(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3443 times | Diposting pada

SBY Bermusik dan Kematian Kritik

 

Tidak perlu menjadi aktivis Lekra atau penganut ideologi Situasionis Internasional—yang mendedahkan bahwa seni dan politik adalah dua praksis yang tidak terpisahkan—untuk dengan mudah mencerna kepalsuan dari pernyataan bahwa “menurut saya seni dan politik tidak dapat disamakan. Presiden sangat menghargai seni, itu harus di apresiasi.” Ini adalah sebuah pernyataan apologis par excellence terhadap kesibukan baru Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—pelaku politik nomor satu di negeri ini—dalam bermain musik. Segera dengan mudah dipahami kalau tidak ada yang tidak politis dengan musik Presiden SBY. Musik tersebut dijual, meski tidak untuk kepentingan komersial, kepada khalayak dalam dan luar negeri, di mainkan di Istana Negara sampai Konferensi Tingkat Tinggi APEC.

Mengkaji teks—dalam hal ini musik yang diciptakan dan direkam atas nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—jauh lebih mudah karena yang kita butuhkan hanya sinisisme, stamina dan sedikit kesabaran. Kesabaran untuk mendengar CD album tersebut secara keseluruhan dalam jangka waktu tertentu. Namun menurut saya, yang jauh lebih penting dilakukan justru adalah membuka selubung dari mitos bahwa seni adalah netral dan lepas dari politik dan/atau suasana sosial yang melingkupinya.  Dengan membuka selubung akan siapa yang membela kenetralan seni, mungkin akan membuat kita bisa menemukan jawaban tentang kenapa, ranah seni—musik pop terutama—menjadi mandeg.


Pandangan bahwa seni adalah entitas yang netral adalah warisan pandangan dunia usang yang pernah menggejala pada abad ke 19 di Eropa Barat. Ketaklidan kepada pandangan ini juga lah yang kemudian menceburkan Eropa ke dalam salah satu penggalan paling kelam dalam sejarah mereka, holocaust. Di salah satu pusat peradaban Eropa, di Jerman tepatnya pada awal abad, musik dianggap sebagai sesuatu yang suci yang bergaung sunyi di luar dan di atas peradaban.

Salah seorang filsuf terbesar mereka Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa “art and life had nothing to do with each other” keduanya sama sekali tidak berhubungan. Schopenhauer juga mengatakan bahwa “beside the history of the world the history of philosophy, science and art is guiltless and unstained by blood,” hanya seni lah yang tidak pernah bersalah dan mendapat cipratan darah. Pandangan akan kenetralan seni tersebut menjadi sangat berbahaya ketika digunakan sebagai dalih bagi fasisme dan anti-semitisme.

Sekali lagi saya harus mengutip Alex Ross disini. Dalam bukunya yang monumental itu “The Rest Is Noise: Listening to Twentieth Century” Alex Ross menyimpulkan bahwa para komposer yang berpegang teguh kepada kenetralan seni ini kemudian dengan mudah mensabotase seni—dengan dalih bahwa seni adalah netral dan adi luhung—demi mendukung ideologi fasisme dan digunakan untuk mendukung agenda tertentu seorang diktator yang menawarkan tatanan baru.

Komposer Hans Pfizner—yang memasang kutipan Schopenhauer di atas di epigrafnya untuk komposisi yang ditulis di tahun 1917 Palestrina—menulis kantata tersebut tersebut untuk Mussolini.

Argumen tentang kenetralan seni juga berbahaya ketika dikatakan oleh seseorang yang tidak boleh netral, para penulis musik, kritikus, pengkaji, pengamat kesenian serta para taste makers. Sangat mengkhawatirkan kalau mereka, dengan tanpa ragu mempersembahkan pena dan kata untuk menjadi pemandu sorak status quo politik dan industri, dengan menjadi scribe, perwakilan dan juru bicara dari kekuasaan politik dan modal. Jika selama ini kita sudah cukup khawatir dengan peran para kritikus seni dalam melestarikan industri rekaman mainstream yang begitu-begitu saja, kini kita lebih punya alasan untuk khawatir karena mereka juga telah masuk ke ranah politik.

Tentu saja ini bukan sesuatu yang baru, Julien Benda sudah menulisnya di awal abad 20 dalam buku “Pengkhianatan Para Intelektual” (Le Trahison de Clerques), tentang intelektual—yang dengan mendalihkan netralitas ilmu pengetahuan kemudian menjadi pendukung Naziisme Hitler. Ini juga sesungguhnya sebangun dengan kritik Ross di atas. Penyelewengan itu menjadi berbahaya ketika para kritikus itu sibuk dan larut di dalam membela mainstream dan raksasa, tanpa bisa lagi mendedahkan mana jenis dan bentuk kesenian yang berguna atau tidak (saya sengaja menghindari oposisi biner baik dan buruk karena itu adalah perdebatan di tempat lain). Juga, mengutip rekan dari Bandung, hidup sangat pendek untuk menikmati kesenian yang tidak terlalu berguna).

Ketundukan kritikus kepada  kekuasaan ini mungkin ini menjelaskan kenapa ulasan musik di media lokal lebih banyak kelihatan seperti CV yang menjelaskan nama dari anggota band, berapa banyak album yang telah mereka hasilkan serta apakah ada kemiripan antara album lama dan album baru. Dan yang selalu hilang dari pembahasan tersebut adalah apakah sebuah album memiliki tempat yang istimewa dalam suasana sosial politik yang sedang berlaku. Saya tidak tahu persis dunia seni rupa, tapi yang sering saya dengar adalah para pengamat seni juga adalah mereka para pemiliki galeri atau paling tidak memiliki hubungan yang dekat dengan industri penjualan dan apresiasi karya seni. Saya bisa saja salah tentu saja.

Kesenian hanya bisa maju ketika kritik seni yang juga maju. Film Indonesia ada pada saat terbaiknya ketika Asrul Sani, Salim Said, D.A. Peransi dan Gayus Siagian masih menulis dengan rajin tentang film Indonesia di dekade 1970-an. Salah satu debat terbaik literatur di Indonesia yang mencetuskan gerakan sastra Indonesia modern adalah ketika Sutan Takdir Alisyahbana berdebat dengan Ki Hadjar Dewantoro, Sanusi Pane dan Adi Negoro tentang apa yang di namakan sebagai “Indonesia”.

Mungkin kemalasan menjadi kritikus ini ada hubungannya dengan budaya Jawa yang tidak suka menerima kritik dan diskusi atau mungkin juga karena terlalu lamanya kita ditindas oleh Orde Baru yang merepresi semua perbedaan yang membuat bersekutu dengan kekuasaan menjadi pilihan yang paling masuk akal, dan menguntungkan tentu saja. Dan mungkin yang terakhir saya sebut itulah yang sedang terjadi.


Last modified on: 4 Juli 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni