(10 votes)
(10 votes)
Read 28110 times | Diposting pada

Payung Yang Dihujani Batu: Soal Payung Teduh di Rolling Stone

Payung Yang Dihujani Batu: Soal Payung Teduh di Rolling Stone Photo: hay photograp/pexels.com

 

Saya tidak akan membicarakan sebuah band kawan-kawan lama saya, Payung Teduh, di artikel ini. Saya pun tidak berhak dan tidak berniat untuk ikut campur dalam semua masalah yang ada di band itu. Artikel ini cuma akan membahas soal etika penulisan jurnalistik Rolling Stone Indonesia menyoal band kawan-kawan lama saya tersebut. Saya menilai, artikel bertajuk “Mundur dari Payung Teduh, Is: Saya Tidak Egois,” oleh Ivan Makhsara membuktikan betapa majalah musik bisa juga sangat partisan. Tak beda dengan media-media oligarki lain di negeri ini. Embel-embel Rolling Stone, saya kira jadi tak jauh beda dengan embel-embel CNN, merk luar namun milik oligarki lokal dengan etika yang kurang lebih sama dengan brand lokal, etika jurnalisme zaman NOW. Dari sini, permasalahan yang akan saya bahas akan lebih bersifat ‘editorial’, daripada isi.

 

Sebelum saya masuk ke dalam pembahasan editorial artikel, ada baiknya saya menjelaskan sedikit tentang etika jurnalisme zaman NOW. Sebuah artikel di BBC Inggris pernah menulis tentang jurnalisme zaman now, yang sangat-sangat tidak etis dan jahat. Artikel itu menunjukkan bagaimana klik menjadi penentu dan penanda rating sebuah media, maka clickbait, berita-berita kontroversial, didahulukan melebihi fakta yang berimbang dan etika jurnalistik.

Sebuah media bertanggung jawab terhadap kerangka tulisan yang ia buat. Kerangka tersebut bukanlah tanggung jawab subjek yang mereka wawancara—kecuali jika yang disajikan adalah jurnalisme data, yaitu jurnalisme yang hanya memaparkan data mentah untuk diproses atau di copy-write oleh media lain. Rolling Stone jelas bukan jurnalisme data. Apakah Rolling Stone jurnalisme? Di Amerika, ya! Mereka jurnalisme. Mereka meliput musisi, pemimpin politik, hingga pelaku bom. Tapi di Indonesia, ketika etika jurnalisme harus dikungkung oleh selera pembaca yang jelek, yang daya kritisnya buruk, dan lebih tertarik dengan isu kontroversial dan hoax, demi klik, maka semua itu harus berubah.

Men, bahkan media luar yang terkenal dengan jurnalisme investigasinya yang mendalam dan dokumenter-dokumenter perangnya, sampai Indonesia harus membahas kecoak dan satria baja hitam. Saya tidak sebut nama medianya, banyak kawan dekat kerja di sana. Tapi tulisan ini saya harap jadi pengingat bahwa ada batas bawah standar penulisan media internasional di Indonesia. Rolling Stone sudah kecebur di got batas bawah itu, Vice belum. #Eh.

Ada tiga alasan mengapa penulisan dan editing artikel soal PT itu sangat buruk. Pertama, ia tidak berimbang. Simak kutipan berikut, yang mengawali artikel dengan pendapat anak-anak PT selain Is:

“Keadaan ini sebenarnya sudah disadari personel lain sejak lama. Dalam wawancara terpisah dengan Rolling Stone, pemain bas Comi menyatakan kalau Payung Teduh memang butuh break. "Nggak sehat, tiap akhir pekan kecapekan terus. Kurang tidur. Gig sudah dikurangin. Rezeki juga cobaan. Bijaknya mungkin jangan terlalu banyak. Atau mungkin ada saatnya. Maksimalin staminanya. Kami berterima kasih untuk teman-teman yang selalu mengundang. Tapi mungkin harus lebih bijak," jelasnya. "Harus istirahat. Sudah tiga-empat tahun hidup di jalan."

Sedangkan Alejandro Saksakame atau biasa dipanggil Cito menjelaskan kalau ia juga menyadari lelah. "Excitement berkurang. Dulu asyik ke bandara, ketemu teman-teman pagi. Sekarang kayak, 'Aduh, besok berangkat.' Waktunya jadi buat istirahat," ujarnya. Ia juga menjelaskan kalau teman dekatnya, Is, yang sudah dikenalnya sejak 2002 sudah berubah. "Dulu dia itu komedian yang saya suka, sekarang sudah jarang ngobrol. Ketemu ya di panggung, di hotel, di bandara. Seiring pergaulannya."”

Dua paragraf menceritakan sisi lain dari PT, dan tidak ada satupun dari sisi ini yang menyinggung pendapat mereka soal pendapat Is yang jadi fokus utama. Fokus dari artikel ini, sesuai judulnya, memang hanya Is. Tetapi, framing yang dibuat, seakan-akan artikel ini berimbang, padahal bohong. Kebohongan itu bisa dilihat dari framing penulisan pendapat personil lain.

Seandainya pertanyaan si wartawan adalah, “Apakah Anda lelah? Seperti apa kelelahannya?” dan dijawab seperti dua paragraf di atas, maka ketika Is melenceng dari jawaban kawan-kawannya, seorang wartawan yang baik akan kroscek jawaban Is ke teman-temannya, alih-alih memakai wawancara sebelumnya. Di kantor, editor yang baik, akan kroscek ke wartawannya atau menyuruh wartawan kroscek. Akibat dari ‘kemalasan’ (atau kesengajaan) ini besar sekali. Si wartawan telah tidak hanya membahayakan hubungan inter-personal antara anggota band, tapi membuat persepsi publik yang belum tentu kebenarannya tentang Is dan Payung Teduh.

Ketika berhadapan dengan kondisi wawancara tunggal dimana subjek mengatakan blak-blakan siapa nama orang atau institusi, editor wajib mengklarifikasi. Dan jika tidak sempat atau tidak didapatkan klarifikasi, editor wajib untuk menuliskan kondisi itu dan tidak menyebut nama orang yang 'dituduh' terlibat hanya dari satu sisi. Wawancara Tirto.id terhadap Menteri Susi Pudjiastuti ini bisa jadi contoh yang sangat baik, ketika bu Menteri menyebut nama pejabat korup, wartawan Tirto mengklarifikasi. Ketika pejabat itu menyangkal, namanya tidak disebut di artikel. Ini untuk menghindari praduga tak bersalah.

Terlebih lagi, keberimbangan seyogyanya bukan hanya soal suara siapa yang ditampilkan, tapi juga menyoal konsekuensi logis dari sebuah artikel. Ini membawa kita ke permasalahan kedua: etika jurnalistik. Ada dua pernyataan dan satu pertanyaan si wartawan pada Is yang mengganggu saya:

(1) Malah dibikin oleh orang lain...

(2) Nggak tercermin ya di band..

(3) Apresiasi yang berlebih memengaruhi band?

Nomor (1) dan (2) bukanlah pertanyaan tapi pernyataan. Sekilas nampaknya seperti persetujuan, tapi sebagai wartawan profesional, harusnya dia tahu bahwa pernyataan macam “Malah dibikin oleh orang lain...”  dan “nggak tercermin ya di band” mengandung konotasi provokatif. Sedangkan pertanyaan nomor (3) sifatnya ‘menyetir’ (leading). Dalam persidangan, ini biasanya jadi bahan keberatan, “Keberatan, pak Hakim! Pengacara menyetir saksi!”

Soal ‘provokasi’ ini, saya punya tiga (orang yang saya anggap) guru, yang ingin saya jadikan acuan. Pertama adalah sutradara dokumenter kenamaan asal Belanda, Leonard Retel Helmrich. Salah satu ajarannya yang saya anut adalah: tidak apa untuk “mencongkel” (baca: memprovokasi) subjek sekali-sekali. Cara mencongkelnya bisa dengan pertanyaan, atau pernyataan yang bisa menimbulkan konflik di antara subjeknya. Bedanya dengan Ivan, Leonard bertahun-tahun membuat film dengan subjeknya, dan ikut menanggung derita dari konflik yang ia bikin. Ivan tidak akan sepenanggungan dengan PT yang ditinggal Is.

Kedua adalah mentor saya dalam dokumenter etnografi, Rhino Arifiansyah. Suatu hari ia pernah menegur saya ketika saya memprovokasi sekelompok subjek yang teropresi untuk melawan. Kutipan langsungnya: “Elo bakal di sini berapa lama? Kalo cuma sebentar, harusnya lo nggak memprovokasi mereka! Kalau mereka kena masalah, lo udah hengkang-hengkang kaki di Jakarta!” Pedas, dan itu pelajaran hebat buat saya.

Yang ketiga adalah atasan saya di Amerika, Kate Beddall. Ia sangat strict pada etika dan kesahihan sumber. Ketika saya mengedit naskah dan video dari kolega di Bangladesh, soal pengungsi Rohingya yang melakukan sebuah tindakan orang miskin yang sangat polos (tidak bisa saya sebutkan di sini), Kate langsung menolak konten itu karena ia didapat tanpa memberitahu subjek bahwa wawancaranya akan ditayangkan di media luar negeri. Kalau video itu sampai ditayangkan, konsekuensinya bisa fatal bukan hanya untuk subjek, tapi juga untuk pengungsi Rohingya secara keseluruhan.

Maka, penting bagi seorang jurnalis untuk punya beberapa pertanyaan dasar yang harus ditanyakan pada dirinya sendiri sebelum ia mewawancara subjek. Pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan Aidan White, Direktur dari Ethical Journalism Network:

-          Apakah saya sudah menjelaskan pada sumber saya, relasi saya sebagai wartawan dan dia sebagai subjek saya? Apa saya sudah jujur soal tujuan saya?

-          Apakah saya sudah menjelaskan pada sumber saya konsekuensi yang bisa timbul dari kutipan yang saya ambil?

-          Apakah saya sudah yakin bahwa sumber saya mengerti istilah-istilah seperti off the record, atau ‘dalam kondisi tertentu’, atau ‘kutipan orang lain’, agar bisa ia gunakan sebaik-baiknya?

-           Apa saya tahu kondisi dan batas-batas yang bisa saya berikan pada sumber saya sebelum diwawancara?

-          Apa ada konsekuensi hukum atau sosial dari wawancara ini?

Yang ketiga adalah masalah waktu (timing) penerbitan wawancara yang memiliki isi sensitif, yang bisa memicu konflik personal atau sosial. Menurut Online Network Ethics Organization (ONA), forum jurnalis online di Amerika Serikat, sebuah media sudah seharusnya menahan nama dan informasi ke publik dalam konteks tertentu:

"Pertanyaan serupa muncul dalam situasi menyangkut hal privat seseorang yang secara tiba-tiba dilemparkan ke publik karena melibatkan sebuah news event [yang sedang trend]. Ketika Anda menentukan sejauh mana informasi pribadi akan dibuka, Anda harus mempertimbangkan seberapa jauh subjek-subjek Anda mau diberitakan atau dieksploitasi, seberapa relevan informasi pribadi dimasukan dalam berita, dan seberapa terbuka mereka di media sosial." 

Jika kita melihat postingan sosial media Is baik di facebook atau instagram, kita akan melihat bahwa Is adalah seorang yang sangat santun. Ia tidak pernah mengumbar konflik dan lebih memilih untuk menggunakan metafora daripada bicara frontal apalagi bicara jelek tentang orang lain. Dari situ si wartawan seharusnya sudah tahu bagaimana cara membuat frame beritanya, tidak sembarangan seperti yang sudah terjadi. Karena kode etik ini pula, kita lihat beberapa kali Rolling Stone Amerika menahan berita atau wawancara. Menerbitkannya ketika konteksnya sudah tepat.

Ivan dan editornya nampaknya tidak mengerti atau lebih buruk lagi, tidak peduli akan hal ini. Mereka tidak mau tahu bahwa dengan membuat frame semacam ini, konsekuensinya bisa sangat buruk untuk orang-orang yang bekerja keras di PT, orang-orang yang dalam bagian pertama artikel digambarkan sebagai “orang lelah.” Apakah menurut mereka, PT bisa jalan mulus tanpa Is, ketika artikel semacam itu keluar? Kehilangan frontman saja sudah berat, apalagi dengan artikel yang diframe dengan cara oposisi biner macam itu!

Mungkin Ivan dan editornya harus belajar lagi bagaimana caranya menyetir wacana kepada orang yang lebih mumpuni. Belajar menyetir pada wartawan yang lebih kredibel, jangan belajar menyetir pada Hilman Mattauch, yang jangankan menyetir wacana, menyetir mobil Setya Novanto saja, ia tidak becus!

 

 [Artikel ini direvisi tanggal 21 Nopember 2017, pukul 4:25, dengan tambahan poin argumen kedua (Menteri Susi), dan poin argumen ketiga (Timing)]

Last modified on: 21 November 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni