(4 votes)
(4 votes)
Read 5205 times | Diposting pada

Syiah dan Sejarah Panjang Menjadi Korban

Arman Dhani
Oleh:
Arman Dhani
 Kolom

 

Saya kira wajah Islam di Indonesia hari ini telah gagal menunjukan sisi humanismenya. Penjagalan atas nama Tuhan masih terjadi. Dan penindasan yang dilakukan sekelompok manusia fasis masih saja ada. Parahnya adalah negara mendiamkan atau dalam beberapa kasus mendukung penindasan ini.


Mungkin benar, jika almarhum Abdurahman “Gus Dur” Wahid masih hidup, dia akan sangat kecewa, marah dan kesal atas apa yang telah terjadi di Sampang, Madura. Perihal klaim salah satu kelompok yang menganggap diri sebagai pewaris tunggal kebenaran Ilahi. Perihal sekelompok manusia yang mengklaim lebih benar daripada yang lain dan dengan berdasarkan dalil-dalil agama mereka melegitimasi kekerasaan terhadap yang lain.

Semua bermula dari usaha jemaah Syiah di Nankrenang untuk memperoleh hak berkeyakinan mereka, namun yang terjadi justru teror dan penindasan oleh mereka yang mengaku jemaah Ahlus Sunnah. Dalam artikel berjudul “Api Kebencian dalam Sekam” yang ditulis oleh Muhammad Iqbal tampak jelas ada usaha sistematis oleh ulama-ulama dan aparat lokal untuk mengekang hak Jemaah Syiah.

Perlahan sejak tahun 2006 berbagai fitnah dihembuskan yang menyebut Syiah sebagai aliran terlarang, meskipun jauh sebelumnya Jemaah Syiah di Sampang, lebih khusus di Nangkrenang, telah hidup berdampingan dengan warga sekitar. Ulama Ahlus Sunnah, menisbatkan jemaah Syiah sebagai sesat karena menistakan para sahabat nabi seperti Abu Bakar As Shidiq, Umar Bin Khatab, dan Usman Bin Affan. Dalam pertemuan di tahun 2009 perwakilan Ahlus Sunnah dan Jemaah Syiah bertemu untuk kemudian beradu argumen. Namun secara sepihak, seperti yang diungkapkan Iqbal, Syiah dinyatakan sesat.

Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala kata intelektual muslim Syiah, Ali Syariati. Saya kira kata-kata itu, sampai hari ini, belum lagi selesai menemukan bantahannya. Sejak kematian Imam Hussain hingga hari ini, kekerasan berdarah selalu menjadi karib kaum Syiah. Apa yang terjadi pada umat Syiah di Sampang hanya sebagian kecil dari sejarah panjang penindasan pada kaum ini.

Baru dalam hitungan bulan yang lalu saya sebagai umat Muslim merayakan Asyura, Sebuah hari istimewa yang dalam sejarah Islam terjadi berbagai kejadian magis, historis dan epik. Seperti hari saat Allah, Tuhan umat Muslim, menciptakan jagat raya pada hari kesepuluh, hari diciptakannya Adam, diciptakannya Jibril, hari kelahiran Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayub, dan hari dimana Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan (orang yang pernah sangat membenci Rasulullah), secara biadab membunuh Imam Hussain pada tahun 680 Masehi.

Karen Armstrong dalam bukunya Short History of Islam, mengatakan ini salah satu dari sekian banyak fitnah (pertentangan) yang terjadi dalam Islam. Kematian Imam Hussain melahirkan Syiah. Ini bukan tanpa sebab, karena pada sebelas tahun sebelumnya dinasti Ummayyah juga membunuh Imam Hussain. Pelakunya jelas kerabat Yazid, yang meracuni cucu tertua Rasullullah tersebut.

Dua alasan ini cukup bagi para pecinta Ali untuk kemudian meradang. Menganggap bahwa rezim Ummayyah adalah rezim yang tiran, despotik lagi lalim. Seperti kaum Khawarij yang dulu memisahkan diri dari khalifah Ali, karena menganggap Ali gagal menindak pembunuh kalifah Ustman. Sejak kematiah Hussain kaum Syiah pun mundur ke jazirah Persia (Iran-Iraq) demi menjaga kehormatan dan menghindari rezim Yazid.

Jalalludin Rakhmat, intelektual Muslim Syiah Indonesia, menulis dalam sebuah pengantar yang menggambarkan bahwa kaum Syiah adalah kaum yang dekat dengan kematian dan darah. “…suatu kesadaran sejarah dalam hati orang-orang Syi’ah yang menyaksikan 10 Muharam sebagai benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan nurani masa lalu.”

Sepanjang sejarah kaum Syiah selalu merasa memiliki keterkaitan emosional dengan peristiwa Karbala. Hal inilah yang membuat Syiah menjadi eksklusif. Keterikatan emosional yang begitu kuat membuat mereka merindukan Imam Mahdi. Keturunan Nabi yang kelak akan membawa Islam (dan dunia) ke arah yang jauh lebih baik.

Linda Cristanty pernah menuliskan. "Saat Cucu Nabi dibantai dan disakiti. Syiah-lah kaum pertama yang angkat senjata dan berkorban untuk menyelamatkan mereka.” Apa pun kata dunia tentang orang-orang Syiah, kita harus ingat bahwa mereka yang membantu kakek moyang kita. Bahkan orang-orang Sunni yang menyatakan diri mewarisi ajaran Muhammad, semuanya melarikan diri saat Imam Hussain dipenggal dengan keji.

Kekerasan terhadap umat beragama di Indonesia bukanlah hal yang baru. Sejak sebelum kemerdekaan di Sumatera Barat ada Kaum Padri yang melakukannya. Salah satu tokoh padri yang terkemuka adalah tuanku Imam Bonjol, yang telah melakukan pembasmian Mazhab non- Hambali. Semua yang bertentangan dengannya dimusnahkan atas nama perjuangan melawan penjajah.

Di era modern seperti sekarang, organisasi fasis yang berkedok agama terus bisa melakukan aksinya melakukan penindasan. Kita tahu, kalau kekerasan dalam beribadah di Indonesia tiap tahun kian meningkat. Wahid Intitute baru-baru ini merilis data bahwa di tanah air terjadi peningkatan tindakan kekerasan atas nama agama yang cukup signifikan. Jika pada 2010 lalu terjadi 64 kasus kekerasan terhadap umat beragama. Maka tahun 2011 meningkat menjadi 92 kasus pelanggaran, dengan Jemaat Ahmadiyah menjadi korban terbanyak dengan 46 kasus (50%), di susul Jemaat GKI Taman Yasmin Bogor 13 kasus (14%), jemaat gereja lainnya 12 kasus (13%), kelompok terduga sesat 8 kasus (9%), Millah Abraham (4 kasus), kelompok Syiah dan aliran AKI (2 kasus), aliran Nurul Amal, aliran Bedatuan, aliran Islam Suci, Padepokan Padange Ati dan jemaah Masjid di NTT, masing-masing 1 kasus.

Di atas semua itu, apa yang terjadi kepada jemaat Syiah di Sampang Madura adalah bukti ketakutan atas iman yang lemah. Seperti juga kaum Padri yang takut nagari-nagari tenggelam dalam permusuhan mazhab dan kelompok dominan yang mengaku paling beragama ini kemudian memaksakan kehendak mereka, seolah-olah kebenaran adalah perihal jumlah.

Saya membayangkan bagaimana perasaan Imam Hussain saat memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersama 30 orang penunggang kuda, 40 pejalan kaki dan banyak anak-anak. Sementara di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Apakah Imam Hussain tak menyadari bahwa maut sedang mengintai nyawanya?

Muhammad Ali Hanafiah, saudara tiri Imam Hussain ternyata masih hidup saat itu untuk berkisah. Bahwa pada detik detik sebelum keberangatnya menuju Kuffah Imam Hussain masih tegak sebagai Muslim yang berdaulat. Dengan tegas Imam Hussain berkata. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan."

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Bertolt Brecht dalam puisinya “To Posterity”. Sebuah nubuat mengenai zaman yang gelap. Zaman yang tunduk pada dominasi teror mayoritas yang menolak kritik. “Ah, what an age it is, when to speak of trees is almost a crime"

***

Last modified on: 26 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni