(0 votes)
(0 votes)
Read 2679 times | Diposting pada

Laskar Politisi Bahagia

Amir Mahmud
Oleh:
Amir Mahmud
 Kolom

Pada mulanya sederhana saja. Seseorang yang ingin menuliskan kenangan untuk guru yang sangat dicintainya. Guru yang berjasa besar dalam menanamkan semangat bagi kehidupannya kelak. Tapi, ceritanya kemudian berubah ketika seorang temannya mengirimkan memoar tersebut ke sebuah penerbit. Bahkan memoar tadi beranak pinak sampai menjadi 4 buku. Dan, kita sekarang mengenalnya sebagai tetralogi “laskar pelangi”. Bahkan, ketika difilmkan, pun meledak.


Maka perjalanan hidup penulisnya pun bak kisah novel. Sampai akhirnya menjadi selebritas. Seseorang yang disebut di awal tadi adalah Andrea Hirata. Ya, semuanya berawal sederhana saja. Sampai menjadi luar biasa. Semuanya tidak lepas dari effort (usaha) seseorang dalam menjalankan hidupnya.

Cerita semacam ini sebenarnya sering kita dengar. Tentang seseorang yang meraih kesuksesan tanpa pernah menduga sebelumnya. Tapi kalau kita menelusuri tetralogi novel tadi, sebenarnya soal kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu saja. Di sana kita melihat betapa seorang Ikal (alter ego sang penulis) begitu bersemangat dalam berusaha.

Cerita berbeda bisa kita dapatkan pada hari-hari ini. Ratusan ribu caleg mencoba meraih sukses dengan cara instan. Dengan ekspresi yang hampir seragam, mereka menasbihkan dirinya sebagai orang jujur, amanah, dan tepercaya. Dengan berondongan baliho, spanduk, dan brosur, mereka mencoba meraih simpati rakyat. Tapi, adakah hal yang lebih elok dibandingkan karya nyata seseorang dalam hidup bermasyarakat?

Nah, soal semangat, motivasi, dan dorongan menjadi sangat penting ketika bangsa ini sedang berada dalam riuh rendah menggapai impian untuk menjadi caleg. Padahal, persentase para caleg itu untuk menjadi wakil rakyat, sangat kecil. Justru potensi kegagalan yang akan membayang.

Dengan nada sarkastis, seorang kyai desa di daerah Cirebon bahkan menyediakan rumah dan pesantrennya untuk menampung para caleg yang gagal dalam pemilu. Namun, saya kira hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Pengalaman beberapa pilkada tahun lalu banyak para kandidat yang mencoba bunuh diri lantaran stress ditagih utang. Dan, seperti sudah bisa kita hitung, angka kegagalan mereka untuk menjadi caleg sangat tinggi. Maka, diprediksi angka stress pun kian tinggi. Namun hal itu hendaklah jangan menjadi halangan bagi kita dalam hidup. Toh, bagaimanapun hidup harus tetap berjalan bukan? Kita harus bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah kita jalankan. Seperti sabda Nabi, bahwa sesungguhnya setiap peristiwa itu mengandung pelajaran (ibrah).

Alam ini telah begitu rupa menyediakan pelajaran yang berharga bagi manusia. Inilah ayat-ayat Allah yang senyata-nyatanya. Dengan begitu banyak pelajaran mestinya kita tidak kehabisan akal dan semangat untuk meraih prestasi. Begitu banyak makna yang dapat kita ambil.

***

MENJELANG pemilu ini terbit sebuah buku menarik dari Arvan Pradiansyah, seorang motivator dan pembicara publik yang mengusung jargon kebahagiaan dalam setiap buku dan pembicaraannya. Judulnya “Kalau Mau Bahagia Jangan Jadi Politisi!” Pesannya sangat jelas, bahwa aktivitas politisi bertolak belakang dengan rumus umum dalam mencapai kebahagiaan. “Susah kalau melihat lawan politik senang dan senang kalau melihat lawan politik susah”. Tapi, apakah kebahagiaan karena alasan yang buruk itu merupakan kebahagiaan?

Mengelaborasi buku best seller sebelumnya yang berjudul “The 7 Laws of Happiness”, Arvan menghadapkan rumus kebahagiaan amatlah berbeda dengan rumus politik:

1. Patience (sabar), fokus pada proses vs instan, fokus pada hasil
2. Gratefullness (syukur) vs jangan cepat puas
3. Simplicity (sederhana) vs rumit
4. Love (cinta) vs kepentingan
5. Giving (memberi) vs mendapatkan
6. Forgiving (memaafkan) vs membalas
7. Surrender (berserah) vs meminta sesuatu kepada Tuhan

Kadang kita ini manusia yang tidak pernah mau belajar. Di balik dalih bahwa manusia itu tempatnya salah, kadang banyak dari kita yang meminta permakluman tentang apa yang telah kita perbuat. Kalau dalih ini terus dipakai maka kesalahan demi kesalahan akan terus terjadi. Lantas, apakah lalu semua orang tidak boleh berpolitik untuk menjadi bahagia? Tidak selalu demikian, mestinya.

Toh, di antara sekian banyak orang masih ada segelintir yang menjadi pionir bagi terjadinya perubahan. Merekalah para pembawa perubahan. Menjadi perintis bagi terjadinya perubahan menjadikan mereka panutan. Merekalah para pemimpin. Di sini arti kata pemimpin tidak harus mereka yang mempunyai jabatan formal, tapi mereka yang berada di tataran peripheral pun dapat menjadi pemimpin. Ya, merekalah yang mampu menyebarkan virus berusaha dan berubah.

Dengan beragam arena mereka mencoba memberikan arti. Baik secara langsung berbuat maupun dengan melakukan pelbagai forum baik formal maupun informal, sehingga akhirnya masyarakat di sekitarnya dapat merasakan arti dan keberadaan para agen perubahan tadi.

Saya kira inilah makna hidup yang sebenarnya. Bagaimana seseorang dapat bermanfaat dan bermakna bagi manusia lainnya. Itulah makna kebahagiaan sejati.

Kembali kepada laskar pelangi, mereka juga tidak terbatas pada novel belaka. Andrea juga mempelopori laskar pelangi foundation yang bergerak untuk memajukan pendidikan terutama di daerah Belitong, tempat segala peristiwa dalam laskar pelangi terjadi, dan nantinya akan menyebar ke berbagai daerah yang secara pendidikan masih terbelakang.

Kalau saja para politisi kita mampu berbuat hal serupa, berbahagialah bangsa ini. Karena akan membawa efek bola salju yang sangat bermanfaat bagi kemajuan kita sebagai sebuah bangsa. Saya kira inilah yang akan mewujud dalam “laskar politisi bahagia”. Bahwa semua orang, termasuk politisi pun berhak untuk berbahagia!

Andrea berusaha dari kesederhanaan menjadi keluarbiasaan. Dan, hasilnya, “dahsyat”, “super”, “hebat”, begitulah kalau kita mengutip kredo yang diusung para motivator yang laris belakangan ini atas upaya yang dilakukan Andrea Hirata. Dan, Arvan Pradiansyah mengingatkan kita untuk senantiasa mencari kebahagiaan dengan cara sederhana, santun, dan patut. Ya, kita patut acungi jempol untuk Andrea dan Arvan.***

 

* Putra sulung penulis sekarang menderita cerebral palsy (cacat pada otak motorik) sehingga sehari-harinya hanya bisa tergolek di kursi roda. Penulis mohon doa para pembaca agar tetap bahagia dan penulis juga mendoakan pembaca agar bahagia dalam kondisi apa pun.

Last modified on: 24 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni