(3 votes)
(3 votes)
Read 5265 times | Diposting pada

Tentang Marx, Sartre dan Downset

Illusion is all up in you, alternative must be more than this

Biological? Chemical? Science says I’m pure physical


Lower me to equality of dust with no destiny, Molecular structure
If this all that I be, then humans weren’t killed in the holocaust,
They’re just machines, reject void supplement, Man=rag equivalence
Humanity is more complex form of existence
No reliance on science, I cry soul defiance!
Dying of thirst, I more than mathematical equation
I am more than a chemical combination
My existence cannot be reduced to scientific theory!

Dying of Thirst – Downset

Yang paling mengganggu tentang Marx sebenarnya bukan pada hujatannya pada agama. Dapat dilihat dari kacamata “kondisi objektif” pada saat itu dimana agama memang dipakai untuk mengilusi, dalam istilah Marx, kekuatan ‘proletariat’. Namun teorinya tentang kediktatoran proletariat adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Marx bahwa sosialisme nya adalah “sosialisme ilmiah”.

Marx memang mendapatkan poin sampai pada titik kesimpulan yang disepakati oleh banyak pihak bahwa dunia bisa diubah. “Man makes his own history”, manusia membuat perjalanan sejarahnya sendiri, ia dapat mengubah alam sekitarnya sedemikian rupa agar ia dapat hidup. Ia menyatakan bahwa diperlukan dasar materialis atas penulisan sejarah yang pada saat itu ia pun ‘menemukan’ cara membaca sejarah berdasarkan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat. Sebagai seorang analis perkembangan sejarah, Marx diakui sangat berpengaruh. Sebelum teorinya muncul, sejarah yang terbaca di dunia adalah sejarah yang menari dengan ide-ide belaka, yang dipimpin oleh para ‘orang-orang besar’, ‘para agung’ dan para ‘tokoh sejarah’.

Materialisme Marx memberikan cara memandang baru, membelokkan perhatian kita kepada peranan vital ‘kepentingan ekonomi’ yang mendasari perkembangan sejarah dan membentuk perilaku manusia. Terlebih kritiknya atas masyarakat borjuis yang tidak adil dianggap sangat mengagumkan. Jika memang diperlukan pencatatan maka, sekali lagi, memang apa yang Marx hadirkan mempengaruhi banyak orang dan memberikan sesuatu yang menggerakkan roda sejarah pada waktu setelahnya.

Namun di situ pula lah letak kehampaan pandangan Marx tentang sejarah. Sejarah dalam pandangan Marx terlihat menjadi begitu determenistik. Kepastian ‘ujung’ sejarah di depan nampaknya sudah dapat terlihat dengan gampangnya dengan memakai metoda membaca gerak perkembangan masyarakat. Dengan pandangan ini pula Marx menyatakan bahwa komunisme bukan hanya sekedar keadaan yang harus diciptakan namun terlebih karena ia adalah cita-cita yang harus diikuti oleh kenyataan, ...wow.

Tak heran jika para Marxis ortodoks begitu dogmatisnya memegang prinsip ini karena memang pandangan Marx tentang sejarah ini hampir menutup semua kemungkinan kritik terhadapnya. Mereka menjadikannya sebagai sebuah ‘akhir sejarah’ yang wajib terlaksana atas nama ‘sejarah’ dan membuat para pengikutnya tak mau mengakui ketidak-absolutan pandangan ini meski didukung dengan fakta ‘seilmiah’ apapun, padahal mereka sendiri menyatakan diri mereka para ‘sosialis ilmiah’.

‘Pandangan surgawi’ Marx bahwa di masa depan sejarah akan terbentuk masyarakat sosialis menjadi alasan pembenaran bagi siapapun yang mengatasnamakan terbentuknya masyarakat tersebut. Ini semakin menjadi parodi usang ketika keruntuhan kapitalisme yang diperkirakan tak kunjung datang. Sejarah pun menyisakan kita sebuah catatan penting tentang fleksibilitas kapitalisme yang dapat beradaptasi dengan beragam teknik dan wujud, bahkan dalam bentuk yang tak pernah diperkirakan oleh Marx sendiri; dari terbentuknya ‘masyarakat konsumen’ hingga ‘kapitalisme cyber’, yang memberikan kita ironi, dari RRC di WTO hingga gelas mug Che Guavara.

Setelah ini semua, masih layakkah ‘distopia’ Marx tadi dijadikan blueprint masa depan? Masih layakkah disebut ilmiah dan dijadikan pembenaran atas keyakinan akan kebenaran absolut? Betapa tidak ‘rock n roll’-nya dunia jika masa depan sudah ditentukan kepastiannya dengan tidak keren pula. Kepastian dunia akan ujung sejarah, kiamat, ratu adil dan hal-hal lain yang membuat manusia pasif memang di-demistifikasi namun diganti dengan kepastian masyarakat sosialis yang, hingga hari ini, orang-orang ‘kiri’ beragam ‘mahzab’ berebut klaim bahwa teori turunan mereka lah yang paling representatif dan solid untuk dijadikan panduan menuju ke arah sana. Moral hari ini pula, dengan demikian, ditentukan oleh moral masa depan yang harus diikuti oleh siapapun yang hidup sebagai konsekuensi untuk tidak mati hari ini dan atas nama determenisme sejarah. Ahh, ...betapa tidak rock n roll-nya dunia. Begitulah ide Marx, yang tak heran pada abad berikutnya, teori ‘kediktatoran proletariat’ dan determenisme sejarahnya melahirkan setan-setan pembenaran dari Mao hingga Stalin.

Hari ini saya menemukan lagi kaset Downset lama saya yang lama menghilang dan ternyata menyangkut di dalam jewel casing “Megahit 10” milik adik saya. Saya langsung beromantisme ke tahun 93-an. Dahulu saya pikir Downset meniru habis-habisan Rage Against the Machine, tapi ternyata tidak. Roy Z dkk sebelumnya pernah membentuk band bernama Social Justice yang merupakan cikal bakal Downset dan memang musiknya sudah nyerempet-nyerempet Downset yang sekarang.

Dari liriknya pun agak jauh berbeda dengan RATM. Ketika Zack dkk lebih banyak terpengaruh marxis klasik dan mengaplikasikannya untuk menjelaskan masalah-masalah politik interest mereka seperti kasus Mummia, Peltier dan Zapatista, Downset di lain pihak, lebih memfokuskan pada seruan empansipasi diri dan seruan untuk mengorganisir hood yang sekaligus berarti juga pemberontakan di ghetto-ghetto L.A. Saya ingat pada tahun-tahun itu, Downset hampir menjadi anthem di hampir setiap penangkringan. Album debutnya yang self-titled, seperti halnya Urban Discipline milik Biohazard, diam-diam menyelusup menjadi bagian dari romantisme scene Bandung di awal 90-an dulu.

Saya tiba-tiba teringat pada lagu penutup album tersebut, "Dying of Thirst", yang mengingatkan saya pada Sartre, seorang dari mereka yang menolak keabsolutan determenistik dari keilmiahan hidup. Sartre pun konon pernah sesak ketika ia kesulitan bernafas di antara para marxis ortodoks. Lepas dari debat tak berujung antara dia dengan sahabatnya Albert Camus seputar keterlibatannya dan dukungannya pada partai komunis – meski ia tak pernah bergabung resmi di dalamnya – satu hal yang paling menarik dari Sartre bagi saya adalah usahanya dalam mengabungkan ide awal Marx dengan eksistensialisme-nya yang terkenal itu.

Sesuatu yang sekilas kontradiktif. Satu sisi eksistensialisme menekankan kemerdekaan individu, free-will dan keabsurdan / ketidakbermaknaan hidup, satu sisi lain Marxisme mengajarkan determenisme dan kolektivisme yang dipenuhi oleh nilai-nilai yang lahir dari keniscayaan ujung sejarah tadi. Awalnya memang agak sulit untuk dibayangkan. Sartre memulainya dengan membedakan pandangannya dengan, dalam bahasanya, para ‘marxis pemalas’ yang terlalu yakin dengan metoda analisis yang terlalu mekanis dan reduksi vulgar atas manusia yang hanya dilihat sebagai objek material dan hanya dianalisa dengan kacamata ‘ilmiah’ gerak sejarah masyarakat. Sartre mengiyakan bahwa ‘manusia mengukir, membuat sejarahnya sendiri’ seperti yang Marx utarakan. Namun berbeda dengan Marx, ia menambahkan bahwa determenisme / kepastian sejarah tak bisa menentukan arah perjalanan manusia karena memang manusia membuat sejarahnya sendiri dengan jalannya masing-masing yang tak bisa diperkirakan.

"Dying of Thirst" adalah lagu pamungkas di album Downset ini. “My existence cannot be reduced to scientific theory”, Roy Z berteriak ketika ia mulai muak dengan penolakan-penolakan para marxis ortodoks atas hak asasi manusia. Para marxis ortodoks menolak hal tersebut atas alasan HAM lahir dari masyarakat borjuis (baca: Revolusi Prancis yang konon merupakan revolusi para borjuis). Roy Z berkata bahwa meski memang HAM memang sering dijadikan alasan bagi ke-egoisan borjuis, bukan berarti mereka seharusnya menolak esensi dari HAM tersebut yang salah satunya bahwa individu memiliki kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Dan nampaknya "Dying of Thirst" sangat mengingatkan saya pada usaha Sartre menjelaskan eksistensialisme-nya. Entah disadari atau tidak, dipengaruhi Sartre atau tidak, Roy Z telah menjelaskan apa yang pernah dihadirkan Sartre sebelumnya mengenai eksistensi manusia yang diiidentikan dengan pilihannya, dengan keputusan dan kebebasan. Mungkin yang membedakannya adalah ketika Sartre lebih banyak menggambarkannya dengan rasa takut, kesedihan yang mendalam dan pengabaian, Downset hadir dengan kemarahan, hedonisme anak muda urban pada hasrat mereka (graffiti/urban arts, youth/subculture politics) dan hadir dalam bentuk rap yang brutal dan riff-riff ala Black Sabbath dengan meminjam groove hardcore.

Downset mengingatkan saya kembali pada Sartre yang tetap meyakini bahwa man made his own history, bahkan ia berujar bahwa ide dasar Marx ini yang banyak dilupakan oleh para marxis. Dan disitu pula lah letak kejelasannya, bahwa kenyataannya manusia memiliki otonomi dan pilihan sendiri sekaligus tanggung jawab penuh atas apa yang dilakukannya.

Manusia bukan alat pasif dari dialektika sejarah, bahkan sebaliknya manusia yang memiliki kuasa menggerakkan gerak sejarah dengan dialektis. Manusia bukan produk sejarah belaka yang kering akan cerita, karena setiap individu yang memiliki dan sadar akan pilihannya, memiliki sebuah proyek sepanjang hidupnya yang memiliki cerita masing-masing, yang sangat mungkin tak akan pernah tercatat dalam buku sejarah dan akan sangat sulit dipahami dengan kacamata metode pembacaan gerak sejarah masyarakat ala Marx.

Oleh karena itu pula Sartre pernah berujar bahwa para marxis ortodoks telah menjadikan materialisme historis menjadi suatu metode yang dogmatis, menjadi ‘formula pasti’ yang mencoba memaksakan segala sesuatu menjadi bentuk-bentuk yang dapat dengan mudah diperkirakan dan diyakini. Ia menyebutnya sebagai kelemahan manusia ketika berhadapan dengan keabsurdan hidup dan ketidakpastian, mereka yang mencoba nyaman dengan kepastian-kepastian meskipun itu hanya khayalan dan menolak hidup tegar menjalani pilihannya meski tak pernah ada jaminan semuanya berjalan sesuai harap.

Sartre, memang pada lain kesempatan, justru lebih sering menampakkan sisi sebaliknya pada sikap-sikapnya dalam medan politik seperti dukungannya pada totalitarian di Aljazair yang menjadi fokus debatnya dengan Albert Camus. Beberapa orang menganggap itulah titik awal dekadensi Sartre tepat seiring dengan bertambah umurnya dan ide-idenya mulai mengendur untuk kemudian berkompromi dengan politik praktisnya di lapangan.

Walaupun demikian Roy Z dan Downset-nya mengingatkan saya kembali pada satu dan banyak hal ketika berhadapan dengan ide-ide lama dunia lama yang perlu di-redefinisi, tentang Tata Dunia Baru yang memerlukan bentuk-bentuk perlawanan baru. Bentuk-bentuk yang tidak membiarkan dunia lama mendefinisikan apa yang kita lakukan hari ini; kita yang harus mendefinisikan dunia. Untuk tidak berhenti di buku-buku ‘kiri’ dan mulai menjalani hidup sepenuhnya.

...No reliance on science, I cry soul defiance!
Humanity is more complex form of existence
Dying of thirst, I’m more than mathematical equation
I am more than a chemical combination....

Last modified on: 10 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni