(11 votes)
(11 votes)
Read 5360 times | Diposting pada

Mengapa Rasulullah SAW Tidak Ngapak?

Mengapa Rasulullah SAW Tidak Ngapak? Sumber foto: Istimewa

 

Menurut saya sebagai seorang Muslim, harapan orangtua yang ingin anaknya menjadi hafiz (penghafal Al-Quran) adalah ambisi yang sangat baik. Dorongan bagi anak didik di sekolah untuk menghafal doa-doa dalam Bahasa Arab juga adalah motivasi yang mulia. Yang memprihatinkan adalah fenomena hafalan bacaan Arab tanpa memahami terjemahan dalam bahasa ibu kita, Bahasa Indonesia. Setidaknya itu yang sering saya amati pada anak-anak yang saya jumpai di negara ini. Apalagi dengan metode pemberian “hadiah duniawi” terhadap anak jika ia mampu menghafal bacaan Arab tertentu. Apakah kita sedang membesarkan generasi bermental pemburu kupon berhadiah piring cantik Alfamart?

Di sisi lain, saya juga kurang setuju dengan pendapat “Ngapain susah-susah ngapalin bahasa Arab. Yang penting ngerti artinya. Kan kita bukan orang Arab!” karena pasti ada alasan mengapa Allah SWT turunkan Nabi Muhammad SAW di Timur Tengah. Setidaknya, saat ini saya melihat Bahasa Arab itu seperti Bahasa Latin bagi dunia kedokteran. Baik dokter dari Washington maupun dokter dari Jonggol akan memiliki persepsi yang sama ketika mendengar kata “femur”. Begitu juga ketika sholat berjamaah. Walaupun makmum dan imamnya berbeda suku bangsa, tidak akan masalah kalau semuanya menghafal Al-Fatihah dan bacaan sholat dalam Bahasa Arab. Dari sisi duniawi, Bahasa Arab pun besar manfaatnya. Jika Anda ingin lebih go international daripada Agnez Mo, kuasaliah Bahasa Arab, sebab ia termasuk salah satu dari 6 bahasa pengantar resmi PBB bersama Bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, dan Rusia.

Kembali ke soal ambisi hafal-menghafal kitab suci. Saya kurang paham bagaimana situasinya di agama lain, jadi saya hanya membahas dari sisi agama yang saya anut. Saya pikir akan lebih bijak jika orangtua memiliki harapan yang seimbang. Yakni mengharapkan anaknya tidak sekedar menjadi penghafal, namun juga pengamal Al-Quran. Bagi orangtua yang anaknya kesulitan menghafal dalam Bahasa Arab, jangan berkecil hati. Sebab Al-Quran sendiri pun berkali-kali mengingatkan kita bahwa yang lebih utama bagi umat Muslim adalah membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Quran.

Tuhan tahu umatnya berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda. Itulah mengapa pemahaman sebuah kitab suci dalam bahasa ibu setiap individu menjadi sangat vital. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengamalkan perintah Tuhan jika ia tidak tahu artinya? Pernah suatu ketika keponakan saya dengan bangga melafalkan doa sebelum makan dan beberapa surat dalam Bahasa Arab yang fasih. Namun kemudian ketika saya tanya, “Hebat sekali! Artinya apa?”, ia hanya meringis karena tidak tahu. Ternyata hal itu tidak jarang saya jumpai, bahkan pada orang dewasa. Di situ kadang saya merasa sedih [insert meme polwan here –Pen].

Secara umum disebutkan pada surat Ibrahim ayat 4, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” Surat-surat lain seperti Yusuf:2, Fussilat:44, Az-Zukhruf:3, dan Ash-Shuuraa:7 pun menjelaskan; Al-Quran diturunkan dalam Bahasa Arab supaya mudah dimengerti, karena Nabi Muhammad adalah orang Arab dan umatnya berbahasa Arab. Jika Malaikat Jibril tiba-tiba iseng menyuruh beliau bicara ngapak, apa mungkin Sayyidina Ali dan Umar bin Khattab yang bukan asli Tegal akan mengerti?

Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam pengutipan dan penafsiran ayat-ayat di atas. Sejauh ini saya percaya kita semua perlu belajar Bahasa Arab agar dapat beribadah dengan lebih baik. Akan tetapi jangan juga terlalu mengagung-agungkan Bahasa Arab lebih daripada bahasa ibu kita maupun bahasa lain di dunia ini, apalagi sampai mengabaikan maknanya. Pencipta kita itu Maha Cerdas dan Maha Adil. Jadi dalam bahasa apa pun kita melakukan amal ibadah, saya rasa Allah tentu mengerti niat kita.

***

* Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut International Mother Language Day Celebration 2015 yang ditetapkan oleh UNESCO untuk diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Last modified on: 21 Februari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni