(12 votes)
(12 votes)
Read 6164 times | Diposting pada

Para Priyayi Baru

 

Kabar itu datang secara tidak mengejutkan. Biasa saja. Sama seperti berita soal politikus yang berbohong atau presiden yang gemar mengeluh dan/sembari bersenandung. Kabar yang dimaksud adalah tiket untuk pawai Ogoh Ogoh, maksud saya, konser Lady Gaga yang ludes dalam sehari. Hal serupa berlaku untuk tiket konser Morrissey yang ludes bak korma di bulan puasa. Beberapa bulan sebelumnya, definisi atas kata ‘wajar’ juga diuji oleh seorang bocah bernama Justin Bieber yang membuat anak-anak Indonesia memaksa orang tua mereka untuk membeli selembar tiket senilai hingga Rp 1 Juta. Di negeri ini, uang memanglah pintu untuk menuju banyak hal.

Konser dengan tiket seharga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah, tampaknya telah menjadi sebuah kelaziman di hari-hari ini. Seandainya tiket tersebut di jual di lapak terbuka layaknya jeruk dan mangga, kita tentu masih bisa menawarnya hingga pecahan lima puluh perak. Apa mau dikata, kuasa atas harga bukan di tangan konsumen. Lagipula, wong kita mampu beli kok, kenapa harus sok-sokan jadi orang susah? Seandainya Michael Rusli, (Presiden Direktur Big Daddy Production. Adrie Subono mah lewat) menantang saya untuk memborong tiket konsernya, saya akan jawab dengan lantang: “Wani piro!?”

Sementara itu, reformasi telah menjadi sejarah. Penguasaan negara atas SDA telah dihapus, Migas telah diliberalisasi, tanah rakyat telah diobral, batubara terus dikeruk, upah buruh tidak pernah layak sementara modal asing terus berdatangan tetapi tidak mengakar. Dengan kata lain, orang kaya telah bertambah. Jumlahnya bervariasi. Ada yang kaya raya (17 pengusaha Indonesia masuk daftar orang terkaya di dunia versi Forbes, 2012), ada yang cukup kaya, ada yang lebih dari cukup dan mayoritas yang begini-begini saja. Tapi yang menarik dari perkembangan pasca-reformasi adalah pertumbuhan dari mereka yang ‘lebih dari cukup’ dan ‘kaya’. Asian Development Bank dan World Bank punya indikatornya tapi ini bukan majalah Prisma. Secara jumlah mereka memang tidak signifikan, tetapi keberadaannya menentukan dinamika kehidupan kita sehari-hari. Singkat kata, telah terjadi peningkatan kelas menengah

Kini, seperti telah diulas secara cukup cermat oleh Kompas dan Tempo, adalah momen milik kelas menengah. Waktu sedang berpihak kepada mereka yang memiliki penghasilan di atas US$2 per hari. Menurut Tempo, inilah yang dinamakan dengan kelas konsumen baru, dalam arti lebih banyak, lebih menyebar dan lebih trengginas. Sementara, survey Kompas Desember 2011 menunjukkan bahwa tingkat kekritisan sebagian besar kelas menengah semakin rendah seiring dengan ruang lingkup problem di masyarakat. Artinya, semakin berat isunya, semakin acuhlah manusianya. Hal ini, merujuk kumpulan artikel LP3ES dan CIDES mengenai kelas menengah era Orde Baru, bukanlah fenomena yang baru, melainkan sifat yang melekat akibat kepentingan dan kesempatan yang inheren pada kelas menengah.

Kelas menengah pasca-Soeharto telah begitu menjulang. Kenyang dikuliti karena apatisme politik dan pragmatisme konsumsi, kelas menengah masih menyimpan berlapis mitos yang belum dikupas hingga sekarang. Salah satunya adalah tabiat berbudaya dari kelas ‘bumper’ ini.

Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki konsepsi yang khas dan lekang bernama ‘priyayi’. Priyayi, dalam arti sempit, adalah ‘kelas bangsawan’. Sehingga dalam analisis kelas tradisional ala Marx atau Weber, priyayi secara sosiologis bukanlah kelas menengah. Namun jika kelas kita fahami sebagai konsepsi yang arbitrer, maka penggunaan istilah priyayi lebih memudahkan kita dalam membayangkan ‘kelas’, sebagai sebuah kelompok yang dipersatukan oleh sebuah kesukaan dan kebiasaan, ketimbang oleh relasi mereka terhadap alat produksi atau kesempatan hidup. Kelas ini memiliki distingsi khusus dengan kelas lainnya, dilihat dari cara dan rupa mereka menghabiskan waktu senggang atau leisure activities. Kelas menengah yang kita kenal sekarang, boleh jadi dapat kita sebut sebagai Priyayi Baru, memodifikasi gagasan Umar Kayam dalam novelnya.

Umar Kayam telah menggambarkan kepolosan, atau kenaifan, kelas priyayi tatkala ia memperlihatkan kebanggaan mereka dalam berbicara menggunakan bahasa Belanda, selayaknya kelas menengah kini berbicara dalam bahasa Inggris dan membiasakan anak-anak mereka melakukan hal yang sama. Para Priyayi, dinarasikan oleh Umar Kayam, adalah mereka yang berusaha untuk mencapai sebuah status sosial yang lebih tinggi, melalui perjuangan keras untuk hidup berdasarkan standar yang didefinisikan orang lain, yakni kaum kolonial Belanda. Siapapun yang mampu menyamai standar hidup tersebut, layaklah diberi status sebagai priyayi. Walau, dibanding dengan perjuangan mereka untuk ‘naik kelas’, sesungguhnya perjuangan yang lebih berat adalah konflik untuk melepas atau menanggalkan identitas mereka sebagai ‘wong ndeso’ yang selalu dirujuk, hingga tidak pernah lepas dari jati diri atau ‘ke-akuan’ mereka.

Layaknya priyayi pada umumnya, Priyayi Baru ini memiliki kebiasaan yang lekat dengan aktivitas berbudaya. Tatkala priyayi dalam kisah Umar Kayam belajar mengenal pacaran dalam bioskop dan mengunyah santapan Belanda, Priyayi Baru mengenal ekspresi budaya melalui orgy konsumsi, dengan melahap semua komoditi budaya yang dihamparkan di hadapan mereka, mulai dari televisi berlangganan, city car, sepeda Fixie, fine dining, kamera DSLR, hingga –sekali lagi- konser Lady Gaga. Segala simbol yang mampu menggambarkan cita rasa tinggi dan dominan ditelan sementah-mentahnya, tanpa harus memahami esensi atau substansi dari produk tersebut.

Memang, kelebihan dari kelas ini adalah fleksibilitasnya dalam menyelami ekspresi budaya. Bukan sekedar berkaraoke dan menikmati film Hollywood, tetapi juga soal kreasi identitas. Ini adalah upaya peneguhan modal kultural dan kebutuhan untuk memastikan posisi, dan memberikan rasa aman, di dalam keruwetan struktur sosial, ungkap Pierre Bourdieu.

Barangkali, identitas Priyayi Baru itu kini terartikulasi dalam selera dan cita rasa. Identitas itu ditegaskan melalui kehadiran kita pada ruang dan waktu tertentu, yakni pentas budaya seperti konser dan festival musik, yang dapat juga kita artikan sebagai bagian dari ikhtiar “menjadi orang” seperti yang telah dialami generasi pendahulu kita. Di balik itu, ada sebuah ketakutan untuk ‘tidak menjadi’ sehingga mengkonsumsi menjadi bagian dari upaya untuk membentuk identitas kepriyayian tersebut. Itu sebabnya mengapa Java Jazz Festival selalu ramai bak pasar malam.

Romo B. Herry Priyono pernah menyebutnya sebagai ‘cultural dopes’, di mana pada kenyataannya, kita semua berpotensi untuk menjadi sesosok cultural dope. Cap yang panas dan pantas untuk sebuah kelas yang tak sadar akan dampak dari keberadaannya. Toh, kesadaran kelas para Priyayi Baru cukup tinggi untuk tidak memerdulikan cap tersebut. Karena nyatanya, saat ini memang tidak ada yang bisa menghentikan laju para Priyayi Baru. Kenaikan BBM dan fatwa MUI sekalipun.

*Terima kasih untuk Manan Rasudi untuk usulan topik dan judul
Last modified on: 23 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni