(0 votes)
(0 votes)
Read 3400 times | Diposting pada

Marx Tidak Deterministik: Mendiskusikan Tulisan "Mafia Berkeley"

Coen Pontoh
Oleh:
Coen Pontoh
 Kolom

Tanggapan ini, muncul dari jalan berliku. Awalnya adalah seri pertama tulisan Ari A. Perdana  berjudul “Mafia Berkeley, sekali lagi (tulisan 1).” yang dimuat pertama kali oleh Jakartabeat.net.


Dengan mengangkat isu yang selalu kontroversial itu, artikel itu langsung ramai dengan komentar, terutama di halaman facebook Ari Perdana.

Salah satunya datang dari Goenawan Mohamad (GM), yang sebenarnya mengalamatkan komentarnya pada David Ransom, orang pertama yang menisbahkan gelar “Mafia Berkeley" kepada generasi pertama teknokrat orde baru (orba).

Dalam komentarnya di halaman Facebook Ari Perdana itu, GM menulis,

“Premis dari Ransom yang kekiri-kirian itu sebenarnya bersifat imperialistis: baginya, buah pikiran orang Indonesia hanyalalah hasil manipulasi Amerika.

Aneh pula bahwa orang-orang yang sok kiri dan takzim kepada Marx ini sepenuhnya percaya, bahwa perubahan sejarah sosial ekonomi ditentukan oleh ide, bukan sebaliknya. Persis seperti pandangan Kwik Kian Gie yang degil itu tentang neo-liberalisme, yang diikuti para pembeonya: seakan-akan dorongan kebijakan yang mereka sebut "neo-liberal" tak ada hubungannya dengan sejarah sosial-ekonomi Indonesia sendiri. Semua percakapan ttg "neo-liberalisme" di Indonesia hampir tak meninjau sejarah perekonomian Indonesia.

Kesulitan perbincangan tentang kebijakan ekonomi di Indonesia ini dimulai dengan bahasa yang beku, klise, yang berbareng dengan pikiran yang itu-itu juga. Lebih buruk lagi, di situ pula absennya penelitian empiris bergabung dengan kegemaran akan "teori konspirasi", yang sebenarnya teori orang paranoia yang malas. Atau teori "pejuang" politik yang selalu gagal dapat kedudukan dan sebab itu harus cari kambing hitam.”


Komentar GM ini, paling tidak mengandung dua isu yang saya kira perlu ditanggapi agak serius. Pertama, isu teoritik/filosofis; kedua, isu politik pengetahuan di Indonesia.

Dialektika Basis dan Superstruktur

GM mengatakan, “Aneh pula bahwa orang-orang yang sok kiri dan takzim kepada Marx ini sepenuhnya percaya, bahwa perubahan sejarah sosial ekonomi ditentukan oleh ide, bukan sebaliknya.”

Komentar GM ini, kalau kita ikuti perdebatan di kalangan Marxis, agak menyederhanakan dan karena itu secara teoritis bermasalah.

Pembaca Karl Marx yang serius pasti tahu bahwa pernyataan GM ini bisa ditemukan akarnya pada karya Marx A Contribution To The Critique of Political Economy. Dalam pengantar untuk buku itu, Marx mengatakan, “Totalitas hubungan produksi itu, yakni struktur ekonomi masyarakat, adalah fondasi nyata yang di atasnya superstruktur politik dan legal muncul dan selanjutnya terkait erat dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial….. Bukan kesadaran yang menentukan keberadaan manusia, sebaliknya keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya.”

Jika kita menengok perdebatan di kalangan Marxis, maka pernyataan Marx yang mashur itu ternyata tidak diterima secara tunggal oleh para pengikutnya. Sebaliknya, para pengikut ini terbelah dalam debat dan konflik tiada akhir, dalam menentukan mana yang utama, basis atau superstruktur. Perdebatan dan konflik ini telah melahirkan perkubuan yang serius, yakni di antara mereka yang mengaku dirinya “Open Marxism” di satu pihak serta kelompok “Closed Marxism” di pihak lain; atau antara penganut Materialisme Naturalistik vs Materialisme Idealistik; atau antara mereka yang dipandang menganut Marxisme Mekanis vs Marxisme Dialektik.

Refleksi dari konflik ini juga tampak pada pembelahan hidup Marx atas dua periode: Marx Muda, Marx yang humanis, yang muncul dalam karya seperti Economic and Philosophic Manuscript of 1844 serta Marx Tua, Marx yang Politis-sosiologis, yang muncul dalam karyanya Capital. Dalam kata-kata George Lichtheim, “Marx Muda itulah Marx yang sejati, sementara Marx Tua adalah Marx yang lebih peduli pada kemajuan ilmu yang keberadaannya independen dari kehendak manusia.”

Kalangan “Open Marxisme” atau “Materialisme Idealistik” atau “Marxisme Dialektik /Marxisme Humanis,” menekankan bahwa aspek superstruktur (legal dan ideologi) yang utama dan menentukan ketimbang aspek basis (ekonomi). Kees van der Pijl, mengatakan kelompok Idealisme ini melihat bahwa seluruh aspek dalam kenyataan berasal dari substansi, pikiran, dan kekuatan mental (spirit). Padahal, seperti kata Antonio Gramsci, apa yang kalangan idealis sebut sebagai “spirit” bukanlah titik berangkat (point of departure) melainkan titik tiba (point of arrival).

Ditambahkan Perry Anderson, kelompok ini terlalu melebih-lebihkan isu-isu sekunder seperti ideologi, filsafat, politik, dan budaya, dan akibatnya, tidak memberikan perhatian yang memadai pada aspek ekonomi-politik. Termasuk dalam kelompok ini figur-figur seperti Rosa Luxemburg, Karl Korcsh, Evgeny Pasukhanis, Roman Rosdolsky, tradisi otonomis Italia, aliran Post-Marxist, post-structural post-Marxism, dan radikal post-modernisme.

Sementara di sisi seberangnya, kalangan “Closed Marxism,” atau “Materialisme Naturalistik” atau “Materialisme Mekanis” percaya bahwa aspek basis (ekonomi) adalah yang utama dan menentukan, bahwa gagasan adalah manifestasi dari kekuatan-kekuatan fisikal (materi) dan perubahan kuantitatif dalam kekuatan produksi pada akhirnya menghasilkan perubahan yang kualitatif. “Lebih jauh lagi,” demikian Henry Lefebvre, “kelompok ini kemudian mereduksi Marxisme ke dalam ilmu tunggal: ekonomi-politik dan selanjutnya mentransformasikan Marxisme ke dalam filsafat alam.” Dengan mendefinisikan materialisme historis sebagai ekonomisme, maka konflik-konflik yang muncul “di luar” perkembangan kesadaran kelas (seperti konflik ras, atau jender) secara politik di anggap sebagai konflik kelas dua (subordinate), atau merupakan bagian dari “kesadaran palsu.”

Menurut Pijl, pandangan kelompok ini sangat dominan sejak dari Marx masih hidup hingga saat ini. Termasuk ke dalam kelompok ini, adalah kelompok Internasional II, terutama Karl Kautsky, George V. Plekanov, dan Marxisme Sovyet dalam hal ini adalah Stalinisme, serta kalangan Marxist Strukturalist yang dipelopori oleh Louis Althusser. Sebagian kalangan memasukkan nama Engels dan Lenin ke dalam kelompok ini. Bahkan Engels dipandang sebagai aktor utama di balik aliran Marxisme Deterministik ini.

Saya sendiri ada di pihak yang cenderung sepakat dengan ilmuwan politik Mark Laffey dan Kathryn Dean, bahwa yang kita butuhkan saat ini adalah “Marxisme yang lentur di era yang juga lentur.” Kita tidak berpihak pada kelompok idealis yang sangat kental aroma Hegeliannya, dan juga berdiri dekat dengan kelompok mekanis yang dosis Feuerbachiannya sangat dominan. Namun demikian, Marxisme yang lentur ini bukan Marxisme yang berayun-ayun di antara dua ujung ekstremitas, yang bisa kita gunakan kapan saja kita mau salah satu dari keduanya. Marxisme yang lentur ini adalah Marxisme yang bersandar pada pernyataan Marx, Engels, Raymond Williams dan Kees van der Pijl.

Marx dalam “The 18 Brumaire of Louis Bonaparte,” mengatakan, “Manusia membuat sejarahnya sendiri, tapi mereka tidak membuat sejarahnya itu berdasarkan apa yang mereka inginkan; mereka tidak membuatnya di bawah kondisi-kondisi yang mereka tentukan sendiri, tetapi di bawah kondisi-kondisi yang secara langsung mereka temui, terima, dan warisi dari masa lalu.”

Dalam Tesis III Tentang Feuerbach, saling pengaruh antara basis dan superstruktur itu kembali muncul, “bahwa keadaan tidak hanya menentukan manusia, tapi manusia juga mengubah keadaannya.” Sementara, menurut Williams, “Marxisme tanpa beberapa konsep determinisme tidak memiliki dampak yang bermanfaat, sebaliknya, Marxisme yang terlalu banyak mengandung konsep determinisme saat ini secara radikal telah mengalami kelumpuhan.” Sedangkan bagi Pijl, “materialisme historis sesungguhnya merupakan sintesis dari materialisme idealis dan materialisme naturalistik.

Konsep materialisme historis, seperti yang didefinisikan Marx, Williams, dan Pijl, juga kita temukan penjelasannya pada Engels, seperti yang terpatri dalam suratnya kepada Joseph Bloch, 21 September 1890,

“Menurut konsepsi materialis tentang sejarah, elemen penentu terakhir dalam sejarah adalah produksi dan reproduksi kehidupan nyata. Lebih dari ini, baik Marx maupun saya, tidak pernah menegaskannya. Dengan demikian, jika seseorang memelintirnya dengan mengatakan bahwa elemen ekonomi adalah satu-satunya penentu, maka ia telah mentransformasikan proposisi kami ke dalam frase yang tak bermakna, abstrak, dan tidak masuk akal. Situasi ekonomi adalah basis, namun beberapa elemen dari superstruktur – bentuk-bentuk politik dari perjuangan kelas dan hasil-hasilnya, untuk diketahui: konstitusi yang dibentuk setelah kemenangan dalam pertempuran kelas yang sukses, dsb, bentuk-bentuk yuridis, dan bahkan refleksi-refleksi dari seluruh perjuangan aktual dalam otak para partisipan, politik, hukum, teori filsafat, pandangan agama dan perkembangannya lebih lanjut menjadi dogma – juga bagaimana menguji pengaruhnya terhadap wacana perjuangan yang historis, di beberapa kasus menentukan bentuk ekonominya. Di sini terjadi interaksi antara elemen-elemen tersebut (basis dan superstruktur), yang mana, di tengah-tengah kejadian yang tak pernah usai (seperti, hal-hal dan peristiwa-peristiwa dimana interkoneksinya begitu jauh atau sulit dibuktikan, sehingga kita menganggapnya tidak ada atau bisa diabaikan), gerak ekonomi pada akhirnya menegaskan sendiri kebutuhannya. Jika tidak, penerapan teori pada setiap periode sejarah akan lebih mudah ketimbang jawaban hitungan 1 + 1 = 2.”

Politik Pengetahuan di Indonesia

Lanjutan dari komentar GM, “Kesulitan perbincangan tentang kebijakan ekonomi di Indonesia ini dimulai dengan bahasa yang beku, klise, yang berbareng dengan pikiran yang itu-itu juga. Lebih buruk lagi, di situ pula absennya penelitian empiris bergabung dengan kegemaran akan "teori konspirasi", yang sebenarnya teori orang paranoia yang malas. Atau teori "pejuang" politik yang selalu gagal dapat kedudukan dan sebab itu harus cari kambing hitam.”

Saya kurang jelas apakah GM sadar bahwa sangat tidak mungkin bagi kaum Marxis atau intelektual Marxis untuk melakukan penelitian empiris di Indonesia. Sebabnya adalah adanya Tap MPRS/XXV/1966 yang secara resmi melarang pengajaran Marxisme/Leninisme dalam kurikulum pendidikan di semua tingkatan di Indonesia (kecuali beberapa perguruan tinggi yang “nakal”). Pelarangan ini menyebabkan Marxisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan praktis lumpuh total, dan tidak mampu memberikan sumbangan teoritik bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Selain itu, pelarangan ini menyebabkan tidak banyak bermunculan intelektual-intelektual muda Marxis yang terlatih secara akademik. Kaum muda Marxis di Indonesia, sebagian besar belajar Marxisme secara amatiran dengan militansi tanpa batas.

Akibatnya, perbincangan tentang Marxisme didominasi oleh para intelektual yang anti Marxisme. Misalnya profesor Tjipta Lesmana, yang ketika berbicara tentang Marxisme dengan sangat semena-mena bahkan memperkosanya. Dalam artikelnya di Kompas (2/10/2009), ia mengatakan "Kata Marx, manusia adalah makhluk ekonomi dan yang selalu dipikirkan adalah materi, secara lebih spesifik: uang. Maka, kekuasaan dapat dikonversikan menjadi uang dengan ungkapan ”kekuasaan adalah uang”, juga sebaliknya ”uang adalah kekuasaan”.

Sementara, mereka yang secara sungguh-sungguh menjadikan Marxisme sebagai pisau analisis akademik, senantiasa dirundung ketidakpastian, kalau tidak diintimidasi ya karyanya dibakar. Ini jelas sebuah parade kegilaan intelektual maha memalukan di Indonesia. Tambah memalukan ketika masih ada yang berani mengklaim dirinya intelektual di tengah kegilaan ini.

Selain itu, pelarangan ini menyebabkan, tidak ada intelektual Marxis yang bebas melakukan riset empiris di lembaga-lembaga pendidikan tinggi (universitas) di Indonesia. Para intelektual Marxis, bisanya melakukan riset dengan berbasis pada LSM dengan dana yang sangat terbatas. Padahal, kalau yang GM maksudkan dengan riset empiris itu sesuatu yang benar-benar serius, dimana penelitinya didampingi oleh para peers yang kredibel dan bereputasi tinggi (misalnya, dilihat dari berapa banyak publikasi ilmiah dalam bentuk paper untuk jurnal maupun buku), jelas membutuhkan biaya yang tidak kecil.

Akibat politik pengetahuan yang sangat diskriminatif ini, maka jelas bahwa perbincangan tentang pengetahuan di Indonesia pasti terjerembab pada teori konspirasi. Artinya, teori konspirasi yang dipersoalkan GM ini hanyalah fenomena belaka, ia adalah dampak dari politik pengetahuan yang diskriminatif itu, dimana akar sebabnya adalah pada keberadaan Tap MPRS/XXV/1966. Sehingga, kalau kita ingin secara serius memerangi teori konspirasi, maka yang pertama-tama mesti kita perangi adalah keberadaan Tap MPRS itu.


Last modified on: 3 Juli 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni