(7 votes)
(7 votes)
Read 5067 times | Diposting pada

Sewindu, Kematian dan Cinta Munir

Usman Hamid
Oleh:
Usman Hamid
 Kolom
Sewindu, Kematian dan Cinta Munir Kredit Foto: The Jakarta Post

 

Sewindu sudah kita beranjak dari hari yang kelam, hari ketika seorang aktivis HAM Munir Said Thalib (1965-2004) dibunuh dengan penuh kerahasiaan. Sewindu berlalu, namun keadilan untuknya belum hadir di Indonesia, negeri yang begitu dicintai Munir.

Desakan telah berulang-kali ditujukan ke otoritas negara. Hasilnya jauh dari cukup, bahkan nyaris nihil. Menjadi misteri kegelapan Indonesia setelah perjuangan Munir dihentikan secara jahat oleh para penguasa yang jahat. Ke mana negeri ini akan bergerak, kalau kejahatan yang menang? Dalam situasi inilah kita kembali memperingati kematian, juga cinta dalam sosok Munir.

***

Kematian itu takdir. Dari dulu orang bilang begitu. Tapi arti takdir itu sendiri apa, sering diremehkan. Bagi Munir, takdir itu melampaui sekadar penetapan garis tempus dan locus dari kematian hidup kita. Mati itu pasti. Tapi bagaimana keadaan terjadinya kematian pada kita adalah tak terbayangkan. Juga apa yang terjadi setelahnya. Kematian menjadi ditakuti. Banyak manusia takut mati.

Ketakutan itu muncul dari cinta duniawi. Cinta yang kerap diperoleh dari pemenuhan hasrat dan nafsu material berlebihan. Tak heran jika kita mendengar upaya memperpanjang hidup atau menghambat kematian dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi-inovasi teknologi. Kematian, dikatakan, harus ditaklukkan.

Sifat kematian memang misterius sekaligus mistis. Ada yang menilai kematian itu dengan penuh ketenangan dan harapan. Kematian bukanlah kematian. Kehidupan setelah mati. Itu yang abadi. Tugas yang hidup, adalah menjaga ruh kehidupan. Dengan apa, ya dengan cinta.

"Man, aku ada sesuatu untukmu," kata Munir suatu ketika menjelang dini hari di sebuah rumah di bilangan Tebet. Rumah ini menjadi tempat kerja sehari-hari bagi jurnalis atau aktivis dari Voice of Human Rights pimpinan Rahardja Waluya Jati.

Kemudian saya lihat Munir turun dari tangga dengan sebuah jaket. Jaket itu jaket anti peluru. "Man, aku dapat informasi tentang rapat-rapat beberapa jenderal, mereka ngamuk ke kita, terutama langkah-langkahmu di KPP Komnas HAM. Ada yang usul agar kamu diculik. Tapi seorang mantan petinggi intelijen militer menolaknya. Ada sekilas ide yang aku dengar; menembakmu."

Kematian itu sekali lagi, adalah kepastian. Tapi bertukar pikiran dengan Munir membuat saya ingin memperluas pengertian kematian lebih dari sekadar garis ruang dan waktu. Takdir kematian adalah ketetapan yang menjadi aktif keberlakuannya saat organ tubuh vital kita seperti jantung tak lagi bisa bergerak. Entah karena suatu penyakit, insiden kecelakaan atau akibat suatu kejahatan. Kematian itu adalah ketika nafas terhenti. Entah itu karena peristiwa-peristiwa atau faktor lain yang sebenarnya juga bisa dipikirkan. Yang harus kita jaga adalah kehidupan itu sendiri, agar kita tak mati konyol. Kita mungkin akan dibodohi, disingkirkan, dibunuh di trotoar jalan, oleh penguasa yang jahat. Tetapi kondisi kita ketika menerima kekerasan itu ada dalam keadaan yang baik, dan bukan mati konyol.

***

Lalu bagaimana merefleksikan cinta Munir? Cinta dan kematian kerap menjadi topik yang dipertentangkan. Dalam Munir, keduanya saling berjumpa di titik harmoni. Cinta itu asyik. Fitrah manusia yang suci sekaligus tanggungjawab yang abadi.

Kita bebas mencintai apapun namun cinta yang sesungguhnya tetap harus dipilih, dipastikan, diperjuangkan dan dimenangkan. Harus ada dedikasi. Munir juga begitu. Ia memilihnya dengan seksama. Mulai dari keluarga besarnya, istrinya Suciwati, anak-anaknya Alif dan Diva sampai kepada korban bahkan kepada tentara – yang oleh banyak orang selalu dianggap sebagai musuhnya serta terutama pada negeri ini.

Kisah kecintaan Munir pada tentara juga besar. Keseluruhan problem tentara ini, kata Munir, harus diperjuangkan oleh kita, terutama oleh otoritas sipil. Bukan kemudian dibiarkan sebagai pertahanan diri dan perjuangan diri dari tentara. Di dalam situasi darurat, Munir menerobos masuk wilayah pemberontak Gerakan Aceh Merdeka, dan berhasil membawa seorang prajurit Kopassus yang disandera.

Ia tak merasa marah dengan prajurit-prajurit Kopassus yang diadili di Mahkamah Militer terkait penculikan aktivis. Prajurit rendahan itu, kata Munir, tak mempunyai otonomi personal untuk menentukan tindakan dirinya, menculik atau mengeksekusi mahasiswa. Baginya, tindakan mereka ada dalam garis rantai komando petingginya. Petinggi itulah yang bagi Munir jauh dari sikap ksatria, sehingga selalu para prajurit rendahan dihukum bila terjadi akibat negatif.

Berbeda dengan petinggi militer seperti Jenderal Agus Wirahadikusuma yang dalam kasus pembantaian Tengku Bantaqiah beserta para santrinya, tegas berkata komandan harus bertanggungjawab, bukan mereka yang di lapangan.

Pasal 65 UU TNI adalah "Pasal Munir", kata Andi Widjajanto. Dari Munir-lah pasal ini muncul: mewajibkan negara menyejahterakan prajurit militer. Mungkin saya subyektif. Tapi bicaralah dengan mereka yang mengenal Munir di luar lingkaran organisasi HAM tempat Munir berada, antara lain ahli studi pertahanan dan militer, Rizal Sukma, Andi Widjajanto dan Ikrar Nusabhakti atau jenderal militer yang mengenalnya.

Munir bukan tidak tahu pesawat milik perusahan Garuda yang membawanya pada kematian punya banyak kekurangan dibandingkan maskapai penerbangan internasional. Demi kenyamanan suaminya, Suciwati bahkan menanyakan hal itu sebelum ia berangkat. Apa jawabnya, ”Kalo aku naik Garuda yang untung kan negeri ini.”

Pilihan terhadap subyek yang dicintai sangat penting. Banyak orang yang menunjukkan cintanya yang luar biasa sampai-sampai rela mati. Namun, karena subyek yang dicintainya tidak benar maka pengorbanan bagi cintanya itu menjadi sia-sia.

Konon, kisah perang di zaman Nabi adalah contohnya. Banyak yang mengira semua pengikut Nabi yang tewas akan masuk surga. Tidak demikian, kata Nabi. Ada yang mati karena tak kuat menahan luka (cobaan), ada yang mati karena kesombongan.

Munir bukan tidak pernah salah mencintai sesuatu. Cinta meski polos dan tulus tetap harus diperiksa. Kemauan untuk memeriksa kembali subyek yang dicintai itulah membuat dia lebih kritis dalam mencintai sesuatu. Kebijaksanaan dia inilah yang membuat ia bisa keluar dari jeratan ekstrimisme Islam.

Justru karena kita cinta, kita harus kritis dan tidak nrimo kepada subyek yang kita cintai. Jika anda cinta negeri ini, periksa apakah negeri ini berlaku benar? Jika ternyata tidak, karena cinta, anda harus terlibat dalam perubahannya. Itu sebabnya, ketika seorang pemimpin yang baik kemudian berubah menjadi rakus dan jahat, orang bijak kerap mengatakan, yang membuat dia menjadi jahat justru orang-orang yang mencintainya.

Too much love will kill you.      

Munir sadar itu, maka dia memilih membela korban yang tentunya tidak memiliki tanda jasa sebanyak para jenderal yang dihadapinya. Dia cinta negeri ini, namun dengan akal sehat dan nuraninya. Dia bisa saja membiarkan fakta-fakta demi stabilitas negara yang lebih dibutuhkan saat itu. Dia menyilakan orang menuduhnya penjual negara, antek internasional, Yahudi dan lainnya.   

Cinta dan nafsu mestinya mudah dibedakannya. Munir mati tidak karena kebanyakan cinta. Ia wafat dalam cinta yang cukup, yang terkontrol, yang sehat. Yang membunuhnya –yang merasa memiliki cinta pada suatu yang benar– jelas mengkhianati cinta yang membayanginya. Yakni hanya nafsu belaka. Sebab jika dia mencintai negeri ini, dia tidak membunuh, menghilangkan dan menyiksa siapapun yang berbeda pandangan dengan dirinya.

Munir punya kesempatan untuk melakukan kekerasan pada orang yang menyerangnya di dalam kamar mandi kantor, saat Kontras diserang. Ia punya pengalaman berkelahi, namun itu tidak dilakukannya. Ia tahu orang yang menyerangnya butuh cinta darinya.

Last modified on: 21 November 2013

    Baca Juga

  • Love Heard: Depresi Cinta Bersama di Pasar Santa


    Iramamama & Pub Loesco Bar present #intimsession vol.1 "LOVE HEARD" A night for the broken hearts, yearning lover, secret admirer, jealous beau and lonely sweethearts Awwww.... ♡ A laid-back music…

     

  • Ritual Pemakaman


    Pagi telah lama bersiaga ketika kutuntaskan urusan antara lidah dan kerongkongan dengan lepuh panas teh aroma melati. Pagi yang wajar, kecuali fakta bahwa pagi ini adalah langkah-langkah awal yang dilayangkan…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Ketika Demokrasi Membuat Tirani: Ramalan Plato Tentang Hari Ini


    Andrew Sullivan menjelaskan bagaimana ramalan masa depan Demokrasi di dalam buku Republik karya Plato menjadi kenyataan di masa ini. Ini bukan hanya terjadi di Amerika, tapi juga di Indonesia hari…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni