(7 votes)
(7 votes)
Read 3114 times | Diposting pada

GUL

The Sacrifice of Isaac, by Caravaggio (1603) The Sacrifice of Isaac, by Caravaggio (1603) Sumber Ilustrasi: Wikipedia

 

Lebaran tahun itu tak akan terlupakan buat warga Kampung Jurang. Di halaman Madrasah, ada seekor kambing jantan raksasa. Ukurannya hampir sebesar sapi dewasa, tanduknya melingkar sebesar ban motor, dan menurut seorang remaja masjid berkulit hitam, jangkung, bergigi tonggos, dan bernama Pa’i, kulit kambing itu bisa menjadi delapan sampai sepuluh bedug. Matanya berwarna oranye kemerahan, dan ketika ia mengembik, suaranya keras dan terdengar seperti tangisan pedih orang di saat sakratulmaut. Di bagian kanan tubuhnya terdapat rambut-rambut berwarna putih di antara rambut cokelat-kehitamannya, yang membentuk huruf-huruf Arab gho, wau, dan lam —dibaca ‘ghuwl’, sebutan untuk sejenis jin jahat. Itulah sebabnya banyak orang memanggil bandot itu dengan sebutan Gul.

Ibrahim adalah guru Fiqh, sejarah Islam, dan Aqidah Ahlaq di Madrasah itu, sekaligus tukang lapah paling berpengalaman di Kampung Jurang. Ia datang dengan pisau sembelih warisan leluhurnya. Tubuh kurus dan tegap Ibrahim berlawanan dengan wajahnya yang terlihat tua, berjanggut putih panjang. Mata Ibrahim begitu tajam, sebagaimana orang yang penuh keyakinan di dalam hidup. Di usianya yang ke 47, Ibrahim berjalan tenang dan tegap bagai seorang pemuda usia 20. Kaus putih-kuningnya yang bergambar presiden Soeharto, terselip rapi di balik celana silat hitamnya. Pisau panjang yang digenggam di tangan kirinya tidak kalah istimewa. Konon bilahnya dibuat dari batu meteor. Ketika dilepaskan dari sarungnya, ada lafaz ayat kursi di atas mata pisaunya, diukir dengan detail. Ukuran hurufnya kecil-kecil, sulit terbaca dengan mata telanjang. Konon pisau itu dibuat sendiri oleh Ki Jagat Kembara, leluhur Ibrahim yang masih bersaudara jauh dengan Syekh Siti Jenar. Pisau itu ditempa sambil dipegang tangan sehingga kalau gagangnya dilepas, orang bisa melihat sidik jempol Ki Jagat di ujung bilahnya. Jangankan membunuh bandot dengan nama iblis, pisau itu bahkan pernah merasakan darah Iblis sungguhan yang menyamar jadi manusia.

Ketika masih belia, sekitar usia 15-16 tahun, Ibrahim pernah menyaksikan ayahnya, Kiai Basyid, menyembelih iblis yang kebal peluru, kebal golok, dan hafal Al-Quran. Semua orang sudah menyerah untuk membunuh iblis itu. Para tentara yang melihat dari kejauhan bahkan sudah meminjamkan bayonet dan pistol kepada para pemuda, tetap saja si iblis itu tidak mati juga. Ketika Kiai Basyid tiba bersama Ibrahim, ia bilang pada anaknya, “Perhatikan bagaimana Bapak menjalankan tugas dari Allah. Jangan tutup matamu, jangan ada keraguan. Ayo ikut.”

Sang Kiai berjalan dan orang-orang bersarung dan berkopia menyingkir.  Obor mereka berjajar di kiri-kanan seperti menunjukkan jalan seorang algojo ke panggung hukuman mati. Sang Kiai berhenti di belakang sang iblis, yang menyamar jadi seorang pria yang tak henti-hentinya menggumamkan ayat suci di depan sebuah lubang besar berisi mayat-mayat. Dada Ibrahim muda berdegup kencang. Seorang pemuda menghampiri sang Kiai dan berkata, “Kalau Kiai ndak bisa, kami akan kubur dia hidup-hidup.”

“Insyaallah, bisa.” kata Kiai Basyid tenang.

Sang Kiai lalu membisikkan sesuatu di telinga sang Iblis. Ibrahim mendengar bisikan itu dengan jelas. Itu bukan doa. Itu kesantunan seperti ketika hendak berpisah dengan sahabat baik. Sang Iblis diam, berhenti bergumam ayat suci, lalu mulai menangis.  “Pegang dia,” perintah Kiai Basyid pada beberapa pemuda, termasuk Ibrahim. Ia menghunus Pisau Jagat. “Rebahkan… bagian kiri di bawah.”

Mereka merebahkan si Iblis, Soleh mengarahkan leher iblis itu ke arah liang lahat, Ibrahim memegangi kedua kakinya yang gemetar. Celana iblis itu basah, bau pesing.

“Bismillahhirrahmaannirraaahiiiiim!!!”

 

“Allahu akbar!!”

Darah muncrat deras dari leher kambing bandot raksasa setelah Ibrahim dengan cepat menyembelihnya di dua urat leher di kanan-kiri tenggorokannya. Kaki Ibrahim menginjak bagian leher bawah kambing itu, sementara tangan kiri menahan kepalanya. Suara lengkingan yang seperti orang sekarat berubah menjadi suara serak darah yang memancar tersaring kerongkongan. Ibrahim menanti matinya si Kambing. Ia menyuruh asistennya melepaskan ikatan kaki kanan kambing itu, agar ia mudah meregang nyawa. Gul memang bandot yang kuat, tanpa urat nadi dan kerongkongan, ia tak mati-mati juga. Ibrahim dan orang-orang yang membantunya nampak kelelahan karena sebelumnya mereka menghabiskan hampir 20 menit berusaha menundukkan kambing jantan raksasa itu—ia lebih lincah dan lebih liar dari sapi. Dalam nafas terengah-engah, Ibrahim melihat mata Gul.

Mata jingga kemerahan, seperti sebuah telaga darah disinari cahaya senja. Sesaat Ibrahim merasa ia terhisap ke dalamnya; suara-suara hilang dan dunia menjadi merah. Ibrahim sesak nafas, serasa tenggelam. Dadanya sakit. Istighfar, katanya dalam hati. Astagfirullahalazim... Astagfirullahalazim…

Suara-suara bergumam perlahan-lahan dan semakin jelas, semakin teratur seperti juga nafasnya. Merah kelabu mengerjap cahaya terang seraya warna-warni kembali ketika Ibrahim melihat kerumunan, yang tertawa dan tersenyum di antara kumandang takbir. Kakinya tidak merasakan getaran kehidupan dari si bandot raksasa. Selesai juga, hewan buas itu akhirnya mati. Ibrahim menghela nafas lega dan melihat ke arah sembelihannya.

 

IA tersentak lalu melompat kaget. Matanya melotot melihat seorang pemuda dengan leher tergorok lebar dan mata yang terbuka melihat ke arahnya. Nafasnya tertahan lagi. Ismail! Hatinya berteriak. Anakku Ismail!

Tak ada kata yang keluar dari mulutnya yang ternganga. Hanya ada nafas-nafas tertahan yang coba ia lepaskan. Orang-orang diam memperhatikan Ibrahim yang pelan-pelan berlutut dengan tangannya yang gemetar berlumur darah dan mendekati mayat pemuda itu. Ia membelai kepala dan wajah yang sangat ia kenal. Anak yang ia besarkan sedari kecil, ia didik dengan sepenuh jiwa raga. Kilasan memori berkelebat dengan cepat. Ismail kecil pulang membawa piala MTQ, Ismail juara kelas, Ismail juara lomba adzan. Ismail menjadi mahasiswa. Anak kebanggaan. Anak kesayangan, kini rebah penuh darah disembelih bapaknya sendiri. “Yaaaa… Alllaaaaahhhh!!!!” teriak Ibrahim menggema ke seluruh penjuru.

Para asisten Ibrahim berusaha memisahkannya dari bangkai kambing bandot yang baru saja ia sembelih. Seluruh tubuh Ibrahim berlumuran darah karena memeluk Bandot yang kepalanya nyaris putus itu. Wajahnya penuh air mata dan ia menangis meraung-raung. Hanya ia yang melihat mayat anaknya. Ia sempat melawan orang-orang yang hendak memisahkannya dari mayat anaknya, tapi orang-orang semakin banyak berkerumun, menyeretnya keluar dari halaman sekolah. Di jalan itu ia masih bisa melihat para asistennya yang mengikat kaki anaknya dan menggantungnya di pohon asam, lalu mengulitinya. Ibrahim berteriak-teriak dan tetap berusaha kembali ke mayat anaknya itu. Kulitnya sudah terkelupas, warna merah dan putih daging dan tulang terlihat jelas bahkan dari kejauhan.

 

Lebaran menjadi musibah di rumah Ibrahim si tukang lapah. Warga dan remaja masjid yang kebanyakan juga murid dan mantan murid Ibrahim di Madrasah, berkumpul di teras dan ruang tamu, sementara Ibrahim diikat di belakang rumah dengan tali tambang sambil terus menangis terisak-isak.  Istrinya, Rahma, mengelus-elus pundak suaminya sambil beristigfar. Anak bungsu mereka, Ratih, yang masih duduk di bangku SMP datang membawakan seember air, lap dan kaos polos untuk bapaknya.  Rahma menyuruh para pemuda untuk kembali ke sekolah dan mengantri pembagian kurban. Beberapa pemuda pergi, sisanya tetap berjaga di teras rumah Ibrahim sambil merokok dan mengobrol.

"Sudah tenang, Mas?” kata Rahma, ketika ia berdua dengan suaminya di belakang rumah. “Dibuka ya, iketannya, tapi Mas jangan kembali ke sekolah. Istighfar, Mas.”

Ibrahim mengatur nafasnya dan perlahan menjadi tenang. Rahma melepaskan ikatan suaminya dan melepaskan kaos oblong berwajah presiden yang berlumuran darah itu. Pelan-pelan istrinya melap tubuh suaminya, mata lelaki itu nanar bagai kehilangan jiwa. “Kalau kamu kangen anakmu, nanti kita cari dia,” kata Rahma. “Kalau dia tahu Mas susah begini, dia pasti mau pulang.”

Ibrahim diam saja. Ratih kembali membawa segelas teh hangat. Rahma membantu Ibrahim meminumnya. Lalu Rahma memakaikan kemeja dan sarung ke tubuh suaminya.

“Salam Lekom!” terdengar suara menggelegar dari pintu depan. Haji Sadeli, pemilik Bandot dan hampir seluruh hewan kurban di halaman sekolah itu datang. Para pemuda mencium tangannya secara bergiliran dan tanpa basa-basi ia masuk ke rumah Ibrahim. “Im… boim… Ente kaga ape-ape, Im?”

Ibrahim berdiri perlahan. “Alhamdulilah, nggak apa-apa, Pak.” Dari getaran suaranya terdengar beban yang sangat berat di dada.

“Tolong teh buat Pak Aji,” kata Ibrahim pada istrinya.

“Kagak ape-ape, Me. Kagak usah, ane cuma bentaran.”

Mereka lalu pindah ke ruang tamu. Anak-anak muda masih nongkrong di teras Ibrahim. Haji Sadeli memerintahkan mereka untuk bantu-bantu di Madrasah.

“Im, Ente yakin udeh kaga ape-ape?”

“Yakin, Pak. Yakin.”

“Ente kenape?”

Ibrahim diam saja.

“Ente cerita ama ane, ayo. Kayak kite baru kenal kemaren sore aje. Waktu ente pindah kemari dari Jawa dulu kan ane juga nyang bantuin. Ente ngajar di sekolah ane, jadi ustad yang ngajarin anak-anak agama, murid ente pinter-pinter. Anak ane juga pan… hampir jadi ama anak ente.” Kata Haji Sadeli, dengan menekankan kalimat terakhir sebagai sindiran bahwa ia sudah tahu apa yang jadi kegundahan karibnya ini.

Ibrahim bicara dengan perlahan bahwa ia mungkin cuma kelelahan. Ia mengakui, mungkin ia kangen pada anak lelaki pertamanya yang sudah lama pergi dan tak akan pernah kembali. Ia merasa mungkin kurang ibadah, mungkin belum bisa menerima takdir bahwa anaknya itu sudah ia putuskan hubungan darahnya. “Pak Aji tahu sendiri, kalau saya, kita semua, kecewa pada Mail. Saya minta maaf, membuat kacau lebaran tahun ini. Padahal jarang-jarang Pak Aji ada di sini, bukan di Makkah.”

“Boiim… Boim. Ente ini orang baek, Im. Insyaallah itu anak juga nanti balik ke rumah kalo udeh dapet hidayah. Ente jadi orang tua udah baek, anak disekolahin sampe tinggi, ente kerja keras halal. Sekarang udeh kasih ke Allah aja takdir die begimane. Nah ente kudu sembuh dulu. Sadar, Im.” Kata Haji Sadeli menenangkan.

“Ayo, ikut ane.”

“Ke mana, Ji?”

“Udeh ikut aje. Ikut. Me! Ane pinjem suami antum bentar.”

Mereka berdua berjalan melewati gang-gang di Kampung Jurang menuju halaman Madrasah. Ibrahim ragu, tapi Haji Sadeli menarik tangannya. Orang-orang mengantri kurban. Orang-orang melihat kepada Ibrahim. “Mane-mane?” kata Haji Sadeli. “Masih ade si Mail di mari, Im?”

Ibrahim melihat sekeliling. Potongan-potongan daging bertebaran di atas hamparan karung, beberapa sudah dimasukkan ke dalam plastik. Di pohon-pohon tergantung tulang belulang kambing-kambing dan sapi-sapi yang sudah habis dilapah.

“Ndak ada, Pak…” Kata Ibrahim.

Haji Sadeli tersenyum lalu memerintahkan pada seorang pemuda untuk memberikan Ibrahim dua plastik besar daging sapi dan daging kambing. “Ini jatah ente.” Katanya sambil menyalami Ibrahim dengan menyelipkan uang.

“Ndak usah, Pak. “

“Ah, ente basa-basi. Yok, ke rumah bentar.”

Ibrahim tampak ragu, tapi lagi-lagi Haji Sadeli menariknya. Sesampai di rumah Haji Sadeli, Ibrahim bertemu dengan istri Sadeli dan anak perempuan mereka, Zahra yang sedang menggendong seorang bayi yang masih merah. Cucunya inilah yang membuat Haji Sadeli batal naik Haji tahun ini. Setelah sedikit berbasa-basi, Haji Sadeli mengajak Ibrahim ke belakang rumah, untuk bertemu menantunya, seorang Dokter bernama Shodiq. Kebetulan Shodiq sedang cuci tangan di wastafel dapur. Ia menyambut Ibrahim dan sedikit berbincang-bincang. Shodiq sedang menyiapkan kepala kambing bandot raksasa itu untuk diawetkan dan digantung di teras depan. Ia bercerita bahwa ia pernah iseng-iseng belajar mengawetkan binatang ketika masih sekolah kedokteran. Ibrahim menahan nafas.

“Jangan takut, ente. Coba lihat dulu...” kata Haji Sadeli.

Mereka berjalan menuju pintu belakang. Shodiq membuka pintu itu dan di teras belakang, di antara jemuran dan kandang burung dara, ada kepala besar bertanduk dengan mata jingga menyala dan lidah terjulur, teronggok di atas sebuah meja kayu beralaskan goni.

Sadeli dan Shodiq memperhatikan reaksi Ibrahim. Ibrahim hanya diam memperhatikan kepala itu, tanpa berkedip.

“Im... Boim.” Haji Sadeli tak tahan untuk menyadarkannya.

Ibrahim tersenyum. “Nggak apa-apa, Ji. Saya nggak apa-apa, kok.”

Mereka menghela nafas lega dan tertawa bersama. Setelah itu mereka bicara sedikit, dan pertemuan itu diakhiri dengan pengambilan hikmah oleh Haji Sadeli, ”Semue ade hikmahnya, Im. Si Zahra udah dapet dokter ganteng. Cucu Ane, Safiq, lucu bener. Insyallah jadi anak Soleh. Ada jalannye semuanye, termasuk buat si Mail. Ntar juga ente tahu. Sekarang banyak-banyak ibadah aje, banyakin solat malem.”

Ibrahim meninggalkan rumah Sadeli dengan santai. Ia melewati Masjid, melewati halaman sekolah yang masih banyak orang mengantri. “Ustad Baim!” Teriak Pa’i si remaja masjid. Ia datang memberikan Ibrahim pisau panjangnya yang tadi tertinggal. “Maaf tadi dipake anak-anak buat motong-motong, Stad.”

“Nggak apa-apa. Makasih Pa’i.”

Ia melangkah semakin cepat ke rumah. Semakin cepat. Hingga di teras rumah akhirnya ia tidak bisa menahannya lagi.

“WOEEKKKK!!”

Ibrahim muntah di teras rumah. Ia habiskan kemuakan di perutnya dan dengan gemetar menaruh dua plastik daging itu di teras rumah. Lalu ia masuk ke dalam. Rahma bertanya ada apa, tapi ia sama sekali tidak mendengar istrinya itu. Ia masuk kamar, mengambil kunci motor dari celana panjang yang tergantung di balik pintu, menaruh pisau panjang di tas kerjanya dan membawa tas itu. Ia bawa motornya keluar dari rumah, menyalakannya dan langsung melaju.

Bukan kambing. Yang dilihatnya di rumah Haji Sadeli bukan kepala kambing bandot yang ia potong. Itu kepala Ismail. Aku sudah gila atau mereka yang gila… aku sudah gila atau mereka yang gila… aku sudah gila —Suara  motor melaju kencang, menyalip di gang-gang menuju jalan raya.

Ibrahim berhenti di depan kantor polisi. Ia memarkir motornya dengan buru-buru, lalu masuk menyerobot antrian orang-orang yang kecopetan atau kehilangan dompet di hari lebaran. Polisi yang melayani pun nampak malas-malasan, seorang bapak gemuk berkumis tipis yang tak bisa pulang dan berlebaran bersama keluarga karena sudah jatah waktu jaganya. Dari nama yang tertera di seragamnya kita tahu bahwa dia non-muslim.

“Pak! Antri, pak!” Kata Joshua Simanjuntak.

Tapi Ibrahim tak peduli. Ia lantang maju ke meja Joshua dan berkata, “Bapak harus tangkap saya! Saya baru membunuh orang!”

Senyap.

“Boleh tahu, siapa yang bapak bunuh?” Suara kecil keluar dari Polisi yang tidak pernah merasakan aksi kecuali di jalan raya, ketika ia sembunyi sambil mengawasi perempatan lampu merah yang rambunya tidak terlihat jelas dan rawan pengendara bodoh untuk ditilang.

“Anak saya sendiri,” kata Ibrahim. “Dan setelah saya bunuh, ia dikuliti, dipotong-potong, dan dimakan orang sekampung.”

Seorang gadis remaja tanggung dan ibunya yang berpakaian mentereng dan sedang duduk di hadapan Joshua melongok.

“Maaf, ibu,” kata Joshua. “Boleh bapak ini membuat BAP-nya duluan?”

Si ibu dan anak mengangguk lalu menyingkir. Ibrahim mengeluarkan senjata pembunuhnya, pisau yang ia pakai untuk menggorok anaknya dan bapaknya pakai untuk menggorok iblis. Ia bercerita panjang lebar tentang apa yang ia lihat dan alami. Joshua tentu ragu apakah orang ini waras atau gila. Tapi akal sehatnya menegaskan, tidak mungkin ia lepaskan orang ini. Kalau ia bersalah maka sudah pasti harus masuk penjara; kalau ia gila, tak mungkin ia dilepaskan apalagi dengan membawa pisau panjang yang menyeramkan ini. Seandainya ia bohong pun ia bisa tetap dituntut atas (1) membohongi aparat, dan (2) membawa senjata tajam. Dalam skenario apa pun, Joshua bisa mendapat penghargaan karena menangkap kriminal/orang gila.

Ibrahim dipenjara di Polres dan menunggu proses penyidikan. Selama dua hari ia sendirian saja di sel penjaranya, karena memang tidak banyak kejahatan yang terjadi di sana. Di hari ke tiga, Joshua membukakan sel penjara dan mengabarkan kalau Ibrahim boleh pulang. Ia sudah dijamin dan dijemput anak dan istrinya. Ibrahim berjalan di lorong penjara menuju kantor pelaporan. Di ruangan itu sudah menunggu istrinya Rahma, anaknya Ratih dan Ismail.

Ibrahim diam membisu memperhatikan anak sulungnya. Anak yang tidak ia bunuh, berdiri tegap, sehat wal afiat. Anak yang meninggalkannya lebih dari lima tahun ini. Ismail sudah jauh berbeda, kini ia lebih gemuk, pakaiannya rapih dan ia berkaca mata. Ada seorang gadis di sebelahnya, parasnya cantik, mirip bintang film Yati Octavia, dengan pakaian batik bunga-bunga warna ungu tua dan tas kulit berwarna cokelat. Si gadis tersenyum melihat Ibrahim, dan ia mendorong-dorong Ismail agar mendekat ke bapaknya.

“Buya…” kata Ismail, sambil mendekati dan mengambil tangan bapaknya, lalu menciumnya. Ibrahim gemetar, rahangnya bergetar menahan emosi. Ia memeluk anak lelakinya itu. Mereka berdua menangis. Rahma, Ratih dan perempuan muda itu menangis terharu melihat persatuan anak dan bapak.

“Ke mana saja kau, Nak? Kerja apa kau?”

“Mail tinggal di Yogja, ngajar di universitas. Seperti Buya, Mail jadi guru.” jawab anaknya.

“Buya, kenalkan,” Kata Ismail. “Ini Annie, istri Mail.” Annie menghampiri Ibrahim lalu mencium tangannya.

“Cantik benar istrimu, Nak. Seperti bintang film.” Kata Ibrahim. Tapi sebentar kemudian, Ibrahim diam melihat kalung di leher Annie. Kalung salib emas. Ia melepas pegangan tangan Annie.

“Mail,” tiba-tiba nada suara Ibrahim berubah. “Apa agamamu?”

TIBA-tiba semua kenangan buruk menyeruak masuk. Kekecewaan-kekecewaan pada anak lelaki satu-satunya, anak yang paling ia harapkan menjadi imam yang baik, menjadi anak soleh. Ia ingat kembali hari di mana ia memutuskan hubungan darah dengan anak itu. Hari di mana si anak pulang ke rumah setelah berminggu-minggu tidak pulang dan tiba-tiba melemparkan fitnah ke bapaknya.

“Dari mana saja, Mail?” Ibrahim bertanya tegas pada Ismail, seorang pemuda kurus berambut gondrong dan berjaket almamater, yang sudah berhari-hari tidak ganti baju. Ibrahim mulai berkoar tentang agama, dosa dan durhaka. Tentang kewajiban anak pada orang tua. Ibrahim menekankan pentingnya untuk menjaga keimanan dari ajaran-ajaran buruk. “Kalau Buya tahu kuliah membuatmu jadi seperti ini, lebih baik Buya tidak izinkan kamu kuliah.”

“Sebaiknya Buya nggak usah ngajarin Mail baik dan buruk, kalau Buya sendiri tidak bisa membedakan mana yang dosa dan mana yang pahala.”

“Apa maksud kamu?”

“Membunuh orang itu dosa, Buya. Apapun pembenarannya, membunuh orang yang tidak bersenjata, yang Buya bangga-banggakan setiap hendak melapahi hewan dengan pisau Ki Jagat. Itu dosa Buya. Darimana Buya tahu mereka, orang-orang yang Buya bantu bunuh, bersalah? Pernah diadilikah mereka?”

Kata-kata Ismail menghujam bagai ribuan panah langsung ke jantung bapaknya. Tak butuh waktu lama untuk emosi memuncak dan kata ‘anak durhaka, kamu tak tahu apa-apa,’ keluar membuncah dari mulut Ibrahim. Malam itu Ismail pergi tanpa membawa apapun kecuali baju yang menempel di badan dan tas berisi buku-buku kuliahnya.

“Apa agamamu?” Tanya Ibrahim pada anaknya.

“Mas,” Rahma memotong. “Jangan, Mas. Mail sudah datang jauh-jauh.”

“Muslim…” Ismail menjawab. “Mail Muslim, dan istri Mail Kristen, Buya.”

“Dua kali… Dua kali kamu mengecewakan bapakmu.” Kata Ibrahim. “Mana pisauku?” Ia bertanya pada Rahma.

“Apa-apaan, Mas?”

“Mana pisauku!?”

“Pisau Buya masih disita,” kata Ismail. “Dan kalau Buya masih kayak gini, nggak mungkin akan dikembalikan. Umi, kami pamit.”

Ismail dan Annie mencium tangan ibunya. Lalu Ismail memeluk Ratih, adik perempuannya. Ibrahim membuang mukanya di teras Polres itu, tidak mau melihat wajah anaknya sama sekali.

“Assalamualaikum.” Kata Ismail.

Hanya Rahma dan Ratih yang menjawab Waalaikumsalam. Ibrahim sama sekali tidak mau melihat anak lelaki satu-satunya itu. Ia hanya melihat cermin kumal di tembok teras kantor polisi, dengan sisir kecil yang menggantung. Ketika anak dan menantunya berlalu, Ibrahim melihat wajahnya di cermin berubah. Hidung dan rahangnya memanjang, wajahnya penuh rambut berwarna cokelat kehitaman, kepalanya bertanduk besar melingkar dan matanya berwarna jingga kemerahan.

 

Washington DC, 5 Agustus 2015.
    

Last modified on: 24 September 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni