(0 votes)
(0 votes)
Read 2879 times | Diposting pada
Kolom Esai

Setelah Boombox Usai Menyalak: Perihal Musik, Aktivisme, Pengarsipan, dan Pengorganisasian Komunitas

Setelah Boombox Usai Menyalak Setelah Boombox Usai Menyalak Herry Sutresna, www.gutterspit.com

 

Halaman terakhir sebuah buku selalu menjadi bagian favorit. Dari sana, salah satu hal yang bisa diperoleh adalah perihal profil singkat sang penulis:

Herry “Ucok” Sutresna menulis lepas soal musik dan politik bagi beragam media dan sempat membuat fanzine dan newsletter personalnya. Ia adalah salah satu pendiri kolektif hip hop Homicide di tahun 1994. Bersama Homicide, ia sempat membuat tiga album sebelum Homicide membubarkan diri pada tahun 2007. Selepas Homicide, Ucok membuat album solonya “Fateh” dibantu DJ asal New York, Still. Ucok adalah alumni Sastra Inggris Universitas Padjajaran dan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung- yang kemudian sempat aktif di Partai Rakyat Demokratik (PRD) di masa senjakala Orde Baru. Bekerja sebagai desainer grafis, Ucok masih aktif di lingkaran-lingkaran pemberdayaan sosial-politik di kotanya, Bandung, dan mendirikan label rekaman, Grimloc Records bersama dua rekan lainnya. Masih rutin menulis untuk blog/zine dan aktif bersama grup hip hop barunya, Bars of Death.

 

Bagi saya, sebanyak 27 tulisan Ucok yang ditampilkan dalam bukunya, Setelah Boombox Usai Menyalak, menjadi bagian dalam perjalanan “spiritual” saya dalam mengenal musik hip hop. Saya bukan penggemar fanatik jenis musik ini. Akan tetapi, satu hal yang selalu menjadi kesenangan pribadi ketika mendengarkan musik adalah mengamati lirik-liriknya. Di hip hop saya menemukan kesenangan itu. Rapalan rima yang dibalut dengan metafora dan kaya dengan referensi berupa peristiwa dan buku-buku yang dieksekusi dengan sangat baik. Tentu saja, tidak ada yang meragukan kekuatan rima Homicide. Dalam beberapa kesempatan, mereka seakan memaksa untuk membuka kamus dan mencari tahu lewat obrolan bersama beberapa kawan. Dan saya melakukannya.

Pada halaman pembuka, buku ini sudah memberikan penegasan perihal kapasitas dan kualitas menulis seorang Ucok. Lihat saja, Taufiq Rahman menyatakan, “Ucok adalah penulis yang baik, sangat baik malah.” Dan pada bagian selanjutnya, ia mendeskripsikan dengan sangat dalam. Saya sangat menyelami setiap barisan aksara dalam buku ini. Banyak referensi dan sudut pandang dari seorang Ucok yang bisa dijadikan pedoman untuk tekun dan konsisten dalam pilihan hidup. Lihat saja yang disampaikan oleh Taufiq, “Ucok menulis dengan lugas tanpa metafora dan simbolisme yang biasanya menjadi titik lemah penulis berbahasa Indonesia. Hampir semua pilihan kata adalah keputusan sadar untuk menempatkan bahasa sebagai apa yang Jurgen Habermas sebut sebagai Communicative Action. Dan dari apa yang dia pelajari dari Hegel atau mungkin Marx, tulisan Ucok, bahkan untuk tema yang remeh dan trivial adalah upaya untuk berdialog, upaya discursive dan/atau mempertanyakan konsep dan pemikiran yang dua spasi sebelumnya baru diproposisikan. Membaca tulisan Ucok ibarat perjalanan penuh ombak dan badai James Joyce di Ulysess’.

Mengawali satu tulisan pembuka sebelum menyimak "Bapa", seorang Ucok seakan menunjukkan hal yang berbeda dari yang disampaikan Taufiq. Ia menulis, “Meski pernah kulliah di fakultas sastra, saya penulis yang buruk. Membaca tulisan-tulisan banyak kawan saat kuliah cukup membuat saya sungkan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan saya. Karena memang buruk.” Namun, saya setuju dengan yang disampaikan oleh Taufiq. Meskipun tidak kenal secara personal dan hanya mengikuti beberapa ‘ceramahnya’ di Youtube, bagi saya Ucok adalah orang yang rendah hati. Meskipun dalam kenyataannya, ia adalah seorang yang sangat perfeksionis dan memiliki energi yang besar, begitu yang disampaikan oleh rekannya dalam sebuah acara di Bandung.

Tanggal 24 Agustus 2016 saya menuju Kota Bandung. Ini adalah kesempatan kedua ke kota ini. Sebelumnya pada tahun 2010 dan secara tidak sengaja menonton Efek Rumah Kaca di salah satu café di Jalan Sumatera (jika tidak keliru). Esok harinya, 25 Agustus sore atau sehari sebelum kembali ke kampung halaman saya di Bima, Nusa Tenggara Barat, saya bersama seorang kawan menuju Omunium Bandung. Saya berharap bisa mendapatkan buku Ucok di sana, setelah pada sehari sebelumnya saya tidak mendapatkannya di toko buku Post Santa Jakarta. Kali ini saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan buku cetakan pertama itu.

Ucok dan Pelaksanaan Kata-Kata

“Semua tulisan di buku ini hanya memiliki satu benang merah; musik”. Kalimat tersebut bisa dilihat di halaman 7 pada paragraf kedua. Sebenarnya banyak hal yang menarik dan sangat menggugah ketika mencerna semua tulisan Ucok. Saya selalu bersemangat ketika membaca beberapa catatan di blog pribadinya, www.gutterspit.com. Mulai cerita perihal pengorganisasian komunitas, advokasi masyarakat, review album terbaik atau pun cerita dan pandangannya terhadap realitas sosial yang memiliki irisan dan relasi dengan praktik kekuasaan dan ketidakadilan.

Jika harus memilih, tiga tulisan favorit saya didalam buku ini adalah "10 Lagu Protes Lokal Terbaik”, “Melihat ‘Kekuasaan’ Marx dan Nietzsche Lewat Company Flow dan Patriotism”, “Yang Tersisa dari Perjalanan Mengunjungi Godspeed You! Black Emperor di Kuala Lumpur”. Pertama, untuk 10 Lagu Protes Terbaik, saya merasa cukup kaget ketika Ucok menulis Bima dalam catatannya di lagu Bongkar milik Swami. Bima adalah daerah kecil di ujung Timur Pulau Sumbawa yang pada tahun 2012 terjadi peristiwa demonstrasi dan solidaritas penolakan akibat dibangunnya perusahaan pertambangan di sana. Namun akhirnya penolakan itu bermuara pada tewasnya warga sipil dan pembakaran kantor Bupati.

Mungkin saja tidak banyak yang tahu perihal Bima. Bahkan beberapa kawan saat saya kuliah di Malang, tidak terlalu akrab dengan daerah ini. Namun, di sini Ucok menempatkan dirinya sebagai seorang yang memiliki kepekaan sosial dan referensi perihal peristiwa yang terjadi di wilayah tanah air. Terutama yang berkaitan dengan isu agraria dan komunitas. Mungkin di sinilah pengalaman emosional tidak langsung saya dengan Ucok tercipta. Asalannya cukup jelas, Bima adalah kampung halaman saya. Bagi saya, menyimak tulisan “Melihat ‘Kekuasaan’ Marx dan Nietzsche Lewat Company Flow dan Patriotism” sama rasanya seperti mendengar dan mengikuti kuliah filsafat di kelas. Yang membedakan adalah sentuhan musik dan rima yang menyala dalam pemaparannya. Jika tidak berlebihan, tulisan ini bisa dilanjutkan menjadi riset dan paper ilmiah dengan referensi catatan kaki dan kerumitan yang ada di dalamnya.

Mendekati pengujung 2015, saya berteduh dari hujan dan udara yang dingin. Sisi Eropa Istanbul hampir memasuki musim dingin. Dan pukul 6 sore saya harus berjumpa dengan seorang kawan. Saya lupa, ternyata malam itu juga ada konser Godspeed You! Black Emperor di salah satu gedung di pusat kota. Setiap mendengar Godspeed You! Black Emperor, yang terlintas di kepala saya adalah Ucok. Alasannya sederhana, karena saya pertama kali mendengar nama band ini dari tulisannya “Yang Tersisa dari Perjalanan Mengunjungi Godspeed You! Black Emperor di Kuala Lumpur”. Dalam sebuah tulisannya, Ucok mengakui bahwa GY!BE tak hanya mengubah pandangannya tapi juga ide tentang merubah dunia. “GY!BE tak hanya merubah banyak pandangan saya tentang musik namun pula pada dunia, pada ide-ide tentang merubah dunia dan apa yang harus dilakukan di hadapannya ketika harapan runtuh dan hidup harus dilanjutkan.”

“Pelaksanaan kata-kata dari apa yang dia tulis, dia lakukan di kehidupan sehari-hari dan mengoptimalkan pengetahuan”, (Cholil Efek Rumah Kaca dalam wawancara Opini Jujur Rolling Stone Indonesia, 16 Maret 2016). Petikan kalimat di atas adalah pendapat Cholil tentang sosok Ucok. Saya merasa hampir semua kawan akan sepakat dengan hal tersebut. Terlebih, jika memperhatikan dengan jeli ada sesuatu yang istimewa antara keduanya. Lagu ‘Di Udara’ milik ERK berada di urutan 3 dalam daftar lagu protes versi Ucok. Pada bagian akhir, Ucok menulis “Sampai sekarang bulu kuduk saya selalu berdiri ketika lagu ini mereka mainkan di panggung.”

Membaca buku ini mengajarkan hal-hal yang terkait dengan pengarsipan, konsistensi, perjuangan, komitmen, penggalian ilmu pengetahuan, musik, rima, filsafat, komunitas atau pun konsekuensi menjadi ‘berbeda’ dengan beberapa orang yang memiliki ideologi dan pemikiran. Di luar itu semua, buku ini menyimpan “daftar pustaka” musik hip hop, metal, punk dan cara membangun jaringan lewat komunitas, mengambil sikap serta bersedia atas konsekuensi tertentu. Selain itu, di dalam buku ini Ucok memaparkan kecintaannya terhadap keluarga dan sedikit cerita perihal Guns N’ Roses yang menurutnya masih relevan untuknya, karena gadis yang diidamkannya dulu akhirnya berhasil ia nikahi dan menjadi ibu dari anak-anaknya.

Tak lupa, Ucok berbagi tentang lokasi favoritnya dulu untuk mendengarkan musik dari walkman. “Tempat favorit kami adalah belakang gedung Sastra di Jatinangor dan perpustakaan di Dipati Ukur,” (halaman 202). Saya dan mungin beberapa pembaca lainnya masih akan terus menunggu catatan Ucok, baik yang berkaitan dengan musik maupun aktivitas gerakan komunitasnya. Mengutip Taufiq, “ada beberapa naskah yang lebih layak untuk dibaca oleh khalayak, namun terpaksa kami eliminasi karena kebetulan tidak berhubungan dengan musik” (pada halaman tiga buku ini) semoga akan hadir di masa yang akan datang. Entah dalam bentuk buku ataupun lewat kanal blog pribadinya Ucok.

Organize, Organize, Organize!

PS:

- Poster Homicide yang ada di kamar sudah terendam banjir setinggi 2-3 meter yang menerjang Kota Bima pada 21 dan 23 Desember 2016. Juga CD Fateh pemberian seorang kawan di Bekasi telah bercampur lumpur.
- Bima adalah kampung halaman saya

***

Judul Buku: Setelah Boombox Usai Menyalak
Penerbit: Elevation Books, Agustus 2016
Penulis: Herry Sutresna
Penyunting: Taufiq Rahman
Desain sampul dan tata letak: Herry Sutresna
Foto isi: Hana Ganria, Syam Perdana
Cetakan I, Agustus 2016

Last modified on: 21 Januari 2017

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Hip Hok


    As a child growing up in Indonesia, a globally connected country, I was fascinated by hip-hop culture. I was introduced to rap music through a Christian rapper named William “Duce”…

     

  • Terapi Urine Pasca 'Kehiduvan yang twewew ini'


    Seakan tak mau lepas dari swag hegemoni, suburnya isu SARA dan anomali sosial lainnya, EP Om Telolet Om menawarkan kesemuanya tadi dalam rangkaian aroma thrash metal ditambah single Buju Buneng…

     

  • Dolly yang Menghantui Dalam Videoklip Sang Pelanggan Silampukau


    Kami menemukan video klip ini horor. Satu shot menunjukkan kamera bergerak dari satu angle, dengan lembut menyorot foto pengantin di tengah kamar yang agak berantakan dan kosong sedari malam. Lelaki…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni