(11 votes)
(11 votes)
Read 4390 times | Diposting pada

Budi

Budi Ilustrasi: www.politicalhumor.about.com

 

Hai, namaku Budi Jaya Makmur Abadi. Tapi aku biasa memaksa orang untuk memanggilku Jay.

Aku tak terlalu suka namaku. Terlalu ramai, dan ya, seperti toko bangunan. Tapi mereka bilang nama adalah doa dan harapan orangtua untuk anaknya. Ibuku adalah satu-satunya orang yang memanggilku Budi. Aku sebenarnya tidak suka dipanggil Budi. Karena aku tampan. Dan bagiku, orang tampan lebih cocok dipanggil Jay. Lagipula, semua Jay yang aku tahu adalah orang sukses.

Semua Jay yang kumaksud adalah Jay Subiakto, Jay-Z, dan Jay Chou. Baiklah hanya tiga itu. Aku memang berlebihan. Intinya aku ingin dipanggil Jay, bukan Budi. Tapi bagaimanapun dia ibuku dan aku sayang padanya, jadi aku berusaha menerima itu.

Aku tinggal dengan ibu dan adikku. Ayah sudah meninggal. Kami melarat dan tinggal di desa miskin yang penduduknya bodoh dan jauh dari peradaban. Aku ragu apa mereka tahu apa bedanya laptop dengan wajan double-pan kebanggaan Happy Salma. Kami hanya bisa nonton televisi di balai desa atau di rumah Pak Haji Amir, orang paling kaya sekampung. Tidak semua orang punya ponsel genggam bermerek buah-buahan. Dan jangan tanya tentang sambungan internet.

Tapi kurasa Tuhan sayang orang tampan. Aku tidak bilang wajahku mirip Primus, tapi dibanding mayoritas populasi pemuda di desaku.., hmm, analoginya begini; kalau aku Nabi Yusuf, maka mereka itu semacam sayur-sayuran. Nah dengan wajah ini aku bisa dengan mudah memikat Anisa anak Pak Haji Amir yang masih SMP. Usia kami terpaut empat tahun.

Jangan mesum dulu kalian. Alasan aku mau memacari anak ingusan itu adalah supaya aku bisa meminjam komputer sekaligus internet di rumah Pak Haji Amir. Mudah sekali memikat Anisa dan ayahnya. Anisa bilang aku mirip Justin Bieber. Sebenarnya aku tersinggung, tapi itu idolanya, jadi aku menurut saja.

Pak Haji Amir sangat kaya dan agak fanatik terhadap sesuatu yang berbau Arab. Jadi waktu kubilang kambing-kambingnya sangat gemuk dan besar seperti unta rasulullah, dia langsung simpati padaku. Internet di rumah Anisa lambat sekali. Setiap membuka tab baru, loading time-nya cukup untuk ditinggal sholat tarawih. Mengesalkan memang. Tapi itulah satu-satunya internet yang bisa kupakai dengan leluasa, karena komputer di sekolah sungguh menyedihkan dan industri warnet, selain sedikit, juga tidak ramah pada kantongku.

Kurasa aku diizinkan sesuka hati datang ke rumah Pak Haji Amir karena aku pernah bilang padanya aku ingin meminang Anisa dengan Bismillah. Pak Haji mana tak senang punya calon menantu seperti aku?

Sampai sini pasti kalian berpikir aku adalah sosok orang yang sombong dan berkepribadian narsistik.

Belum. Kalian belum mengenalku.

Perlu kutambahkan bahwa aku ini juga sangat cerdas. Baiklah, kalian benar, aku sangat narsistik. Tapi aku selalu punya semangat besar untuk membangun desaku. Mungkin aku satu-satunya orang yang peduli bahwa separuh luas genteng sekolah harus ditambal agar siswa tidak diliburkan saat hujan turun.

Bahwa sistem penjualan hasil panen harus diperbaiki agar petani di desa tidak merugi karena ulah tengkulak. Bahwa orang-orang di desaku harus lebih pintar. Aku selalu ingin seluruh warga desa hidup sejahtera. Setiap pulang sekolah, aku dan adikku mampir ke pekarangan lumbung padi, tempat Ibu bekerja. Lalu sebelum petang kami pulang bersama, melewati jembatan kayu di atas sungai kecil yang penuh dengan batu. Aku biasa menyebut jembatan ini Jembatan Waru. Asal sebut saja, karena di ujung seberangnya banyak tumbuh pohon waru.

“Ibu, tidakkah jembatan ini sudah terlalu tua? Kenapa tidak diperbaiki?” tanyaku suatu sore.

Ibu tersenyum, “Perbaikan selalu butuh biaya, Nak.”

“Tapi ini sangat rapuh dan licin karena lumut. Mungkin sepuluh tahun lagi akan banyak orang yang celaka karenanya.”

“Ibu tahu, Nak. Semoga suatu hari nanti petinggi desa akan punya dana yang cukup untuk memperbaikinya.”

“Kalau begitu, sampai saat itu tiba, kita harus hati-hati ya setiap lewat sini. Terutama Ibu, karena Ibu paling sering menggunakan jembatan ini.”

“Ya Nak, Ibu akan hati-hati.”

***

Semakin aku beranjak dewasa, aku semakin menyadari maksud ibu dengan “dana yang cukup” dan asosiasinya dengan “petinggi desa”. Pegawai di kantor kepala desaku tidak menggunakan dana dari pemerintah daerah dengan semestinya. Alokasi dana terbesar dipakai untuk menyewa biduan dangdut setiap panen raya dan hari libur lainnya. Bukan untuk perbaikan fasilitas desa, sekolah, atau sistem kesehatan.

Pegawai kantor kepala desa memakan sesuatu yang bukan hak mereka. Lama-lama aku mulai familiar dengan apa yang dimaksud dengan korupsi. Dulu kukira korupsi adalah kata kerja yang hanya dipakai oleh orang berseragam di Jakarta. Mataku makin terbuka setelah menyadari bahwa guru-guru dan kepala sekolahku juga melakukan hal yang sama.

Dana bantuan operasional sekolah dipakai untuk biaya umroh kepala sekolah. Bendahara memakai sumbangan donatur untuk biaya nikah siri. Bahkan beberapa guru memakan uang para siswa. Ada saja dana yang dicatut untuk membayar beragam keperluan, dari cicilan motor sampai obat kuat pria dewasa. Semakin tinggi wewenang mereka, semakin besar korupsi yang mereka lakukan.

Akhirnya aku tahu bahwa ternyata desaku tidak semiskin yang aku kira. Dana selalu ada, tapi tidak dipakai sebagaimana mestinya. Lalu sejak duduk di bangku SMA, aku bertekad untuk belajar giat, menjadi pintar, dan menjadi pemimpin yang benar supaya aku bisa membangun desaku. Itulah yang menjadi alasan mengapa aku butuh internet. Aku suka membaca. Aku suka wawasanku bertambah. Dan itu tidak kudapatkan dari buku teks sekolah lapuk dan harian lokal yang hanya memuat berita tentang harga cabai, ramuan herbal penumbuh rambut, serta liputan kriminalitas esek-esek.

Aku belajar banyak. Nilaiku selalu bagus. Dengan bantuan internet aku jadi mengerti bagaimana caranya memperoleh beasiswa ke universitas terbaik di dalam dan di luar negeri.

Aku mulai menyusun rencana. Aku ingin menjadi orang yang sukses, bersih, dan mampu membawa perubahan bagi sistem pemerintahan Indonesia yang korup. Aku benci koruptor.

Akhirnya pada suatu pagi kutunjukkan surat balasan yang kuterima dari sebuah universitas terkemuka di negara ini, “Ibu, aku akan melanjutkan sekolah di Jakarta.”

Ibu menangis. Aku tahu dia bangga padaku. “Jangan khawatir. Aku akan berhemat di sana. Akan kusisihkan uang biaya hidup dari beasiswa itu dan kukirim untuk Ibu setiap bulan.” Ibu memelukku erat.

Aku melanjutkan, “Aku ingin membahagiakan Ibu dan Aleks. Aku ingin membangun desa kita. Jika aku pulang nanti, yang pertama akan kuperbaiki adalah jembatan Waru.”

Oh iya, nama adikku Aleks. Benar, ALEKS. Dengan ejaan yang disempurnakan, seperti kata taksi. Dari format namanya saja, kalian sudah bisa duga bahwa Aleks sebenarnya bukan saudara kandungku. Dia anak bibiku yang meninggal tak lama setelah melahirkannya. Almarhum bibiku dihamili pacarnya, tukang ojek flamboyan yang pelupa. Ya, pelupa, karena tidak pernah ingat gadis mana saja yang sudah pernah ia tiduri.

Ayah Aleks menitipkan Aleks pada ibuku karena dia mau kawin lagi. Si brengsek ini sepertinya juga tidak pintar memilih nama. Mungkin karena malas belajar, dia jadi bodoh dan hanya mengenal 25 huruf dalam susunan abjad.

Aleks anak yang baik, tapi agak pandir, kemayu, dan tidak punya keahlian apa-apa. Waktu kecil, dia suka main rumah-rumahan dengan anak perempuan. Dia paling senang peran sebagai pembantu yang tugasnya menyisiri rambut anak majikan. Selain itu, Aleks juga jelek. Kasihan sekali, aku rasa dia akan sulit menjalani hidup.

Tapi bagaimanapun, aku sayang Aleks. Itulah sebabnya aku selalu merasa aku harus menjadi sosok yang dapat dia andalkan. Keluargaku hanya Ibu dan Aleks. Aku ingin mereka bahagia.

***

Ibu kota memang tidak ramah pada pendatang. Persaingan hidup lebih ketat dari celana jeans Vidi Aldiano. Banyak rekanku sesama perantau akhirnya menyerah. Tapi selalu ada pengecualian untuk orang yang cerdas, bertekad baja, dan tampan. Di sini punya otak dan niat saja tidak cukup.

Aku pernah membaca artikel yang kalau tidak salah judulnya, “Kini Orang Jelek Bisa Sulit Dapat Pekerjaan”. Aku tidak tahu sesahih apa data itu, tapi aku mengalaminya sendiri. Tidak seperti temanku yang wajahnya pas-pasan, jalanku selalu dimudahkan. Selain karena kerjaku prima, orang juga lebih mudah suka padaku. Aku sangat bangga.

Mungkin jika surga punya sistem untuk memilih penghuninya berdasarkan penampakan, setelah kiamat nanti niscaya aku ditempatkan sekelompok dengan kaum seperti Fahri Albar dan Drg. Fadly. Di sana kami akan berpesta bersama dan saling memanggil “Bro”.

Karirku melesat. Kini aku bekerja untuk sebuah instansi pemerintah dengan posisi bergengsi. Gaji tidak besar, tapi sampingan banyak. Setiap dinas, pundi-pundiku terisi lebih cepat. Aku baru menyadari mudahnya mencari uang. Apalagi saat ini aku dipercaya menjadi pemegang catatan keuangan sebuah proyek besar.

Setiap ada kegiatan, aku mampu menyisihkan dana untuk masuk ke kantongku sendiri. Apa? Menurutmu aku korupsi? Enak saja. Inilah imbalan atas jerih payahku bekerja dengan sangat baik hingga berhasil menghemat dana proyek. Kenapa harus kukembalikan? Nanti dimakan Gayus.

Aku semakin terbiasa dengan gaya hidup seperti ini. Aku menikmati caraku mencari uang. Baiklah, mungkin kalian benar, aku sedikit korupsi. Tapi sudahlah, semua orang di kantorku juga melakukannya! Lagipula aku punya pembenaran. Aku melakukan ini semua demi keluarga dan desaku, bukan semata-mata demi diriku sendiri.

Sembilan tahun sudah aku di Jakarta. Seharusnya aku sudah pulang sejak tiga tahun lalu, tapi aku merasa uangku belum cukup. Aku juga tak rutin lagi mengirim uang untuk Ibu dan Aleks, atas permintaan Ibu sendiri.

“Budi anakku. Kamu tidak perlu lagi mengirim uang ke rumah. Dengan kirimanmu yang sebelumnya, Aleks sudah bisa punya usaha sendiri. Dia buka salon, dan lumayan ramai. Hasilnya cukup untuk makan sehari-hari. Kami bahkan bisa meminjamkan beras untuk tetangga dan menyumbang buku untuk sekolahmu dulu. Aleks bilang pada pengurus bahwa itu sumbangan darimu. Sekarang lebih baik kamu gunakan uangmu untuk keperluanmu sendiri, tabung yang banyak agar kamu bisa segera pulang. Pak Haji Amir dan orang-orang di kampung sering menanyakanmu. Ibu rindu padamu, Nak.”

Aku juga rindu Ibu. Sesungguhnya dengan uang tabunganku sekarang, aku sudah bisa pulang kampung berkali-kali dan memperbaiki Jembatan Waru yang selalu Ibu dan aku lewati dalam perjalanan pulang dulu.

Tapi aku selalu merasa takut uangku tidak cukup untuk membangun infrastruktur desa lainnya serta menafkahi diriku sendiri sampai di hari tua nanti. Aku bisa saja mengirim uangku lewat Aleks dan setidaknya meminta dia memperbaiki Jembatan Waru seperti janjiku dulu. Tapi aku tidak percaya pada pejabat kampung. Bisa-bisa mereka merampas uang itu dari Aleks. Sudahlah, Ibu saja bisa begitu sabar, jadi aku yakin desaku juga bisa menunggu.

***

Aku tidak pernah melupakan siang itu.

Teleponku berdering dan kali ini aku mendengar suara Aleks  di seberang. Tidak lazim. Karena biasanya Ibu selalu bicara duluan.

“Mas”, nada suaranya terdengar panik. “Ibu kecelakaan. Saat ini tak sadarkan diri. Mas kapan pulang?”

***

Waktu itu hujan deras dan jembatan menjadi sangat licin. Beberapa kayu sangat rapuh. Dan batu-batu di bawah jembatan itu sangat keras. Begitu cerita Aleks.

“Bukankah Ibu dulu bilang akan selalu berhati-hati??!!” Aku tidak tahu kenapa aku berteriak seperti itu di telepon.

Aku tahu itu bukan salah Ibu. Aku mendengar Aleks mulai menangis di sana. Aku ingin membunuh diriku sendiri. Aku menutup gagang telepon. Aku terpukul karena merasa tidak berdaya.

Aku lebih tidak berguna daripada Aleks.

Aleks yang tidak tamat SD, yang wajahnya seperti jamban, mampu memanfaatkan uang dariku yang jumlahnya tidak seberapa untuk mengurus Ibu dan orang sekampung. Aku, dengan otak ini, fisik ini, serta harta ini tidak mampu melakukan apa-apa. Arogansi dan ketamakan membuatku lupa pada namaku. Nama yang selalu digunakan Ibu untuk memanggilku.

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku benci diriku sendiri.

Aku bergegas mengemasi koperku. Aku ingin segera pulang. Aku ingin bertemu Ibu.

Lalu telepon berdering lagi.

“Mas,” Aleks terisak, “Ibu meninggal.”

 

Jakarta, 9 September 2011


Last modified on: 24 Desember 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni