(8 votes)
(8 votes)
Read 837 times | Diposting pada

Bagaimana Cara Tetanggamu Menceritakan Sesuatu Tentangmu

Bagaimana Cara Tetanggamu Menceritakan Sesuatu Tentangmu thesefootballtimes.co

 

Kau tahu bahwa setiap orang pasti membenci sesuatu. Tidak ada orang yang mencintai segala hal. Jika temanmu selalu terlihat bahagia dalam hidupnya, sering melempar senyum, bukan berarti ia bukan pembenci. Manusia terlahir dengan bakat untuk menyembunyikan apapun yang ia mau. Terlebih tetanggaku yang satu ini.

Oh, sebentar, mungkin kau merasa aku tetangga yang jahat dan suka membicarakannya ketika ia tidak ada. Aku tak peduli sebab kuyakin membicarakan orang adalah hal yang baik. Dahulu, kita bisa merdeka karena sering menggosipkan perilaku kurang ajar penjajah, bukan? Kita memaki Jepang diam-diam, lalu berlagak tunduk di hadapannya. Sifat seperti itu, syukurnya, menghasilkan kemerdekaan. Nah, anggap saja kali ini aku sedang mengupayakan sesuatu yang baik. Kuyakin temanku ini tak akan dongkol selama ia tak tahu jika sedang aku bicarakan.

Mari panggil saja dia Bur, yang sore itu akhirnya memaki anak-anak kecil setelah kaca jendela rumahnya pecah. Cerita tentang kaca jendela pecah sebelumnya hanya kutahu dari serial kartun Doraemon. Tokoh Nobita, Suneo, dan Giant sering bermain sepak bola di lapangan yang tidak terlalu luas di kompleks perumahan yang membosankan itu. Biasanya, tiba-tiba bola merangsek masuk ke salah satu rumah warga di dekat lapangan dan menghancurkan beberapa benda seperti: kaca jendela, pot bunga, atau yang nelangsa mengenai kepala si empunya rumah. Sore itu, adegan tersebut menimpa rumah Bur.

Sejujurnya aku pengin tertawa lepas kala itu. Namun tawaku mendadak ciut saat Bur menyemprot anak-anak tersebut dengan makian yang begitu pedas. Jika kau mengenal Bur dan sudah hidup bertahun-tahun sebagai tetangganya, amarah adalah hal yang asing jika mesti dikaitkan dengan sosoknya.

Sebelum kau berspekulasi ini-itu tentang kemarahan Bur, akan kuceritakan kronologisnya secara singkat. Paling tidak supaya kau bisa memahami sebelum mengomentarinya.

Setiap sore, anak-anak (ya kau mestilah paham bahwa di sini anak-anak yang kumaksud adalah manusia-manusia boncel yang masih disuapi emaknya dan konon kencingnya belum lurus) sering bermain-main menendang bola di depan rumah Bur. Tidak hanya rumah Bur sebetulnya, sih, melainkan beberapa rumah yang memanjang di area jalan itu.

Anak-anak boncel itu sering mengimajinasikan bahwa jalanan kompleks adalah miniatur dari San Siro, atau paling tidak Stadion Gelora Bung Karno di Senayan. Di ujung-ujung tiap jalan ditaruh sepasang sandal dengan jarak yang seolah-olah merepresentasikan tiang gawang. Mereka berlagak seperti pemain liga profesional, sekalipun kenyataannya mereka bermain sangat urakan: tanpa alas kaki, tanpa wasit, tanpa garis keluar yang jelas, dan diperbolehkan memaki ke sesama.

Entah, mungkin mereka terlalu asyik menikmati pertandingan, Sobri si anak yang dikenal sebagai jagoan sepak bola di sekolahnya menghalau bola dengan kaki kirinya. Cukup kencang namun tak jelas arahnya kemana. Tiba-tiba bunyi kaca jendela pecah terdengar. Anak-anak itu paham bagaimana bunyi kaca jendela ketika pecah. Khas sekali bagi telinga mereka. Pertandingan mendadak berhenti. Pak Bur keluar memaki sembari memegang sapu lidi di tangannya. Ia mengayun-ayunkannya bak seorang samurai yang baru keluar dari pertapaan.

Tak sempat meminta maaf, anak-anak ingusan itu langsung kocar-kacir dalam hitungan detik. Ada yang berlari ke gang sebelah, ada yang masuk ke rumah, kebanyakan jejaknya tak terendus. Hilang begitu saja. Bur dengan urat-urat yang masih menyisa di sekitar keningnya hanya menghela napas lalu kembali masuk. Sejak saat itu Bur berhenti tersenyum dan mulai jadi pemarah. Ia memarahi hampir setiap anak kecil. Ia memarahi hampir setiap anak kecil yang bermain bola. Ia memarahi hampir setiap anak kecil yang bermain bola, terlebih di depan rumahnya.

Mungkin kau penasaran mengapa Bur bisa murka. Sebagaimana cerita yang baik, Bur memang tak memberi tahu alasannya kepada tetangga-tetangga di sekitar. Berkat itu gosip-gosip baru mendadak lahir di wilayah perumahan ini.

“Mungkin Bur sudah gila.”
“Ah, mana mungkin? Dia kan mudah tersenyum.”
“Karena senyum mulu jadi gila.”
“Bur kena penyakit darah tinggi tahu!”
“Dasar sok tahu.”
“Bur nggak bisa main bola, makanya sensi.”

Aku sebetulnya pusing tinggal di daerah yang dihuni oleh banyak cenayang. Untuk itu cerita kutahan sampai segini dulu. Mungkin akan kulanjut jika memang aku pengin. Jika tidak ada lanjutannya berarti aku sedang ingin tidur siang. Begitu saja.

*


Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan. Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan yang pemerintahnya ngablu. Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan yang pemerintahnya ngablu dan tukang gusur. Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan yang pemerintahnya ngablu dan tukang gusur dan mengalihfungsikan tanah lapang kami menjadi mal.

Sejak tanah lapang kami berubah menjadi mal, dan tanah lapang yang selanjutnya berubah menjadi perumahan, anakku jadi bermain bola di jalanan. Bermain bola di jalanan adalah cara kreatif anak-anak untuk bisa menendang bola sekalipun mereka telah tak memiliki lapangan. Tapi cara kreatif memang hanya terkesan mewah di pikiran. Dalam praktiknya, kau mestinya paham, itu sangat menjengkelkan. Pertama, ukuran lapangan sepak bola tidak seramping jalan aspal di kompleks ini. Tak ada formasi 4-4-2, apalagi taktik parkir bis. Bisa menendang bola saja sudah syukur. Kedua, kau mesti membuat gawang dengan sepasang sandal (apapun merknya), yang dalam kasus ini sering membuat keributan apakah golnya sah atau tidak. Ketiga, tak ada batas jelas antara arena pertandingan dan bukan. Kau bisa-bisa saja mengaku bola belum keluar lapangan padahal sebetulnya bola sudah berkali-kali nangkring di pagar rumah orang. Sungguh itu mengajarkan sikap curang  sejak dini. Keempat, jalan aspal adalah tempat pertarungan sepeda motor anarkis dan pengendara mobil yang tak tahu aturan. Alasan keempat inilah yang membuat Han, anakku, meninggal.

Ketika itu aku mendapati kepala anakku sudah mengucurkan darah yang sumber pastinya sendiri tak bisa kupahami. Di wajahnya, debu dan darah sudah menjadi adonan yang tercampur rata. Gigi depannya tanggal satu dan menghilang begitu saja. Dari sekian banyak anak yang bermain, mengapa mesti anakku yang bernasib sial?

Beberapa orang bijak bestari menghampiriku dan mengatakan bahwa ini adalah takdir Tuhan. Katanya, yang berpulang adalah orang-orang yang disayang. Kalau Tuhan memang sayang mengapa ia memisahkannya dariku? Apa jangan-jangan Tuhan tidak punya teman bermain bola di sana? Aku benci sekali dengan perkataan orang-orang bijak yang sok mengerti tentang apa yang kurasakan. Han adalah satu-satunya orang yang setia menemaniku. Dan, hanya gara-gara bola, ia mesti tewas begitu cepat. Sungguh masa kecil yang terlalu ringkas untuk anak hebat sepertinya. Dalam hitungan detik setelah itu, aku langsung membenci sepak bola. Bahkan apapun yang berhubungan dengan bola.
   
Berikut enam hal yang kubenci berkaitan dengan sepak bola dan bola-bola lainnya. Daftar tulisan ini kutempel tepat di atas cermin agar diriku selalu ingat tentang apa-apa saja yang mesti kubenci:

1.  Sepak bola hanya dimainkan oleh orang-orang elit. Untuk bisa main di lapangan besar mesti masuk sekolah sepak bola dulu. Biaya masuk sekolah sepak bola itu tidak murah. Belum iuran bulanannya. Belum beli kostumnya. Beli sepatu Adidasnya. Dan, jangan lupakan ongkos suap jika ingin dimasukkan dalam tim utama. Jika ingin main di lapangan umum tentu perlu antre berjam-jam. Belum lagi anak kampung sebelah itu kalau main suka nggak tahu waktu. Main terus berjam-jam dan baru beres ketika matahari sedang terik-teriknya.

2.  Sepak bola adalah olahraga haram yang secara garis besar sudah ditasbihkan menjadi arena tarung para penjudi. Dari liga amatir sampai profesional selalu ada kasus pengaturan skor. Dari judi konvensional sampai digital semua menyebalkan. Skor mudah diatur tapi prestasi tak juga datang. Aku tak mau berkoloni dengan para penjudi bodoh seperti mereka.

3.  Sepak bola mengajarkan kekerasan. Sekalipun tidak dikelompokkan dalam cabang gulat, sepak bola hampir pasti menghadirkan kekerasan di dalamnya. Mulai dari adu bodi, sliding tackle, baku hantam, sikut-menyikut, meludahi pemain lawan, mengejek nama orang tua pemain, dan lain-lain. Dahulu, namaku sering disebut-sebut saat Han masih mendapat tempat yang layak untuk bermain. Han sering dibilang anak tukang bubur, atau keluar dari dubur. Atau sering diplesetkan pula bahwa aku adalah burung dan Han adalah hantu.

4.  Sepak bola di perkotaan tak lain adalah sejarah bagi orang-orangnya. Wacana sepak bola di perkotaan telah menjadi sejarah yang tak akan terulang. Tak ada lagi anak-anak yang menginjak tanah lalu kakinya terkilir. Tak ada lagi permainan berhenti sebab anak kambing menyerobot masuk ke lapangan. Tak ada lagi harapan untuk sepak bola negeri ini ke depan. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah semoga kiamat segera datang agar tanah-tanah di kota ini bisa kembali lapang.

5.  Bola-bola lain yang kubenci antara lain: aku tidak menyukai bakso, aku tidak menyukai kelereng, aku tidak menyukai bola mata, aku tak menyukai basket, pingpong, voli, dan lain-lain. Bahkan, sudah cukup lama aku tak memperkenankan siapapun menyentuh testisku.

6.  Futsal bukanlah solusi. Main futsal itu bayar. Main futsal itu mendukung kapitalisme.

Sungguh melelahkan melihat sepak bola begitu digandrungi di negeri ini. Orang-orang begitu menggilai bola sampai lupa siapa dirinya. Teman-temanku yang gemar menonton sepak bola di layar kaca berlagak lebih hebat karena ikut perkumpulan penggemar. Mereka antusias melakukan nonton bareng dan berlagak seperti sedang berada di stadion. Mengumandangkan yel-yel laksana muazin dengan pelantang musolanya. Tak mau kalah dengan suasana di Britania, mereka sok-sokan rebel demi membuat kesal penggemar klub sebelah. Kadang keributan tak perlu muskil dihindari. Sebab itu aku tak pernah mau ikutan. Satu, itu bodoh. Dua, itu akan mengembalikan kembali sosok Han di pikiranku.

Melupakan Han adalah perkara berat, sementara membenci sepak bola adalah satu keberatan yang lain. Sejak kematian Han, perlahan-lahan aku terus menjauhi sepak bola. Aku memblokir saluran-saluran televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola, mematikan televisi jika menghadirkan berita sepak bola, tidak mem-follow akun media sosial yang membahas sepak bola, menjauhi kerabat yang menyukai sepak bola, dan membuang seluruh benda-benda di rumah yang berbentuk seperti bola. Pekerjaan berat yang memang mesti terus kuupayakan.

Syukurnya semua pola kehidupanku masih bisa terkontrol dengan baik selama tidak ada sangkut pautnya dengan sepak bola dan bola-bola lain. Aku masih gemar menebar senyum di pagi hari jika berpapasan dengan tetangga yang sebetulnya juga tak begitu akrab. Di lain waktu, aku masih berbincang dengan tetangga-tetangga di sekitar selama tak membicarakan Persija. Entah, warga-warga Kemayoran saat ini lebih mencintai Persija dibanding mencintai keluarganya sendiri. Tengok saja bagaimana orang-orang itu rela membuat keluarga kelaparan di rumah dan lebih memilih hura-hura di stadion. Tapi, ya, begitulah. Setiap aku coba melupakan sepak bola, malah setiap itu pula aku terus-terusan mengingatnya.

Sampai di mana sore itu, ketika tiba-tiba pecahan kaca jendela seperti merunyamkan segala struktur pikiranku. Kau tahu tentu saat orang sedang asyik-asyiknya merenung tak sopan bila begitu saja diganggu. Ketika aku mesti memikirkan untuk mengikhlaskan atau terus mempersoalkan, bocah-bocah itu membuat tensiku sekejap naik. Aku meracau dan tak sadar akan apa-apa yang telah kuucap. Sempat aku mengambil sapu lidi yang kebetulan berada paling dekat denganku untuk sekadar menakut-nakuti para bocah. Para begundal itu betulan takut lalu kocar-kacir. Aku hanya bisa menghela napas, walau sebetulnya ingin tertawa. Hidup kok ya begini amat, sih? Namun, yang membuatku jengkel adalah para tetangga-tetangga tengik sepertimu yang suka bergosip. Sejak hari itu aku memutuskan untuk total jadi pemarah saja.

*

Setelah ini sepertinya aku ingin menulis buku Bagaimana Mencari Jawaban Hidup Melalui Mimpi. Sialan memang. Setelah sempat berceloteh tadi aku tertidur betulan. Tidak lama sih memang, paling sekitar 15-20 menit saja. Tapi di mimpi itu benar-benar ajaib. Bahkan kurang ajar jika mau dibilang. Baru aku terlelap, tiba-tiba di alam lain itu aku langsung dihadapkan oleh sosok Bur. Ketula mungkin. Terlalu giat ngomongin orang. Aku coba menampar-nampar muka tapi percuma. Aku terjebak di dalam mimpi bersama Bur. Ketika itu aku melihat ia bicara banyak dan aku hanya menyimak saja. Aku ingin menimpali sebetulnya, tapi entah mengapa mulut ini seperti diselotip. Bur menceritakan banyak hal mulai dari kemurkaannya terhadap sepak bola perkotaan hingga alasan mengapa ia marah sembari membawa sapu lidi. Satu yang cukup menyentuh hatiku adalah perihal kematian anaknya. Ah, aku belum menceritakan soal Han kepadamu, ya? Mari, akan kuceritakan semuanya persis seperti saat Bur menceritakan itu padaku. Begini mulanya:

“Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan. Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan yang pemerintahnya ngablu. Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan yang pemerintahnya ngablu dan tukang gusur. Sepak bola tidak bisa hidup di perkotaan yang pemerintahnya ngablu dan tukang gusur dan mengalihfungsikan tanah lapang kami menjadi mal.”

Last modified on: 22 Oktober 2017

    Baca Juga

  • Pesan Nenek Pendoa


    Semua orang di daerah Jakarta Utara memuji kemampuan Walikota baru. Menurut mereka, berkat kerja keras beliau memimpin daerah pinggir laut tersebut, Jakarta Utara sudah tidak mengalami banjir –yang bisa setinggi…

     

  • Seorang Pria yang Kehilangan Buku


    Saya pernah kepengin menulis cerita mengenai seseorang yang terlalu mencintai buku. Dia membaca buku dengan mendengarkan buku-buku itu bicara. Aku tidak tahu; tapi sepertinya ia memang begitu. Dia mampu mendengarkan…

     

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni