(0 votes)
(0 votes)
Read 4240 times | Diposting pada

Twitter, Mak Gondut, dan Stereotip Etnis yang Usang

Ibnu Nadzir
Oleh:
Ibnu Nadzir
 Kolom

 

Ketika Tim Berners Lee mengembangkan World Wide Web, dia membayangkan Internet akan menjadi ruang pertukaran ide yang sejalan dengan demokrasi. Bagi saya, Twitter boleh jadi  merupakan perwujudan impian Tim Berners Lee tersebut. Twitter menjadi ruang pertukaran ide yang egaliter dan dan tanpa sekat.  Kita dapat melihat dialog antara ‘pakar’ dengan ‘awam’, ‘pemimpin’ dengan ‘rakyat’, juga ‘pesohor’ dan ‘penggemar’. Media sosial ini juga digunakan untuk mengembangkan jaringan (kalau tidak dapat dikatakan memantik) gerakan sosial. Hal-hal tersebut tidak pernah terbayangkan sebelum kemunculan Twitter. Sayangnya ruang kebebasan berpendapat tidak pernah hanya diisi oleh gagasan yang mencerahkan. Begitu juga dengan Twitter yang membuka ruang pada gagasan kelam. Tagar #CinaBanget yang ramai beberapa waktu lalu adalah salah satunya.

“Orang Minang itu pelit, orang Madura itu banyak akal, orang Sunda itu genit, orang Jawa itu plinplan”, dan stereotip etnis lainnnya adalah pengalaman yang terbagi bersama dalam keseharian orang Indonesia. Pun ragam humor yang diangkat dari stereotip etnis tersebut bukanlah sesuatu yang asing saya dengar. Saya dan teman-teman pun sesekali menggunakannya percakapan keseharian. Jika semuanya terasa cukup lazim, mengapa saya harus mempermasalahkan tagar tersebut? Bukannya itu hanya salah satu dari sekian banyak humor serupa? Bagi saya masalahnya terletak pada dua hal. Pertama, ruang di mana stereotip tersebut diproduksi. Kedua, asumsi pemikiran yang mendorong lahirnya stereotip-stereotip tersebut.

Stereotip di Ruang Publik

Sebagai warga yang tumbuh pada masa akhir Orde Baru, saya masih cukup akrab dengan slogan pemerintah yang jamak pada masa itu. Salah satunya slogan yang paling populer adalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Masih lekat dalam ingatan, bagaimana sekolah mengajarkan murid-murid untuk menghindari topik SARA dalam pembicaraan sehari-hari. Konon topik SARA adalah masalah yang sensitif. Warga negara Indonesia yang baik tentunya diharapkan mengikuti ketentuan itu, sebab perbedaan dapat memecah persatuan. Hari ini, saya masih menjumpai orang-orang yang berpikiran serupa. Menurut mereka topik SARA harus tetap dihindari agar ‘aman’.

Saya sulit sepakat dengan pemikiran itu. Jangan-jangan malah kebiasaan kita menghindari itulah yang membuat stereotip tetap mengendap dalam pikiran. Dalam konteks ini saya merasa bahwa humor berdasarkan stereotip etnis tidak sepenuhnya buruk. Dalam relasi yang personal, pertukaran humor ini mungkin malah berfungsi meruntuhkan prasangka yang mengendap. Di ruang publik? Ceritanya akan berbeda sama sekali.

Di ruang publik seperti Twitter, gagasan yang dilempar tidak terhindarkan dari ragam interpretasi. Tagar #CinaBanget akan dipahami dengan banyak sudut pandang bahkan yang tidak diinginkan oleh penuturnya. Bagi sebagian orang, tagar tersebut bisa dilihat sebagai bias terhadap etnis Cina. Orang lainnya mungkin malah melihat isi tagar tersebut sebagai representasi yang sebenarnya dari etnis Cina di Indonesia. Jika demikian, kicauan yang dimaksudkan sebagai humor yang malah mereproduksi stereotip dan prasangka antar etnis.

Dalam asumsi saya, figur-figur yang kemarin bermain dengan tagar semacam itu seharusnya punya kesadaran mengenai konsekuensi tersebut. Tapi alih-alih merasa bersalah, orang-orang yang kritis malah dianggap tidak punya selera humor. Ada juga yang melanjutkan seri twitnya dan mulai membahas stereotip etnisnya sendiri. Dalam pandangannya mungkin itu cara yang tepat untuk menunjukkan bahwa twit sebelumnya tidak bermaksud bias. Atau cara tersebut dipandang menjadikan twitnya secara keseluruhan tidak berbeda dari percakapan dalam relasi yang personal. Adanya keterlibatan banyak orang asing, menjadikan Twitter tetap sebagai ruang publik. Menjabarkan stereotip etnis sendiri juga malah menguatkan asumsi bawah sadar bahwa ada karakter tunggal yang melekat pada tiap etnis. Persoalannya berkaitan erat dengan cara pandang kita terhadap budaya.

Stereotip Sebagai Prasangka

Stereotip pada dasarnya lahir dari kurangnya interaksi yang terjadi antar kelompok. Kurangnya interaksi ini mengakibatkan adanya prasangka, terutama terhadap kebiasaan kelompok lain yang berbeda. Stereotip biasanya menempatkan etnis atau kelompok lain lebih rendah daripada etnisnya sendiri. Pemikiran seperti ini juga bukannya dimonopoli oleh orang-orang yang bodoh. Cendekiawan dari masa Aristoteles sampai Snouck Hurgronje pun memproduksi stereotip lewat bingkai-bingkai yang dianggap ilimiah. Produksi stereotip semacam ini juga sering digunakan untuk justifikasi kolonialisme pada tingkat negara. Narasinya tunggal, kebudayaan yang lebih tinggi punya hak untuk memberyadakan kebudayaan etnis lain yang tertinggal.

Kemunculan stereotip etnis erat kaitannya dengan cara pandang kita terhadap budaya. Stereotip etnis merupakan gagasan yang sejalan dengan asumsi bahwa budaya itu bersifat statis dan homogen. Tiap etnis dibayangkan memiliki karakter dasar. Individu di dalam etnis ini pun cenderung tunduk pada nilai-nilai homogen yang ada dalam etnis itu. Persoalannya, asumsi ini sepenuhnya salah. Banyak tulisan dan etnografi yang dibuat ilmuwan sosial menunjukkan bahwa budaya amatlah dinamis dan heterogen. Lebih dari itu, individu selalu punya peran yang aktif untuk bernegosiasi dengan budaya yang dianggap ajeg. Ilustrasi menarik megenai ini dapat ditemukan dalam film Sammaria Simanjuntak, Demi Ucok.

Dalam film tersebut dikisahkan seorang perempuan Batak bernama Mak Gondut terobsesi menikahkan anaknya dengan sesama Batak. Menurut Mak Gondut, menikahkan anaknya akan menggenapi kewajibannya sebagai seorang perempuan Batak. Gloria, anak Mak Gondut menolak permintaan itu karena ingin mengejar karir sebagai pembuat film. Interaksi antara kedua tokoh ini menjadi topik sentral dalam Demi Ucok.

Mak Gondut adalah orang yang percaya bahwa budaya Batak itu punya aturan jelas yang harus dituruti. Perilaku Gloria yang menolak pernikahan menjadikan dirinya ‘kurang Batak’ daripada Mak Gondut. Namun, pembacaan yang berbeda dapat dilakukan jika kita melihat budaya sebagai ruang negosiasi. Penentangan Gloria adalah contoh di mana individu melakukan upaya negosiasi terhadap ‘budaya Batak’ yang dianggap ajeg. Alih-alih dilihat sebagai ‘kurang Batak’, tindakannya dapat dilihat sebagai perumusan ‘budaya Batak’ yang berbeda ‘budaya Batak’ yang dipercaya Mak Gondut.

Kini, 25 tahun setelah Second Sex diterbitkan, Simone Beauvoir diwawancara oleh John Gerassi. Gerassi mempertanyakan bagaimana kalau kesadaran gender bagi laki-laki hanya penampakan sehari-hari dan belum sampai tataran pikiran. Bagi Beauvoir itu tidak masalah, selama laki-laki memperlakukan perempuan dengan setara maka dalam beberapa generasi pemikiran soal kesetaraan juga membaik. Analogi tersebut dapat dipakai dalam konteks stereotip etnis. Untuk menghapus stereotip etnis maka kita harus membiasakan membuatnya absen dari kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mungkin saja suatu saat stereotip etnis jadi gagasan yang benar-benar usang.

Last modified on: 13 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni