(5 votes)
(5 votes)
Read 6388 times | Diposting pada

Naik KRL dan Menjadi Manusia (Hipster)

 

Ada alasan lain mengapa saya suka dengan band asal New York The National, selain disebabkan oleh musik derau kegelisahan dan vokal bariton agung Matt Berninger. Alasan itu adalah karena Matt suka naik subway kota New York, moda trasportasi yang merupakan ekuivalen dari Kereta Api Listrik (KRL) Jabodetabek. Dalam wawancara dengan majalah Spin di tahun 2010, Matt Berninger bercerita bahwa untuk mencapai Radio City Music Hall di dekat Times Square, tempat di mana The National akan menggelar pertunjukan terbesar dalam karir mereka, Matt naik subway dari rumahnya (mungkin di distrik hip Williamsburg) menuju venue yang legendaris itu.

Matt Berninger tidak sendiri dalam menggantungkan hidupnya kepada moda transportasi ini. Dalam sebuah wawancara dengan David Letterman, salah satu anchor paling mahal di MSNBC, Bryan Williams mengatakan bahwa dia--seperti banyak warga New York lain--naik KRL menuju studio rekaman. Naik Subway di kota New York adalah sesuatu yang sangat quintessential Amerika seperti seperti Apple Pie dan Apple merepresentasikan Amerika Serikat. Dan dengan begitu naik KRL di kota New York—atau di kota besar manapun di dunia—bukan hanya sangat biasa namun juga trendi dan elegan.

Dan bagi anda yang pernah naik KRL di kota New York anda bisa segera tahu bahwa ini adalah moda transportasi yang memang hip dan trendi. Di sebuah pagi yang sibuk beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan Subway ke Brooklyn saya harus berdesak-desakan dengan komuter dengan segala macam warna-warni baju musim dingin yang menyegarkan mata. Salah satu dari mereka, seorang perempuan muda pirang berkacamata dengan coat musim dingin hitam yang elegan, berdiri dengan satu tangan memegang buku Sex, Drugs and Cocoa Puffs: A Low Culture Manifesto karya salah seorang penulis favorit saya Chuck Klosterman. “Hmm.. saya sudah baca buku itu dua tahun lalu sebelum dia,” pikir saya dengan sombong kala itu. Beberapa deret di sebelah perempuan muda itu saya lihat seorang setengah baya sedang membaca koran lokal legendaris Village Voice.

Kalau di belahan lain dunia Subway atau KRL adalah trendi, lantas apakah KRL di Jakarta juga bisa menjadi sarana angkut yang hip? Apalagi dengan banyak cerita soal berdesak-desakan, penumpang naik ke atap, pelecehan seksual dan legenda kota klise tentang kambing yang dinaikkan di kamar kecil KRD. Saya tidak peduli apakah KRL di Jakarta sudah hip atau punya potensi menjadi hip. Yang saya pedulikan adalah hidup saya terlalu pendek untuk dihabiskan untuk mengarungi kemacetan di Jakarta yang kian hari kian buruk.

Pertimbangan saya untuk bergantung kepada KRL sangat instrumentalis. KRL bisa membawa saya ke Jakarta dalam waktu yang ultra cepat—kurang lebih 25 menit dengan KRL AC Serpong-Tanah Abang—jauh lebih cepat dibandingkan dengan berkendara yang rata-rata minimal satu jam dalam kondisi tidak macet, atau bisa berubah menjadi dua jam ketika lalu-lintas dalam kondisi paling terkutuk. Dan tidak hal yang lebih membuat saya bahagia di atas kereta selain melihat rekan-rekan komuter yang harus menderita setiap hari, berhenti total di belakang kemudi di turunan Tanah Kusir, sedangkan di sebelah mereka di atas rel, KRL membawa saya dengan nyaman dengan kecepatan 50 kilometer per jam.

Namun lebih dari itu semua itu, naik KRL adalah saat yang jarang di Jakarta di mana anda bisa menjadi manusia seutuhnya. Dengan duduk, berdiri, diam, menggunakan semua panca indera anda bisa merasakan denyut kehidupan dari muka-muka lelah yang anda jumpai setiap malam di KRL terakhir jam 11 malam. Naik KRL juga membuat anda memiliki waktu untuk diam, melamun, berfikir setelah seharian berjuang dengan urusan-urusan tidak penting seperti mencari nafkah atau menghadapi manusia-manusia yang anda temui di rimba belantara ruangan kantor dan jalanan Jakarta. Di dalam KRL, sebaiknya dengan mematikan semua telepon, smartphone, atau tablet komputer adalah saat terbaik untuk bermeditasi tentang tempat anda di alam semesta—sesuatu yang tidak akan anda bisa lakukan di tengah-tengah lalu-lintas mobil Jakarta yang penuh amarah dan keangkuhan. Di dalam KRL, semua duduk—atau berdiri—dalam derajat yang sama, tidak peduli apa yang anda naiki menuju stasiun keberangkatan. Jabatan, kekayaan, mobil mewah, sepeda atau sepeda motor, semua harus ditanggalkan di pintu masuk stasiun. Ini tidak hanya membuat KRL moda transportasi yang egaliter--jika bukan komunistis--namun juga relijius nan spiritual.

Dengan segala keterbasannya, KRL Jabodetabek juga masih memungkinkan anda yang tetap ingin menjadi pintar dan hipster seperti para New Yorker itu. Tidak ada yang peduli dengan apa yang anda baca dan dengarkan di dalam mobil pribadi--dengan catatan anda memiliki sopir--namun dengan KRL anda dengan mudah bisa menemukan tempat untuk memamerkan betapa sophisticated-nya pilihan musik dan buku anda. Ketika semua rekan satu gerbong anda sibuk dengan BB mereka, anda bisa dengan mudah memberi rasa kasihan terhadap mereka sambil mengeluarkan buku bacaan atau majalah anda. Tidak banyak orang yang memberi pandangan curiga ketika saya menarik buku David Foster Wallace—atau seperti semalam ketika saya menenteng buku Continuum 33 1/3 tentang Marquee Moon--dari tas dan mulai membacanya dengan berdiri, namun lebih banyak pasang mata memelototi saya ketika saya menenteng copy vinyl LP Is This It yang ikonik itu. Pendek kata KRL dengan mudah bisa memberi tempat kepada naluri eksibisionis dan intellectual snobbery anda. Dan ingatlah ketika rekan anda di dalam mobil terjebak kemacetan yang membunuh jiwa, di atas KRL anda telah menjadi lebih pintar dari puluhan halaman buku atau majalah dan menemukan keheningan dalam riuh-rendah kosmis. Perjuangan saya masih panjang untuk membuat KRL Jabodetabek menjadi trendi.

Last modified on: 24 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni