(3 votes)
(3 votes)
Read 3870 times | Diposting pada

November, Shopper, dan Protester

November, Shopper, dan Protester Sumber Foto: nydailynews.com

 

Udara dingin diiringi hembusan angin tidak menghalangi ribuan orang berkumpul di luar, di tengah kota Seattle pada penghujung bulan November. Tiap tahunnya mereka mengantri untuk merayakan hari raya bagi konsumerisme. Hari raya itu bernama Black Friday yang dirayakan pada hari Jumat sehari setelah Thanksgiving yang dirayakan pada minggu keempat bulan November.

Diskon besar-besaran disajikan oleh toko-toko di Seattle bagi kaumnya yang membuat mereka bertahan hidup, para pembeli. Black Friday tahun ini berlangsung pada 29 November, di sisi lain, 14 tahun lalu (1999) puluhan ribu orang berkumpul di Seattle bukan berbelanja tapi hendak menghentikan pertemuan tingkat dunia membahas perdagangan bebas. Padahal, perdagangan bebas memanjakan konsumerisme dengan produk murah akibat pemotongan tarif dan mereduksi proteksi.

World Trade Organization Ministerial Conference 1999 diadakan di kota Seattle pada 29 November hingga 3 Desember 1999. Sejak hari pertama konferensi dimulai, puluhan ribu protesters dari dalam dan luar Seattle yang tergabung dalam Direct Action Network (DAN) memulai aksinya. Tujuan mereka ada dua, pertama menarik atensi publik tentang keprihatinan mereka terhadap perdagangan bebas, dan kedua menghentikan pertemuan antar delegasi WTO. Kisah tersebut dibungkus dengan drama percintaan antara dua protester, dan juga seorang polisi dan istrinya dalam Battle in Seattle (2007) garapan Stuart Townsend.

Menurut mereka, perdagangan bebas hanya menguntungkan perusahaan multinasional dengan mengeruk profit di negara-negara dunia ketiga. Melalui perdagangan bebas, mereka mendapatkan kemudahan dalam menjejali produk mereka baik dalam birokrasi ataupun tarif. Mereka menilai WTO bersikap seperti kolonialisme model baru karena dapat menjatuhkan sanksi kepada negara yang membangkang aturan WTO.

Protes berlangsung beberapa hari berikutnya hingga melumpuhkan Seattle. Status state of emergency terpaksa didelarasikan. Pertempuran tak terhindarkan antara protestor dengan pasukan pengaman menjelang kedatangan Bill Clinton, Presiden AS saat itu. Peluru karet terlontar dari pucuk senapan, dan gas air mata disemburkan ke arah protesters untuk membubarkan mereka.

Namun, hal itu tidak perlu dilakukan kepada shopper meski “pertempuran” juga lazim terjadi. Pengguna twitter dalam beberapa tahun terakhir berkicau dengan “#BlackFridayFight” untuk berbagi kisah dan foto pertempuran pada Black Friday. Toko layaknya arena dimana Hunger Games berlangsung. Sesaat pintu dibuka, pembeli bersaing satu sama lain untuk memperebutkan produk incaran serupa dengan peserta Hunger Games berlari ke arah Cornucopia untuk meraih senjata andalan.

Survival of the fittest, gagasal Social Darwinism menjadi prinsip utama di Black Friday dan Hunger Games. Terinspirasi paska membaca Origin of Species karya Charles Darwin, seorang filsuf Herbert Spencer berpandangan tata urutan manusia didasarkan kemampuannya hidup, yang kuat pantas mendapatkan kedudukan dan yang lemah pantas kalah atau bahkan mati sekalipun. Prinsip ini pula yang dikhawatirkan protesters karena perdagangan bebas hanya membuat perusahaan multinasional semakin kuat dan kaya dengan memanfaatkan lemahnya negara-negara berkembang dan industri lokal.

Protesters dapat diklaim berhasil dalam aksinya pada dua hal: pertama posisi tawar negara berkembang terhadap Amerika Serikat dan negara maju lainnya, dan kedua menyebarkan propaganda anti-WTO kepada dunia. Meski konferensi tetap berlangsung, tidak seluruh agenda pembahasan selesai karena sempat tertunda karena peserta tidak dapat menuju ruang konferensi akibat jalan diblokir protesters.

Keberhasilan propaganda menyebar di beberapa delegasi WTO itu sendiri. Setidaknya ada beberapa isu yang sengit pembahasannya yaitu subsidi sektor agrikultur dan paten pada obat-obatan. Uni eropa dan negara berkembang menolak reduksi subsidi untuk agrikultur mereka sedangkan Amerika Serikat tetap ngotot akan provisi itu. Delegasi negara berkembang menaikan posisi tawar mereka untuk memerhatikan isu lingkungan, transfer teknologi, dan bantuan teknis dalam melaksanakan perdagangan bebas agar dapat bertahan lebih lama dari persaingan global.

Aksi di Seattle menjadi inspirasi aktivis anti-globalisasi di segala penjuru dunia. Dimana ada konferensi WTO, di situ ada protesters yang hendak mengulang Battle in Seattle. Konferensi WTO di Hongkong atau Mexico misalnya, disambut lagi dengan para protesters yang turun ke jalan.

Hal kontras terjadi di Ukraina pada penghujung November 2013. Battle in Seattle hanya menginspirasi sebagian saja. Ratusan ribu protesters dari berbagai kota di Ukraina turun ke jalan memadati kota Kiev. Namun, mereka sama sekali tidak terinspirasi dengan gagasan anti perdagangan bebas yang disuarakan di Seattle. Mereka justru mendesak Viktor Yanukovich, presiden Ukraina, untuk menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

Aksi tersebut meletup setelah Yanukovich memberikan harapan palsu kepada rakyatnya.  Yanukovich berjanji akan menandatangani perjanjian dengan Uni Eropa. Faktanya, 29 November 2013, bertepatan dengan Black Friday, perjanjian tersebut batal ditandatangani. Yanukovich berpaling ke kisah cinta lamanya, Rusia, daripada berpindah kepangkuan Uni Eropa.

Posisi geografis Ukraina yang strategis, berada di tengah antara negara anggota Uni Eropa dan Rusia, menjadi alasan negara ini diperebutkan kedua kubu. Tidak hanya untuk urusan perdagangan, tetapi juga geopolitk. Dalam bukunya The Next 100 Years (2008), George Friedman mengklaim “Jika Barat (Uni Eropa dan AS) dapat mendominasi Ukraina, Russia akan menjadi lemah”.

November memiliki kisah tersendiri bagi para shopper dan protester. Namun terdapat kesamaan diantara keduanya yaitu: “Perdagangan”. Perdagangan pula yang melandasi berbalik arah kebijakan Yanukovich. Dia memilih Rusia yang menawarkan gas dan kredit murah dibanding menandatangani perjanjian Uni Eropa. Manusia memang tidak dapat hidup tanpa perdagangan, kecuali, seperti Albert Camus katakan, “kamu harus kaya sekali atau miskin sekali”.

Waktu meninggalkan November dan mulai memasuki Desember. Lagu Efek Rumah Kaca teringat dipikiran. Bukan Desember, melainkan Belanja Terus Sampai Mati yang mengingatkan kita dua sisi dari perdagangan: kepuasan dan keangkuhan.

Last modified on: 4 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni