(0 votes)
(0 votes)
Read 2018 times | Diposting pada

Ode Buat Pemilu

"Gajinya cuma 50 juta kok, tapi kalau rapat bisa dapet tambahan lumayan lha, belum lagi kalau keluar kota,” ujar seorang teman tentang berapa pendapatan bulanan yang akan ia dapat jika mampu memenangkan kursi di daerahnya.


Saat itu juga pandangan saya tentang berapa rupiah angka sebenarnya yang dibutuhkan untuk bisa hidup perbulan jadi goyah. Berita-berita tentang antrian panjang berjubel yang bisa menyebabkan kematian demi uang 100 ribu perak yang dijatah perbulan jadi serasa dongeng media massa saja. Cerita teman saya tentang seorang siswa SMA yang dipukuli sampai mati hanya karena kurang 2000 rupiah saat harus membayar pelacur yang baru saja ia “pakai” serasa menjadi selevel dengan kisah-kisah Hans Cristian Andersen. Angka 50 juta rupiah disebut ‘cuma’ padahal bagi banyak orang, 50 juta rupiah hanyalah impian di tengah hari bolong.

Pekerjaan macam apa sih sebenarnya yang akan dijalani oleh teman saya sehingga ia akan menerima gaji sebesar itu dengan nilai subyektif ‘cuma’? Secara teori tentu saja sangat berat, ia akan mewakili sebuah komunitas di wilayahnya di sebuah propinsi di kursi parlemen. Tugasnya sangat berat karena para individu di komunitas apapun selalu memiliki nilai subyektif yang berbeda, menjadi semakin berat karena ia akan menjadi wakil bagi orang Indonesia yang praktis belum tentu memiliki kesadaran obyektif setinggi banyak bangsa di negara-negara maju.

Tapi dalam hidup, teori tidak selalu harus sama dengan situasi sebenarnya. Diatas kerta tanah kita kaya, laut kita sangat besar, potensi maritim kita tak ada matinya dan yang terpenting setiap jengkal udara kita memberi suasana surga yang tidak akan bisa didapatkan dimanapun. Prakteknya, negeri kita banyak utang, kapal induk yang bisa dipakai untuk menjaga batas wilayah kita tidak punya, langit kita perlahan dihajar polusi dan tentu saja hutan-hutan yang berserak di Kalimantan semakin botak karena terus dicuri.

Teori memang tak sama dengan praktek. Mereka yang duduk di kursi dewan itu praktis adalah yang terbaik dari yang buruk-buruk. Jika Anda melihat segala perdebatan yang terhampar di televisi kita, praktis banyak orang akan memilih seseorang bukan karena kemampuannya, tapi lebih karena ia dikenal, seorang teman dengan berseloroh pernah bilang “Dewi Perssik Presiden masa depan kita!” Di setiap rapat anggota dewan yang katanya sedang sibuk membela kepentingan kita, pemandangan paling umum adalah adegan para anggota yang sedang baca koran, bisik-bisik sembari memainkan handphone atau lebih tragis lagi tidur dengan mulut menganga.

“Kalau mau nonton lawak, ke gedung DPR aja sekarang,” ujar Budi Syahbudin teman saya yang sekarang jadi sekretaris RT di Cempaka Putih. Ia tentu tidak serius-serius amat, tapi ia bisa jadi terasa serius karena di semua kesempatan sidang dewan majelis maka berita soal fasilitas penginapan, selebriti mana yang sekarang jadi anggota dewan, jatah jas, kredit mobil bahkan rumah malah memakan porsi terbesar di media massa ketimbang kemampuan mereka menyelamatkan kita atau sekurangnya usaha mereka menyelamatkan kita.

Sejak kuliah dulu, ibu saya selalu meminta saya untuk aktif di sebuah partai yang pernah lama berkuasa. Salah satu alasannya karena ayah saya adalah pegawai negeri dan partai inilah tempat sebenarnya untuk berkarir. Ibu saya ingin saya bisa jadi anggota dewan dan juga ia ingin agar saya menjadi pegawai negeri. Demi bangsakah? Tentu saja tidak, karena seperti banyak orang tua lain, doktrin yang diberi ibu saya dan banyak orang tua di negeri ini adalah “Sekolah yang pinter, naik kelas, cari duit yang banyak, biar cepet kaya,” maka jadilah kita budak uang tanpa pernah berpikir apa yang pernah kita lakukan, alami dan perbuat.

“Pada akhirnya yang terpenting bagi manusia adalah cerita yang ia punya,” kata Drover karakter di film Australia yang untuk kedua kalinya saya kutip di catatan ini. Kalimat yang praktis tidak berlaku bagi kebanyakan kita, karena ketika kita memasuki usia 30 tahun maka pertanyaan lingkungan kita adalah “Anak berapa, tinggal dimana, kesini naek apa, kerja dimana dll,” yang semuanya sebenarnya adalah cara mengukur sudah seperti apa ekonomi pribadi kita berjalan. Jarang saya mendengar pertanyaan “Udah jalan kemana, udah bikin apa atau lebih seru lagi…..negara terakhir yang loe kunjungin?” karena bagi banyak dari kita, lebih baik punya mobil besar dan blackberry di tangan daripada melihat sisi lain dunia dan kehidupan.

Dengan modal doktrin macam ini, jangan heran bahwa segala pencapaian itu selalu ingin diraih dengan cara singkat. Belum punya laptop saat usia sudah 24 tahun adalah sebuah tragedi, tak punya Blackberry di tahun 2009 adalah masalah, tidak punya mobil saat umur sudah 30 tahun adalah petaka dan tentu saja belum menikah di usia 34 tahun adalah sebuah bencana. Padahal dalam doktrin yang kita pahami “Menikah juga butuh duit,” justru membuat banyak orang memilih untuk menunda. Bukan karena memang tak ingin punya jodoh, tapi karena tak ingin dihukum secara sosial oleh masyarakat, lingkungan dan keluarga.

Lalu, apa jalan keluar untuk bisa memiliki segala “pencapaian” materialistis itu dengan cepat? Jadi atlet macam Bambang Pamungkas yang bergaji 800 juta rupiah pertahun saat masih berusia 26 tahun adalah satu pilihan, jadi pemain sinetron dengan modal muka bule atau logat aneh jadi pilihan lain, punya mertua kaya adalah pilihan lainnya. Tapi, berapa orang sih yang bisa punya kemewahan kesempatan seperti itu? Jangan heran jika kemudian korupsilah jawabannya.

Banyak orang bilang bahwa ini adalah budaya, saya pikir ini adalah kebiasaan menahun yang kemudian menjadi kebiasaan. Bahkan saya pun pernah terlibat korupsi….contoh paling shahih adalah jika ditangkap di jalan raya, saya memilih untuk berdamai ketimbang menandatangani surat tilang. Saat mengurus KTP pun saya memilih untuk meluangkan sedikit ribuan daripada musti nunggu lebih lama. Budget produksi di mark up sedikit hanya demi memuaskan kebiasaan dugem atau beli Macbook baru dan lalu tak mau tahu pada apa yang disebut pencapaian karya.

Saya yakin bahwa 80% dari wajah-wajah yang kini mukanya terpampang di poster-poster di tengah jalan itu memiliki motivasi materi lebih besar daripada motivasi ingin menjadi bagian dari suara kita. Saya tidak mau menyalahkan mereka tentu saja, karena cara hidup kita sendirilah yang membentuk kita semua jadi seperti ini. Tuntutan yang kita dengar sejak kecillah yang membuat kita jadi begini, dan itu semua salah siapa?


Last modified on: 3 Juni 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni