(0 votes)
(0 votes)
Read 3794 times | Diposting pada

Munir: Tak Punya Pacar, Rapor Pas-pasan

(Sebuah Undangan Nonton dan Buka Bareng)

Deddy ‘Gembul’ Prihambudi tertawa lepas. Badannya yang tambun berguncang-guncang. Dia memutar memori tentang hubungan asmara seorang seniornya di kampus Universitas Brawijaya, Munir Said Thalib.


“Nggak usah aku ceritakanlah, bagaimana curhatnya cewek-cewek Munir waktu itu. Siapa sih yang nggak tergila-gila dengan pejantan tanggung, biarpun rambutnya merah. Arab lagi,” tandasnya, melanjutkan tawa.

Seolah menyadari bahwa omongannya bakal ditonton Suciwati, Deddy buru-buru menetralisir, “Ya, yang nonton ini jangan sampai tersinggung. Jangan sampai marah. Ini fakta. Hehehe...”

Deddy yang angkatan 1987, adalah yunior Munir di Fakultas Hukum. Menurut mantan Direktur LBH Surabaya era 1990-an ini, Munir termasuk mahasiswa yang “telat mengenal perempuan”. Kehidupan kampusnya dihabiskan di organisasi senat mahasiswa sebagai ketua. Sedangkan di luar kampus, Munir bergiat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau menjadi Sekretaris Al-Irsyad, sebuah organisasi sosial keagamaan di kampung halamannya, Batu.

Jadi, hampir tak ada waktu untuk “mengenal perempuan”, hingga semester-semester akhir menjelang kelulusan.

“Setahu saya, Mas Munir itu dari SMP sampai SMA ndak pernah pacaran,” kenang Sugiono, kawan sekolahnya selama enam tahun.

“Kenapa, Pak? Apa karena ndak laku?” pancingku.

“Ya, mungkin karena dulu itu, di antara kami yang gede-gede ini, Mas Munir badannya paling kecil. Kalau soal nggak laku, ya ndak lah. Hahaha...” pungkas pria yang kini jadi Kepala Sekolah SMP PGRI 1 Batu.

Saya hampir menyimpulkan Munir adalah pecundang tulen, ketika mendapati nilai-nilai di rapornya yang juga jeblok. Bayangkan, di SMP Negeri Batu (1981-1983), bocah ini hanya ranking 187 dari 200 siswa! Itu tertulis di buku induk siswa yang mencatat semua rekam jejak akademisnya selama tiga tahun.

Di sekolah mana pun, siswa yang “kurang bergaul ala muda-mudi” biasanya menjadi kutu buku dengan segudang prestasi. Tapi Munir? Gadis menjauh, prestasi pun, aduh! Nilai bahasa Inggrisnya tak pernah jauh-jauh dari angka 5 yang ditulis dengan tinta merah yang masih menyala, meski 26 tahun berselang. Nilai matematikanya bergiliran antara 5 dan 6. Hanya Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kadang 7 atau 8.

Aku datangi Bu Ratna, guru bahasa Inggrisnya yang membenarkan ihwal bahasa Inggris Munir yang “biasa-biasa saja”. Kuduga ini kosa kata yang dipaksakan secara hiperbola, hanya karena sedang berbicara di depan kamera. Mestinya, kata yang tepat adalah “payah”. Lantas aku mengarahkan kamera ke sebuah bangku di deretan tengah sebelah kanan, di mana dulu Munir pernah duduk. Bangku itu kini dihuni seorang siswa yang nilai bahasa Inggrisnya 9,5!

“Ya, kalau sudah di Kontras, bahasa Inggrisnya mestinya sudah bagus. Apalagi dia sering ke luar negeri,” kata Bu Guru Ratna membesarkan hati, entah siapa.

Tapi kawan-kawannya seperti Ikrar Nusa Bhakti (LIPI) atau Edwin Partogi (Kontras) tak setuju dengan tebakan itu. Munir adalah seorang yang cepat belajar, namun itu tak serta-merta membuat bahasa Inggrisnya menjadi “brilian” meski berkali-kali tetirah ke negeri atas angin.

“Waktu seminar di Australia, dia masih pakai bahasa Indonesia. Tapi dua tahun kemudian, di Universitas Parahyangan, dia sudah pakai bahasa Inggris, meski patah-patah juga,” papar Ikrar.

“Saya pernah dengar Munir dituduh antek asing dan dilatih di negara Amerika Latin. Lalu saya tanya soal ini ke Munir, dan dia ketawa. Apalagi dia nggak bisa bahasa Inggris,” kenang Edwin.

Karena penasaran, aku datangi SMA Negeri 1 Batu, tempatnya menimba ilmu antara tahun 1983-1985. Bekas guru-gurunya yang masih aktif lebih banyak dibanding SMP atau SD. Ada juga bekas kawannya yang kini menjadi guru atau staf administrasi di sekolah yang sama. Rata-rata mereka memberikan kesaksian senada: Munir ndak pernah pacaran.

Baiklah. Sekarang kita buka nilai rapornya.

Lumayan, ada peningkatan. Di banyak mata pelajaran, mulai bertebaran angka 7 dan 8. Peringkatnya pun naik, mulai masuk 15 besar, bukan lagi pecundang ke 187 dari 200 siswa.

Tapi bagaimana dengan bahasa Inggris-nya?

Bergeming di angka 5 dan 6.

Pendek kata, bila namanya tak muncul di media massa akhir 1990-an, para guru atau bekas kawannya nyaris tak mengingat Munir, karena selama di sekolah, bocah ini memang tidak menonjol dari segi apapun, juga pendiam.

Lalu bagaimana seorang pecundang sejati tanpa pacar dan rapor pas-pasan, tiba-tiba jadi petarung yang digilai para wanita di masanya? Revolusi pemikiran macam apa yang bergema di relung-relung kesadarannya sebagai mahasiswa dan relawan pemula di LBH Malang? Mengapa Suciwati?

Film dokumenter biografi, “Kiri Hijau Kanan Merah” akan diputar di sekretariat AJI Jakarta, Senin 7 September 2009, bertepatan dengan lima tahun terbunuhnya Munir. Film berdurasi 48 menit yang diproduseri Andhy Panca (WatchdoC) ini akan menggenapi acara diskusi para jurnalis bertema: “Media: 5 Tahun Menjaga Ingatan Publik tentang Kasus Munir”

Para pembicara yang akan dihadirkan adalah Alif Imam Nurlambang (jurnalis radio, mantan reporter 68H), Budi Setyarso (Majalah Tempo), dan Alam Burhanan (ANTV). Mereka adalah jurnalis yang menekuni liputan panjang perjalanan kasus ini sejak 2004.

Acara ini terbuka untuk umum, dan silahkan hadir sekitar pukul 17.30 untuk berbuka puasa bersama, seadanya. Undangan resminya akan disampaikan kawan-kawan sekretariat AJI Jakarta.


Sampai jumpa!


Dandhy D Laksono
Sutradara

 

Last modified on: 22 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni