(0 votes)
(0 votes)
Read 258 times | Diposting pada

Mata-mata Parramatta: Catatan Tulis Residency Bagian II (Parramatta)

 

Mata-mata di Parramatta tidak melulu berwarna biru. Ketika duduk di dalam kereta, atau bus, atau ketika saya berjalan kaki menyusuri toko-toko, kafe, stasiun, taman, dan jembatan, saya akan melihat bahwa mata-mata yang terkadang melihat ke arah saya (lebih seringnya tidak melihat ke arah saya) ternyata sungguh bermacam-macam warna dan bentuknya. Saya terpesona oleh mata-mata tersebut. Banyak yang berwarna sangat gelap seperti mata saya. Ada yang menyipit, ada yang dinaungi sepasang alis hitam yang sangat tebal seperti alis saya, ada juga—tentu saja—yang hijau, kelabu, atau biru, seperti mata calon suami saya yang orang Belanda. Tanpa sadar saya telah menjadi seorang mata-mata di kota ini, mengamati dan ingin tahu.

Parramatta terletak di Western Sydney. Sebelum datang ke sini, nama Parramatta (atau pun Western Sydney) tidak bermakna apa-apa bagi saya, karena di kepala saya Sydney hanya berarti kota besar di Australia tempat kita bisa berswafoto di depan Sydney Opera House dan kapal pesiar yang lagi parkir di pelabuhan Circular Quay. Rupanya Parramatta berbeda, lain dari yang lain. Sekarang adalah minggu kedua saya berada di Parramatta, minggu depan saya dijadwalkan kembali ke Jakarta, dan saya merasa begitu betah seperti di rumah sendiri sehingga tidak kepingin pulang. Parramatta meledak dalam warna-warni, dalam keberagaman, seperti halnya Jakarta. Saya betah.

Ini kota yang muda sekaligus tua. Kita akan menemui gedung-gedung pencakar langit yang masih sangat baru sampai rasanya kita seolah bisa mencium bau cat yang masih basah, namun di saat bersamaan kita juga bisa menemui bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial. Apartemen tempat saya tinggal, milik Parramatta Artists’ Studios, di Marsden Street, merupakan sebuah gedung baru, dan terletak persis di sebelah lahan di mana sedang dibangun apartemen mewah baru, namun hanya beberapa menit saja jalan kaki dari sana saya bisa menemui gedung Old Government House, bekas rumah dinas para gubernur New South Wales sepanjang tahun 1800 sampai 1847. Western Sydney juga katanya merupakan tempat di mana orang Eropa pertama kali membangun tempat tinggal di Australia. John dan Elizabeth Macarthur membangun rumah mereka berikut sebuah peternakan di tahun 1793, yang bangunannya bertahan hingga hari ini dan menjadi bangunan rumah tinggal tertua di Australia. Hari ini, penghuni Western Sydney tidak hanya orang Aborigin dan kulit putih. Bahkan daerah ini barangkali adalah daerah yang jumlah migrannya terbesar di Australia, tempat pertama yang biasanya disinggahi para migran dan pengungsi dari seluruh dunia.

Saya beruntung bisa menjadi tamu di Parramatta. WestWords dan Parramatta Artists’ House merupakan dua badan yang telah berbaik hati mengurusi saya di sini dan menyediakan tempat tinggal, makanan, keramahan, teman diskusi, serta meja kerja. Kini saya memiliki tiga tempat kerja (termasuk di apartemen sendiri, tentu saja) sampai bingung sendiri mau ke mana setiap harinya. Sewaktu tidak sedang bekerja, saya sibuk berkeliaran. Tujuan utama saya minggu ini adalah sisa sejarah kelam Parramatta dalam wujud kompleks gedung tua yang disebut Parramatta Female Factory and Institutional Precint, yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor WestWords di Grose Street. Sesungguhnya kompleks tersebut terdiri dari empat bekas institusi, yang fondasi pertamanya diletakkan di tahun 1821, yaitu: Female Factory, Roman Catholic Orphan School, Girls Industrial School, serta Invalid & Lunatic Asylum. Kedengaran horor, bukan? Orang Parramatta akan sukarela memberitahu Anda bahwa tempat itu sangat berhantu. Seorang penulis kenamaan asal Western Sydney, Felicity Castagna, menemani saya berkendara ke sana malam-malam belum lama ini. Sejak saat itu saya ingin sekali kembali ke sana, namun tidak berani sendirian apalagi malam-malam. Cuma berani kalau siang dan kalau ada yang menemani. Namun demikian, Felicity meyakinkan saya untuk kembali ke sana segera. “Sejarah tempat ini benar-benar luar biasa.” Matanya bersinar dalam kegelapan mobil kecil miliknya. Ia keturunan migran Italia dan Skotlandia, dan telah menulis buku bertemakan rasisme, migrasi, dan isu identitas di Australia. “Dulu sekali selama bertahun-tahun, mereka menangkapi gadis-gadis yang hamil di luar nikah dan menjebloskan mereka ke penjara. Gadis-gadis malang itu melahirkan di gedung itu”—ia menunjuk—“dan dipaksa memohon pengampunan di kapel di gedung itu—” dan sebagainya. Kata Felicity banyak sekali perempuan yang akhirnya meninggal di sana di bawah siksaan. Pada akhirnya kebanyakan perempuan kulit berwarna, para Aborigin. Malam itu, di kompleks gedung penjara tua itu, saya bergidik ngeri. Udara terkesan berat, membuat sesak napas seakan memiliki bobot, dan bobot yang janggal tersebut baru terangkat ketika kami akhirnya berkendara meninggalkan kompleks itu, meninggalkan bangunan-bangunan tua telantar dan pohon-pohon besar itu. Meskipun demikian keterpesonaan saya tidak berhenti sampai di sana, karena ternyata beberapa mantan penghuni tempat itu ada yang masih hidup. Betapa kagetnya saya, institusi mengerikan semacam itu bisa bertahan tetap beroperasi hingga tahun 70-an.

Tentu saja, saya jadi banyak kepo soal Female Factory dan kaitannya dengan perempuan Aborigin kepada kawan-kawan di Parramatta, namun obrolan semacam ini seperti tidak ada habisnya. Isu identitas tidak ada habisnya, terutama di negara yang sangat multietnis seperti Australia. Seperti halnya Indonesia, Australia merupakan bekas koloni Eropa (dan kini pun masih berada di bawah Negara-negara Persekutuan Inggris Raya), tetapi dalam artian yang cukup berbeda. Topik kolonialisme dan migrasi masih menjadi perdebatan yang panas, dan semakin panas saja nampaknya hari-hari ini ketika negara-negara Eropa ribut dan misah-misuh soal banjir imigran dan pengungsi. Meskipun demikian, di Parramatta, saya menyaksikan harmoni.

Dalam bidang sastra sendiri saya menyaksikan bahwa sastra dari Western Sydney ternyata sanggup menawarkan warna tersendiri dalam khazanah sastra Australia yang lebih luas. Dan para penulis dengan bangga menyebut diri mereka Western Sydney writers. Ada aura yang berbeda, ada identitas unik tersendiri yang dibawa dalam tulisan-tulisan mereka. Buku-buku karya mereka mempertanyakan, dan berusaha menguraikan, perkara identitas orang Australia yang rupanya jauh lebih kompleks dari kelihatannya. Apa artinya menjadi orang Australia? Siapakah orang Australia?

Di sini setiap orang berasal dari mana-mana. Eropa, Asia, Timur Tengah. Orang-orang India di Parramatta, orang Lebanon di Harris Park, orang Korea dan Tiongkok di Burwood, orang Yunani di sini, orang Italia di sana, dan sebagainya. Aborigin juga, tentu saja, namun sejujurnya mata saya yang awam ini tidak bisa menemukan mereka dengan mudah. “Mereka berada di daerah Blacktown,” ujar Michael Campbell, Executive Director WestWords, menjawab pertanyaan saya, seraya menunjuk peta raksasa Sydney yang tergantung di dinding kantor WestWords. Kami berdiskusi lebih lanjut mengenai identitas dan migrasi, dan betapa mudahnya orang zaman sekarang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, yang nantinya pasti akan mengubah wajah dunia secara keseluruhan. Ia sendiri ternyata setengah berdarah Belanda. Yang kemudian mengingatkan saya…

“Hmm jadi di mana orang Indonesia tinggal?” tanya saya ingin tahu. Sejujurnya saya tidak banyak berpapasan dengan orang Indonesia di Western Sydney, hanya segelintir, dan lebih banyak menemukan kawan sebangsa di Melbourne. Michael menjawab, “Kalian tersebar di mana-mana,” katanya seraya tersenyum. Barangkali saya hanya tidak bisa mengenali orang Indonesia, bahkan meskipun kami duduk berhadapan di kereta, kecuali jika mereka mulai bicara dalam bahasa Indonesia. Entah kenapa hal itu membuat saya sedikit merasa bersalah, dan kangen rumah.

Saya akan pulang minggu depan.

 

Dias Novita Wuri

Last modified on: 8 Mei 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni