(2 votes)
(2 votes)
Read 5738 times | Diposting pada

Perubahan Sosial dengan Media Sosial

 

Tahun 2011 ditandai dengan terjadinya gejolak dan perubahan sosial di berbagai belahan dunia. Perubahan terbesar terjadi di Dunia Arab yang diawali dengan tumbangnya rezim di Tunisia, revolusi lalu merembet ke Mesir hingga Libya. Di Amerika Serikat, krisis ekonomi yang berlarut-larut memunculkan gerakan sosial yang bersimbolkan 99% yang melambangkan protes dari kelompok masyarakat mayoritas 99% terhadap kelompok sisanya 1% yang mendominasi kekuatan ekonomi politik.

Gerakan sosial yang terjadi di masing-masing negara memiliki bentuk dan penyebab yang berbeda-beda yang muncul dari kondisi dan konteks unik setiap negara. Meskipun demikian, terdapat benang merah dari fenomena tersebut yaitu digunakannya Internet, khususnya media sosial, sebagai alat mobilisasi.


Mengatakan media sosial sebagai penyebab revolusi adalah terlalu berlebihan; tetapi menganggap media sosial sama sekali tidak berperan dalam revolusi juga bertentangan dengan fakta. Realitas seringkali berada ditengah-tengah antara  dua ekstrim dimana media sosial sebagai penyebab utama revolusi dan media sosial sama sekali tidak berpengaruh dalam revolusi.

Terlepas dari perdebatan apakah media sosial menjadi penyebab gerakan sosial, satu hal yang pasti adalah media sosial memperkenalkan model baru untuk sebuah gerakan sosial untuk perubahan. Meskipun demikian, model baru gerakan sosial ini seringkali dikritik sebagai model yang kurang efektif jika dibandingkan dengan  model gerakan konvensional. Menurut kritik ini, orang-orang yang berkumpul di media sosial seperti facebook atau twitter tidak akan menghasilkan gerakan sekokoh gerakan yang dilahirkan dari kumpulan orang-orang dari kampus atau di rumah-rumah kontrakan yang menjadi basis gerakan. Dengan kata lain, gerakan berbasis media sosial dikatakan “maya”, tidak riil sehingga telalu lemah untuk digunakan dalam sebuah gerakan sosial untuk perubahan.

Tetapi, mengikuti argumennya sosiolog Amerika Fracesca Poletta,  justru sebenarnya kekuatan gerakan yang berbasis media sosial adalah karena dia bersifat maya. Mengapa sifat maya justru dapat memperkokoh gerakan sosial untuk perubahan?

Sebuah gerakan untuk perubahan yang solid selalu memiliki identitas kolektif yang kuat. Identitas kolektif inilah yang membuat orang merasa senasib dan sepenanggungan sehingga akhirnya mereka mau mengambil risiko untuk melakukan gerakan perubahan. Identitas kolektif tidak bisa dibangun hanya melalui iklan di media massa, tetapi dibentuk melalui interaksi sosial yang terus menerus yang biasanya terjadi di tempat-tempat di mana  orang-orang berkumpul. Disinilah peran media sosial yang memberikan ruang baru untuk berkumpul, berinteraksi, dan akhirnya membentuk identitas tersendiri.

Identitas kolektif yang dibangun melalui media sosial memang bersifat maya, tetapi justru sifat maya inilah yang membuatnya unik dan memiliki kekuatan tersendiri.

Pada tahun 2007, sebuah riset yang dilakukan para peneliti psikologi sosial di Inggris dan Australia menunjukkan bahwa orang akan merasakan hubungan yang lebih dekat ketika melakukan kerja sama dengan orang-orang yang identitasnya tidak jelas. Sepintas hasil ini tidak masuk akal, tetapi sebenarnya wajar jika kita ingat bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki identitas yang berbeda-beda sekaligus dalam dirinya. Misalnya, orang dapat memiliki pandangan liberal secara politik, tetapi konservatif secara ekonomi.

Ketika seluruh identitas individu tidak tersampaikan dengan jelas, seperti halnya ketika berinteraksi dalam dunia maya, maka identitas yang nampak hanyalah identitas yang relevan pada saat itu. Identitas-identitas lain yang bisa jadi berseberangan dengan identitas kolektif yang ingin dibangun jadi tidak terlihat.; karena keragaman identitas yang dimiliki individu tereduksi dalam dunia maya dan hanya identitas yang relevan dengan gerakan yang muncul maka identitas kolektif lebih mudah terbentuk.

Sebagai contoh adalah berita mengenai revolusi dari Tunisia yang menyebar melalui media sosial ke negara-negara Arab lainnya. Kondisi di masing-masing negara tersebut sangat berbeda satu sama lainnya. Jadi sebetulnya sulit untuk membangun identitas kolektif akibat perbedaan-perbedaan tersebut. Tetapi karena penyebaran informasi di media sosial bersifat tidak lengkap, parsial dan maya maka perbedaan konteks antar negara tersebut cenderung diredam. Sehingga yang lebih tampak justru kesamaannya, yaitu masyarakat yang hidup dibawah rezim yang represif.

Jadi tampaknya media sosial dapat sangat efektif dalam pembentukan sebuah gerakan sosial melalui sifatnya yang maya. Yaitu, justru sifat maya dan parsial ini mempermudah terbentuknya identitas kolektif karena dapat meredam perbedaan-perbedaan dan fokus pada kesamaan identitas yang sejalan dengan tujuan gerakan. Tentunya pembentukan identitas kolektif ini tidak terjadi secara otomatis; artinya perlu perencanaan dan usaha sistematis.

Pembentukan identitas kolektif tentu saja hanya salah satu aspek dalam pembentukan gerakan sosial; tetapi tanpa identitas kolektif yang kokoh maka tidak akan mungkin muncul gerakan yang solid. Dari uraian di atas tampak bahwa media sosial memiliki kelebihan tersendiri dalam pembentukan identitas kolektif yang justru muncul dari sifat maya-nya. Mengingat Indonesia adalah negara yang keragamannya sangat tinggi, media sosial membuka kesempatan baru dalam usaha membentuk identitas kolektif bangsa.

Last modified on: 26 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni