(2 votes)
(2 votes)
Read 3133 times | Diposting pada

Teringat Gandhi

Saat ajal jelang menjemput dirinya, tiba-tiba Muhammad Ali Jinnah teringat Gandhi. Sebuah rasa penyesalan membekapnya laksana awan yang dipenuhi mendung. Tahun 1997, menjelang 50 tahun kemerdekaan Pakistan, Jinnah sempat menumpahkan rasa sesalnya itu kepada majalah Time.


”Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan,“ katanya penuh sesal.

Jinnah tentunya wajar merasa menyesal. Setengah abad merdeka, setengah abad pula dia harus melihat Pakistan berdampingan dengan kekerasan. Sudah ratusan ribu orang terbunuh karena konflik. Mulai karena peperangan dengan India hingga konflik antara sekte Syiah-Sunni. Suatu yang kurang lebih sama terjadi juga dengan India.

Akar perpisahan Pakistan dari India, dimulai dengan adanya rasa kurang terwakili para penganut Islam. Dalam perjuangan lepas dari Inggris, mereka merasa Partai Kongres (PK) yang didominasi  orang Hindu berjuang sendiri. Maka dibawah Ali Jinnah, orang-orang Islam kemudian mendirikan Liga Muslim (LM) pada 1937.

Sementara Liga Muslim berdiri, Mahatma Gandhi—salah satu tokoh nasionalis India-- diundang oleh pemerintah Inggris. Di London, dia ditawari kemerdekaan India dengan dirinya sebagai pemimpin. Inggris juga menawarkan sebuah India yang terdiri dari negara-negara berdasarkan agama. Gandhi menolak mentah-mentah tawaran ”menggiurkan” itu. Dia lebih memilih India harus menjadi satu negara utuh yang merekat semua agama. Tidak hanya Hindu, agama tua yang banyak diimani sebagian rakyatnya.

Tahun 1944, LM perlahan menjadi sebuah partai besar. Jumlah anggotanya sudah hampir menyamai jumlah PK India. Dengan jumlah besar itu, Jinnah kemudian mengajukan hak mereka untuk bisa ikut juga menentukan masa depan India. Namun perundingan itu selalu gagal. Konon golongan Hindu garis keras dalam PK India menjadi penyebabnya. Mereka tetap tidak mengakui Liga Muslimin sebagai satu-satunya organisasi politik umat Islam India.

Sesudah semua upaya dilakukan dan PK India tetap menolak, Jinnah dan LM sampai pada sebuah pemikiran pesimis. Mereka menilai kepentingan umat Islam India tidak bisa lagi dijamin melalui perundingan. Harapan agar umat Islam dapat mencantumkan kepentingan mereka di dalam Undang-undang Dasar India yang akan disusun, telah terhapus.

Seiring dengan hilangnya kepercayaannya terhadap PK India, LM telah sampai kepada pemikiran yang dicita-citakan Sir Muhammad Iqbal. Iqbal memiliki pendapat bahwa kepentingan umat Islam India hanya bisa terlindungi, apabila mereka memiliki negara sendiri yang terpisah dari umat Hindu.

Tahun 1946, suara LM makin melonjak drastis. Bersama kemenangan itu, Jinnah mengumumkan rencana pendirian Pakistan setahun kemudian. Saat mendengar rencana Jinnah, Gandhi mendatangi Jinnah secara langsung. Di depan pimpinan LM itu, Gandhi berlutut dan memohon Jinnah membatalkan rencananya. ”Kamu ambil jabatan Presiden atau Perdana Menteri, tapi jangan berpisah dari kami,” katanya.

Mendengar permohonan itu, Jinnah hanya tersenyum. Dia mengatakan kepada Gandhi, tekad umat Islam untuk berpisah dari India sudah bulat. Akhirnya Gandhi luluh juga. Dengan lapang dada, dia menerima pemisahan itu. Walaupun dengan diiringi air mata mengalir dari pipi tuanya.

Setahun kemudian Pakistan berdiri. Dua hari setelah proklamasi, Jinnah membuat sebuah pernyataan penting. Dia menyatakan, ”Di Republik Islam Pakistan, semua agama mendapat perlindungan yang sama,” kata Jinnah. Dan sore harinya, Jinnah dilempari granat oleh seorang penganut Islam garis keras.

Pakistan kemudian mengarungi hari-harinya sebagai negara merdeka dalam nestapa. Sebagaimana India, perjalanan negara itu hampir selalu dirobek pertikaian antar sekte agama. Air mata dan darah seolah tanpa henti membanjiri Pakistan. Menjelang malaikat menjemputnya, Jinnah pun meradang. Dan dalam tangis kesedihan, tiba-tiba saja ia teringat Gandhi.

Jinnah dan Gandhi (Foto:lefigaro.fr)

Last modified on: 22 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni