(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3739 times | Diposting pada

Merenungi Hidup dan Umur

Selalu ada beda usia psikologis dan usia biologis. Itu kesimpulan saya beberapa waktu lalu. Riri, istri saya, misalnya, tetap merasa berada di usia awal dua puluhan, meskipun sekarang menuju penghujung tiga puluhan. Semula saya tak percaya.


Tapi ada teman lain dengan pengakuan mirip. Selalu merasa di usia dua puluh sembilan, saat sekarang memasuki paruh usia tiga puluh. Sohib remaja saya lebih 'parah'. Selalu merasa dia anak di usia delapan belasan, dengan semua optimisme dan kenaifannya! Belakangan saya banyak bertanya pada diri saya sendiri. Kalau dipikir-pikir, saya selalu berada di ujung sebaliknya. Selalu merasa lima sampai sepuluh tahun lebih tua dari usia saya yang sesungguhnya.

Saya tidak tahu apakah ini punya dampak pada ritme dan cara kami merespon kehidupan. Yang pasti Riri, misalnya, lebih grounded dan cenderung take it easy dengan kesulitan keseharian. Saya sebaliknya, lebih penuh angan-angan, lebih mellow dan gelap, meski sesekali sama juga efektifnya dalam menyelesaikan masalah. Tapi setelah menimbang-nimbang, kalau secara alami mode psikologis saya memang cenderung lebih maju beberapa tahun kedepan, kenapa harus repot? Sekarang, saya berhenti memikirkan perihal usia psikologis dan biologis ini. Pokoknya, jalani saja!

Sayangnya, tidak mudah bilang pada diri sendiri: “jalani saja”, saat usia mulai memasuki pertengahan tiga puluhan, psikologis atau biologis. Saya selalu punya keyakinan ini adalah masa-masa paling kritis dalam kehidupan banyak orang. Saya salah satunya. Pertengahan 30-an adalah tahapan usia ketika sebagian orang memasuki zona “there’s no turning back..” Tak ada tikungan untuk kembali. Pilihannya adalah melangkah kedepan dengan tatapan pasti, atau banting setir untuk memenuhi panggilan dari dunia yang sepenuhnya berbeda. Saat itu Anda boleh meragukan kebenaran lirik lagu You Only Live Twice, yang dinyanyikan dengan phrasing yang maut oleh Nancy Sinatra itu..

You only live twice or so it seems,
One life for yourself and one for your dreams..


Di usia pertengahan tiga puluhan, dengan sinis saya akan bilang: Naaah, baby. You only live once. And its an either-or game....

Inilah saatnya seseorang mempertanyakan ulang asumsi-asumsinya. Merenungi kembali bebukitan dan lembah hidup yang pernah ia lalui sembari mengangankan dunia macam apa yang ingin dihuninya di tahun-tahun mendatang. Orang menengok kebelakang, mencari referensi, tentang perasaan hidup yang penuh gelora. Saat kita merasa sanggup melakukan segala sesuatu. Jejak-jejak kabur momen gemilang di masa lampau yang pernah membuat kita merasa hidup sepenuh-penuhnya.

Dalam ziarah mental ini, sebagian kepergok dengan puber kedua, yang bagi saya lebih menyerupai keinginan untuk kembali mengalami dunia serba muda. Dunia serba bebas, serba cair, seakan lepas dari gravitasi dan kungkungan tanggung-jawab. Dunia yang penuh petualangan, penaklukan, resiko, gelora dan asmara, serta percobaan pada kemungkinan-kemungkinan baru.
Sebagian yang lain, bisa menembus kabut romantisme masa lalu, dan mengambil keputusan cepat tanpa terjebak berlama-lama di dalamnya. Lalu bergerak menuju puncak baru dalam kehidupannya.

Tentang masa-masa puncak dalam perjalanan seseorang, saat seseorang merasa hidup seacara bulat dan penuh, saya mendapati kisah menarik dalam salah satu artikel di Buku milik Gladwel, What The Dog Saw (2009). Artikel ini berusaha membandingkan para pemilik bakat yang gemilang sejak mulanya (prodigies) dengan para maestro yang lambat panasnya (late bloomers). Gladwel mengambil dua sosok ekstrim dari dunia seni rupa modern, yaitu Pablo Picasso dan Paul Cezanne.

Picasso adalah jenius yang bakatnya amat kentara bahkan pada usia yang masih amat belia. Ia merampungkan karya-karya termahalnya pada usia 20-30an, dan terus berkarya secara jenius, mungkin dengan sedikit perlemahan yang gradual, pada tahun-tahun berikutnya, hingga ia meninggal pada usia 90-an.

Cezanne, adalah segala yang terbalik dari Picasso. Pelukis impresionis dari Perancis ini selalu mengalami defisit kepercayaan diri. Menyelesaikan satu lukisan secara bertele-tele. Sesuatu yang oleh Picasso mungkin bisa dituntaskan hanya dalam hitungan jam, di tangan Cezanne bisa menjadi kerja keras berhari-hari. Paul Cezanne dilaporkan berulang-ulang merobek kanvasnya dalam kemarahan dan keputusasaan. Bingung dengan apa yang ia sendiri inginkan dari kuas dan bidang lukisnya. Ia butuh dikelilingi oleh teman-teman terdekatnya – termasuk Emile Zola, penulis Madame Bovary, dan Camille Pissaro, pelukis besar lain – yang tak pernah menyerah meyakinkan Cezanne akan bakat dahsyatnya.

 

Card Players. Cezanne menyelesaikan lukisan di bawah ini dalam kurun tiga tahun, 1892-1895

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paul Cezanne meninggal pada usia 67 tahun. Dan, berkebalikan dengan Picasso, karya-karyanya yang paling brilyan, berpengaruh, sekaligus paling mahal, justru berasal dari masa-masa senjanya di atas usia 50-an. Di lingkungan seni rupa modern Barat, Cezanne dianggap sebagai seniman perintis. Dan dengan penuh hormat Picasso sendiri menyebutnya sebagai “Bapak bagi kita semua..” Tapi Cezanne, meminjam Gladwel, adalah “si lambat panas” itu…

Di Indonesia, saya suka membandingkan kedua penulis luar biasa ini: Danarto dan Romo Mangunwijaya. Danarto adalah salah satu penulis cerpen terbesar yang lahir di Indonesia. Aktif sekali menulis dengan eksplorasi gaya dan subjek yang amat inovatif bahkan untuk ukuran dunia. Ia menyelesaikan cerpen-cerpen terbaiknya -- menembus wilayah yang tak terpikirkan dengan tuturan yang magis -- di usia 20an hingga awal 30-an. Deretan mahakarya ini terangkum dalam dua kumpulan cerpen: Godlob (1975) dan Adam Makrifat (1982). Terbit lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.

Danarto masih berkarya hingga saat ini. Tapi kita sedang menanti karya-karya yang mampu menandingi kedahsyatan karya-karya masamudanya pada Godlob dan Adam Makrifat. Saya membayangkan Danarto menyerupai Picasso, yang menjulang pada masa mudanya dan bergerak melambat di periode lanjut dalam kehidupannya.

Romo Mangun adalah kebalikan dari Danarto. Buku pertamanya diselesaikan dan terbit pada usia 49 tahun. Usia yang amat telat. Setelah itu, dalam periode dua puluh tahun berikutnya, hingga wafatnya pada usia 69 tahun, Romo Mangun praktis menyelesaikan minimal satu buku setiap tahunnya, dengan jangkauan ketertarikan yang luar biasa luas.



Ia menulis buku-buku sastra seperti Burung-Burung Manyar (1981) dan Burung-Burung Rantau (1992). Novel populer dalam bentuk Trilogi Roro Mendut. Di sela-selanya ia menyelesaikan esai-esai arsitektur (Wastucitra, 1988) dan bahkan, beberapa tahun sebelumnya, sebuah textbook tentang Fisika Bangunan (1980). Romo Mangun menyelesaikan kumpulan renungan mengenai religiositas dalam kehidupan sehari-hari melalui Ragawidya (1986). Salah satu kumpulan renungan keagamaan yang paling baik yang pernah saya baca hingga sekarang. Romo Mangun juga merambah wilayah pemikiran sosial melalui esai-esai filsafat (seperti dalam Putri Duyung Yang Mendamba, awal 80-an), dan esai-esai politik-nya (Esai-Esai Orang Republik, 1987). Dan tentu saja, sebagai seorang Romo, ia jugaa menulis buku-buku keagamaan, yang justru jumlahnya amat terbatas. Salah satu diantaranya adalah Gereja Diaspora (1999).

Sampai saat wafatnya pada tahun 1999, ia menyelesaikan lebih dari 30 buku. Sekitar separuhnya adalah buku utuh, dan sisanya adalah kumpulan tulisan. Romo Mangun mewakili apa yang disebut Gladwel sebagai orang-orang yang “lambat panas”-nya. Mesin diesel yang butuh waktu panjang sebelum bisa kencang berkarya.

Saya suka menganggap Romo Mangun pahlawan. Pada diri laki-laki yang lahir di Ambarawa ini sesungguhnya saya sedang mencari dukungan, mencari pembenar bagi diri saya sendiri. Tepatnya kelembaman saya. Melaluinya saya diyakinkan, betapa aliran karya yang meluap-luap, atau buat saya, perasaan hidup yang penuh gelora, bisa juga muncul (kembali) belakangan. Pada saat usia seseorang, psikologis atau biologis, memasuki periode senja, yang oleh kebanyakan orang, diandaikan sebagai masa-masa yang amat membosankan.

Kisah Romo Mangun, atau Cezanne, paling tidak, membuat saya tak pernah berhenti berharap, bahkan ketika masa saya pelahan habis merayap. Mereka berdua membantu saya memaafkan kekacauan diri saya sendiri, sekarang, dan membantu saya untuk tetap penuh angan-angan dan berani menanti..

Last modified on: 22 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni