(0 votes)
(0 votes)
Read 1708 times | Diposting pada
Kolom Esai

Membaca Rush dari Sepenggal Pagi

Membaca Rush dari Sepenggal Pagi Sumber Foto: Ist.

 

Bagi sebuah band seperti Rush, tentu ada semacam sihir dan kehebatan yang tetap membuat karyanya menggaung hingga saat ini. Banyak hal yang dapat dipakai untuk menjelaskan ‘gaung’ itu. Sedang kata gaung sendiri sejatinya berakar dalam mitologi Yunani. Gaung adalah suara seorang Dewi, bernama Gema. Ia Dewi yang dikutuk hanya bisa menirukan suara yang didengarnya.


Ia mencintai Narsisus, pemuda tampan yang hanya mencintai dirinya sendiri. Gema mencintai Narsisus tanpa pernah bisa menyatakan cintanya, karena ia hanya dapat menirukan suara yang keluar dari mulut Narsisus. Dan sial, Narsisus tak pernah menyatakan cinta. Gema hanya bisa berkata “Pergilah!!” ketika sebelumnya Narsisus mengatakan hal yang serupa kepadanya. Narsisus mengusirnya dengan kata itu, ia lebih memilih bercumbu dengan bayang dirinnya di atas air.

Pada akhirnya, Gema meninggalkan Narsisus dengan beribu bisu, ia pergi entah kemana. Dan barangkali saja, kemudian Gema mengikuti Geddy, Alex dan Neil. Mungkin berkat gaung dari Dewi Gema yang menyertainya, karya Rush selalu berhasil menembus barikade ruang dan demarkasi waktu, sampai saya pertama kali mendengar masterpiece mereka, 2006 lalu. Kalau itu benar, saya mengucap terimakasih kepada Dewi Gema.

Kala itu, saya anak SMP pada umumnya, yang tergila-gila pada rockstar. Lagu-lagu Rush hampir selalu saya setel pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, sambil menyapu latar rumah. Pagi hari memang saat yang sempurna, apalagi ketika Ibu saya beradu tangkas dengan tetangga berebut bahan memasak di pasar kaget dekat rumah, pasar dengan persediaan serba terbatas itu. Karena sekedar tahu, Ibu saya tidak bisa menikmati Rush. Baginya, Rush hanya berandalan pemekak ceruk telinga.

Di luar perdebatan klasik tentang gosok gigi dulu baru makan, atau makan dulu baru gosok gigi, Rush memang beberapa kali juga menjadi satu alasan terjadinya friksi pagi hari di keluarga saya. kadang Ibu menginterupsi Rush dengan diva-divanya, ada Ermy Kulit, Celine Dion dan lain-lain. Saya sadar satu hal, sebagai anak tak ada kuasa saya secuil pun untuk membangkang. Namun tentu, harus selalu ada gelora untuk mencuri pagi agar menjadi milik kita yang merindukan semangat, dengan hentakan-hentakan.

Maka mencuri kesempatan adalah pilihan. Untungnya, pasar kaget adalah tempat perburuan tak kenal lelah dan tak tahu waktu, banyak ibu-ibu berlama-lama berebut sayur dan daging disana, tak jarang, mereka juga terjebak rumpi. Kalau dikira-kira, ada 5 lagu Rush yang bisa terputar dalam kesempitan waktu, sebelum ibu saya pulang dari pasar kaget itu. Kalau beruntung, bisa sampai 7 lagu. 

Pagi agaknya memang harus diperjuangkan sedemikian rupa, ia ruang yang harus digugah dengan hal-hal bergairah agar tidak kelu. Intensi itu bisa berupa apa saja, ia bisa Metallica, Koes Plus, Mr. Big, Rhoma Irama, atau lainnya, terserah. Namun bagi saya, Rush pagi hari adalah sebuah karunia, bahkan sampai sekarang, setelah beberapa tahun bersinggungan dengan “Tom Sawyer”. Bicara Rush, tentu bicara lagu ini. Alex Lifeson pernah menyebut, “Tom Sawyer is a real trademark song for us.

Saya bukan penggemar Rush fundamentalis, namun hentakan “Tom Sawyer” selalu sukses menjadi semangat indah untuk bergelut dengan hari-hari membosankan. Lagu itu cenderung mudah untuk seharian dipelihara dalam imaji yang segar, ia punya komposisi magis untuk meramaikan kakus sesunyi dan sesempit apapun. Ketukan drumnya bisa melatahkan jari-jari tangan yang hinggap di atas meja, tanpa sadar jari akan meniru lagu itu, dengan sedikit iringan hi-hat dari mulut, “cess-cess”.

Pernah 2009, di sebuah Ujian Nasional matematika tingkat SMP, di detik-detik terakhir, saya memainkan ketukan lagu ini ketika menghadapi soal-soal sulit, sambil terus berharap datangnya sebuah wahyu. Memang tak harmonis dan agak utopis, ketika situasi se-konkret ujian dihadapi dengan hentakan jari mengikuti Neil Peart. Padahal kala itu, Ujian Nasional adalah ujian terberat dari Tuhan yang pernah ada. Nama baik keluarga adalah jaminan kelulusan. Bagi pendamba masa depan, ujian itu sudah layaknya pertaruhan hidup dan mati. 

Pada detik-detik terakhir itu, diawali jentikan jari ritmik lagu “Tom Sawyer”, soal-soal matematika rumit yang membebani menjadi mudah untuk saya lingkari dengan pensil 2B. Tak ada pusing, tak ada sesal. Beragam sudut pandang yang mengerikan tentang ujian pupus, sebuah optimisme penuh tanpa tedeng aling-aling tumbuh. Untuk kesehatan mental, lagu itu menyelamatkan saya, walaupun tidak dengan hasil akhirnya. Matematika saya tetap jeblok, hal itu sedikit menodai kelulusan. Tapi toh, saya lulus. 

Tom Sawyer” seperti hal magis berteluh kala itu, ia menyingkirkan kekhawatiran di saat-saat kronik. Padahal tak sedikitpun saya paham liriknya, apalagi membaca novel Mark Twain yang menjadi hulu terciptanya lagu ini. Tapi memang, musik selalu memiliki cakrawala melodramatik yang masih menjadi misteri, dan selalu menggelinding menjadi misteri yang lebih besar. Ia bisa berupa melankolia yang punya kadar spiritual tersendiri bagi setiap manusia yang mendengar. 

Kadang syair dalam musik juga berlaku bak mantra, dengan merapalnya, ada simpul-simpul pengharapan dalam hidup yang kemudian terbuka. Kadang ia juga mendapat legitimasi dari agama, kadang sebaliknya, agama mengaksentuasi alunan musik untuk memaknai ajarannya. Dalam hal ini, Rush barangkali juga misteri spiritual yang segar untuk selalu dibahas.

Kekuatan literasi lirik gubahan Neil Peart mungkin adalah hal magis itu. Hal tersebut tidak pernah bisa direduksi dari Rush. Liriknya sangat kaya, penuh ketulusan, kemurnian dan kejujuran yang mengakar. Meskipun kadang dengan diksi yang sederhana, dalam banyak hal, kata-kata yang dipilih Neil Peart bermakna sangat langsung dan mudah dirasakan. 

Walaupun lirik memang bukanlah segalanya, namun dengan itu, Rush laksana sebuah novel, cerpen picisan, bunga rampai puisi, atau bagi sebagian orang bahkan menjadi ayat-ayat suci. Lirik Rush memiliki ruh yang menohok ruang jiwa banyak orang. Bagi banyak musisi, karya Rush selalu ditafsir secara luar biasa. Rush juga sukses menjadi pahlawan literasi bagi banyak rockstar, ia secara tidak langsung memaksa banyak musisi untuk mau membaca karya sastra.

Namun tentu tak sedikit yang mencibir Rush, ada yang bilang, band ini seperti kumpulan kutu buku yang punya preferensi terhadap fiksi-fiksi absurd, liriknya tak lebih dari literasi pseudo-simbolis yang meliur. Musikalitasnya aneh, serampangan. Konsepnya tak menjual. Konsernya membosankan. Warna vokal Geddy Lee juga jadi sasaran, ada yang mengatakan, vokalnya mirip kucing yang terjepit pintu dengan pantat menyembul, tak layak didengar. Banyak, banyak sekali kritik lain.

Mungkin di luar banyaknya kritik dan pujian itu, barangkali memang benar kata Pramoedya; “Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya”. Membaca Rush di sepenggal pagi barangkali juga hal sederhana, yang heboh-heboh tafsirannya.

Atau barangkali, keberadaan Rush yang berhadap-hadapan dengan pengamat, kritikus, fans maupun musuh yang berkesadaran memang harus berjalan sedemikian. Rush memang harus berjalan sedemikian rupa untuk menyediakan kondisi yang memungkinkan kehadiran pengamat, fans dan kritikus di dalamnya!! Ya embuh sih...

Sebagai penggemar Rush garis tepi luar pinggiran sudut, saya kembali ke hal yang sederhana saja kalau begitu...

Last modified on: 26 Januari 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni