(2 votes)
(2 votes)
Read 948 times | Diposting pada

Arwah

 

Tubuh perempuan ini sekarat. Maka dengan sisa-sia kekuatan, aku memaksanya mengetik kisah ini. Aku ingin mencari tempat tinggal setelah mati. Tempat tinggal yang bukan akhirat, tapi di antara kehidupan. Tempat tinggal para Arwah, yang dapat memberikan ketenangan dan ketakutan, mengobati kerinduan, dan menunjukkan jalan ketika manusia ada dalam kebingungan—pada kebenaran atau kesesatan. Jika kau melanjutkan membaca cerita ini, maka kau akan jadi sahabatku. Tapi jika kau takut padaku—makhluk asing yang belum kau kenal, maka berhentilah membaca. Aku takkan memaksa.

*

            Aku sedang duduk di atas bonggol pohon yang baru ditebang ketika Manto, seorang tukang ojek menghampiriku. Aku tidak sedang cari masalah, tidak iseng seperti biasanya, sampai Manto menyebrang jalan, berdiri di depanku, membuka retsleting celananya, lalu mengencingiku.

            Setelah puas kencing Manto menyebrang balik. Tidak ada rasa bersalah atau penyesalan sama sekali. Maka aku mengikutinya dari belakang. Di seberang ada beberapa orang kawannya sesama tukang ojek: seorang bapak bertopi hitam dan berkumis bernama Beni, dan seorang kakek dengan jaket tentara yang dipanggil Babeh. Sebuah spanduk yang biasanya direntangkan di Pohon yang sudah ditebang itu, kini terikat melebar di motor Beni dan Babeh, bertuliskan, ‘Ojek Online dilarang ambil penumpang di sini.’

            ‘Lu kencing dah misi-misi belon, To?’ kata Babeh.

            ‘Simisi me sape, Beh?’ timpal Beni, ‘Pu’unnye aje ude ga ade.’

            ‘Lu masa lupe, Tong. Bekas kuburan Ki Sobar kan, ntuh.’ Kata si Babeh pada Beni. ‘Kualat lu ntar! Ketempelan!’ Tepat sekali, Beh. Sekarang dia ketempelan.

            ‘Udah, Beh. Saya udah misi-misi.’ Jancuk. Hari gini percaya kuburan. Jawab Manto lain di mulut lain di hati. Aku bisa merasakan gelombang pikirannya. Dia harus kuberi pelajaran. Aku melayang masuk dari ubun-ubunnya, untuk melihat isi pikiran si Manto.

            Dari ingatan Manto, aku jadi tahu kalau mereka bertiga dulunya adalah warga kampung Waduk, kampung tempat tinggal aku dan almarhum Ki Sobar yang digusur habis dua tahun yang lalu. Dulu aku adalah arwah yang tinggal kepala Ki Sobar, lalu setelah ia meninggal, aku menunggui kuburannya. Ki Sobar adalah seorang kiai perkasa yang lukisannya masih sering dijual ketika pengajian massal: wajahnya berjanggut, ia gagah dengan sorban dan jubah biru muda, serta sebuah pedang bulan sabit di tangan kanan. Ia adalah guru spiritual dan bela diri bagi banyak santri sekitar kampung Waduk di awal abad ke 20. Kini kuburan sudah dibongkar, pohon ditebang, rumah digusur, Manto dan Beni tinggal di perkampungan kumuh di belakang Mal, sementara si Babeh sudah pindah ke Depok tapi sering mengojek di daerah ini karena tidak ada kegiatan di rumah. Aku sendiri tinggal di bonggol pohon yang barusan dikencingi Manto.

            Isi kepala Manto sangat tidak nyaman untukku. Tinggal di pikiran orang macam ini mirip seperti tinggal di pikiran binatang. Berbeda sekali dengan pikiran Ki Sobar yang lapang, hingga aku rela menunggui kuburannya 40 tahun belakangan ini. Karena pikirannya sempit maka godaan untuk aku mengambil alih tubuhnya besar sekali—karena memang mudah. Kalau sampai kuambil alih, Manto akan kesurupan. Kalau mentalnya lemah ia bisa gila. Kalau mentalnya kuat, maka aku dan dia bisa bersatu secara permanen—menjadi siluman. Memberikan orang seperti Manto kekuatan siluman akan jadi masalah besar, karena hasratnya tak terkendali. Dalam peradaban manusia, biasanya jenis Iblis atau Syaitan adalah yang paling sering melakukan penyatuan permanen dengan orang-orang yang punya kuasa. Mereka bisa meyakinkan rakyat untuk melakukan pembunuhan massal dengan pidato dan simbol-simbol kuno yang sebenarnya isinya kejahatan murni belaka.

            Manto tiba-tiba waspada. Ada motor dengan helm berlogo yang lewat pangkalan mereka, lalu menunggu di depan Mal. Nih dia si anjing dateng lagi. Kata Manto dalam hati. Manto melihat ke arah Beni. Beni menanggukkan kepala. Mereka lalu turun dari motornya dan menuju si pengendara berhelm logo.

            ‘Oy, jangan oy. Biarin aje nape?’ teriak si Babe yang tidak dihiraukan.

            Baru separuh jalan, aku menjepit syaraf Manto hingga ia mati rasa. Liur menetes deras dari mulutnya. Kalau kepalanya kosong, hatinya jadi lebih lapang. Ini masih mending daripada aku buat dia kesurupan. Babeh menghampiri Manto, membawanya ke pinggir trotoar unduk duduk. ‘To? To? Yee, die kesirep. Gua kate juga ape tooo…’

            Beni maju tanpa sadar Manto ketinggalan di belakangnya. Tanpa basa-basi, Beni menghampiri si pengendara berhelm logo. ‘Eh, lu kaga liat spanduk! Udeh dibilang ga boleh ngojek kemari!’ teriak Beni sambil menempeleng anak muda kurus yang nampak ketakutan dan minta-minta ampun.

            ‘To, sini lu! Ngapain di sono! Nape dia beh?’  

            ‘Kesirep!’ teriak Babeh sambil baca-baca ayat kursi dan memijat kepala Manto. Beni lanjut mengancam-ancam tukang ojek berlogo, tiba-tiba seorang perempuan muda berlari dari gerbang Mal dan berteriak, ‘Eh, apa-apaan nih! Bang, ojek saya ini!’

            Perempuan itu menghampiri memukul-mukul Beni dengan tas olah raga yang ia bawa, supaya Beni melepaskan cengkramannya dari si ojek berlogo. ‘Apa? Mau mukul cewek? Saya aduin polisi lho. Sana!’

            Melihat gadis muda berkulit putih berambut merah dengan kaos putih longgar marah-marah, Manto tiba-tiba jadi sadar. Sihirku hilang begitu saja dimakan birahinya yang membara. Beni sempat ingin beradu argumen tapi dihalangi Manto. Dasar si Manto binatang. Begitu lihat perempuan, pengaruhku sama sekali tidak bisa menahannya. Dia langsung sok pahlawan.

            ‘Maaf ya, Neng. Neng tahu kan kalo di sini harus pake ojek sini. Mau saya anter aja neng?’ Basa –basi Manto.

            ‘Nggak!’

            Kesempatan untukku menyakiti Manto lebih jauh. Aku langsung loncat dari kepala Manto ke pikiran perempuan itu. Manto terlalu menyesakkan. Lalu aku bilang pada si perempuan 16 tahun bernama Laras ini, dengan meniru suara pikirannya sendiri, ‘Sialan! Dia ngeliatin toket gue! Tampar!’

            PLAK! Laras menampar Manto.

            ‘Kok abang ditampar? Abang salah apa neng?’

            ‘Mata tuh jangan jelalatan!’ kata Laras. ‘Ayo, bang, jalan!’ lanjutnya pada tukang ojek berlogo itu sambil menarik lengan si ojek lalu naik ke motornya.

 *

            Senja di Jakarta menyepuh gedung-gedung dan mobil-mobil yang terjebak macet dengan warna jingga dan ungu. Ojek yang kami tumpangi menyelip bagai ular yang mengejar mangsa di antara lebatnya hutan beton. Ojek itu membawa aku dan Laras ke tengah kota dan berhenti di depan sebuah mini market, persis di depan sebuah gedung hotel mewah. Setelah Laras membayar, tukang ojek mengucapkan terima kasih, karena telah dibela ketika hampir dipukuli ojek lokal tadi, tukang ojek itu pergi. Laras masuk ke dalam sebuah mini market, menuju toilet, berganti baju dan memakai make up. Ia melihat jam tangan berwarna perak merah jambu bertatahkan berlian yang menujukkan pukul 6:30. Siap, let’s do this again. Easy money here I come!

            Ia keluar dari mini market dengan dandanan layaknya wanita karir dewasa, lengkap dengan blazer dan sepatu hak tinggi. Ia masuk ke lobby hotel itu dan langsung menuju lift, dan disambut seorang operator lift dengan setelan jas berwarna ungu yang rapih. Laras tersenyum dan bilang, ‘Lantai 50.’

            Laras keluar dari lift dan menuju ke kiri. Kamar 502. Ia mengetuk. Seorang bapak usia 60an bermata besar, berhidung pesek dan berbibir lebar tersenyum melihatnya. ‘Laras, ya?’

            Mereka bersalaman lalu Laras ditarik masuk. ‘Bener si Iwan,’ kata pria itu. ‘Kamu memang cantik.’

            ‘Terima kasih… Mas...’ Iwan anjing, katanya kali ini ganteng. Ini sih kayak kodok.

            ‘Azwar. Pak Azwar. Panggil bapak saja, ya. Saya nggak suka pura-pura muda. Hahahaha…’ Jawab Azwar sambil mengulurkan tangannya menggengam tangan Laras. ‘Pengalaman lebih penting daripada kemudaan, itu yang saya pelajari dari hidup ini, Laras.’

            ‘Iya, Pak.’  Bapak? Mestinya gue panggil Opa. Umurlo kayak 70, gitu. Kamar itu sebuah penthouse besar. Dari pintu masuk, kami bisa melihat ruang kerja, lengkap dengan laptop yang terbuka dan sebuah minibar.

            Azwar berjalan mengambil whisky dari minibar. ‘Mau minum, mungkin? Biar santai. Kamu kayaknya tegang banget.’ Kata Azwar menggoda.

            ‘Makasih Pak, saya nggak minum.’ Nanti elu keenakan kelamaan gara-gara gue tipsy, Kek. ‘Kapan kita mau mulai, Pak?’

            ‘Wah semangat sekali. Oke, saya juga tidak suka basa-basi.’ Ia meneguk dua gelas whisky sekaligus lalu meletakkan gelasnya di meja. ‘Saya suka to the point, kayak kamu.’

            Ia menghampiri Laras, memutar tubuh Laras dan memeluknya dari belakang, menggiringnya ke kamar tidur. Dia menghirup dalam-dalam rambut Laras, seperti jin yang ribuan tahun tidak makan. Tangannya mulai mengerayangi dari belakang, ‘Kamu wangi… kamu cantik… berapa umurmu?’

            ’16, Pak.’

            ‘Kamu nggak bohong kan?’

            ‘Nggak. Bapak mau lihat kartu pelajar saya?’

            Azwar tertawa. Ada yang aneh. Aku sudah sering ada di kepala orang dalam keadaan apapun, termasuk ketika mereka melakukan seks. Aku bisa menyaru menjadi suara hati yang takkan orang sadari, seperti ingatan atau imajinasi diri sendiri. Aku tahu detak jantung Laras berdegup kencang karena ia baru dua kali melakukan ini, aku tahu semua memori, bahasa dan pengetahuannya. Tapi aku tidak bisa merasakan sensasi fisik manusia, kalau aku tidak menghubungkan diriku dengan syaraf-syarafnya. Kali ini, ada sensasi yang sangat aneh. Seperti aku bisa merasakan hawa panas Azwar. Ini—AWWWWW!!!

            Dia menjambak Laras dan melemparkannya ke ranjang.  ‘Apa-apaan ini!?’ teriak Laras.

            Dia bukan manusia. Ada sesuatu di dalam tubuhnya. Dia akan menyiksa perempuan ini habis-habisan.

            ‘Sh…sh.. sh… jangan nangis, cantik…’ Dia mendekat, meraba wajah lalu—Buk!

            Argh! Apa ini!? Rasa sakit? Aku bisa merasakan sakit? Ia memukul wajah Laras dengan kepalan tangan. Ia menciumi, menjilat lalu memukul lagi. Sikut dia! Pukul dia, Laras! Aku berteriak di dalam pikirannya. Laras menyikutnya dan memukulnya. Si Kakek seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Ia sangat kuat. Ia kebal. Dia mencekik. Dasar siluman! Dasar Iblis! Laras sekarat. Ia akan mati. Kalau begini caranya, aku harus merasuki perempuan ini.

            Aku pusatkan energiku. Tubuhku. Ini tubuhku. Arghh!!

            Aku adalah Laras. Aku meronta dan kuhentakkan kepalaku ke wajahnya. Ia terlempar. Aku berdiri. Perlihatkan wujudmu, syaitan!

             Ia bangun. Tubuhnya memerah, matanya menyala. ‘SILUMAN!’ dia berteriak. Ia berlari menujuku. Aku tidak takut! Kemari kau Syaitan! Aku lompat dan menjepit kepalanya dengan selangkanganku. Lalu kupukul kepalanya berkali-kali. Aku cari dimana titik pintu masuk syaitan itu. Dan aku melihatnya. Cahaya hitam di ubun-ubun. Aku kepalkan tanganku, buku jari tengah kutotokkan ke titik itu. Cakranya terbuka, dan aku masuk ke dalamnya. Pertarungan ini harus diselesaikan di dalam tubuh si siluman ini, karena ia dan Syaitan sudah menyatu.

*

            Tempat-tempat di dalam pikiran Azwar penuh kejahatan dan kemarahan. Memori Azwar ketika berumur 42. Ia memukul istrinya yang minta cerai. “Bapakmu sudah jual kamu padaku! Kamu tak puny hak!” Teriaknya. Bukan di sini. Aku menyelam lebih dalam.

            Umurnya 38. Ia berjalan dengan seragam tentara di sebuah desa yang penuh rumah-rumah beratap jerami. Para warganya dijajar di depan rumah, lelaki perempuan dan anak-anak berkulit gelap berambut keriting. Banyak dari mereka tidak berpakaian. ‘Kalian sembunyikan pemberontak? Tidak bersyukur kalian pada NKRI? Tembak semua! Tembak!’ Bukan di sini pula. Dia sudah menjadi iblis di sini.

            Umur 19 tahun. Sebuah penjara bawah tanah. Seorang gadis telanjang usia belasan minta-minta ampun. Tubuhnya penuh luka memar. Ia gemetaran. ‘Mas… Aku bukan Gerwani… Mas…  Ampun Mas…. Aku tresno sampeyan…‘

            Di sini.

            Iblis itu di sini.

            Aku bisa merasakannya.

            Azwar diam memperhatikan gadis itu. Aku menangkap gelombang-gelombang ingatan. Ia kenal gadis itu dari kecil. Sinta Dewi namanya. Harusnya mereka menikah tahun ini, tapi nama si gadis ada di daftar orang yang harus ditangkap militer. Baru saja ia menyaksikan atasan-atasannya memperkosa tunangannya ini beramai-ramai. Ia menghunus bayonet dari ikat pinggangnya, mengarahkan ujungnya lalu menusukkan pisau itu ke dada si perempuan dengan cepat, tanpa ragu. Sinta Dewi mati, air mata bercampur darah mengalir di pipi yang lebam.

            Emosi Azwar tak tertahan. Bibirnya gemetar. Tiba-tiba dari belakang Azwar ada yang tertawa. ‘Disuruh dipake, malah dibunuh. Sampeyan ra seneng rombengan, tho? Hahahaha…’

            Itu pasti Iblisnya! Dia menyamar jadi atasan Azwar: pemerkosa, pembunuh tanpa hati nurani.

            Sekarang saatnya! Aku menampakkan diriku dengan wujud Ki Sobar yang muda dengan jubah dan sorban biru dan Pedang bulan sabit di tangan kananku.

            ‘Hey, Iblis!’

            Mereka berdua, Azwar dan si atasan, tidak bergeming. Mereka mengobrol seakan tidak ada apa-apa. Mereka tidak melihatku. Artinya mereka berdua bukan iblis itu. Dimana dia?

            ‘Aku di sini, Arwah… ’ Dari belakangku ada suara perempuan. Aku membalik badanku. Sinta Dewi. Tubuhnya telanjang penuh luka, di dadanya darah mengucur. Matanya merah pekat. Tak salah lagi, ini iblisnya.

            ‘Enyah kau, Syaitan!’ Aku menyerang dengan pedangku. Tapi ia begitu cepat. Tangannya berubah menjadi pisau dan ia memotong kedua tanganku. Tiba-tiba Azwar dan atasannya bisa melihatku. Mereka menghujamkan bayonetnya di punggungku lalu mengunci tubuhku. Aneh, aku tidak bisa kembali ke bentuk halusku.

            ‘Ini tubuhku. Kau tak punya kuasa di sini, Arwah.’ Iblis yang menjelma Sinta Dewi mengelupas kulitnya yang sudah rusak. Darah membasahi dagingnya dan ia mendekat padaku. Ia menyentuh dahiku dengan telunjuknya yang merah dan lengket. ‘Ribuan tahun pengetahuan…’ ia berbisik dengan suara perempuan dan lelaki yang serak, ‘Sayang sekali jika Arwah sepertimu hilang begitu saja.

            ‘Aku ingin pengetahuanmu! Bersatulah dengan tubuh ini, dan kita bisa bersama-sama merasakan nikmatnya kehidupan fana.’

            Wajahnya mendekati wajahku. Aku bisa melihat serat-serat daging itu masih dialiri darah. Mata yang merah pekat menatap mataku. Dari mulutnya keluar lidah yang panjang dan bercabang dua, menjilati mulutku dan memaksa masuk. Panas sekali. Iblis dan aku bersatu dan bernafsu. Aku menjadi Azwar, melihat dan bergerak dengan tubuhnya.

*

          Kami akan menyetubuhi Laras. Kami bertiga. Syaitan, aku dan Azwar. Laras pingsan, sisa-sisa air matanya berlinang di pelipis. Iblis dan Azwar mulai memperkosa tubuh yang hampir mati itu. Diam-diam aku pusatkan energiku ke jantung tubuh ini, dan kupompa dengan sekuat tenaga, hingga katupnya bocor, bercampurlah darah kotor dan darah bersih. Kami merasakan kesakitan yang amat sangat. Kami tak bisa bernafas, seluruh tulang dan sendi kami seperti dipotong. Saat sakaratul maut itulah aku memisahkan diri dari tubuh siluman ini.

            Azwar mati karena jantungnya kugagalkan. Iblis yang bersatu dengannya ikut mati, karena dia sudah menyatu seutuhnya dengan tubuh Azwar. Sedang aku meredup, mencari jalan keluar dari tubuh ini. Kalau aku tak menemukan kehidupan, akupun akan mati. Aku mengikuti cahaya terang di dalam lorong-lorong jiwa yang kosong. Sekuat tenaga yang tersisa aku mengarungi lorong itu. Akhirnya aku keluar dan melayang-layang di kamar hotel yang berantakan. Aku butuh ruang kehidupan. Aku butuh tubuh dan pikiran. Aku melihat Laras yang syok tertindih mayat Azwar. Ia melempar mayat itu ke samping tempat tidur lalu terdiam. Aku menuju ke arahnya, mencari titik cakra yang terbuka. Aku terbangun sebagai Laras.

            Tapi umurku tidak lama lagi. Aku terlalu lelah dan tubuh laras penuh luka, beberapa tulang rusuknya patah dan salah satu tulangnya menusuk ke paru-paru. Aku selami isi pikiran perempuan ini dan menemukan segala ingatan dan kemampuannya. Ia bisa mengetik. Aku ingat, di kamar hotel ini ada sebuah laptop. Aku menyeret tubuh sekarat ini ke kursi dan meja kerja berlaptop. Kutulis kisahku, dan kukirim ke semua alamat surel yang ada di laptop itu. Aku sudah menempatkan jiwaku pada tulisan ini. Karenanya aku akan tetap hidup di kepala setiap orang yang selesai membaca. Kini, aku sudah ada di dalam kepalamu. Aku akan membisikkan kata-kata ke dalam pikiranmu, kau takkan sadar bahwa tindakanmu adalah suruhanku. 

            Halo, salam kenal. Terima kasih atas ruangnya. Kita akan bersama-sama sampai kamu mati. 

Last modified on: 14 Februari 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni