(2 votes)
(2 votes)
Read 4978 times | Diposting pada

Masih Pentingkah Kritik Musik?

Adi Renaldi
Oleh:
Adi Renaldi
 Kolom

 

Whenever you find you are on the side of the majority, it is time to reform” – Mark Twain

Yang paling menyebalkan ketika membaca resensi musik di berbagai media adalah konformitas dan absennya keberanian untuk menyanggah. Bisa disimak di berbagai media, ulasan yang bersikap afirmatif dan tak pernah berkata tidak bagi musik yang sedang hype. Media, yang digadang-gadang sebagai mercusuar buat warga, watchdog buat yang berkuasa, tak lagi menyangga kebutuhan intelektual atas seni khususnya musik. Padahal tugas media beserta para jurnalis/kritikus didalamnya bukan hanya untuk memuja, tapi juga melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.

Maka ucapan Mark Twain itu saya terima dengan lapang dada. Di tengah kerumunan tampaknya sulit untuk mengambil sikap. Bagai kerbau dicokok hidungnya. Terombang-ambing ikut kesana-kemari. Mayoritas bisa melahirkan fanatisme dan kultus. Maka tak heran jika Hitler menemukan kekuatannya dalam kerumunan (mob). Mayoritas, butuh “figur” untuk jadi panutan, sang pencerah.

Di masa kini inkarnasi Hitler muncul bukan dalam sosok yang mengerikan. Tapi lebih mutakhir dan kompleks, seperti diwakili oleh media. Terdengar seperti gagasan Orwellian tapi media telah menjadi semacam alat thoughts control. Ketika massa telah dikuasai, maka kultus pun lahir. Musik pun tak luput dari wabah kultus. Ketika musisi hanya dipuja dan diidolakan, ia punya mudah menjadi false idol.

Dan seperti kultus, ia tak boleh dipertanyakan, digugat, dan ditelaah. Nancy K. Florida menyebutnya sebagai dusty fetish atau sesuatu yang begitu dikultuskannya, ia jadi seperti barang keramat yang menjadi berdebu. 

Media itu tak lagi mengambil jarak. No longer, watching from a distance. Mereka malah larut dalam euforia Lady Gaga dan Gangnam Style. William Giraldi dari harian on-line The Daily Beast dalam artikelnya berjudul "Letter to a Young Critic" menulis bahwa sebagian tugas kritikus adalah untuk membongkar status quo dan yang lebih penting lagi bukan memuja mereka yang bertahta, tapi untuk memicu evaluasi diri. 

Maka ketika kita selalu mengeluh tentang tidak banyaknya band berkualitas di blantika musik nasional, jangan terburu-buru memberi cap buruk kepada band-band tersebut. Ketidakhadiran watchdog dalam scene musik adalah satu hal yang layak untuk dipikirkan bersama. Buruknya kualitas band bisa jadi hanya sebuah efek berantai dari tradisi media yang cenderung melakukan pemujaan dan bersikap lembut bila tidak mau disebut jumud. 

Parahnya lagi sebagian besar masyarakat kita sangat anti terhadap kritik. Kritik dipandang sebagai sikap konfrontatif daripada sebuah dialog. Cap elitist, snob, hipster dengan mudah ditempelkan pada mereka yang dengan kritis menilik sebuah album/lagu. Status quo pun semakin lestari.

***

Sangat mudah ketika memuji sebuah album atau lagu. Kita bisa menggelontorkan ribuan kalimat manis dan menggelembung berisi puja-puji kepada idola. Tapi akan sangat sulit untuk menilai sebuah album yang memang buruk. Tak akan semudah itu. Apa alasan kita menilai buruk? Dari sudut pandang apa itu buruk? Kita perlu argumentasi dan bukti kuat agar ide kita tak terdengar asbun dan/atau seperti cemooh murahan.  

Satu hal yang perlu dicatat adalah kritik tak melulu soal cemooh atau penilaian buruk. Bukan pula konfrontasi atau pemicu kontroversi. Tapi dalam sebuah kritik terdapat sikap kritis untuk melihat detil sebuah karya. Membuka selubung dan menampilkan apa yang sebelumnya tak pernah terpikir. Atau meminjam istilah salah seorang pendiri website ini: “menurunkan bintang-bintang dari langit”. Detail ini bisa berupa beberapa aspek seperti lirik, latar belakang sosial politik, atau yang lebih estetik seperti jalinan komposisi. 

Kritik bagi saya adalah sebuah hubungan dialektis, tanggung jawab sebagai pecinta musik, dialog, dan sinergi antara penikmat dengan seniman. Dengan kritik pula, seni menjadi tidak mandeg dan menggenang seperti air got. 

Make up your mind

Last modified on: 14 November 2013

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Gado-gado Rasa Banda


    Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. Termasuk tertidur di tengah-tengah film saat di dalam bioskop. Pengalaman itulah yang saya alami ketika menonton Banda The Dark Forgotten Trail karya sutradara…

     

  • Terapi Urine Pasca 'Kehiduvan yang twewew ini'


    Seakan tak mau lepas dari swag hegemoni, suburnya isu SARA dan anomali sosial lainnya, EP Om Telolet Om menawarkan kesemuanya tadi dalam rangkaian aroma thrash metal ditambah single Buju Buneng…

     

  • Dolly yang Menghantui Dalam Videoklip Sang Pelanggan Silampukau


    Kami menemukan video klip ini horor. Satu shot menunjukkan kamera bergerak dari satu angle, dengan lembut menyorot foto pengantin di tengah kamar yang agak berantakan dan kosong sedari malam. Lelaki…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni