(1 Vote)
(1 Vote)
Read 653 times | Diposting pada

Rumah Produksi Terorisme

Rumah Produksi Terorisme pixabay.com

 

 

Ketika aparatur edukasi dan keluarga dipersatukan, banyak hal luar biasa bisa terjadi; seperti anak jenius atau bom bunuh diri.

 

Belakangan ini banyak kejadian yang terjadi terkait agama dan politik. Mulai dari dibubarkannya Hizbut Tahrir Indonesia, kerusuhan di Mako Brimob Depok, dan Bom di tiga gereja dan Mabes Polri di Surabaya. Serangkaian kejadian tersebut membuat sebagian masyarakat berpikir bahwa pemerintahan Jokowi gagal dalam aspek keamanan dan terlalu berfokus pada infrastruktur saja

 

Layaknya pertunjukan, aksi terorisme memiliki tim dan rencana dalam pengeksekusiannya. Indonesia menjadi panggung untuk melakukan apa yang mereka sebut amaliyah. Aktor dan aktrisnya ialah anggota organisasi. Ideologi kekhilafahan dan takfiri menjadi pesan yang harus disampaikan dalam skenario. Sutradaranya adalah ketua JAD setempat. Produsernya, tak lain dan tak bukan ialah organisasi yang berafiliasi dengan ISIS seperti JAD dan NII. Lalu rumah produksinya? 

 

Aparatur edukasi dan keluarga.

 

***

 

Louis Althusser, seorang filsuf asal Perancis, menghasilkan pemikiran tentang Ideological State Apparatuses dalam eseinya yang berjudul “Ideology and Ideological State Apparatus (Notes Towards an Investigation)”. Ideological State Apparatuses (ISAs) adalah alat atau institusi privat yang bekerja dengan ideologi tertentu dan befungsi mereproduksi relasi-relasi yang bekerja di masyarakat. Contoh ISA adalah religi (gereja, organisasi islam), edukasi (sekolah), keluarga, legal, politik (sistem politik, partai), serikat buruh, komunikasi (tv, radio, media), kultur (olahraga, seni, literatur). 

 

Menurut Althusser, ISAs yang paling dominan pada zaman modern ini ialah aparatur edukasi, yaitu sekolah. Sering kali kita menganggap bahwa aparatur edukasi adalah institusi yang netral dari segala ideologi. Namun, justru sebaliknya, aparatur edukasi penuh dengan agen eksploitasi, agen represi, dan ideolog profesional. Di sekolah lah kita diajarkan bagaimana bertingkah laku, mempelajari mana yang benar dan salah, dan sebagainya. Di sekolah pula anak-anak dan remaja paling banyak menghabiskan waktunya. Di masa-masa mereka mencari jati diri dan rentan dengan segala ideologi yang ada. Sering kali, aparatur edukasi bersanding dengan aparatur keluarga dalam membentuk seseorang.

 

Hal inilah yang terjadi pada aksi terorisme. Dimulai dari disusupkanya ideologi dari kampus ke kampus dengan mengadakan berbagai kegiatan serta membangun afiliasi dengan lembaga Islami seperti yang dilakukan HTI. Tak heran, perkembangan HTI, rekrutmen dan jargon anti-demokrasinya semaking mengkhawatirkan karena melibatkan kalangan akademis. Kita tentunya belum lupa dengan pernyataan kesetiaan pada khilafah yang dilakukan oleh ribuan Mahasiswa di IPB, atau video dari Mahasiswi UI yang menyatakan bahwa ia anti-demokrasi. Kepercayaan seperti ini masuk dari pengajian dan kajian dari sekolah ke sekolah dan kampus ke kampus, dan menjadi semakin subur dengan kurangnya diskusi akademis yang terbuka. Terlebih lagi ketika kampus lebih berorientasi pada akreditasi dan kapital daripada ruang diskusi akademik yang sehat.

 

Ideologi bukanlah semata-mata kepercayaan. Ia termanifestasi dalam bentuk materi atau aksi, seperti pendapat Althusser dalam eseinya. Seseorang pasti beraksi sesuai dengan ideologi yang diyakininya karena kalau tidak, mereka akan merasa tindakan mereka salah. Seperti halnya seorang muslim, bila kita meyakini Islam maka kita akan melakukan ritual dan praktik keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Begitu juga para anggota JAD, NII, ISIS, atau organisasi serupa. Mereka meyakini bahwa melakukan aksi terorisme merupakan suatu hal yang mulia. Ada nilai-nilai spiritual yang diperjuangkan dalam aksi tersebut. Aksi yang melibatkan pengorbanan untuk mati ini menurut Emile Durkheim disebut Acute Altruistic Suicide. Acute Altruistic Suicide terjadi karena melibatkan rasa integrasi sosial yang kuat, dalam hal ini dengan organisasi ekstrim, dan melibatkan nilai - nilai spiritual dan mistis seperti halnya aksi terorisme yang tidak hanya menjadi perkara duniawi saja, tetapi juga akhirat. 

 

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Esei Fathali Moghaddam yang berjudul “The Staircase to Terrorism” memaparkan bahwa ada banyak tahap untuk akhirnya seseorang berani melakukan aksi terorisme. Dan tahap paling dasar, menurut Moghaddam, adalah rasa tidak puas dan ketidakadilan yang merundungi komunitasnya akibat struktur sosial dan kebijakan-kebijakan opresif dari kuasa yang lebih besar seperti negara dan korporasi. Moghaddam menganggap bahwa kemiskinan adalah salah satu faktor utama, namun orang miskin tidak bisa bergerak banyak. Perlu modal dan posisi sosial tertentu untuk bisa melakukan ‘produksi teror’. Maka proses radikalisasi harus berlangsung sejak dini, dimulai dari rumah dan keluarga. Manusia paling banyak menghabiskan waktu di rumah dengan keluarga, dan sekolah menjadi rumah kedua buat anak-anak. Selama pelajaran-pelajaran didapat dari orang tua di rumah dan juga guru di sekolah memiliki kurikulum 'Kita vs Mereka,' maka radikalisme sudah pasti tumbuh subur. Oleh karena itu, untuk membasmi satu ideologi dengan ideologi yang lain dibutuhkan usaha ekstra dalam menjembatani komunikasi, dan mengambil alih ISAs dengan membuka narasi yang lebih inklusif dan demokratis.

 

Referensi:

Althusser, L. (2006). Ideology and ideological state apparatuses (notes towards an investigation). The anthropology of the state: A reader, 9(1), 86-98.

Durkheim, E. (1951). Suicide: A study in sociology (JA Spaulding & G. Simpson, trans.). Glencoe, IL: Free Press. (Original work published 1897).

 

Last modified on: 5 Juni 2018

    Baca Juga

  • Dua Dekade Reformasi dan Upaya Bunuh Diri Demokrasi


    Rekam jejak upaya bunuh diri demokrasi dua dekade terakhir. Dari sekian banyak yang terjadi sepanjang tahun 1998, ada dua yang paling mudah diingat: tersebarnya skandal Bill Clinton-Monica Lewinsky dan keributan…

     

  • Intoleransi Yang Damai, Mungkinkah?


    Ketika intoleransi jadi keseharian, semakin sulit memisahkan yang radikal dan yang moderat. Ada sebuah kebiasaan yang terjadi setiap kali ada berita terorisme mencuat: banyak warganet Muslim ‘membela’ agamanya melalui pernyataan-pernyataan…

     

  • Durkheim Tentang Avicii dan Bom Surabaya


    Sosiolog Emile Durkheim melihat bunuh diri bukan sebagai penyakit kejiwaan, tapi sebagai konsekuensi logis dari disequilibrium dalam masyarakat. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua keluarga ‘lulusan’ ISIS di Surabaya…

     

  • Terorisme dan Sikap Kritis Kita


    Terorisme dan segala bentuk lakunya memang patut dikutuk. Setiap kita yang berpikiran waras sudi tak tega melihat keserampangan aktus terorisme berkeliaran tak menentu. Ketika ada kekerasan, penembakan, atau pengeboman yang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni