(0 votes)
(0 votes)
Read 3305 times | Diposting pada

Obama, Politik, dan Rock and Roll

 

Di tengah riuh rendah kampanye pemilu seperti sekarang, saya sebenarnya ingin menulis tentang hubungan musik dan politik di Indonesia. Namun mengingat bahwa satu-satunya kejadian menarik tentang hubungan kedua hal tersebut adalah Presiden Yudhoyono merilis album musik pop nan sendu, maka saya kemudian mencoba menulis tentang hubungan musik dan pemilu di Amerika Serikat yang baru lalu. Siapa tahu bisa menjadi cermin.


Dengan terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke 44, Barack Obama telah banyak membalikkan standar-standar konvensional di negeri super power ini. Obama adalah presiden Amerika Serikat yang tidak dilahirkan dari keluarga keluarga kaya berpengaruh dari pantai timur Amerika seperti halnya dinasti Kennedy, Bush atau Dole. Di lihat dari sudut pandang geografis Obama juga adalah sebuah anakronisme. Meskipun Obama memulai karir politiknya di Chicago (negara bagian Illinois dimana Chicago berada telah menghasilkan empat presiden), Obama lahir di Hawaii - sebuah negara bagian periferal yang dianggap tidak terlalu penting (mohon maaf untuk orang Hawaii).

Komedian Stephen Colbert dengan bercanda mengatakan bahwa untuk pertama kali Amerika Serikat tidak hanya memiliki presiden yang diam-diam adalah Muslim, namun juga orang asing yang tidak lahir di Amerika Serikat. Obama mungkin juga adalah presiden pertama setelah waktu yang lama yang memiliki latar belakang intelektual. Obama memiliki pengalaman menjadi profesor di Universitas Chicago. Sebelum terjun ke politik Obama mengajar hukum konstitusi di universitas ini. Saya periksa, presiden terakhir Amerika Serikat yang sekaligus adalah seorang intelektual adalah Woodrow Wilson, seorang profesor ilmu politik yang terkenal dengan Wilson's Fourteen Points-nya. Dan itu terjadi hampir terjadi 100 tahun yang lalu. Untuk kita di Indonesia, daftar di atas bisa kita perpanjang dengan menambahkan bahwa Obama adalah presiden pertama Amerika Serikat yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan (sangat) benar.

Yang paling monumental tentu saja adalah fakta bahwa Obama adalah presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat (lepas dari pertanyaan seberapa hitam atau putih sebenarnya Obama). Namun, bagi saya, yang paling layak dicatat adalah Obama adalah kandidat presiden Amerika Serikat pertama yang bisa terplih meskipun dengan dukungan riuh rendah dari musisi besar rock and roll serta mendapat endorsement dari majalah musik terkemuka Rolling Stone.

Sepertinya sudah menjadi sebuah pola di politik Amerika Serikat kalau dukungan dari musisi-musisi besar rock malah bisa menjadi beban bagi seorang kandidat presiden, paling tidak di kurun waktu 40 tahun terakhir. Yang lebih berat lagi adalah bahwa endorsement dari majalah Rolling Stone, malah sering menjadi 'kutukan' bagi para kandidat presiden. Sudah banyak kandidat presiden (terutama dari partai Demokrat) yang sudah menjadi korban 'kutukan' majalah Rolling Stone. Majalah ini lahir di tahun 1967, jadi kandidat pertama yang mereka dukung adalah Geoge McGovern yang maju menghadang Richard Nixon di tahun 1972.

Seperti halnya Obama yang hendak mengakhiri perang di Iraq, McGovern maju dengan platform untuk menghentikan agresi Amerika Serikat di Vietnam. Berdasarkan tema anti perang ini maka dengan senang hati Rolling Stone - yang lahir dari gerakan anti perang dan anti kemapanan para hippies di akhir dekade 1960-an - tentu saja segera memberikan dukungan. Tidak bisa dengan segera diukur apakah endorsement Rolling Stone berakibat pada kekalahan McGovern. Namun asosiasi dengan majalah kaum hippie penghisap marijuana dan suka telanjang (John Lennon?) tentu cukup menakutkan bagi pemilih Amerika Serikat yang konservatif. Setelah itu korban Rolling Stone mulai berjatuhan. Dua kandidat yang sempat menjadi cerita sampul majalah tersebut, Al Gore dan John Kerry, juga gagal terpilih menjadi presiden negeri super power ini. Saya masih ingat foto sampul majalah Rolling Stone di sekitar pertengahan tahun 2004 dimana John Kerry nampak canggung dan terlihat seperti orang sakit gigi. Saya yakin kalau ada beberapa orang yangbisa dianggap menjadi penyebab kegagalan Kerry, Jann Wenner, sang pemilik dan pemimpin redaksi Rolling Stone, adalah salah satunya.

Yang lebih gawat tentu saja adalah dukungan dari para musisi rock yang lebih sering menjadi beban bagi kandidat presiden. Sudah menjadi kewajaran kalau musisi rock and roll lebih mendukung kandidat yang progresif yang tentu saja lebih banyak dihasilkan oleh Partai Demokrat. Partai Demokrat masih bisa dianggap melestarikan nilai nilai dari revolusi hippies tahun 1960-an, negara yang intervensionis (sosialis?) dan memihak kaum miskin. John Lennon dan penyanyi folk Joan Baez adalah pendukung serius McGovern. John Sinclair, pemimpin kelompok radikal White Panther dan sekaligus manajer kelompok musik punk radikal dari Detroit MC5 juga adalah pendukung awal McGovern.

Di pertengahan tahun 2004, ketika sebagian orang Amerika Serikat sudah lelah dengan Perang di Afghanistan dan Iraq dan tentu saja sudah muak dengan pemerintahan Bush, beberapa musisi dan kelompok musik ternama seperti R.E.M., Pearl Jam, Dave Matthew's Band, Bruce Springsteen, John Mellencamp, veteran generasi bunga Jackson Browne, Beastie Boys, System of A Down dan Maroon 5, menyatukan kekuatan untuk menjatuhkan Bush melalui konser yang dinamai Vote for Change. Kelompok ini juga secara terbuka memberikan endorsement kepada John Kerry. Beberapa waktu sebelumnya, beberapa kelompok musik punk muda termasuk Green Day, Good Charlotte, NOFX, and the Alkaline Trio merilis sebuah album kompilasi berjudul Rock Against Bush. Beberapa lagu di album ini memiliki judul yang tidak perlu dijelaskan lagi; God Saves the U.S.A. dan Can't Wait To Quit/Sick of It All. Kelompok-kelompok punk muda ini juga menggelar konser dengan tema yang senada. Hasilnya: John Kerry kalah dan Bush berkuasa kembali untuk 4 tahun berikutnya.

Dengan pengalaman ini, saya agak khawatir ketika majalah Rolling Stone secara terbuka memberikan dukungan kepada Barack Obama dan menjadikannya sebagai cover (dua kali!!) sebelum hari pencoblosan tanggal 4 November lalu. Yang lebih mengkhawatirkan - namun juga bisa diperkirakan sebelumnya - adalah dukungan luar biasa besar yang diberikan oleh musisi rock (dan non-rock) terkemuka kepada Obama. Springsteen beberapa kali menggelar konser gratis di tempat dimana Obama berkampanye. Demikian pula dengan kelompok Arcade Fire yang juga menyelenggarakan konser gratis untuk Obama. Bob Dylan-yang sudah tidak pernah berbicara tentang politik sejak awal tahun 1970-an secara terbuka mengatakan kalau Obama adalah messiah yang akan menyelamatkan Amerika.

Sesepuh rock and roll Lou Reed memberi dukungan kepada Obama dengan memberikan link ke website Obama di website dia sendiri. Musim panas tahun lalu saya datang ke konser gratis Stevie Wonder di Grant Park, Chicago, dimana sang penyanyi buta ini secara terbuka meminta penonton untuk mencoblos Obama pada tanggal 4 November. Di tempat yang sama, di festival musik tahunan Lollapalooza, saya menyaksikan Rage Against the Machine dengan terlalu antusias mendukung Obama dengan caranya sendiri: "Jika anda (Obama) terpilih menjadi presiden namun tidak memenuhi janji-janji kampanye, saya akan bawa ribuan orang di sini ke depan Gedung Putih," demikian teriak sang vokalis Zach De La Rocha.

Ancaman de La Rocha terbukti ampuh dan Obama terpilih menjadi presiden setelah mengalahkan John McCain dari partai Republik (yang memiliki selera musik yang lumayan untuk seorang Republikan). Kini Amerika Serikat memiliki seorang presiden yang tidak hanya mendapat dukungan dari musisi dan kelompok musik yang progresif dan liberal (dan majalah Rolling Stone tentu saja), namun juga memiliki selera musik yang cukup bisa dibanggakan. Di banyak wawancara Obama mengatakan bahwa dia sangat suka dengan Miles Davis, John Coltrane, Stevie Wonder, the Fugees serta Bob Dylan, semua musisi yang bisa dianggap mewakili anti-kemapanan. Musik dari artis artis yang saya sebut di atas semua ada di playlist iPod Obama bersama dengan lagu lagu dari The Rolling Stones, Bruce Springsteen, Earth, Wind and Fire dan Elton John. Dan begitu masuk ke Gedung Putih beberapa orang yakin bahwa pengetahuan musik Obama akan semakin terasah. Obama akan mewarisi ratusan piringan-piringan hitam terbaik dari masa keemasan rock and roll, yang selama ini hanya di simpan di gudang atas perintah Nancy Reagan, ibu negara yang puritan itu.

Piringan-piringan hitam ini disumbangkan ke perpustakaan Gedung Putih oleh sebuah komisi yang dibentuk oleh industri rekaman di akhir masa pemerintahan Nixon. Komisi ini dipimpin oleh produser terkenal John Hammond dan beranggotakan antara lain kritikus musik terkemuka dari majalah Rolling Stone, Paul Nelson. Sebagian besar koleksi yang disumbangkan tersebut adalah mahakarya yang menjadi favorit kritikus musik-dan favorit saya tentunya-seperti Trout Mask Replica dari Captain Beefheart and His Magic Band, Led Zeppelin IV, Never Mind the Bollocks, Here's the Sex Pistols, Let It Bleed milik the Rolling Stones, The Gilded Palace of Sin punya the Flying Burrito Brothers, Good Old Boys-nya Randy Newman-yang dengan tema rasisme-nya akan lebih mudah diterima oleh Obama-Blood on Tracks punya Bob Dylan dan Born To Run milik Springsteen.

Saya percaya dengan tingkat intelektualitas dan sensibilitas akan seni yang cukup tinggi dari orang semacam Obama, dia tidak akan punya kesulitan untuk mencerna album-album penting tersebut dan kini rock and roll punya kesempatan sekali lagi untuk menyelamatkan dunia (paling tidak dari musik-musik yang jelek).


Last modified on: 29 Juni 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni