidak bisa datang ke pemakamanmu, Bung. Kau pasti mengerti alasannya kan…” bisik Si Pemuda sembari meletakkan piringan hitam itu kembali ke dalam rak.

Sementara itu, suara baling-baling helikopter di luar semakin bertambah riuh.

Si Pemuda bersiul-siul mengikuti irama dentingan piano, saat Ardian Mifune menaikkan tempo iramanya, kaki-kakinya juga asyik menghentak-hentak lantai. Ada sesuatu yang tak kita tahu sedang dia rencanakan, dan tampaknya dia yakin sekali dengan rencananya itu. Tidak seperti buronan-buronan yang harusnya sudah meringkuk ketakutan di bawah ranjang tempat tidur sambil mengggenggam sebuah pisau berkarat, pembawaan Si Pemuda justru sangat tenang dan santai. Seperti sudah sangat berpengalaman dengan situasi seperti itu. Memang tersirat kegelisahan dan kemuraman di wajahnya, tapi itu disebabkan oleh hal lain.

Agla, kekasihnya,tewas tertembak rentetan peluru beberapa pemburu hadiah dua hari yang lalu.

Ini semua gara-gara aku. Harusnya aku menghindari dia. Aku tahu itu, tapi aku tetap juga mendekatinya. Kini dia telah tiada. Semua ini terulang lagi. Berkali-kali, batin Si Pemuda pedih.

Derap-derap langkah manusia terdengar keras dari luar kamar. Si Pemuda masih terduduk di kursi. Matanya masih tak lepas sebuah kue cokelat di atas meja. Sikap tubuhnya siaga. Tangan kanannya sigap menggenggam pistol Glock 18-nya yang juga telah dimodifikasi agar bisa memuntahkan dua peluru sekaligus. Si Pemuda juga menyembunyikan sebilah keris antik nan keramat di balik sepatu bot-nya guna senjata cadangan di momen-momen kritis. Keris yang dia curi dari Anusapati pasca pembunuhan Ken Arok berabad-abad lalu.

Pintu kamar Si Pemuda mulai digedor-gedor. Seruan-seruan bernada perintah mulai menusuk-nusuk telinga Si Pemuda. Si Pemuda mempererat genggamannya. Dari layar komputer layar sentuhnya, dia bisa melihat lima sampai enam polisi satuan buru sergap mengacungkan senjatanya tepat di depan pintu kamarnya. Salah seorang polisi yang menyadari dirinya sedang di rekam kamera CCTV dengan cepat merusak kamera itu lewat satu tembakan. Di antara para polisi itu, terdapat seorang pria tegap yang mengenakan setelan jas berwarna cokelat. Si Pemuda sangat mengenali pria itu.

Dia sudah di sini, Agla. Hehe, aku tidak menyangka kalau diburu akan menjadi olahraga favoritku. Yah, sejak mencuri keris ini, aku sudah dikutuk untuk diburu.

Tapi aku sudah lelah dengan semua ini

Kini aku tak takut lagi.

Kini aku sudah siap.

Dengan wajah bersimbah keringat dan air mata, Si Pemuda memasukan moncong pistolnya ke dalam mulut, bersiap untuk menarik pelatuk.

 

 

 

*

 

 

 Kenapa Ibu begitu peduli dengan pemuda itu? Dia bukan siapa-siapa. Kalau dia dibiarkan hidup, maka cepat atau lambat rahasia kita akan terbongkar. Dengar, Bu. Zaman sudah berubah. Di era seperti ini, kalau perusahaan-perusahaan multi-nasional itu mengetahui rahasia kita, kita pasti sudah dijadikan kelinci percobaan eksperimen mereka. Kita ini bukan mutan. Aku, Ibu dan Si Pemuda itu tak bisa mati atau bertambah tua. Semua ini karena keris Mpu Gandring, bukan karena mutasi genetik dan sejenisnya. Hanya keris ini juga yang mampu membunuh kita bertiga. Semua ini aku lakukan untuk keselamatan kita berdua, Bu. Tolonglah mengerti. . .

Kata-kata yang diujarkan Anusapati sebelum hembusan napas terakhirnya beberapa jam yang lalu membuat Ken Dedes termenung. Walau begitu, dia tetap berjalan di bawah guyuran hujan, menyisiri jalur pedestrian penuh keruk yang digenangi air. Orang-orang yang berpapasan di jalan dengannya mempercepat langkahnya setelah melihat penampilan Ken Dedes yang menyeramkan. Cipratan darah segar Anusapati menghiasi nestapa yang terjahit di tiap guratan wajahnya. Perlahan rintik air hujan menghujam wajahnya, membasuh bercak darah dan linangan air matanya. Ada begitu banyak penyesalan yang melata dan bersarang di dalam hati Ken Dedes. Merahasiakan jati dirinya pada Si Pemuda adalah salah satunya. Mungkin kalau dari awal aku mengatakan yang sebenarnya, kau tidak perlu terbunuh walau Anusapati lah biang keladi dari semuanya, batin Ken Dedes.

Ken Dedes sendiri tidak pernah mengerti perasaan apa yang bertunas, berkembang kemudian merekah untuk Si Pemuda. Awalnya, dia mengira itu sebagai pengganti perasaan sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya yang tak pernah dia miliki untuk Anusapati.. Namun, setelah Si Pemuda pergi dari sisinya untuk menyelamatkan diri dari kejaran Anusapati, Ken Dedes mulai merasa bahwa apa yang dia rasakan untuk Si pemuda bukanlah perasaan seperti itu. Dia merasakan sensasi yang lain. Sensasi yang mudah dirasakan namun musykil sekali untuk diungkapkan dengan gamblang.

Sesampainya Ken Dedes di rumah, dengan lunglai, dia menyalakan televisinya. Dalam sebuah acara kriminal yang disiarkan langusung, seorang pakar kriminal membeberkan teorinya tentang Si Pemuda dan kematian Agla enam bulan yang lalu.

Saya rasa kasus tewasnya Profesor Agla enam bulan yang lalu oleh pemburu hadiah ini ada kaitannya dengan si buronan yang ditembak mati satuan buru sergap dua hari setelahnya. Kenapa si pemburu hadiah menembak mati Profesor Agla? Dia memang terkenal sebagai ilmuwan revolusioner yang kontroversial karena penemuannya. Tapi dia bukan buronan. Bukannya yang harus ditangkap atau dibunuh para pemburu hadiah itu adalah si buronan? Mungkin terdengar memaksakan, dan belum ada juga bukti yang konkret, namun saya yakin mereka memiliki hubungan…”

Ken Dedes melepas pakaiannya yang basah, lalu tanpa mengenakan pakaian lagi, dia berjalan menuju laboratorium kecilnya. Di dalam laboratoriumnya itu kita bisa melihat kotak-kotak kaca berisikan tubuh-tubuh manusia yang terbuat dari beraneka macam material. Wajah Si Pemuda ada di setiap tubuh-tubuh tersebut. Ken Dedes mengamati wajah-wajah itu dengan tatapan mata sendu berselaput derita. Dalam beberapa menit ke depan kita akan melihat dia membuka kotak itu satu per satu, kemudian menciumi wajah-wajah tak berjiwa, hingga akhirnya dia keluar dari kotak terakhir dan berkutat di meja kerjanya yang berhiaskan tabung-tabung kecil dan beraneka ragam cairan. Anehnya, di antara berbagai macam peralatan modern itu terdapat pula sebuah gentong tanah liat besar yang menguarkan bau tak sedap kombinasi dari bau muntahan, bangkai ikan dan sperma. Sedangkan di salah satu dinding terdapat kumpulan topeng, atau lebih tepatnya kumpulan wajah yang pernah digunakan Ken Dedes menjalani hidupnya era demi era. Dia memang berulang kali mengoperasi dan merubah wajahnya untuk menyembunyikan identitasnya. Akan terjadi kekacauan dalam segala aspek kalau orang-orang tahu dia tak pernah bertambah tua.

Ken Dedes berdecak kesal ketika menyadari bahwa darah Anusapati dan Si Pemuda tercampur menjadi satu di keris Mpu Gandring tersebut. Selama beberapa menit dia berpikir apa kiranya yang harus dilakukan. Dia tidak punya pilihan lain lagi. Selama enam bulan ini dia sudah melakukan berbagai penelitian dan eksprimen. Dan semuanya gagal. Menurutnya, mungkin dengan mencampurkan kombinasi ramuan tradisional dan cairan-cairan kimianya dengan darah yang masih melekat di keris tersebut sekalian dengan keris keramatnya, dia bisa meniupkan jiwa ke tubuh-tubuh di dalam kotak-kotak itu. Didorong rasa frustasi dan kesedihan yang mendalam, Ken Dedes mencelupkan keris keramat itu ke dalam gentong, lalu menghubungkan pipa-pipa plastik yang menempel di tubuh-tubuh model Si Pemuda ke pipa-pipa yang menempel di gentong. Tak lama cairan-cairan itu mengalir menuju kotak kaca.

Sejujurnya, Ken Dedes tidak yakin apakah cara ini akan berhasil. Dia juga tidak menjamin jika jiwa yang akan hidup di dalam tubuh-tubuh itu adalah Si Pemuda. Ada kemungkinan jiwa yang akan bersemayam di dalam tubuh-tubuh tersebut adalah jiwa Anusapati, atau mungkin gabungan dari keduanya? Ken Dedes tidak pernah tahu. Yang dia tahu, dia harus menunggu.

Lampu peringatan menyala, tanda proses pengaliran cairan telah selesai. Kotak-kotak kaca itu terbuka satu per satu. Ken Dedes melangkah hati-hati di tengah kotak-kotak seraya memerhatikan tubuh mana yang akan bereaksi. Tiga tubuh tidak bereaksi sama sekali. Tubuh yang terbuat dari besi malah langsung hancur tak karuan. Namun ada satu tubuh yang terbuat dari keratin bergerak dengan dinamis menghampiri Ken Dedes. Ken Dedes berjalan menghampirinya. Sorot mata haru terpancar jelas di wajahnya yang lelah. Dengan jari-jarinya, dia meraba wajah Si Pemuda.

“Agla? Kaukah itu?”

Ken Dedes mengangguk samar, kemudian tersenyum tipis. “Selamat ulang tahun…”

 

Last modified on: 9 April 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni