(0 votes)
(0 votes)
Read 4977 times | Diposting pada

Sempitnya Paradoks (Tanggapan Untuk Andaru Pramudito)

Sempitnya Paradoks (Tanggapan Untuk Andaru Pramudito) http://www.equinoxdmd.com/podcast.html

 

“Mission of Burma played a noisily agressive brand of guitar pop that always real fuckin’ close to just-what-the-doctor-ordered, but most of the time it seemed like nobody cared. Why?  Well, people are assholes, I guess.” (Byron Coley and Jimmy Johnson, Forced Exposure, 1985)

Begitulah kalimat pembuka dari bab ketiga buku Our Band Could be Your Life karya Michael Azerrad yang berisi dokumentasi scene American-Indie-Underground tahun 1981-1991 (buku ini pernah diulas oleh Jakartabeat.net juga). Pada bab yang mengkhususkan diri untuk membahasa band Mission of Burma secara khusus ini, Michael Azerrad kemudian meralat kalimat terakhir dari kalimat pembuka itu. Bahwa ternyata those people are not assholes. Kegagalan Mission of Burma dalam meraih atensi publik saat itu lebih dikarenakan oleh masih minimnya support system bagi band underground pada masa itu:

"No matter how brilliant Mission of Burma was, nationally there were relatively few clubs they could play, few radio stations to air their music, few magazines to write about it, and few stores to sell it."

Sekitar dua dekade kemudian, setelah semua supportive system bagi band underground ini tersedia (internet, label musik independen, dan lain-lain) muncul masalah baru yang muncul justru dari dalam kultur underground itu sendiri: tentang independensi diri. Di dalam budaya underground yang mengagungkan independensi ini, kemunculan support system tadi dimaknai sebagai sebuah gangguan ideologis bagi beberapa kalangan.

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi di kultur musik underground Indonesia. Bagi saya pribadi, membahas tentang bagaimana model independensi yang paling ideal dalam kultur underground tidaklah terlalu penting. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan dan dikerjakan untuk bersama-sama membangun diri dan membangun lingkungan seni ini agar bisa terus berkembang.

Sampai pada suatu siang, saya dibuat tergelitik untuk ikut memperbincangkan pandangan pribadi saya tentang independensi dalam kultur underground setelah saya membaca sebuah tulisan di jakartabeat.net yang berjudul “Kegalauan Indie” yang ditulis oleh Andaru Pramudito.

Dalam tulisan yang mendasarkan diri pada definisi independen pada kamus Merriam-Webster, Andaru membahas tentang bagaimana band “indie” sekarang sudah tak lagi bisa dimaknai sebagai band independen karena  band tersebut telah “terikat/dependen” kepada beberapa faktor, salah satunya kepada label musik independen lokal. Ini kutipannya:

Karena itu, makna kata swadaya ini menjadi pudar, samar, transparan; ada, namun sudah tidak ajeg layaknya dulu. Kemunculan Fast Forward, Demajors, maupun Aksara (Inalillahi wa inalillahi roji'un) tidak menciptakan sebuah dobrakan baru. Bukan mereka tidak diperlukan. Kehadiran  mereka memberikan variasi yang lebih luas dalam blantika musik Indonesia. Tetapi, justru label seperti inilah yang membantu semakin kuatnya penyebaran miskonsepsi musik swadaya.”

Andaru menyatakan dalam tulisannya bahwa untuk mendapatkan identitas “independen” adalah dengan menjadi benar-benar swadaya. Swadaya di sini menurut Andaru adalah untuk terlepas dari institusi apapun, termasuk dari pekerjaan non-musikal yang bisa mengganggu idealisme musisi dalam menciptakan dan memainkan musik:

Jalur alternatif untuk menghidari kegalauan identitas ini adalah dengan tetap berkarya dan hidup dari karya tersebut. Konsekuensinya tentu adalah idealisme swadaya/indie hilang terkikis atas nama pasar, popularitas, dan pangan.”

Saya yang merasa kurang setuju dengan pendapat Andaru tentang konsep independen ini kemudian tak kuat menahan geli untuk menulis komentar di kolom komentar yang tersedia di halaman web jakartabeat.net. Saya menyatakan kebingungan saya tentang konsep independensi yang dikemukakan oleh Andaru. Bahwa sebenarnya ada satu lagi budaya yang terlewat untuk dibahas ketika membicarakan tentang independensi: budaya interdependensi. Saya kemudian mempersonifikasikan budaya interdependensi ini sebagai hubungan antara musisi dan label independen yang saling tergantung dan suportif satu sama lain.

Hal kedua yang saya sampaikan di kolom komentar tadi adalah tentang ketidak setujuan saya akan dikotomi bipolar yang diberikan oleh Andaru terhadap konsep profesionalitas bagi seorang musisi: antara menjadi musisi atau menjadi seorang non-musisi (tak bisa keduanya).

Dalam komentar saya ini, saya mencatut nama Cholil dari Efek Rumah Kaca dan personil Bangkutaman sebagai contoh dimana kombinasi antara menjadi musisi dan memiliki profesi tak haram, dan malah mampu untuk menghasilkan musik dengan kualitas yang tak main-main.

Namun, sekali lagi Andaru sukses membuat saya tergelitik ketika kemudian ia membalas komentar saya tersebut. Pada komentar balasannya, Andaru memberikan jurang pembeda (lagi) antara pengertian label musik dengan komunitas suportif. Bahkan Andaru juga menambahkan bahwa label musik independen lokal ini juga yang memberikan batasan bagi pecinta musik independen untuk hanya mengetahui Efek Rumah Kaca, Bangkutaman, dan lainnya  sebagai perwakilan musik independen nasional. Bahwa sebenarnya masih banyak band-band lokal bagus di luar band-band yang memiliki label tersebut tadi.

Tentang profesionalitas, Andaru menyatakan bahwa konsep hitam-putih yang disampaikannya pada tulisan adalah konsep pribadinya. Sambil menambahkan bahwa ia sebenarnya meragukan fleksibelitas kehidupan “abu-abu” yang dimiliki Cholil ERK (antara kerja kantoran dan sebagai musisi yang bernyanyi tentang fleksibelitas kehidupan dalam lagu “Balerina”).

Sempitnya Dikotomi, Luasnya Realita

Hal utama yang saya garis bawahi tentang tulisan Andaru ini adalah tentang gagasannya yang kontradiktif antara satu paragraf dengan yang lain. Jika di paragraf awal Andaru menyatakan bahwa label independen merupakan suatu hal yang menjauhkan diri musisi dari konsep independen karena sifat bawaan label musik (menjual musik, menjadi populer = tak lagi independen). Di paragraf akhir, Andaru membuat batasan lagi bahwa musisi yang benar-benar independen adalah musisi yang total dalam berkarya (tidak terdistraksi oleh pekerjaan non-musikal).

Jikalau memang begitu adanya, maka pasti identitas musisi independen hanya artefak utopis atau bahkan mitos saja. Karena pasti akan sulit sekali hidup menjadi musisi penuh waktu tapi tak boleh menjual atau mendapatkan uang atau royalti dari hasil karya musiknya (oleh label).

Satu hal yang juga saya garis bawahi dalam tulisan Andaru adalah tentang bagaimana Andaru justru sangat konsisten untuk menjaga pola pemikiran dikotomis di seluruh paragraf (bahkan juga tetap terjaga di kolom komentar). Bahwa hidup itu hitam atau putih. Antara menjadi musisi atau menjadi non-musisi. Antara menjadi musisi independen atau menjadi musisi non-independen.

Sayangnya, pemikiran dikotomis seperti inilah yang sering menjebak jiwa-jiwa seni di kolong langit ini menjadi macet dan mampet. Saya sering sekali menemukan band-band di daerah yang potensial, namun karena terjebak dengan pemikiran dikotomis seperti ini, karir musikal mereka menjadi hanya jalan di tempat saja sebelum nantinya mati dengan sendirinya.

Kebanyakan dari band-band potensial daerah tersebut takut dan terlalu sayang untuk kehilangan status independennya bila kemudian mereka bermain di panggung-panggung besar yang bersponsor.

Sebagian lagi tak mau untuk merilis albumnya lewat label tertentu karena takut dibilang sell-out oleh komunitasnya. Apa yang terjadi bila band-band daerah yang potensial itu hanya semata mengejar identitas independen (yang kini overrated ini)? Lalu salah siapa bila kita hanya mengenal band-band lokal semacam ERK, Bangkutaman, dan semacamnya? Apakah ini salah dari label independen atau ini merupakan kesalahan dari pola pikir kita sendiri?

Akan lebih baik bagi kita untuk dapat berlatih bermain-main dengan realita (yang tak sesempit kamus Merriam-Webster tentunya). Dibanding untuk terpenjara dalam pemikiran yang dikotomis tadi.

Idealisme yang nyata (setidaknya bagi saya) adalah idealisme yang tidak anti dengan popularitas atau bahkan dengan kapitalisme. Idealisme yang nyata adalah idealisme yang mampu mengakali dan memanfaatkan popularitas dan atau kapitalisme (yang sudah terlanjur mengakar ini) sebagai alat untuk menyampaikan pesan atau kritik sosial yang ada di kepala. Supaya kita tak lagi hanya menjadi konsumen bodoh dari marketing whiz itu.

Jika kasusnya adalah tentang menjadi musisi, sebenarnya kita bisa bermain-main atau memanfaatkan support system yang ada di sekitar kita. Semisal dengan memanfaatkan internet dengan maksimal (termasuk dengan memanfaatkan Myspace.com yang dimiliki oleh salah satu ikon kapitalisme: Rupert Murdoch), atau dengan mendistribusikan album lewat label besar (seperti yang dilakukan Koil lewat Nagaswara) demi dapat memperdengarkan musik (beserta ideologi di dalamnya) kepada masyarakat luas yang telanjur diberi sarapan musik basi setiap pagi hari.

Siapa tahu dengan begitu nantinya, masyarakat umum akan mampu mencerna musik dan pesan di lagu dari band semacam ERK, Koil, Seringai seperti yang kaum indie-hispter lakukan dan banggakan. Layaknya yang terjadi dengan album Nevermind dari Nirvana yang diedarkan secara massal:

I’m not saying for better or for worse, but it’s undeniable that that was the record that extended what so many people had felt and been a part of, and extended it to the people who had never thought those thoughts before, or thought to be part of something like that before” (Corey Rusk, On Epilogue – Our Band Could be Your Life, 2001).

 

Link ke tulisan pertama oleh Andaru Pramudito, "Kegalauan Indie"

Link ke tulisan kedua, oleh Aris Setyawan "Indie yang Banal"

Link ke tulisan ketiga oleh Pry S.Pry, "Menyelamatkan Indie?"

Link ke tulisan keempat oleh Andaru Pramudito, "Tentang Indie, Sekali Lagi"

Link ke tulisan kelima, oleh Fathun Karib "Membedakan Mainstream, Indie atau DIY"

Last modified on: 20 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni