(0 votes)
(0 votes)
Read 3035 times | Diposting pada

Kultur Kematian dan Etos Agraris Kita

Mungkin orang banyak di luar sana—katakanlah silent majority—yang tak terekam radar media bergumam lirih atas kian mudahnya darah buncah di negeri ini. Kematian demi kematian (percuma) bersesakan seolah antre untuk dicatat sejarah dengan tinta hitam. Soal sepele sudah cukup buat warga masyarakat mengangkat senjata, menghunus pedang dan saling bunuh seperti terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur. Atau bentrok dua kelompok di Jalan Ampera Jakarta Selatan yang berawal dari keributan di sebuah klub malam.


Komplotan perampok bersenjata api kian sadis, tak hanya menggasak harta tapi merampas nyawa korbannya. Sadisme sama terbit di rumah-rumah keluarga—yang seharusnya bertabur kasih dan cinta. Terbakar cemburu, seorang wanita di Jakarta memutilasi suaminya lantaran tak rela “sang Arjuna” menikah lagi untuk kali keempat.

Mereka yang bengis, pada beberapa kasus bermimikri dari seorang manusia menjadi monster, hakikatnya adalah penyebar “kultur kematian” (culture of death), sebuah istilah yang berawal dari Paus Yohanes Paulus II. Sebentuk daya-daya negatif yang punya dampak merusak kehidupan. Pemimpin Katolik menggemakan istilah ini akhir 1970-an silam.

Hemat saya istilah semacam pernah terpahat dalam lagu gubahan Remy Silado dan Ian Antono, “Bla bla bla” (album Semut Hitam God Bless 1988). Grup musik cadas legendaris ini menerbitkan istilah “lagu kematian”. God Bless memotret kehidupan sosial di sekitar bangsanya, lalu memeras fakta yang mereka cerap dalam bait-bait yang masih relevan dengan kondisi mutakhir.

//dendam mendendam antar manusia/saling lindas saling menggilas/ angkat senjata//

//hantam kiri kanan persetan/penting tahta bertabur intan// lagu kematian/ lantang dan bergema//

//hantam kiri kanan persetan/penting tahta bertabur intan//lagu kematian/ lantang dan bergema//

Ya…kini lagu kematian lantang dan bergema. Mungkin karena dendam dan selaksa alasan yang boleh jadi sepele atau serius. Tapi salah benar menyebut individu atau kelompok masyarakat sebagai satu-satunya penyebar kultur kematian. Institusi pun bisa memicu dan berperan aktif sebagai pelantun lagu kematian.

Teroris yang bertopang pada doktrin agama atau idealisme tertentu, jelas menyebar lagu kematian pada umat manusia. Pun begitu alat negara seperti polisi pun bisa melestarikan kultur kematian jika dalam operasinya menghelat extrajudicial killing terhadap mereka yang diklaim sebagai teroris. Warga masyarakat boleh jadi akan meniru kelakuan alat negara yang bertindak melampaui hukum. Apalagi buat keluarga atau teman-teman sang teroris. Dendam terbit. Dan lingkaran kekerasan sulit diputus. Mungkin karena ini pula jejaring teroris lestari: Teroris tak mati-mati. Mati satu, tumbuh seribu sebagaimana hantu korupsi yang mencengkeram sekujur Nusantara.

Maka kita harus jujur, koruptor sama berbahayanya dengan teroris. Seturut itu pelaku illegal logging sama buasnya dengan komplotan perampok bersenjata api. Banjir Bohorok 2003 lalu menewaskan lebih dari 150 orang diduga kuat akibat penebangan liar di hulu. Kini banjir bandang di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama yang tak kurang ganasnya masih bertabur “misteri” (atau lebih tepatnya dibuat bercabang penyebabnya). Sebagian menyebut karena penebangan liar, sebagian lagi karena cuaca ekstrem.

Hmmm…jika alam penyebab musibah Wasior, maka warga di sana tak perlu merasa kalah—apalagi dendam. Sebab alam, lewat cuaca ekstrem yang dikirim Tuhan ke Wasior, bukanlah sebuah serangan (attack), melainkan panggilan cintanya. Apalagi Tuhan tak pernah “mencuri” nyawa hambanya lewat kematian yang biasa-biasa saja atau kematian yang tragis. Sebaliknya, jika tangan-tangan manusia yang memicu kematian ratusan nyawa di Wasior, sudilah kita menyebut manusia itu sebagai pelantun lagu kematian. Mereka musuh kehidupan.

Mochtar Lubis, sastrawan-jurnalis par excellence dalam pidato kebudayaannya di TIM Jakarta, 6 April 1977 silam meneropong satu tesis yang menjelaskan mengapa kultur kematian menyelimuti manusia Indonesia. Pria jangkung bekas Pemred “Indonesia Raya” ini menyebut manusia Indonesia juga bisa kejam,  mengamuk, membunuh, berkhianat, membakar, dan dengki.

Oow…adakah lagi yang lain? Saya tak berani menambahkan. Tapi marilah kembali menggali daya hidup yang makin tergerus ide-ide yang berpilar pada materialisme. Sifat pemurah, pemaaf, rendah hati, suka membantu (gotong royong), toleransi dan empati rasanya merupakan warisan dari para leluhur manusia Indonesia yang layak kita petik kembali dari khazanah pergaulan sosial segala etnis di tanah air.

Etos ini harus membentuk kepribadian. Menjaga perilaku dan mengarahkan tindakan manusia sebagai subjek. Dengan cara itu, kita bisa menerima keragaman (pluralisme), hidup di atasnya dan mengisi sejarah dengan merayakan keragaman itu bersama waktu yang terus berdetak. Mengakui keragaman adalah menerbitkan daya hidup, sebaliknya obsesif terhadap keseragaman akan menjerumuskan kita semua pada kultur kematian. Kita boleh menerima Ahmadiyah sebagai satu wajah (kendatipun hakikatnya warna-warni), tapi menyalakkan kemarahan umat dan lalu membumihanguskan permukiman kaum Ahmadiyah tentu merupakan tindakan tak terpuji. Memuja hidup harus dibarengi dengan toleransi dan empati.

Mungkin kita boleh menimba ilmu petani untuk menggali daya hidup. Lihatlah rangkaian proses hingga nasi tersaji di meja makan. Padi berawal dari benih. Benih lalu disemai dalam media tertentu untuk menjadi bibit. Bibit dirawat dalam waktu hingga siap tanam. Setelah ditanam, petani merawatnya, menyiangi, mengairi, memupuk (organik/ anorganik) hingga kemudian terbit bulir-bulir padi.

Bersama waktu, bulir-bulir menjadi dewasa, matang dan siap panen. Selepasnya petani menjualnya pada pedagang. Setelah dijemur dan kering, pedagang lalu mengirimnya ke kota-kota seantero Indonesia. Padi diubah menjadi beras dan mengisi rak-rak toko di pasar. Warga kota membeli beras tadi. Ia menampinya, lalu menanaknya di dapur.  Nasi lantas siap disantap bersama lauk-pauk di atas meja makan.

Setiap tahap itu membutuhkan waktu dan karenanya perlu kesabaran. Inilah etos yang menjamin manusia menghargai hidup. Kultur agraris yang melekat pada petani ini diabadikan D. Zawawi Imron dalam sajaknya “Desaku” yang ditulis tahun 1967. Penyair Clurit Emas ini mengukir kata:

//Selamat datang tamu dari kota!//Jangan terkejut menjabat tanganku kasar/ lantaran setiap hari mengolah zaman// Nanti sore kuantar engkau ke kebun// Nikmatilah buah-buahan yang ranum bersama mimpiku//

Di bait lain, penyair Madura ini menulis:

//Kalau nanti hasil panen kuantarkan ke kota/ yang kuminta padamu bukan tanda penghargaan/ namun setangkai putih pengertian//

Kali lain Zawawi menggugat kita semua yang kurang menghargai apa yang dilakukan petani dalam sajak Kwatrin Petani I.

//Pernahkah kita berterima kasih/ kepada para petani penanam benih?// Keramahan yang putih// Ketulusan yang tak pernah menagih//

Jika kita tak memilih jadi petani karena makin sulit saja mendapat penghasilan layak dari profesi ini, cukuplah kita menimba etos dari petani. Mari menanam lagi dan merawat cikal-bakal hidup.?

Last modified on: 30 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni