(3 votes)
(3 votes)
Read 2564 times | Diposting pada

Grimbly Sue

Lina PW
Oleh:
Lina PW
 Prosa
Grimbly Sue Repro: Jakartabeat

 

Grimbly sue merapikan baju. Ia punya alasan untuk merapikannya. Bagaimanapun, ini hari besar. Banyak yang akan menjadi saksi kesuksesannya selama ini. Ah, kemejanya yang paling bagus sudah rapi. Ia mematut-matut diri lagi di depan cermin. Pikirnya, apa lagi yang kurang? Ya ya ya, ia lalu mengambil sebotol parfum yang setengah isinya habis lalu menyemprotkannya di titik-titik yang dulu dicontohkan orangtuanya. Di bawah daun telinga, di pegelangan tangan. Sebagai penghabisan, ia menyemprotkan saja parfum itu di bagian depan kemeja. Yap, ia sudah siap. Ia tersenyum untuk kali terakhir pada pantulannya sendiri dan melangkah ke luar kamar.

Wangi supnya yang melegenda tercium di seluruh ruang tamu, tidak heran karena dapur memasaknya terletak persis di ruangan sebelah ruang tamu, hanya dipisahkan oleh lorong kecil berpintu. Ia mempunyai dua orang pekerja untuk memasak berpanci-panci sup yang diakui sebagai resep rahasia keluarga Sue. Dua pekerja lainnya memotong dan membumbui isian sup. Grimbly Sue adalah pembuat sup paling sukses di kota kecil tempat kami lahir dan hidup.

Kota ini memang sangat kecil dan bisa dibilang miskin. Kami biasa makan makanan seadanya, roti dengan mentega atau bubur gandum hambar untuk makan pagi, bubur kacang polong dan roti keras untuk makan siang. Namun, makan malam kami selalu ditunggu. Saat itulah, sup hangat berdaging buatan Grimbly Sue akan menghangatkan malam kami yang dingin dan hambar. Kami menyenangi sup di penghujung hari bukan tanpa alasan. Di pagi hari, kami sudah bekerja, bekerja amat keras sehingga beberapa orang bahkan tidak bisa merasakan badannya lagi saking merasa nyeri.

Sebagian dari kami adalah buruh bangunan di kota sebelah. Jaraknya memang tak terlalu jauh, tetapi cukup membuat pegal dan lapar bila sedang lelah. Kota sebelah cukup kaya, yang bekerja sebagai buruh bangunan senior pasti bisa membeli makanan yang jelas lebih mahal tapi lebih enak. Sedangkan, buruh-buruh yang tidak terlalu beruntung memilih menyimpan uang untuk keperluan lain dan pulang ke kota saat makan malam. Mereka biasa pulang dengan perut keroncongan. Nah, saat itulah sup buatan Grimbly Sue selalu terbayang. Karena para ibu juga bekerja sehingga tidak ada yang memasak makanan. Makan pagi dan siang dibuat ekstra cepat, khusus untuk makan siang akan dibungkus agar bisa dimakan di tempat kerja. Mereka bekerja ekstra untuk menyekolahkan akan-anaknya, karena biaya sekolah mahal sekali. Para orangtua ini berasal dari masa yang berbeda denganku. Awalnya, mereka hidup sederhana. Cukup makan dan minum. Begitu masuk orang-orang dari pusat yang menyatakan anak-anak mereka harus bersekolah, mereka merasa bingung. Untuk apa bersekolah, toh, mereka yang tidak bersekolah tetap bisa makan. Namun, semuanya berubah sejak Grimbly Sue pulang ke kota kami.

Grimbly Sue pergi dari kota kami sejak usia sangat dini. Ia, ikut orangtuanya sekaligus bersekolah. Lama tak terdengar kabar, hingga beberapa bulan lalu ia kembali dan terlihat sangat bagus dalam setelan jas dan dasi licin yang terlihat mahal. Itu karena bersekolah, bisik orang-orang. Ya ya, kau lihat potongan dan rambutnya yang selicin sutra? Itu juga berkat sekolah. Begitu bisik-bisik bernada bangga bahwa ada seseorang dari desa kami yang sudah bersekolah dan rambutnya selicin sutra. Dengan senyum yang memamerkan giginya, Grimbly Sue selama beberapa malam berturut-turut membagikan sup dengan daging yang hangat dan nikmat, bahkan kami anak-anak kecil pun dibagikan sup itu juga. Enak sekali, baru kali ini aku makan daging selain unggas. Setelah beberapa malam yang menyenangkan itu, dibukalah semacam kedai milik Grimbly Sue yang hanya menjual sup di malam hari. Sup hangat dan gurih nikmat itu, banyak yang antri untuk membelinya. Tidak mahal, tidak, tapi orang-orang merasa kini sangat perlu untuk menyekolahkan anaknya agar bisa berjualan sup seenak dan seramai Grimbly Sue. Selain itu, rambutnya yang selicin sutra juga menjadi dambaan tiap ibu agar juga ditiru anak mereka.

Maka, jadilah dari bulan lalu, para orangtua berbondong-bondong bekerja untuk menyekolahkan anaknya, dan rasa sup Grimbly Sue pun terasa lebih nikmat lagi saat mereka pulang kerja dan merasa kelaparan.

Semakin laris supnya, sedikit demi sedikit semakin meningkatlah harga sup ini. Perubahan pun kami lihat pada rumah Grimbly Sue yang dulu saja sudah bagus, kini semakin bagus dengan dekorasi keramik pada dindingnya, bergambar wajah tersenyum sang pemilik. Harga tidak menjadi masalah bagi warga desa yang sudah sangat menikmati tiap tetes sup daging yang dihidangkan Grimbly Sue. Orang desa tetap bisa bekerja sambil menikmati sup nikmat di malam hari, dan menabung untuk sekolah anaknya.

Grimbly Sue melangkah ke depan rumah. Ini hari besarnya, di kedai kecilnya, yang tiap malam dipenuhi penduduk, akan datang seorang tamu mencicipi sup kebanggaan desa karena supnya diyakini membuat desa ini terkenal. Setelah mencicipi sup, si orang ini akan menuliskan atau menyorotkan kamera atau bercerita tentang kedahsyatan sup ini. Penduduk tidak terlalu peduli karena yang terpenting bagi mereka adalah melihat seseorang dari kota lain datang ke desa tersebut untuk mencoba sup desa mereka. Hal itu saja sudah menyenangkan hati.Ya, sup desa mereka, sebegitu dalam rasa memiliki masyarakat terhadap sup nikmat buatan Grimbly Sue.

Tak berapa lama menunggu, datanglah si tamu yang ditunggu. Sang tamu, sama dengan Grimbly Sue, gemar tersenyum lebar untuk memamerkan gigi-giginya yang besar. Perutnya yang buncit bergerak naik turun saat ia jalan. Ia tampak memasuki kedai Grimbly Sue. Penduduk menikmati tiap desah dan hela nikmat sang tamu saat memuji-muji sup buatan Grimbly Sue. Ia mungkin sudah menjadi semacam pahlawan di desa kami karena beberapa penduduk bahkan menangis penuh haru saat si tamu menjabat tangan Grimbly Sue di penghujung kedatangannya yang untuk mengatakan bahwa ia akan kembali. Sembari melambai pada penduduk, ia menampilkan senyum lebarnya.

Lepas dari hari besar dengan tamu berperut besar itu, hari-hari berjalan seperti biasa. Seperti biasa, penduduk memenuhi kedai Grimbly Sue di malam hari sepulang kerja. Seperti biasa, para orangtua bekerja mati-matian demi menyekolahkan anaknya agar bisa berambut licin dan berperut buncit seperti Grimbly Sue. Yang tak biasa, hanyalah penduduk mendengar lebih banyak kematian di bulan-bulan ini. Lebih banyak daripada yang terjadi pada bulan-bulan lalu. Memang, akhir-akhir ini cuaca tidak menentu, apalagi karena tambang-tambang mulai dibuka, yang artinya lebih banyak pekerjaan untuk orangtua kami, tetapi lebih buruk juga bagi lingkungan kami tinggal.

Beberapa bulan lagi, aku akan memulai sekolahku yang pertama. Bersama teman-temanku, kami menikmati beberapa bulan sebelum masuk tempat yang kata orang-orang membosankan, tapi tak apalah, yang penting bisa menjadi seperti Grimbly Sue. Berambut licin, dan memiliki senyum lebar. Oh, bicara tentang senyum, senyum Grimbly Sue juga berbeda dengan senyum orang-orang di sini. Senyum orangtuaku biasanya kecil dan penuh harap. Mungkin karena perut mereka selalu lapar. Jadi, otot yang menggerakkan tubuh mereka hanya aktif sebagian. Kalau Grimbly Sue, kuperhatikan, senyuman tidak pernah surut dari wajahnya, selalu lebar dan menunjukkan kelebihan makan.

Sudah lewat beberapa tahun, kami masih memakan sup Grimbly Sue tiap malam, karena itulah satu-satunya daging di hari kami. Memang, kadang ada juga unggas yang kami makan, itu pun bila kami beruntung, benar-benar beruntung. Menemukannya di jalan atau menangkapnya di hutan yang letaknya jauh. Nah, kan, hanya kalau kamu beruntung dan berusaha keras saja kamu bisa memakan daging, itu pun daging unggas. Tidak seenak daging dalam sup buatan Grimbbly Sue.

Angka kematian masih tinggi. Dari angka-angka itu, desa kami juga kehilangan anak-anak. Namun, orangtua kami tak terlalu khawatir, sudah ada yang mengurus itu semua, kata mereka. Fokus saja bersekolah dan menjadilah seperti Grimbly Sue, tambah mereka lagi. Kami menurut, tanpa pertanyaan, kami pergi keluar dan bermain lagi. Mungkin, kami sudah menjadi seperti orangtua kami. Tidak banyak berpikir, bekerja dengan otot saja, angkut, angkut, angkut. Seperti buruh sejati.

Suatu hari, desa ini dikejutkan oleh pembongkaran kuburan desa yang terletak di pinggir desa. Entah siapa yang membongkar kuburan-kuburan itu, mayat-mayat yang dikubur lusa lalu itu pun sudah tak ada. Diseret anjing liar dan dibawa ke hutan, kata para petugas dengan seragam abu-abu terang itu kepada masyarakat desa, khususnya kepada Grimbly Sue yang sangat mereka sayangi. Tidak usah khawatir kata mereka, desa kami akan aman.

Tidak ambil pusing terlalu larut, aku dan teman-temanku tetap bermain seperti biasa. Hari ini taman bermain kami dijadikan tempat berkumpul para orangtua. Mereka membicarakan sesuatu tentang persiapan sekolah. Kami yang anak-anak ini disuruh bermain di sudut lain kota. Aku berlari ke lorong dekat rumah Grimbbly Sue. Teman-temanku mengikuti. Kami menendang-nendang bola sambil tertawa. Tidak serius, tidak. Kami hanya bermain-main dengan riang, sebelum berangkat sekolah. Lalu, si bodoh Bryan menendang bola kelewat keras dan memecahkan kaca dapur Grimbly Sue. Wangi sup menyebar di lorong gang. Kami menunggu dalam diam dan berkeringat.

Grimbly Sue keluar dengan tiga orang juru masaknya, membawa karung-karung besar. Sambil tersenyum lebar, ia berkata, “Well, well, well, lihat siapa yang akan jadi daging dalam sup malam ini.”

Aku berusaha tertawa mendengar leluconnya, saat kusadari dia serius dan karung-karung besar itu memang untuk kami berempat. [*]

Last modified on: 10 Februari 2015

    Baca Juga

  • Mata-mata Parramatta: Catatan Tulis Residency Bagian II (Parramatta)


    Mata-mata di Parramatta tidak melulu berwarna biru. Ketika duduk di dalam kereta, atau bus, atau ketika saya berjalan kaki menyusuri toko-toko, kafe, stasiun, taman, dan jembatan, saya akan melihat bahwa…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Inti Cerita yang Buruk


    Setiap harinya Justin Horgenschlag —seorang asisten juru cetak berupah tiga puluh dolar per pekan— melihat kurang lebih enam puluh wanita yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka, dalam rentang waktu empat…

     

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni