(3 votes)
(3 votes)
Read 3158 times | Diposting pada

A’bonenos dan Perempuan yang Agung

Dicky Senda
Oleh:
Dicky Senda
 Prosa
Oleh Laura Pellicano Oleh Laura Pellicano

 

PARA pinitua mulai merapalkan doa sembari menepuk-nepuk lembut permukaan kolam air terjun yang sudah merah darah babi. Semua yang hadir memancarkan rasa was-was yang sama. Tiba-tiba munculah seribu belut menggotong tubuh perempuan telanjang tanpa rambut dan masih pingsan. Orang-orang memekik takjub. Oh, lihat, wajahnya telah menua dari usianya yang sebenarnya. Dia seperti baru pulang dari masa lalu!

Kemudian tangis haru pun pecah dihiasi ucap syukur tak henti-henti.

***

 

Suatu saat aku tiba di halaman rumahmu dan wajahku mulai mengeriput. Bukan tersesat tapi aku hanya rindu pada memori tentang sebuah mimpi yang pernah kualami dulu sekali. Di akhir mimpi, peta rumahmu diberikan. Katamu dalam mimpi, kenyataan adalah semu belaka. Aku hanya ingin memastikan diri untuk hadir dan memotret segala keganjilan (dan kegilaan) di dinding batu. Lalu kau rupanya telah menyusun sebuah jebakan untukku.

Siapakah kau?

Aku A’bonenos yang biseksual.

Hanya itu katamu. Selanjutnya, aku yang kau jadikan pemeran utama dalam kegilaan di halaman rumahmu. Kumpulan manusia berkulit hitam licin mengilap minyak kelapa. Bau tubuh itu, entah milik lelaki atau perempuan mendadak bikin dada ini bergejolak tak karuan.

***

 

Aku tiba di kintal rumahmu bersamaan dengan perginya kabut ke punggung Gunung Kuning. Bulan Juni membawa embus angin penusuk tulang dari benua tetangga di tahun ketika wargamu sedang merayakan Tahun Khusus Menyembah Langit. Ada dua bintang besar gemerlap di atas sana. Kutahu itu Venus dan Jupiter yang sedang dekat dengan Bumi. Kau dan wargamu tidak menyambutku selaiknya tamu. Tak ada tarian penyambutan dengan sekotak sirih pinang yang diedarkan, atau pengalungan kain tenun indigo bermotif ayam atau sapaan dalam bahasa adat yang puitik. Kau hanya menyambutku dengan sebuah bisikan, sebuah kisah. Pokoknya akan ada sebuah pesta besar dan diriku bisa menjadi bagian dari perayaan itu. (Kau membahasakan dengan lebih tajam, kau jelas ingin menjebakku. Melihat rupamu, mata elangmu, aku seketika ingin rebah ke atas tubuhmu semalam penuh. Dan karena itu, aku mulai ingin dijebak olehmu sebelum aku mati penasaran). Tunggu! Apa benar kau yang berbisik? Aku kok melihat ada sosok lain membayangimu. Suara itu lebih terasa lembut.

Begitulah akhirnya aku mabuk, aku luruh dalam setiap zat yang ada di halaman rumahmu. Aku penuh oleh perilaku dan pemikiran kalian yang tumpah ruah di halaman bersama dengan mantra-mantra dan harum cendana. Seluruhnya.

Waktu bergerak cepat dan berhenti sejenak di depan mataku; kesadaranku akan atap rumah-rumah dari ilalang kering menjuntai ke tanah dan bambu kuning sedang bersujud rapi menyembah ke arah barat. Sehamparan senja berwarna kuning keemasan sedang menarik-narik bulan sabit tipis menuju ke posisi tertingginya, membentuk formasi segitiga bersama kedua bintang kejora tersebut. Memesona ketika kami menengadah.

Kau maju ke depan kerumunan orang dan mengabarkan bahwa tidak baik jika tak ada jamuan makan bersama bagi seorang tamu penting. Kau menyiapkan seekor kerbau untuk makan bersama kita.

Sungguh ini pesta yang sangat meriah. Gelombang penduduk hilir mudik dan selalu berganti rupa. Kaum hawa mendandani diri mereka dengan kain tenunan terbaik, menaruh hiasan perak berbentuk bulan sabit di kepala, dan gelang-gelang indah di tangan. Kaum lelakinya memakai kain tenun terbaik karya saudara perempuan mereka. Piring-piring berisi jagung tumbuk dan daging babi rebus beredar dengan cepat, seperti sebuah atraksi sulap. Kelompok lelaki dewasa mendapat giliran makan pertama kali, dilayani oleh perempuan dewasa. Sedangkan lelaki muda bertugas memegang obor dan perempuan muda memainkan gong serta tambur. Giliran makan berikutnya adalah para perempuan dewasa yang akan dilayani oleh para perempuan muda. Setelah itu para lelaki muda akan bertugas melayani makan para perempuan muda. dan mereka akan menyelesaikan semua makanan di sesi jamuan paling akhir. Aku terkesan dengan segala keteraturan di sini.

***

 

Siapa sangka di halaman ini, perempuan diberi kuasa untuk menghubungkan dunia dan akhirat. Dan aku, perempuan yang sedang pasrah diganti isi kepala dan karena kulitku yang keriput telah mengirimkan pesan kebijaksanaan. Perempuan yang rela kulitnya dikupas sang mata elang. Atas nama rasa yang entah ini kupastikan semuanya pelit bersuara. Perempuan yang pasrah dan pelit bersuara kini digiring oleh angin masuk ke dalam arena. Harum cendana dari tungku lagi-lagi membuatku melayang.

Aku merasa tubuhku begitu longgar. Dadaku penuh dan membusung pada sebuah mezbah yang sublim. Semua laki-laki dan perempuan di sini melilitkan kain tenun sebatas ke pinggang dan aku pun lupa pada dada-dada montok mereka. Khusus untuk upacara, aku dan mereka mengenakan kain bergaris merah dominan dengan sebuah lorong putih yang mereka maknai sebagai anak sungai berimpit hutan dan kebun. Sementara sisi terdalamnya, serupa kumpulan jajargenjang adalah pemukiman, salah satu ruang yang sedang kami diami ini. Mereka menamai kain tenun itu Burung Penutup. Dan dada perempuan-perempuan mereka subur membusung, sama bebasnya dengan dada bidang legam bermandi minyak kelapa para lelakinya.

A’bonenos hadir ke tengah kerumuman dengan tubuh bersinar penuh, paduan cahaya Venus dan Jupiter. Ia mulai berbicara dalam bahasa adat yang begitu puitis. Hanya A’bonenos yang boleh naik ke atas mezbah batu lalu mereciki air ke empat penjuru mata angin. Ketika ritus itu berakhir, ia membisikan pengertiannya padaku lewat angin (jarak kami dua belas meter). Katanya, kepada laut, kepada selatan tempat ikan dan buaya berumah tangga bentengi daratan mereka dari sapuan badai kasar yang datang bergelung-gelung dari samudera luas. Dengan demikian kebun-kebun akan selamat dari lidah angin badai. Demikian pula kebun-kebun mendapat restu penuh dari arah utara yang memelihara daratan. Ingatan pada utara terpancar dari setiap ucapan syukur yang keluar dari mulut anak-anak manusia atas kelimpahan jagung, kacang, babi dan madu. Biarlah segala kesusahan pergi menjauh, karena cahaya bulan dini hari yang merebah ke barat, memegang kendali atas kesejahteraan setiap benda hidup dan mati di seluruh penjuru daratan ini. Kepada timur, penjaga kesuburan rahim-rahim perempuan dan kantong sperma, berilah cinta, berilah rasa damai.

Aku ingin bersetubuh denganmu.

Tapi, belum saatnya.

***

 

Aku akhirnya paham seluruh bahwa aku diinginkan untuk menjadi bagian dari ritus yang dinamai Penobatan Perempuan yang Agung. Apa ini terlalu mengagumkan atau bahkan sebaliknya terasa lucu? Di halaman rumah ini, aku seperti berjalan menuju kekosongan atau barangkali aku sedang menuju ke hal paling ekstrim, transformasi struktur kepribadian. Tak ada perlawanan batin sama sekali. Aku hanya sedikit tahu masa laluku dan menerima apa saja di masa sekarangku.

Pada hari kedua saat masih pagi buta, aku dan belasan perempuan lainnya diminta untuk mandi di pancuran suci. Sementara di halaman rumah A’bonenos, seekor babi siap disembelih. Ketika muncrat darah babi penuhi mezbah batu, aku merasa tubuhku melayang dan kosong. Kulihat A’bonenos juga turun menari, sosoknya menjadi lebih muda, montok dan menggiurkan. Tangannya menghunus sebilah pedang panjang, sembari memenggal-menggal tubuh angin. Kakinya berlilit giring-giring, menghentak dan melayang di atas udara. Ia serupa burung jantan dengan bulu warna-warni menegang demi menarik hati betina dan jantan sekaligus. Ah, tidak, ia serupa ayam jantan yang mencoba merayuku untuk segera kawin dengannya malam ini juga. Ia berada di tengah dekat mezbah sementara aku dan ratusan lelaki dan perempuan berambut basah menari sambil berangkulan dalam sebentuk lingkaran. Diiringi bunyi tambur dan gong, ribut giring-giring di setiap pergelangan kaki kami dan puisi dari mulut A’bonenos yang merah sirih pinang.

Datanglah ayam jantanku, pagut seluruhku.

Kau kulihat melayang-layang bagai jantan bagai betina, sementara aku mabuk berkali-kali hingga menguncang-guncangkan tubuhku sendiri. Matamu tajam menumpas habis keperempuananku. Kau telah menjadi magnet terbesar dalam arena ini. Kau menjadi alasan bagiku untuk mabuk hingga sesakit-sakitnya tubuh jiwa ini. Karena dari tulang pipimu yang sunyi itu segala sakit dari masa lalu akan terobati. Entahlah. Aku melihat ada harapan kesembuhan dari keliaranmu di udara. Kau, A’bonenos yang biseksual dengan tubuh penuh roh nenek moyang.

Barangkali akulah perempuan paling sakit di lingkaran ini. Roh halus menjadi sangat mengerikan, seperti halnya angin yang menusuk lubang telingaku. Keduanya serempak membuka lagi masa laluku:

Ayahmu terlalu sakit sehingga berani menjamah kemaluanmu ketika ibumu baru saja memberitahu kau cara mengganti pembalut. Kau bahkan mau saja diperdayai abangmu dalam sebuah simulasi atas buku bergambar dalam bahasa Sanskerta (itu hanya sebuah permainan, kata abangmu). Tapi apakah itu kurang? Ibumu pamit hendak ke pasar tapi dari televisi kau tahu tubuh ibumu telah hancur di dasar jembatan di tengah kota. Ia bahkan menitipkan sebuah surat betapa ia menyesal pernah menjualmu pada sahabat-sahabat lelakinya karena kalah taruhan. Tentu saja kau ingat sudah berapa kali kalian pergi ke dokter kandungan. Bahkan ingatan paling mengerikan ini: seorang dukun yang pernah menusuk kemaluanmu dengan sebatang kayu. Kau pingsan dan berdarah-darah di kemudian hari, lalu melacur lagi. Kau bilang itu sebuah usaha pembebasan diri dari sakit yang terpendam di lorong jiwa.

Apa saja yang masih kurang sakit dari masa lalu? Kalian menghunus tubuhku dengan pedang masa lalu yang sangat tajam. Mereka menyoraki isi kepalaku hingga keluar semua kepahitan yang pernah kusembunyikan di bawah sadar. Aku muak dan muntah berkali-kali sampai aku merasa kosong di penghujung pesta dan dengan linglung menemui wajah sunyimu di perjalanan pulang. Kau bertanya sambil mencium tanganku, apakah sudah sedikit lega? Aku mengangguk saja karena tubuhku benar-benar telah ringan. Desir angin menembusi rongga dada dan kepalaku tanpa tertahan lagi oleh pahit yang pernah kutimbun sekian lama.

Aku dipilih karena paling mampu mengundang roh penyembuhan, katamu. Kemudian kau panggil seorang tukang nujum untuk memeriksa batinku. Seorang nenek nyentrik dengan rambut rerimbun beringin dan segumpal tembakau di balik bibir merah sirih pinang. Ia masuk ke tubuhku, menelusup hingga lorong-lorong di bawah sadarku. Kemudian aku disuruh pergi begitu saja seolah tiada cacat lagi. Di teras rumahmu, aku diajari menari, didongengi berbagai mitos dan hukum lalu diajari berkidung dalam bahasa adat. Ahli nujum itu barangkali meninggalkan sesuatu di bawah sadarku, entah apa. Aku seperti mulai mampu membaca isi hati orang lain.

Tengah malam, A’bonenos mengirimkan bisikannya padaku lewat angin. Katanya, aku harus dipingit. Di rumah pingitan, perempuan-perempuan tua menanggalkan sarungku lalu mencukur habis rambut di kepala, ketiak dan celah kangkangku. Aku gelisah setengah mati melihat tubuhku seperti tuyul. Hasratku memuncak tatkala A’bonenos mengirimkan bisikan untukku. Sampai di situ, aku merasa ada sosok baru dibalik pundak A’bonenos. Katanya, kau harus siap mengantar doa-doa orang beriman ke kahyangan. Kau juga bisa mengutus beberapa pelukis untuk mengirimkan pesan adat ke dinding-dinding batu atau di mata air dekat kampung-kampung.

Siapakah kau pemilik suara malaikat?

Kau kini kusebut Perempuan yang Agung. Perempuan yang akan melahirkan kebijaksanaan. Penolong orang sakit.

Bagaimana aku harus bisa membedakan kau dengan A’bonenos?

Kita hanya perlu sekali waktu sebab kau harus pulang kembali ke duniamu, melanjutkan tugas memelihara bumi.

***

 

Mendekati senja sehabis hujan, pelangi sedang turun minum di kolam air terjun. Ia serupa naga yang melesat dari langit. Di dekat lidahnya yang sedang menjulur ke air, ketiga anak manusia itu sedang saling menjadi liar dalam pagutan yang telanjang. Menulis sendiri kisah mereka di dinding batu. A’bonenos, Perempuan yang Agung dan Perempuan Bersuara Lembut.

***

 

Dari berita yang beredar, seorang perempuan muda dilaporkan terbenam dalam kolam air terjun di kaki Gunung Kuning. Perempuan petualang itu datang dari kota bersama teman-temannya dalam sebuah ekspedisi menemukan lukisan rahasia berbentuk tiga manusia sedang berhubungan seksual di dinding batu air terjun. Berita tentang lukisan itu barangkali hanya mitos milik orang-orang kampung yang berdiam dekat air terjun keramat itu. Kisah tentang lukisan biseksual yang membisu dalam perjalanan waktu.

Kepanikan rombongan petualang itu menarik perhatian warga kampung terdekat. Sebuah acara adat mendadak dilakukan tiga hari tiga malam untuk memanggil pulang tubuh perempuan yang terggelam itu. “Kawanan belutlah yang telah mencuri tubuh perempuan ini,” jelas salah seorang pinitua.

 

Mollo, 2015

Last modified on: 7 Februari 2017

    Baca Juga

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

  • Sebastian Bejo yang Fenomenal


    “Malam itu, Dodit hanya membutuhkan guling, bukan agama ataupun wanita.” Begitulah ending dari cerita setebal dua ratus lima puluh halaman karya Sebastian Bejo yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh orang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni