(2 votes)
(2 votes)
Read 670 times | Diposting pada

Naik Naik ke Puncak Gunung: Catatan Tulis Residency Bagian I (Varuna Writers' House)

 

Sebelum saya bertolak ke Australia awal April lalu, calon ibu mertua saya mengirimkan surel yang manis sekali dari rumahnya di Prancis (letaknya di Aiguillon, bagian Bordeaux yang antah-berantah), yang intinya mendoakan semoga saya tidak jadi gila tinggal di atas gunung selama empat minggu. Surel itu jelas ditulis dengan asumsi saya bisa gila, karena seumur-umur tinggal di kota besar yang gila seperti Jakarta. Ternyata hari ini, duduk di tengah keramaian di pusat kota Sydney setelah kelar semedi 4 minggu itu, saya masih waras dan oke-oke saja.

Separo pertama residensi menulis itu saya habiskan di Katoomba, sebuah kota kecil di wilayah Blue Mountains, jaraknya dua jam naik kereta dari Sydney. Saya mendapat kesempatan ini berkat Asialink dan Australia-Indonesia Institute, program Tulis Residency selama 6 minggu di Australia plus tampil di dua sesi di Sydney Writers Festival. Berbagai organisasi bekerjasama untuk mewujudkan program yang menakjubkan ini, sebut saja—Varuna Writers’ House, Komunitas Salihara, WestWords, Parramatta Artists’ Studios, Ubud Writers and Readers Festival, Sydney Writers Festival. Karena program ini adalah program pertukaran, seorang penulis Australia akan mengunjungi Indonesia sekitar Juli mendatang, sementara saya berada di Australia selama bulan April dan Mei, 4 minggu di Katoomba dan 2 minggu di Parramatta, Western Sydney.

Katoomba merupakan kota kecil yang amat cantik, bagaikan Zelda Fitzgerald yang hendak keluar rumah untuk pergi minum-minum di bar di tahun 1920an. Kota kecil ini dibangun di akhir abad 19 dan menjadi sangat populer sebagai destinasi pariwisata di awal abad 20 (dan masih populer sampai sekarang), sehingga hampir semua bangunan bergaya Edwardian dan Art Deco, dan memang dibangun di masa itu. Varuna Writers’ House sendiri, tempat saya melewatkan 4 minggu residensi, dibangun di tahun 1930an oleh dr. Eric Dark dan istrinya, Eleanor Dark, salah seorang penulis indigenous Australia yang paling mahsyur. Sepeninggalnya Eleanor, anak lelakinya, Mick, menyumbangkan rumah besar yang cantik tersebut bagi kemaslahatan umat sastra Australia dan seluruh dunia.

Varuna adalah tempat yang luar biasa. Tidak hanya fisiknya molek, Varuna juga merupakan rumah bagi begitu banyak koleksi buku berharga milik Eleanor dan beberapa sumbangan dari tokoh Australia lain. Penulis yang beruntung bisa menghuni rumah itu selama beberapa waktu, akan dimanjakan oleh akses kepada buku-buku ini, juga kesempatan curhat dengan konsultan sastra Varuna, juga perapian besar, juga pohon-pohon besar yang berubah merah sepenuhnya di musim gugur, juga (yang utama) jamuan makan malam besar-besaran setiap malam hasil keringat Sheila, perempuan yang bekerja sebagai juru masak di sana sudah selama 30-an tahun terakhir. Betapa mewahnya semua ini, ujar mayoritas penulis yang tinggal serumah dengan saya di sana. Betapa mewahnya tinggal menulis saja dan tidak harus pusing memikirkan mau masak apa malam ini. Kegiatan kami semua sama: bangun pagi, jogging, nyemil-nyemil sepanjang hari, menulis, lalu menulis lagi, lalu berkumpul setiap malam di meja makan di hadapan kari, steik salmon, puding, kentang kukus, dan sebagainya dan sebagainya. Perapian menyala dan kami tinggal duduk manis mengobrol tentang sastra, kegiatan menulis hari itu, serta jalan-jalan alias bushwalking di siang harinya. Terkadang lega rasanya bisa ngobrol dengan manusia lain setelah kesunyian total sepanjang hari, tapi terkadang juga aneh rasanya harus merusak kesunyian yang sakral itu.

Halaman belakang Varuna adalah hutan belantara. Atau nyaris demikian. Saya biasanya menghindari rute itu karena becek, tetapi memang ada jalan terdekat di belakang rumah menuruni bukit untuk mencapai pusat turisme utama Katoomba, yaitu Echo Point dan Three Sisters. Pemandangan di sana tidak terlukiskan indahnya. Maklum, anak Jakarta jarang sekali lihat gunung, apalagi gunung yang unik seperti itu. Three Sisters, atau Tiga Saudari, merupakan susunan batu raksasa yang bentuknya tak biasa, namun legenda Aborigin setempat menyatakan bahwa batu-batuan tersebut sesungguhnya adalah tiga orang bersaudari yang dikutuk berubah jadi batu. Layaknya Malin Kundang saja, namun saya tidak tahu tiga saudari ini pernah durhaka kepada siapa.

Meskipun jaraknya hanya dua jam dari Sydney, Katoomba seolah berada di dunia lain. Malam lebih cepat datang dan orang lebih cepat lenyap dari jalan-jalan. Suatu hari saya baru pulang dari mengunjungi teman di Melbourne sepanjang akhir pekan, dan saya tiba di stasiun Katoomba sekitar pukul setengah tujuh malam. Seperti biasa saya harus jalan kaki sekitar dua kilometer dari stasiun Katoomba ke Varuna Writers’ House, yang tadinya hendak saya lakukan dengan senang hati. Saya tak tahu-menahu, namun ternyata pengalaman malam itu akan menjadi lebih tidak terlupakan bahkan ketimbang pengalaman saya tersasar selama satu setengah jam di pelosok Espoo, Finlandia, pada jam empat pagi demi mengejar kereta ke St. Petersburg, Rusia. Bukannya apa-apa, tetapi angin saat itu sungguh kencang, jenis angin yang tidak pernah saya rasakan seumur-umur di Jakarta. Maka demikianlah, saya terpaksa menerjang angin itu, dan berjalan sendirian menembus kegelapan di daerah perumahan tua Katoomba. Jika suatu hari Anda mengunjungi kota kecil tersebut, ingatlah untuk tidak berjalan sendirian menembus angin kencang selepas matahari terbenam, terutama jika Anda memiliki imajinasi yang kelewat aktif. Nyaris tak ada cahaya sama sekali, dan yang saya lihat hanyalah siluet hitam pohon-pohon tinggi di atas kepala, bergoyang-goyang seperti suatu makhluk dari legenda kuno Aborigin. Dan angin kencang yang bertiup melalui pohon-pohon raksasa ternyata sanggup menghasilkan suara lolongan yang tidak pernah saya bayangkan bahkan di imajinasi terliar saya.

Saya tak tahu saya ternyata seberani itu. Sesampainya di Varuna, kawan-kawan penulis sedang menyiapkan makan malam karena Sheila sedang libur. Anne Spudvilas, seorang ilustrator Australia kawakan, membukakan pintu untuk saya. “Ya ampun!” serunya. “Gila kamu. Bahkan saya nggak berani keluar rumah selama dua hari ini karena angin ini!” Saya hampir menangis, tapi saya tidak menunjukkannya. Tiga minggu kemudian saya masih bertahan di sana, dan saya masih belum jadi gila. Saya tahu lain kali saya hanya harus menghindari jalan kaki pulang ke rumah sendirian di malam hari dan ketika angin sedang mengamuk. Dan juga, sejujurnya, meskipun saya girang bukan kepalang sewaktu minggu lalu saya pindah ke sebuah apartemen di tengah kota di Sydney, rupanya saya telah jatuh cinta kepada Katoomba, dan setiap hari masih teringat saat-saat indah bangun pagi lalu keluar rumah disambut nyanyian sejuta ekor burung liar di langit.

 

Dias Novita Wuri

Last modified on: 8 Mei 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni