(4 votes)
(4 votes)
Read 668 times | Diposting pada

Anak Iblis

Anak Iblis freedyO.com

 

Saat itu musim panas sedang berlangsung ketika kami libur sekolah. Aku berumur sebelas tahun dan dua temanku, Hass dan Morgan, masing-masing  berumur duabelas tahun. Kami duduk di atas rumput sambil merokok, tepatnya di belakang garasi rumahku saat siang bolong.

“Sial!” Kataku ketika duduk di bawah sebatang pohon.
“Ada apa?” Tanya Morgan.
“Kita harus menangkap bocah keparat itu. Kau tau, dia telah merusak daerah ini” kataku.
“Siapa?” Tanya Hass.
“Simpson!” Kataku.
“Oh, si bocah dengan muka penuh jerawat itu. Ya, dia benar-benar mengganggu.” Kata Hass.
“Benarkah?” Kata Morgan.
“Benar. Bocah keparat itu mengatakan bahwa dia telah menyetubuhi seorang gadis di kolong rumahku minggu kemarin. Si brengsek itu benar-banar keterlaluan.” Kataku.
“Tentu.” Kata Hass.
“Dia tidak bisa melakukan itu.” Kata Morgan.
“Ya. Dia berbohong!” Kataku.
“Pembohong itu memang tidak berguna.” Kata Hass sembari mengeluarkan asap berbentuk bulat.
“Aku kesal mendengarkan mendengar kalimat yang keluar dari mulut si wajah rusak itu.” Kata morgan.
“Ya, kita harus menangkapnya.” Saranku.
“Kenapa tidak?” Tanya Hass.
“Ayo kita tangkap dia.” Kata Morgan.

Kami berjalan menyusuri jalan menuju rumah Simpson yang berada dekat dengan rumahku. Kami menengok ke belakang rumahnya dan terlihatlah Ia yang sedang bermain bola kecil sendirian di depan pintu garasi.
“Hei! Lihatlah siapa yang sedang bermain sendirian!” Kataku

Simpson menangkap bola dan memantulkannya kebawah dan berbalik menghadap kami lalu menyapa kami, “Hai, kawan-kawan!”
Kami segera mendekat dan mengerubunginya. Simpson tampak bingung.
“Bercinta dengan seorang gadis di kolong rumah akhir-akhir ini?” Tanya Morgan.
“Hah?” Simpson terheran-heran.
“Bagaimana mungkin?” Tanya Hass.
“Kalian membicarakan apa?” Tanya Simpson
“Aku tidak percaya kau telah menyetubuhi siapapun kecuali dirimu sendiri. Bajingan!”  Kataku
“Maaf, aku harus masuk. Tadi ibuku menyuruh agar aku segera mencuci piring.” Kata Simpson
“Ibumu telah membereskan piring-piring itu kedalam kemaluannya.” Kata Morgan.

Seketika aku, Hass dan Morgan tertawa lepas. Setelah tawa reda, kami semakin mendekati Simpson, lalu aku menyarangkan sebuah tinju dengan tanganku tepat di perut Simpson dengan keras. Dia membungkuk kesakitan sambil memegang perut selama tigapuluh detik, lalu perlahan-lahan menegakkan tubuh sembari tetap memegangi perutnya.
“Ayahku bisa datang kapanpun.” Ancam Simpson.
“Hah? Apa ayahmu juga memperkosa seorang gadis di kolong rumah?” Tanyaku.
“Tidak!” Kata Simpson.
“Lihat jerawat pada wajahmu itu. Setiap kau bercinta dengan seorang gadis di kolong rumah, kau akan mendapatkan jerawat baru.” Kata Morgan sembari menujuk wajah simpson.

Simpson tidak berkata apapun, ia terlihat ketakutan.
“Aku memiliki adik perempuan. Bagaimana aku bisa tahu, kau tidak memperkosanya di kolong rumah?” Tanya Hass
“Aku tidak akan melakukan itu Hass, sumpah!”
“Benarkah?”
“Benar, Hass!”
“Biar, kuberikan satu lagi pelajaran untukmu!” Hass memukul perut Simpson dengan kuat. Dia kembali membungkuk kesakitan. Hass langsung meraih kerah baju Simpson, mengangkatnya ke atas, lalu melepasnya. Simpson menegakkan badan. Tampak airmatanya jatuh membasahi pipinya, seperti seorang gadis cilik.
“Tolong, biarkan aku pergi, teman-teman.”
“Mau pergi kemana kau? Ingin bersembunyi di balik rok ibumu dan kejatuhan piring-piring yang tersembunyi dari kemaluannya?” kataku.
“Kau tidak akan bisa bercinta dengan siapapun, karena kau tidak punya kemaluan! Kau bahkan kencing melalui lubang telingamu!” Kata Morgan
“Jika aku mendapatimu melirik adikku, kau akan mendapatkan pukulan paling menyakitkan yang akan menyisakan satu lubang di wajahmu.” Kata Hass memperingati.
“Biarkan aku pergi, kumohon.” Pinta Simpson dengan wajah memelas.

Sebenarnya aku prihatin dengannya dan ingin membiarkan dia pergi. Aku tidak tega melihatnya, mungkin dia tidak menyetubuhi siapapun atau mungkin dia hanya bermimpi. Aku sadar bahwa aku tidak bisa melepasnya, apalagi aku adalah pemimpin mereka. Aku tidak akan menunjukan rasa simpatiku kali ini.
“Kau akan pergi dengan kami, Simpson.” Kataku.
“Tidak!” Tolak Simpson.
“Keparat! Kamu harus ikut dengan kami! Sekarang, jalan!”
Aku bergerak ke belakang dirinya dan menendang pantatnya dengan keras agar dia segera berjalan. Dia lalu berteriak.
“Diam kau! Atau kau akan mendapatkan yang lebih buruk lagi! Sekarang jalan!” Ancamku

Simpson terdiam dan kami menuntunnya jalan, Hass dan Morgan berjalan di depan, Simpson berada di tengah dan aku di belakang sembari mengawasinya agar tidak kabur. Kami berjalan melewati rerumputan menuju halaman belakang rumahku. Setelah sampai, aku berdiri menghadap Simpson, sementara Hass dan Morgan berdiri di sampingnya.
“Sekarang berdiri tegak. Letakan kedua tanganmu di samping. kita akan mengadakan pengadilan kangguru!¹” Kataku.
Aku menengok ke arah Morgan dan Hass, lalu bertanya,
“Orang ini didakwa dengan tuduhan melakukan penipuan mengenai menyetubuhi seorang gadis di kolong rumahku. Bila menurut kalian dia bersalah, sekarang katakanlah bahwa dia bersalah.“ Kataku.
“Dia bersalah!” Kata Hass dan Morgan. Lalu aku berpaling menuju Simspon, sang terdakwa.
“Simpson, kau bersalah!” kataku menyimpulkan kesaksian.
Kemudian, airmata mulai mengucur dari kedua mata Simpson. Dia mulai menangis.
“Aku tidak melakukan apapun.” Katanya terisak
“Itulah sebabnya kau dinyatakan bersalah, kau telah berbohong!” kata Morgan.
“Tapi kalian juga sering berbohong!” teriak Simpson
“Tidak tentang menyetubuhi seorang gadis di kolong rumah,” kata Morgan.
“Tapi, itulah yang sering kalian bicarakan, selalu tentang bercinta dengan seorang gadis, dari sanalah aku belajar semua itu!” Seru Simpson.
“Hass! sumpal mulutnya! Aku lelah mendengar setiap bualannya!” Perintahku.
“Siap Pak!”

Hass bergegas menuju jemuran. Dia mengambil sapu tangan dan serbet yang telah kering dari jemuran. Sementara kami memegang Simpson, dia menyumpal sapu tangan itu ke mulutnya dan mengikat mulutnya dengan serbet. Suaranya berubah menjadi tercekik diikuti warna mukanya berubah.
“Apakah dia masih dapat bernapas?” Tanya morgan.
“Dia dapat bernapas melalui hidungnya,” kataku.
“Ya,” Hass setuju.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Tanya Morgan.
“Orang ini bersalah, bukan?” Tanyaku
“Tentu.”
“Sebagai hakim, kuperintahkan untuk menggantungnya sampai mati!”

Simpson berteriak dalam sumpalannya, suaranya seperti cecurut. Matanya tampak seolah sedang memohon kepada kami, dan seolah tidak terima dengan keputusan yang kubuat secara sepihak. Aku bergegas ke dalam garasi dan menemukan seutas tali –yang lumayan panjang– terlingkar rapi yang digantung pada gantungan di dinding garasi. Aku bertanya-tanya mengapa ayahku menyimpan tali tersebut. Setahuku, ia tidak pernah menggunakannya, dan biar sekarang kugunakan tali tersebut. Aku melangkah keluar dengan seutas tali. Simpson mengambil ancang-ancang untuk kabur. Hass tepat dibelakangnya. Segera dia dapat mencegahnya dengan mendorongnya hingga tersungkur di atas tanah. Dia membalikkan Simpson, menduduki dadanya lalu meninju wajahnya berkali-kali. Aku segera berlari ke arah Hass dan mendorongnya kesamping dengan kuat. Dia jatuh duduk dan menatapku dengan kesal.
“Bangsat! Kupukul juga kau, bajingan!” Teriak Hass.
“Sebagai hakim, aku telah memvonis hukuman gantung kepada lelaki ini! dan keputusan itu sudah bulat! Sekarang kau harus berhenti memukul orang ini!”
“Aku akan memukulmu, Bajingan.” Kata Hass kepadaku. Dia segera bangkit dan menantangku.
Aku mendekatinya sambil menatap wajahnya dan memperingatkannya,
“Pertama, kita akan menggantung orang ini! Setelah itu, kita akan menyelesaikan urusan kita.”
“Kau benar, akan kita selesaikan secepatnya,” kata Hass.
“Hei, Bangun!” Kataku kepada Simpson.
Hass menjauh dan Simpson bangkit dengan kedua kakinya. Hidungnya berdarah dan darahnya belepotan di bajunya. Warnanya sangat merah. Dia meronta dan berkata ingin segera pulang. Matanya berhenti mengeluarkan airmata. Dia tidak lagi menangis, melainkan sangat ketakutan. Aku iba melihatnya.
“Berikan aku rokok,” aku berkata kepada Morgan.

Ketika aku melihat tali yang sedang kupegang, dia menyisipkan satu batang rokok ke dalam mulutku dan segera menyalakan pemantiknya. Aku mengarahkan mulutku ke arahnya, lalu menghisapnya dan mengeluarkan asapnya melalui hidung, sembari membuat jerat pada ujung tali.
“Bawa dia ke beranda garasi.” Perintahku.

Ada sebuah beranda di belakang. Di atasnya terdapat rangka dari balok. Kulemparkan tali melewati balok tersebut, lalu menarik jerat tersebut hingga tepat berada di depan wajah Simpson. Seketika itu aku merasa bahwa aku harus berhenti. Kupikir Simpson sudah cukup menderita setelah melihat yang dia alami, namun lagi-lagi perasaan itu kalah ketika aku sadar bahwa aku adalah pemipinn mereka. Lagipula setelah ini aku akan berduel dengan Hass karena dia telah menantangku, maka itu, sangat tidak tepat menunjukan rasa kasihanku kepadanya sekarang. Pada saat aku mengalungkan jerat ke leher Simpson, tiba-tiba Morgan berkata.
“Mungkin kita tidak bisa.” Seketika tanganku terhenti.
“Orang ini bersalah!” kataku
“Benar! Gantung dia!” Kata Hass
“Lihat, dia sangat ketakutan,” kata Morgan
Terlihat air mengalir dari celana Simpson hingga kakinya, dan membasahi telapak kakikku. Air itu hangat, dan kusadari bahwa dia kencing di celana.
“Kau takut?” Tanyaku.

Jerat tali kukalungkan ke leher Simpson. Aku menarik tali dan mengangkat Simpson hingga ia berdiri jinjit dengan ujung kakinya. Lalu kuambil ujung tali yang lain dan mengikatnya di keran air yang ada di samping rumah. Kubuat simpul yang kuat dan memerintahkan kepada Hass dan Morgan untuk segera kabur.
Sebelum melangkah keluar, kami melihat Simpson tergantung dengan ujung kaki yang menapak.Dia berusaha keras untuk jinjit, dia berputar dengan sangat pelan dan terlihat seperi orang sekarat, setelah itu kami kabur.

Kami berlari. Kami terus berlari tanpa lelah, tapi kemudian Morgan dan Hass berpencar dan pulang ke rumahnya masing-masing. Kini  hanya tersisa aku. Aku terus berlari sendirian dan kusadari bahwa aku  berlari tanpa tujuan. Kupikir Hass telah lupa mengenai perselisihan kami atau dia memang takut menghadapiku.

Aku berhenti berlari dan berdiri di sisi jalan beberapa menit untuk mengatur napas, lalu kembali menuju beranda belakang rumahku tempat menggantung Simpson. Aku masih melihat Simpson berusaha berputar dengan sangat pelan. Aku lupa mengikat tangannya dan sekarang tangannya mencoba untuk melepaskan ikatan di lehernya, namun jari-jarinya tergelincir. Segera kubergegas  menuju keran, lalu melepaskan ikatan dengan maksud menyelamatkan nyawanya. Tubuh Simpson jatuh menghantam tanah dan terguling di rumput seperti buah yang jatuh dari batang pohon.
Kuhampiri dirinya dan melepaskan ikatan pada mulutnya. Mukanya pucat, dia terlihat sangat buruk, seperti mayat baranngkali. Dengan panik aku segera membungkuk dan berkata kepadanya.

“Dengar bajingan, kau jangan mati dulu, aku tidak benar-benar ingin membunuhmu, Maafkan aku. Tapi jika kau tidak mati, kau pasti akan menceritakan kejadian ini kepada orang lain, dan jika hal itu terjadi akan kubunuh kau! Mengerti?”

Simpson tidak menjawab. Dia hanya menatapku dan tatapannya sangat lemah. Dia sekarat. Wajahnya berubah ungu dan terdapat bekas ikatan di lehernya.
Aku segera bangun dan berniat kabur lagi. Setelah berlari beberapa meter darinya, aku menyempatkan melihatnya untuk sementara dan tampak bahwa dia tidak bergerak sama sekali. Ini sangat buruk. Aku panik. Kutarik napas dalam-dalam dan bergegas kabur meninggalkannya.

Saat itu jam empat sore. Aku berjalan menyusuri jalan raya dan terus berjalan tanpa henti. Kurasa hidupku telah berakhir dan aku mungkin telah membunuhnya. Aku tahu, Simpson, sampai kapanpun akan tetap kesepian. Dia tidak pernah bergaul dengan kami. Dia selalu menyendiri. Mungkin itulah yang mengusik kami.  Tapi Bagaimanapun juga,  dia mempunyai sisi baik, namun aku tidak. Sebenarnya aku adalah orang yang kesepian juga, namun aku mengatasinya dengan cara yang berbeda. Kebanyakan yang kurasa adalah kehampaan dan terletak di dalam hatiku.

Aku terus berjalan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena kakiku sakit. Sepatuku membuat lecet kedua tumit kakiku. Tentu saja, ini karena orangtuaku selalu memberiku sepatu murah. Pada awalnya memang terlihat bagus, namun ketika sudah memasuki hari ketujuh, kulitnya akan retak lalu sol yang semakin tipis dengan cepat, dan kemudian aspal jalan akan melubangi sol dan menghancurkan kakiku.

Ketika aku kembali, matahari mulai tenggelam. Aku melangkah pelan menuju halaman belakang dan Simpson sudah tidak ada disana, begitu pula dengan talinya. Mungkin dia telah mati. Mungkin juga dia telah berada di tempat lain pikirku. Aku mulai memperhatikan sekeliling. Lalu aku melihat ayahku memperhatikanku dari jendela kasa di pintu.
“Masuk!” Katanya.
Aku melangkah ke dalam, melewatinya.
“Ibumu tidak ada di rumah. Kau pasti sangat senang. Segera masuk ke kamarmu. Aku ingin bicara.”
Kuberjalan ke kamar tidur dan duduk di pinggir kasur sambil melihat sepatuku yang jelek. Ayahku menyusul lalu berdiri di depan pintu. Ayah mempunyai badan yang besar, kira-kira tingginya hampir dua meter. Di memiliki kepala yang besar dan matanya tergantung di bawah bulu mata yang lebat. Bibirnya tipis dan dia mempunyai telinga yang besar. Dia sangat seram walaupun dia sedang diam.
“Darimana saja kau?” Tanyanya
“Jalan-jalan.”
“Jalan-jalan? Untuk apa?”
“Aku suka jalan-jalan.”
“Sejak kapan?”
“Hari ini.”
Terdapat beberapa jenak, dan dia berbicara kembali.
“Apa yang terjadi di halaman belakang?”
“Apakah dia mati?”
“Siapa?”
“Kuperingatkan dia untuk tidak mengatakan kepada siapapun. Jika dia mengatakannya kepadamu, berarti dia tidak mati.”
“Dia tidak mati, dan orangtuanya tadi ingin menelpon polisi. Aku sudah berbicara kepada mereka sangat lama agar mereka mengurungkan niatnya. Jika mereka tetap menelpon polisi, ibumu pasti akan berbuat nekat. Kau paham kan?”
Aku terdiam.
“Ibumu akan bunuh diri, paham?”
Aku tetap diam.
“Aku telah memberi sejumlah uang kepada mereka agar mereka diam, ditambah aku harus membayar tagihan medis. Sekarang aku janji kepadamu untuk tidak menelantarkanmu. Aku akan menyayangimu lebih dari siapapun! Aku tidak ingin membesarkan seorang anak yang kelakuannya seperti binatang!”
Dia berdiri di depan pintu, dan tidak bergerak. Kutatap matanya dan terlihat tubuh besarnya.
“Bawa aku ke polisi.  Aku tidak membutuhkanmu. Bawa aku ke polisi!”

Dia bergerak pelan ke arahku.
“Polisi tidak akan memahami orang sepertimu.”katanya.
Aku bangkit dan mengepalkan tanganku.
“Sini kau! Akan kupukul kau!” kataku.
Tiba-tiba, ia menyerangku dengan cepat. Terdapat kilatan cahaya dan terasa pukulan yang sangat keras yang  membuatku jatuh ke lantai. Setelahnya aku tidak bisa merasakan apa-apa, lalu bangun dengan tergopoh.
“Kau lebih baik membunuhku! Karena jika aku sudah cukup besar, aku akan membunuhmu!”

Pukulan selanjutnya membuatku terguling ke kolong tempat tidur. Aku ketakutan. Tapi seketika aku bisa merasakan bahwa ini adalah tempat yang aman untuk berlindung. Aku mendongak ke atas lalu tampaklah barisan per di bawah kasur . Kurasakan bahwa per-per tersebut tidaklah asing bagiku. Merekalah teman terdekat yang kumiliki ketika aku ketakutan dan membutuhkan perlindungan dari kekerasan yang dilakukan ayahku. Kemudian aku tertawa, aku tahu aku sedang panik. Aku tertawa karena tiba-tiba terlintas dalam pikiranku hal-hal yang menyebabkan Simpson membuat lelucon tentang menyetubuhi seorang gadis di kolong rumahku.
“Apa yang kau tertawakan? Kau tahu, kau bukanlah anakku, kau anak iblis!”
Kulihat tangan besarnya sedang meraba-raba kolong tempat tidur untuk mencariku. Ketika tangannya mendekat, aku langsung menariknya lalu menggigitnya dengan kuat. Lalu terdengar raungan dan tangan itu menjauh. Kurasakan darah di mulutku. Kemudian aku meludah. Satu hal yang aku tahu adalah   Simpson tidak jadi mati dan akulah yang akan mati.
“Baik,” kata ayahku dengan suara yang pelan.
“Kaulah yang meminta dan kau akan mendapatkannya…” kata ayahku

Aku sungguh menantikannya. Selagi aku menantinya aku bisa mendengarkan suara-suara aneh. Aku bisa mendengar suara burung, aku bisa mendengar suara mesin mobil, aku bisa mendengar detak jantung dan darah yang mengalir di tubuhku. Aku bisa mendengar helaan nafas ayahku, dan geser tubuhku ke tengah kolong tempat tidur dan menantikan kejadian selanjutnya.***

____
¹ Pengadilan Kangguru atau Kangaroo court adalah sebuah istilah untuk pengadilan yang tidak resmi.


Diterjemahkan dari cerpen Charles Bukowsky yang berjudul “Son of Satan”, dari buku Septuagenerian Stew terbitan ECCO tahun 2003


Charles Bukowski adalah salah satu dari penulis kontemporer di Amerika Serikat. Dia lahir di Andernach, Jerman pada tahun 1920. Cerita pertamanya dipublikasi pada usia duapuluh empat tahun, dan mulai menulis puisi pada usia tigapuluh lima tahun. Dia meninggal di San Pedro, California pada 9 Maret 1994 setelah ia merampungkan novel terakhirnya yang berjudul Pulp (1994). Beberapa karyanya yang telah terbit diantaranya: Post Office (1971), Factotum (1975), Women (1978), Ham on the rye (1982), dan Hollywood (1989).

Last modified on: 18 Desember 2017

    Baca Juga

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

  • Kolom Komentar


    Semenjak kejadian yang membahagiakan dirinya lewat reaksi setoronin, endorfin dan dopamin di sekujur wadaknya, hidup Pentol sebelumnya tidak pernah serumit ini. Kala itu, di sebuah hotel bintang tiga, Pentol menemukan…

     

  • Bagaimana Cara Tetanggamu Menceritakan Sesuatu Tentangmu


    Kau tahu bahwa setiap orang pasti membenci sesuatu. Tidak ada orang yang mencintai segala hal. Jika temanmu selalu terlihat bahagia dalam hidupnya, sering melempar senyum, bukan berarti ia bukan pembenci.…

     

  • Pesan Nenek Pendoa


    Semua orang di daerah Jakarta Utara memuji kemampuan Walikota baru. Menurut mereka, berkat kerja keras beliau memimpin daerah pinggir laut tersebut, Jakarta Utara sudah tidak mengalami banjir –yang bisa setinggi…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni