(0 votes)
(0 votes)
Read 4629 times | Diposting pada

Oleh-oleh Bandung: Inggit Garnasih

Oleh-oleh Bandung: Inggit Garnasih http://www.halo-bandung.com/edisi-38/main-issue-1.html

 

Saya memiliki afeksi terhadap Inggit Garnasih, istri pertama Sukarno, tokoh proklamasi kita. Pada mulanya, ini sekedar disebabkan ia tinggal di Jl. Ciateul, Bandung, setelah meninggalkan Presiden Pertama RI itu.

Rumah nenek saya ada di jalan sama dan Ibu Inggit adalah tokoh yang dihormati di lingkungan Ciateul, tempat saya sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanak.


Dalam biografinya, Sukarno menyinggung kisah Inggit sebagai l’Affair Inggit. Percintaan mereka kontroversial. Inggit 15 tahun lebih tua dari Sukarno. Perempuan berkulit putih ini adalah istri dari Sanusi. Sukarno mondok pada keluarga tanpa anak itu selama kuliah di Bandung.

Sebagai istri kesepian (Sanusi kerap melewatkan malam di ruang biliar), Inggit menghabiskan waktu menemai Sukarno belajar. Sejak muda, mahasiswa itu telah menunjukkan tanda-tanda orang besar. Ia cerdas, bercita-cita tinggi, dan terutama berani. Kepandaian Sukarno dalam berkisah menambah daya tariknya.

Inggit adalah sosok pendengar atentif yang dibutuhkan Sukarno. Perempuan itu, dengan mata berbinar, sangat meminati kisah dan pemikiran yang dituturkan sang mahasiswa.

Inggit tak mau terbelenggu perkawinan tak bahagia. Ia memberanikan diri mengatakan apa yang terjadi pada suaminya, dan minta dicerai. Sanusi mengabulkan karena tahu perkawinan mereka kosong. Selang beberapa waktu, Inggit menikah dengan Sukarno, lelaki yang 15 tahun lebih muda itu.

Selama Sukarno menyelesaikan kuliah, Inggit menjadi penopang ekonomi keluarga, dengan berjualan bedak buatan sendiri. Perempuan itu banting tulang untuk memberi waktu bagi suaminya tumbuh kuat. Ketika Sukarno dipenjara, dan kemudian dibuang ke luar Jawa, Inggit setia mendampingi.

Dalam pembuangan ke Bengkulu, datang petaka. Sukarno, dengan alasan ingin memiliki anak, meminta izin untuk kawin lagi, dengan perempuan yang jauh lebih muda, Fatmawati. Inggit tak mau dimadu. Ia memilih berpisah dari Sukarno. Ia kembali ke Bandung dan menghabiskan sisa hidupnya di Jl. Ciateul.

Inggit sangat dihormati karena jasanya membesarkan Bung Karno. Soal affair-nya dulu, bukanlah aib perempuan meninggalkan suami untuk lelaki lain. Konon, praktek ini lazim di Bandung pada tahun 1920-an. Mengutip nenek saya, perempuan Bandung itu bebas, mandiri. Dan kini, Anda tak akan menemukan Jl. Ciateul di Bandung. Namanya telah berubah menjadi Jl. Inggit Garnasih.

*seri tulisan Oleh-oleh Bandung bisa dibaca di halaman Facebook penulis.

Last modified on: 23 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni