(8 votes)
(8 votes)
Read 7249 times | Diposting pada

Lingkaran Setan Justin Bieber

 

Pagi ini ketika hendak membuka e-mail Yahoo, saya menemukan sebuah berita yang tersisip di sisi kiri browser saya. Sebuah berita yang sangat trivial dan perlu diacuhkan, kabar tentang Justin Bieber yang berjudul “Justin Bieber Tweets Canadian Gymnast, Makes Her Day”, dan tanpa perlu saya jelaskan anda tentu sudah tahu kira-kira betapa insignifikan berita itu. Lebih dari menjelaskan kenapa Yahoo—dengan jurnalisme malas ini, mengutip dari Twitter! Bayangkan —harus mengalami kejatuhan yang tidak tertolong lagi, berita itu justru mengingatkan saya kepada berita serupa dalam konteks lokal.

Belakangan, kita harus dihadapkan kepada air bah pemberitaan tanpa henti tentang perkawinan Nasar dan Musdalifah (semoga saya tidak salah mengeja nama-nama ini). Bahkan untuk orang yang tidak terlalu mengikuti tontonan televisi lokal, berita tersebut susah dihindari, karena bahkan ketika sedang mengganti kanal lokal ke kanal televisi asing berbayar, anda tetap harus sekilas melihat apa yang dikejar sebagai berita oleh media pemburu selebritas itu. Dengan pengetahuan yang terbatas akan televisi lokal pun, khalayak akan tahu bahwa dua orang ini tidak pernah memiliki tempat bahkan yang paling marjinal pun dalam —mengutip bahasa jurnalisme hiburan itu sendiri— “dunia hiburan” di Indonesia. Dalam kerangka yang lebih besar dua orang ini bahkan tidak memiliki kontribusi apapun terhadap perbincangan budaya masyarakat Indonesia, sebuah bangsa besar yang pernah membangun Candi Borobudur dan berhasil mengusir kekuatan imperialis berkali-kali.

Namun begitulah, kedua individu yang tidak memiliki alasan eksistensial apapun untuk muncul di layar televisi anda, selama berbulan-bulan menjadi tontonan satu-satunya di frekuensi milik publik dan menjadi berita utama media cetak untuk ibu rumah tangga non-sibuk, bersebelahan dengan gambar makanan untuk berbuka puasa.

Saya kemudian membayangkan bahwa di control room stasiun televisi dan rumah produksi yang bertanggung jawab dengan program selebrita itu, terdapat orang-orang yang tersenyum simpul, puas, jika bukan jahat, karena telah berhasil memberi fantasi akan kehidupan selebriti-yang juga tidak lebih banal dari kehidupan anda sehari-hari—sambil terus mendapatkan pemasukan uang dari menjajakan air minum, teh botol dan krim pencerah kulit. Merekalah orang-orang yang sadar akan keinginan dasar umat manusia untuk menjadi voyeur dan tukang intip, dan menciptakan produk yang murni memuaskan naluri primata itu.

Dan dengan kekuatan audio visual yang dimiliki oleh televisi mereka bisa hampir menciptakan apapun, termasuk menciptakan selebritas yang berhak dan bisa menjadi terkenal karena mereka selalu muncul setiap hari di layar televisi. Orang yang menjadi berita karena mereka menjadi berita. Orang yang menjadi terkenal karena mereka (ingin) menjadi terkenal. 

Anda tentu sadar akan logika ini bukan? Media massa yang lebih bermartabat pun kemudian akan menyiarkan juga sebuah berita jika sesuatu itu telah mencapai taraf saturasi dalam perbincangan di masyarakat. Orang-orang di media massa besar pasti kemudian juga akan bertanya, "Jika outlet berita selebritas itu terus-menerus memberitakannya pasti ada sesuatu di sana, dan oleh karenanya kita juga harus memberitakannya, bahkan ketika berita yang kita tulis itu adalah tentang orang-orang yang menjadi berita."

Lingkaran setan inilah yang kemudian menjelaskan kenapa Kim Kardashian, Octo-Mom, Chef Yuna dan Farah Quinn kemudian harus selalu kita temui di layar televisi dan halaman media cetak, bahkan yang paling terhormat di sini. Dengan sedikit, jika bukan nol keahlian (I mean come on, how hard it is to cook?) mereka menjadi terkenal karena menjadi berita setiap hari. Jika mereka setiap hari muncul di televisi, tentu mereka layak untuk menjadi berita bukan?

Logika setan tentu saja membawa kita kepada Justin Bieber, yang mungkin merupakan selebritas paling besar ciptaan media sekaligus dengan kontribusi paling kecil kepada kebudayaan dunia—dalam hal ini, dunia seni tarik suara. Sampai saat ini saya, atau kami secara kolektif, tetap tidak bisa mengerti, mengapa Justin Bieber? Tanpa video YouTube itu, kita bisa memperkirakan bahwa sampai sekarang Justin Bieber tetap menjadi eksistensi nihil dalam kehidupan.

Namun entah kenapa, kini anak kecil yang segera beranjak dewasa ini menjadi bagian kehidupan anda semua. Dua hari sekali, bintang kita ini rutin menjadi trending topic, sebuah peristiwa penting, yang kemudian menjadi berita di media hiburan, sebelum kemudian diambil oleh media arus utama untuk menjadi berita yang harus dikabarkan. Tidak ada media massa —yang mungkin sadar akan keterbatasan muatan artistis dari produk budaya Justin— yang pernah menulis ulasan pertunjukan musik selebrita ini bukan? Atau ulasan album terbarunya, jarang bukan? Lebih banyak berita yang muncul adalah tentang Justin Bieber menjadi berita karena menjadi berita.

Terakhir saya membaca Slate.com, salah satu majalah online terbaik di Amerika Serikat, terdapat berita yang menggambarkan bagaimana Justin Bieber dimaki-maki oleh seorang perempuan tua di pesawat, karena berkata-kata kasar dan bersumpah serapah sambil bermain kartu dengan para road crew. Slate tentu tidak menugaskan reporter untuk mencari berita itu dan mengambilnya dari TMZ, versi Cek dan Ricek Hollywood tentu saja. Kali lain saya membaca The Huffington Post, media online pertama yang memenangkan Pulitzer, dan saya menemukan berita tentang David Letterman yang memarahi Justin karena tato barunya dan seterusnya, dan seterusnya.

Berita tentang Justin Bieber pada akhirnya lebih banyak berisi tentang non-sequitur, hal-hal non-logis dan/atau banalitas lain, dan ini menunjukkan bahwa betapa nihilnya eksistensi dari subyek berita tersebut. Dan Jakartabeat telah juga melakukan kesalahan yang sama pagi ini dengan menulis betapa sia-sianya kehadiran Justin Bieber. Sebuah kesia-siaan!

Last modified on: 26 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni