(4 votes)
(4 votes)
Read 5529 times | Diposting pada

Sejarah Awal Industri Film di Hindia Belanda

 

Film tidak akan ada di bioskop tanpa adanya sebuah perusahaan yang memproduksinya. Walaupun kecil, perusahaan film berperan penting sebagai ujung tombak tersajinya film di bioskop untuk ditonton publik. Pasca film cerita Indonesia yang pertama berjudul Loetoeng Kasaroeng berhasil diproduksi pada 1926, perusahaan film banyak berdiri di Hindia Belanda (Indonesia). Pengusaha-pengusaha yang melirik bisnis sinema ini berlomba-lomba mendirikan berbagai perusahaan film, di berbagai kota.

Tercatat sepanjang tahun 1926 hingga 1930, ada sekitar delapan perusahaan film yang berdiri di Hindia, yaitu Java Film Company dan Cosmos Film di Bandung; Halimoen Film, Batavia Motion Pictures, Nansing Film Coorporation, Tan’s Film, Prod., Tan Boen Soan, dan Kruger Film Bedrijf di Batavia. Sebagian besar milik pengusaha golongan Cina, sisanya dikendalikan oleh orang kulit putih, yaitu Cosmos Film milik Carli dan Kruger Film Bedrijf milik Kruger.


Bisnis film memang sudah digemari dan dilirik oleh para pengusaha dari golongan Cina sejak masa-masa awal bioskop ada di Hindia Belanda. Banyak alasan kenapa mereka masuk ke bisnis film ini. Tapi, untuk alasan bisnis mendirikan bioskop ini, H.M. Johan Tjasmadi—orang bioskop, dan penulis buku 100 Tahun Bioskop di Indonesia—memberikan keterangan menarik. Menurutnya, para pengusaha bioskop dari golongan Cina terjun ke dalam bisnis bioskop karena:

  • Tertantang oleh anggapan bahwa hanya orang kulit putih yang mampu membuka bioskop, maka orang-orang Cina kaya pada waktu itu ingin membuktikan diri kalau mereka juga mampu.
  • Dengan mencetak undangan menonton bioskop yang indah, mereka dapat mengiringi pengiriman hadiah makanan atau minuman untuk para pejabat Belanda yang menjadi relasi mereka.

Ini merupakan kesimpulan yang ia dapatkan dari hasil wawancara dengan beberapa narasumber yang pernah sibuk di bisnis bioskop. Dari keterangan tersebut, terlihat bahwa motif utama mereka: gengsi.

Satu hingga tiga film diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tersebut sebelum teknologi film bersuara masuk ke Indonesia. Tan’s Film tercatat yang paling banyak, yaitu sebanyak lima produksi film. Tidak sedikit yang gulung tikar, karena berbagai alasan. Salah satunya tidak mampu membayar honor bintang filmnya. Semisal, perusahaan Nansing Film. Perusahaan ini nekat merekrut artis papan atas asal Shanghai Cina, Olive Young, dengan bayaran f 2.000 sebulan untuk membintangi film Resia Boroboedoer. Akibatnya, perusahaan itu bangkrut, dan filmnya pun tak terlalu mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Usaha Nansing ini adalah bentuk pemborosan yang sangat luar biasa pada masa itu.

Teknologi terus berkembang. Pada akhir 1929, film bicara (baca: film dengan teknologi suara) didatangkan dan diputar di Surabaya. Setahun kemudian, terbentuk Cino Motion Pictures, sebuah perusahaan film yang menjelma menjadi Java Industrial Film. Perusahaan ini dipimpin oleh The Teng Chun, seorang Cina peranakan yang lahir dari keluarga pebisnis kelas menengah. Ayahnya yang bernama The Kiem Ie berprofesi sebagai pedagang hasil bumi. The Teng Chun pernah mengenyam pendidikan di New York, Amerika Serikat, tapi akhirnya terpaksa berhenti. Sewaktu di New York, ia memanfaatkan masa luang untuk mengembangkan bakat di bidang perfilman, dengan mengikuti kursus menulis skenario. Setelah pendidikannya gagal total, ia berkelana ke Shanghai, Cina, di mana saat itu menjadi pusat perfilman Mandarin.

Tekad The Teng Chun terjun ke dunia bisnis film tidak main-main. Ayahnya yang semula menekuni bisnis eksport hasil bumi, ia bujuk untuk menjadi importir film. Pada 1930, The Teng Chun kembali ke Batavia. Ia mencoba mempraktikkan segala wawasannya mengenai teknik perfilman dan impor film. Bidikan The Teng Chun adalah golongan Cina yang dianggap sebagai pasar potensial sebagai penonton film1.

Tahun 1930 adalah masa film bicara. Otomatis dengan situasi tersebut, pasaran film Mandarin yang tadinya bisu menjadi sulit. Sebab, tidak semua peranakan Cina di Hindia mengerti bahasa leluhur mereka. The Teng Chun tidak menyia-nyiakan peluang ini. Ia yang telah siap dengan peralatan sederhana dari Shanghai membentuk Cino Motion Pictures dan membuat film bersuara dengan mengambil cerita Cina. Hasil produksi perusahaan ini di antaranya Sam Pek Eng Tay (1931), Pat Bie To (1932), Pat Kiam Hiap (1933), dan Ouw Phe Tjoa (1934). Setelah memproduksi Ouw Phe Tjoa, perusahaannya berganti nama menjadi Java Industrial Film pada  tahun1935. Walaupun namanya berubah, tapi tetap memproduksi film-film klasik Cina, seperti Lima Siloeman Tikoes (1935), Pan Sie Tong (1935), Tie Pat Kai Kawin (1935), Ouw Phe Tjoa II (1936), dan Hong Lian Sie (1937). Boleh dibilang, dari beberapa perusahaan film yang ada, perusahaan ini terbukti yang paling konsisten memproduksi film-film klasik berbahasa Mandarin.

Pada 1937, beredar film Terang Boelan yang dibintangi artis cantik mantan pemain teater, Roekiah. Film ini diproduksi oleh Algemeene Nederlandsch Indie Film Syndicaat (ANIF), dengan Albert Balink sebagai sutradaranya. Film ini sukses luar biasa! Apresiasi mengalir dari mana-mana. Beberapa hal bisa menjadi alasan kesuksesan film ini, yaitu komposisi sistem bintang dan adegan-adegan yang disukai publik, seperti nyanyian, lelucon, dan lawak, perkelahian, dan fantasi. Pemilik perusahaan film lantas menarik dua pelajaran penting kesuksesannya, yaitu: usaha pembuatan film bukan hanya bisnis yang feasible, tapi juga menjanjikan keuntungan yang melimpah. Lalu, resep yang merupakan unsur penentu datang juga dari panggung teater (tonil).

Dalam periode 1937-1942, ada tujuh perusahaan film yang aktif berproduksi, yaitu Java Industrial Film, Tan’s Film, Popular’s Film, Oriental Film, Djawa Film, Union Film, Star Film, Majestic Film Coy, dan Standard Film. Setelah kesuksesan Terang Boelan, produktivitas industri film Indonesia terus meningkat. Tercatat ada sekitar 52 judul film yang dihasilkan. Hebatnya, dari 52 judul film tersebut, 15 judul di antaranya adalah hasil produksi perusahaan milik The Teng Chun. Java Industrial Film pimpinan The sanggup menunjukkan konsistensinya hingga akhir masa kolonial Belanda. Ciri yang paling menonjol pada kegiatan perusahaan film masa ini adalah dipergunakannya aktris-aktris dari perkumpulan teater yang ada untuk bermain dalam film-film hasil produksi mereka. Strategi ini digunakan untuk mengangkat mutu film dan meraih dukungan publik sebesar-besarnya.

Java Industrial Film juga mengambil “manfaat” para bintang panggung ini. Bintang panggung Ferry Kock dan istrinya, Dewi Mada, pada tahun 1940 direkrut untuk menjadi bintang dalam film-film produksinya. Keduanya merupakan mantan anggota Perkumpulan Sandiwara Dardanella. Sebelumnya, Andjar Asmara dan Ratna Asmara terlebih dahulu masuk ke dalam perusahaan ini. Perusahaan The kian besar setelah masuknya beberapa mantan anggota Perkumpulan Sandiwara Dardanella dan Bolero. Di antara yang masuk ke dalam Perusahaan Java Industrial Film adalah Astaman, Ali Yugo, M. Rasjid Manggis, dan Tan Tjeng Bok (dari Perkumpulan Dardanella), Inoe Perbatasari (dari Perkumpulan Bolero), serta beberapa pemain seperti Raden Ismail, Ludi Mara, dan Aisyah. Semua mantan pemain sandiwara ini masuk atas bujukan dari Andjar Asmara. The Teng Chun berkeputusan untuk merekrut mantan anggota Dardanella karena perkumpulan ini adalah grup sandiwara paling populer pada dekade 1926-1935. Pemain-pemainnya sudah dikenal oleh masyarakat, begitupun aksi-aksi mereka di atas panggung yang telah teruji dengan baik.

Pada perkembangan selanjutnya, perusahaan film milik The Teng Chun ini membentuk dua anak perusahaan, yaitu Jacatra Film dan Action Film. Java Industrial Film berubah menjadi New Java Industrial Film, ketika membentuk anak perusahaan baru. Antara tahun 1940 sampai akhir tahun 1941, perusahaan ini menghasilkan 15 judul film di antaranya Rentjong Atjeh, Dasima, Melatie van Agam, Sorga Palsoe, Matoela, Serigala Item, Matjan Berbisik, Si Gomar, Singa Laoet, Kartinah, Elang Darat, Ratna Moetoe Manikam, Poetri Rimba, Tengkorak Hidoep, dan Noesa Penida.

Dalam perusahaan The Teng Chun ini, orang-orang bekas anggota perkumpulan sandiwara tersebut hampir seluruhnya mengambil peranan penting. Misalnya saja, Andjar Asmara memegang bagian publikasi untuk film-film seperti Rentjong Atjeh, dan sebagai sutradara dalam film Kartinah dan Noesa Penida. Skenario untuk Rentjong Atjeh ditulis oleh Ferry Kock yang bersama Dewi Mada juga bermain dalam film in. Mereka berdua juga sekaligus menyanyikan beberapa lagu dalam film ini. Ferry Kock dan Dewi Mada juga bermain untuk film Matoela. Inoe Perbatasari dipercaya untuk menangani film-film produksi Jacatra Film, sebagai sutradara dalam film Elang Darat dan Poetri Rimba, serta sebagai pemain dalam film Kartinah dan Ratna Moetoe Manikam. Mantan pemain tonil lain Ali Yugo bermain dalam film Kartinah, Elang Darat, Noesa Penida, dan Ratna Moetoe Manikam.

Astaman menjadi pemain dalam film Elang Darat, Noesa Penida, dan Ratna Moetoe Manikam. Ratna Asmara membintangi film Kartinah, Noesa Penida, dan Ratna Moetoe Manikam. Tan Tjeng Bok menjadi bintang dalam film Si Gomar, Singa Laoet, Srigala Item, dan Tengkorak Hidoep. M. Rasjid Manggis menjadi pemain dalam film Kartinah. The Teng Chun pernah mengatakan kalau ”masuknya orang-orang panggung ke dunia film, memberi banyak pemikiran baru mengenai publikasi, wawasan yang luas, serta pandangan yang maju mengenai segi hiburan, antara lain berkat pengalaman mereka pergi keliling sampai ke luar negeri”.

Hampir semua film hasil produksi Java Industrial Film laku dipasaran. Namun sayangnya, film-film ini banyak yang menyadap film-film dari luar negeri, seperti film pahlawan bertopeng Zorro disadap menjadi film Srigala Item dan Singa Laoet, serta film Tarzan diadaptasi menjadi film Rentjong Atjeh dan Alang-Alang. Bisa jadi strategi ”jiplak” ini mengikuti suksesnya film Terang Boelan yang merupakan film adaptasi dari film The Jungle Princess yang dibintangi oleh Dorothy Lamour. Film ini sendiri beredar di Batavia pada 1936. Namun begitu, pesta harus segera berakhir. Java Industrial Film mengakhiri riwayatnya setelah ditutup paksa oleh tentara pendudukan Jepang di tahun 1942. Pemerintah militer Jepang lalu mengambil langkah menyatukan seluruh perusahaan film dalam Jawa Eiga Kosha (Perusahaan Film Jawa).

Berkat kerja kerasnya, The Teng Chun berhasil membangun sebuah perusahaan film yang besar dan paling konsisten selama masa kolonial. Perusahaan film yang berdiri pada 1937 ini memiliki nilai lebih dibandingkan perusahaan-perusahaan film yang “timbul-tenggelam” di masa yang sama. Java Industrial Film Company mempunyai totalitas dalam memproduksi film-filmnya. Pelajaran yang dapat diambil dari kesuksesan The Teng Chun membangun perusahaan film tersebut adalah kecerdasannya dalam membaca perkembangan dan selera publik penikmat film pada masanya. Ia mampu melihat apa yang menjadi keinginan publik pada masanya. Tentang The Teng Chun dan Java Industrial Film, Andjar Asmara pernah mengatakan, ”Apa jang paling menarik hati kita ialah jang gebroeders, The boekannja sadja mengerti bahwa soepaja bisa berdjoeang dalam pasar film haroes poenjakan perkakas jang serba modern, tetapi mereka djoega mengerti kemaoean djaman”.

Nah, begitukah perusahaan film di negeri kita masa kini?

 

*) Oleh: Fandy Hutari. Tulisan ini adalah versi revisi dari tulisan yang pernah dimuat di kabarindonesia.com 25 Februari 2009.
*) Foto 1: Adegan film Ratna Moetoe Manikam yang memakai artis Dardanella.sumber Pertjatoeran Doenia dan Film, 1 September 1941
*) Foto 2: The Teng Chun. sumber indonesiancinematheque.blogspot.com
*) Foto 3:  Poster film alang-alang.sumber indonesiancinematheque.blogspot.com
Last modified on: 26 November 2013

    Baca Juga

  • Gado-gado Rasa Banda


    Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. Termasuk tertidur di tengah-tengah film saat di dalam bioskop. Pengalaman itulah yang saya alami ketika menonton Banda The Dark Forgotten Trail karya sutradara…

     

  • Dalai Lama Terakhir (?)


    Last Week Tonight bersama John Oliver baru saja mengeluarkan sebuah video tentang pertemuan komedian Inggris itu dengan Dalai Lama. Menurut saya, ini adalah salah satu video terpenting tahun ini karena…

     

  • Video: Stranger Things dalam 8-bit


    Amerika menjadi negara besar karena arsip yang tersimpan baik, dan setiap generasi dibuat peka terhadap referensi-referensi kesejarahan mereka dengan banyaknya buku-buku yang harus dilahap bahkan oleh anak SD. Hipsterdom di…

     

  • Berhala (Baru) itu Bernama Wiji Thukul


    “Kau benci Soeharto?!” Tangan berbulu itu menempeleng kepala saya. Segalanya mendadak gelap. Ada ribuan kunang-kunang beterbangan. Sebelum mata sempat membuka, saya merasakan tangan itu menjambak rambut saya. Muka Sersan Kepala…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni